Something different

Something different
Cemburu



Dhea dan William menginap di rumah papanya selama 4 hari. Selama 4 hari itu juga Mike dengan senang hati menemani kakaknya itu. Perasaan yang dulu pernah dia miliki terhadap Dhea, dibuangnya jauh-jauh. Dhea yang sekarang bukanlah Dhea yang dulu. Dhea yang sekarang adalah istri sah kakaknya, dengan demikian dia tidak mau menyimpan perasaannya itu lagi, terlebih sebentar lagi mereka akan memberinya keponakan kecil dan pastinya amat lucu. Walaupun rasa kekagumannya terhadap sosok Dhea belum juga hilang, dan ternyata setelah menjadi istri William sikap Dhea berubah 180° derajat, amat lembut tutur kata dan sikapnya terhadap suami, juga begitu perhatian dan sayang terhadap papanya, sekaligus mertua untuk Dhea. Beda sekali saat dulu dia masih begitu benci dengan William, Dhea tak segan mengeluarkan kata-kata ketus dan kasar pada pria yang pernah dibencinya itu. Entah harus mencari kemana sosok wanita seperti Dhea di negaranya ini, mungkin dulu ibunyalah yang dia anggap wanita terbaik, namun ternyata saat ini ada kakak iparnya yang sedikit banyak menyerupai ibunya walaupun tidak sepenuhnya sama.


Pagi itu Mike melihat Dhea sedang membawakan minuman dan beberapa makanan kecil untuk suami dan mertuanya yang sedang bercengkerama di taman yang berada di samping rumah besar itu. Taman yang ditanami beraneka ragam tanaman hias, dan beberapa pepohonan besar yang dibiarkan tumbuh sebagai pelindung. Dimana di salah satu sudutnya diberi beberapa tempat duduk dan juga meja. Selain di dekat kolam renang, taman itu merupakan salah satu tempat favorit papanya untuk mengobrol dan menikmati minumannya, sembari merasakan hembusan angin yang menyusup melalui celah-celah pepohonan rindang yang ada di tempat tersebut.


" Pagi Dhe!! kenapa kau tidak menyuruh asisten di rumah ini untuk membuatkan minuman itu? kau kan tidak perlu repot-repot pergi ke dapur." Kata Mike yang baru saja keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga yang langsung menuju ruangan keluarga. Tampilannya sudah rapi, sepertinya dia baru saja mandi.


" Pagi juga Mike!! tidak apa-apa, sekali-kali aku turun sendiri ke dapur. Dari kemarin aku selalu dilayani oleh pegawai di sini, aku juga ingin membuatkan minuman untuk mertuaku dari tanganku sendiri." Kata Dhea sambil berhenti sejenak, menjawab pertanyaan adik iparnya itu. Walaupun sebenarnya dia amat malas untuk menuju dapur yang letaknya di belakang dan sekarang dia harus menuju ke depan kembali, dimana mertua dan suaminya sedang duduk santai sambil menikmati sejuknya udara pagi.


" Sini, biar aku bawakan." Kata Mike sambil merebut nampan yang dipegang Dhea.


" Hei tidak usah Mike!! aku bisa membawanya sendiri." Kata Dhea.


" Kau kan sedang hamil, jika berjalan sembari membawa nampan dan minuman ini, nanti konsentrasimu untuk berjalan bisa terganggu."


" Kau berlebihan sekali, kau pikir nampan ini seberat apa hingga mengganggu konsentrasiku? kau silahkan jalan duluan saja." Kata Dhea.


" Benarkah kau tidak ingin kubantu?"


" Ya, jika aku membawa air satu galon baru kupanggil kau untuk mengangkatnya." Kata Dhea sembari tersenyum.


Mike hanya menimpalinya dengan tertawa mendengar candaan Dhea. Dhea dan Mike tidak sadar, bahwa sedari tadi William melihat mereka berdua yang sedang bercengkrama dari balik pintu yang menghubungkan ruangan keluarga itu. Tadinya William ingin mencari Dhea, karena semenjak keluar kamar pertama tadi dan berpamitan ingin menemani papanya di depan, Dhea bilang mengatakan ingin membuatkan minuman untuk dia dan mertuanya, namun ditunggu sedari tadi, istrinya itu belum juga menampakkan batang hidungnya.


" Ehemmmm, ehemm....!!" William pura-pura terbatuk, sambil mendekati mereka berdua.


Dari suara batuk yang terdengar seperti dibuat-buat itu, insting Mike segera memberi sinyal, bahwa kakaknya sepertinya kurang suka melihat adiknya sedang berduaan dengan istrinya tanpa sepengetahuannya. Mike segera mengambil sikap menjelaskan situasi yang sebenarnya.


" Ehhh Will, sorry, ini tadi aku lihat istrimu membawa sendiri nampan berisi minuman dan makanan, aku takut jika dia bisa tersandung saat berjalan karena konsentrasi dengan bawaannya." Kata Mike panjang lebar.


Dhea tau sikap tidak enak hati adik iparnya itu, sedang mimik muka William memang tidak bisa disembunyikan. Walaupun William percaya dengan adik dan istrinya, namun melihat mereka berdua tertawa-tawa seperti tadi tanpa dia tau, ada sedikit kecemburuan di hatinya.


" Sini sayang biar aku yang bawa saja." Kata William sembari mengambil nampan yang dipegang Dhea.


" Ya sudah aku mandi dulu ya." Kata Dhea.


William mengangguk sambil kemudian membawa minuman itu ke depan, diikuti oleh Mike di belakangnya.


Dhea mengurungkan niat untuk ikut mengobrol bersama mereka, rasanya tak enak hati dengan situasi barusan. Dia takut sikap suaminya tadi berlarut-larut, seandainya di sana nanti dia salah berbicara dan bersikap dengan adik iparnya kembali.


Kasihan Mike, karena tadi dia hanya berniat membantunya saja. Lebih baik dia kembali masuk ke dalam kamar, mandi dan sholat dhuha saja. Begitu pikirnya.


Beberapa rakaat Dhuha diselesaikannya. Saat sedang berdoa, pintu kamarnya dibuka dari luar. William masuk ke dalam dan duduk di atas ranjang sambil menyandarkan tubuhnya seraya mengotak-atik handphonennya. Dhea mengakhiri doanya, lalu membuka mukenanya, kemudian mendekati suaminya.


Wajah William masih terlihat masam, akibat rasa cemburu terhadap Mike tadi. Namun hebatnya, saat di luar tadi dia bisa bersandiwara, seolah peristiwa yang membuatnya sedikit tidak senang tadi sudah dilupakannya, sehingga Mike sudah tidak merasa tak enak hati lagi, dan papanyapun tidak mengetahuinya sedikitpun, karena mereka bertiga terlihat enjoy mengobrol, dan sesekali terbahak bersama.


" Hemmm...apakah dia masih marah dengan kejadian tadi?" tanya Dhea dalam hati.


" Apakah artinya tadi dia cemburu? hahaha terakhir dia cemburu saat dia masih mendekatiku dulu. Bahkan karena begitu percayanya dia padaku, saat aku jalan bersama Reihanpun dia tidak marah seperti sekarang ini." Kata Dhea dalam hati.


Hatinya justru merasa senang saat dicemburui suaminya seperti sekarang, rasanya itu ahhhh....tidak dapat diceritakan. Bangganya dia saat tau suaminya tidak suka dia dekat dengan lelaki lain, padahal tanpa dia harus cemburupun, Dhea sangat tau bahwa suaminya itu sangat takut kehilangannya.


" Hai sayang, kau tidak ingin mandi dulu? biasanya saat di rumah, pagi-pagi sekali kau sudah mandi. Apakah karena cuaca di sini yang menyebabkan kau jadi malas mandi?" Kata Dhea sambil memainkan jemarinya mengusap dada bidang William, mencoba merayu laki-laki itu. Biasanya suaminya tidak akan betah jika Dhea sudah mengeluarkan jurus mautnya tersebut.


" Aku sedang malas." Kata William singkat, sambil matanya tak bisa beralih dari benda segiempat yang bahkan keberadaannya bisa lebih dibutuhkan dari mahluk hidup sekalipun, karena ketergantungan manusia yang begitu besar padanya. Bahkan terkadang kesendirian tanpa teman seharipun itu lebih menyenangkan, dibandingkan tanpa dirinya sedetik saja.


" Sayang....kau lihatlah aku! apakah handphonemu lebih menggoda dibandingkan aku yang sudah mandi ini." Kata Dhea terus berusaha menarik perhatian suaminya yang sedang ngambek itu.


" Heiii.....ci...luuuukkkkk....baaaa....!!!" kata Dhea, sambil mendekatkan wajahnya di depan suaminya yang sedang menunduk menatap handphone, sembari menutup mata dengan kedua telapak tangannya, mempraktekkan layaknya seorang ibu yang sedang bermain-main dengan anak balitanya.


" Huaahahaha......!" William hampir terbahak, namun ditahannya dan hanya terpingkal dalam hati.


" Hehhhh....menggemaskan sekali sih dia, sekuat apa aku ya?? hahhhhh....." Gumam William dalam hati, masih pura-pura tidak bergeming.


" Hemmmm.....sepertinya jurus terakhirku harus kukeluarkan untuk membuatmu tertawa. Kau pasti tidak akan tahan jika kugoda seperti ini, kau kan memang pria yang sangat sensitif sekali, makanya kau punya istri cantik." Kata Dhea dalam hati penuh percaya diri.


" Haaaaaaa.....ayooo.....kau masih berani tidak perduli padaku lagi Tuan William jika kubeginikan!!! kata Dhea sembari menggelitik pinggang dan perut suaminya.


" Hei....haahaahaa....huaaaaa...ampun...ampun sayang...haahaahaa..!!" William tak bisa menahan rasa gelinya, hingga tertawanya pecah begitu keras.


" Ayooo....!!! kau berani mendiamkanku lagi tidak kalau kubeginikan???" kata Dhea tak berhenti dengan gerakkannya.


" Haaahahaaaa...!!! iya iya, aku kalah...iya ampunnnn....!!!" Teriak William sambil berusaha menangkap tangan Dhea, dan akhirnya berhasil dipegangnya, sehingga otomatis gerakan Dhea terhenti.


" Hahhh...hahhh....kau ingin membuat suamimu ini mati karena tertawa ya??" kata William masih dengan nafasnya yang tersengal.


" Hehhh...salah sendiri kau mengacuhkan aku!!" kata Dhea sambil cemberut.


" Siapa suruh kau bercanda dengan adikku di belakangku." Jawab William sembari melepaskan tangan istrinya, lalu meremas gemas bibir manyun istrinya..


" Hei...siapa yang bercanda?" bela Dhea.


" Tadi aku lihat kau tertawa-tawa dengannya saat aku baru saja masuk." Jawab William tak kalah sewot.


" Haahaahahaa.......!!" Dhea terpingkal.


" Hei kenapa kau tertawa? aku serius sayang!!!..heiiiiii....!!" kata William sambil memegang kedua bahu istrinya yang tergoncang karena tawanya.


" Hahaha....kamu cemburu ya????" kata Dhea mencadai suaminya.


" Ihhhh...siapa yang cemburu, masak dengan adikku sendiri aku cemburu???" kata William gengsi.


" Hahahaha...sejak kapan kau jadi malu mengakui perasaanmu pada istrimu ini sayanggg??? padahal saat kau sedang mendekatiku dulu, kau terang-terangan jika sedang cemburu padaku??? ahhhh...senangnya dicemburui...!!" kata Dhea sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


" Jadi benar tadi kau bercanda dengan Mike? tanya William masih setengah penasaran.


" Hahaha...tidak suamiku!! cintaku, sayangku, belahan jiwaku....Dia tadi berkata, bahwa nampan yang aku bawa itu bisa membahayakan janinku, karena mengganggu konsentrasiku berjalan, dan aku bilang isi nampan itu beratnya belum seberapa, jika aku mengangkat galon baru akan meminta bantuannya. Begitu, kau jelas kan sekarang?"


" Jadi kau benar-benar tidak bercanda dengannya?"


" T..I..D..A..K...kau yakin sekarang? mana bisa aku berpaling dari suami tampanku ini, sedangkan senyummu saja bahkan sepertinya tidak bisa hilang dari pikiranku." Kata Dhea sambil mengusap pipi William yang ada di depannya.


" Hemmm...kau ya...sepertinya godaanmu tadi bereaksinya sekarang sayang!!" kata William sambil meringsek maju mendekati istrinya, sehingga otomatis tubuh Dhea jatuh di atas kasur pembaringan.


" Heiii...kau tidak ingin mandi dulu??? lihatlah bau ketiakmu asam." Kata Dhea sambil pura-pura menutup hidungnya.


" Buat apa mandi dulu, jika nanti harus mandi lagi? bukankah setiap malam kau juga selalu tidur sambil bersembunyi di ketiakku ini? kata William sambil mulai melancarkan aksinya.


Ahhhh...pagi yang indah, seindah matahari yang mengintip dibalik dedaunan yang telah mulai meninggi di ufuk timur. Menghiasi birunya langit dan ditemani kumpulan awan yang bergulung-gulung, membentuk panorama indah ciptaan Tuhan yang amat luar biasa. Terpaksa sarapan pagi mereka harus tertunda dulu, karena ada yang lebih menyenangkan dibanding merasakan nikmatnya sepiring makanan, yang ujung-ujungnyapun akan menjadi sebuah tumpukan sampah di dalam usus besar mereka berdua.


Untuk para readers maaf ya jika di sesion 2 ini author hanya bisa up satu kali, karena selama pembuatan novel ini author tidak pernah mengarang di buku terlebih dahulu tp langsung mengetikkan setiap ide yg keluar di atas layar hp, jadi harap maklum jika sedikit tersendat. Selain itu juga karena masih ada sedikit kesibukkan yg menyita wkt. Tp jgn khawatir, setiap harinya insha alloh akan author sempatkan up🙏🙏🙏