Something different

Something different
Bersama Willism dan Daniel 3



Sementara itu Deasy terlihat gelisah sendirian di kamarnya, rupanya kata-kata suaminya membuatnya sedikit khawatir, dia tidak menyangka dibalik sosok Mike yang selama ini dia tau begitu lembut dan sayang padanya, ternyata disaat dia murka cukup membuat Deasy ngeri juga. Namun kekerasan hatinya bukannya membuat dia sadar, tapi justru menyimpan dendam semakin besar terhadap Dhea, dan menyusun siasat agar pelampiasan kemarahannya terhadap Dhea tidak mencolok di depan suaminya, sehingga suaminya menyangka bahwa dia sudah tidak lagi benci terhadap Dhea. Dia merasa Dhealah penyebab utama suaminya marah, dan membela wanita lain dibanding Deasy yang merupakan istrinya sahnya.


Deasy terus berjalan mondar-mandir, hatinya begitu gundah, campur aduk antara rasa bingung untuk membuat suaminya tak lagi marah padanya, dan rasa penasaran untuk tetap bisa menjalankan misinya untuk menyudutkan Dhea, tanpa ada orang lain tau ketidakberesan sikapnya itu. Otaknya terus berputar untuk mencari cara.


" Ok...fix..!!! aku harus turun sekarang, bersikap ramah dan semanis mungkin, jadi biar mereka tidak curiga. Tapi untukmu Dhea, hemmm..aku tetap akan membuat perhitungan denganmu, tapi kali ini dengan cara yang lebih halus, dan aku yakin kau bisa tersadar, bahwa kau itu hanya akan menjadi sebuah parasit dalam hubunganku dengan Mike. Aku harap kau bisa segera angkat kaki dari rumah ini, dan pergi dari hadapan kami...!!!" Rasa dendam Deasy yang tidak beralasan semakin memuncak saja.


Deasy kemudian berjalan keluar dari kamarnya, dan menuruni tangga. Dia terus berjalan menelusuri tiap bagian rumah besar itu. Sama-samar dia mendengar seseorang sedang mengobrol di ruang makan, diselingi tawa sesekali.


" Hemmmm....rupanya mereka masih berada di sini, ternyata belum puas juga mengobrol yang tidak penting sedari tadi." Gerutu Deasy dalam hati.


" Aku harus mendekati mereka, dan memasang wajah seramah mungkin, atau jika tidak Mike akan terus marah denganku." Bathinnya lagi. Deasy segera mendekati arah suara itu.


Saat langkah kakinya terdengar, spontan 3 orang yang berada di ruang makan langsung menengok ke arah suara itu. Dan dengan manisnya Deasy segera melemparkan senyum pada mereka.


" Hemmmm...sepertinya obatku sudah bereaksi Mike. Wajah istrimu normal kembali." Bisik Daniel.


" Obat apa sih Dan? aku tidak memberikan obat apa-apa."


" Obat penurun emosi hahaha."


" Haiii...semuanya!" sapa Deasy.


" Hai Deasy...bagaimana kepalamu sudah enakan?"


" Ooohhh sudah Will, kubawa istirahat sebentar sudah mendingan."


" Baguslah."


" Syukurlah Deas. Jika tidak, bisa menyebabkan stroke jika kau pelihara sakit kepala itu terus hahaha." Lagi-lagi Daniel menggoda.


Mike yang sedari tadi tidak ikut berbicara tetap diam saja. Dia sedang menerka-nerka apakah gerangan yang telah terjadi pada istrinya? kenapa dia tiba-tiba keluar kamar, dan memasang wajah sumringah seperti tidak terjadi apa-apa. Waktu satu bulan pernikahan, dan kebersamaan mereka yang singkat saat pacaran, membuat Mike belum bisa mengetahui watak asli istrinya sendiri, sehingga memerlukan waktu untuk bisa saling memahami.


" Kenapa hanya tinggal kalian bertiga? yang lain kemana?"


" Maksudmu Dhea dan papa?"


" Iya Will, memang ada yang lain lagi?"


" Yahhh...siapa tau kau sedang mencari kepala asisten rumah tangga."


" Kepala asisten rumah tangga? untuk apa aku mencarinya Dan?"


" Ya terserah kau untuk apa kau memanggilnya, kau kan sudah besar sudah bisa berpikir sendiri, kenapa harus bertanya padaku." Jawab Daniel sekenanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar androidnya.


" Hehhhh...kambuh lagi dia sepertinya." Gumam William. Sedangkan Deasy hanya bersungut-sungut.


" Hehhhh...untung stok orang seperti Daniel cuma satu, jika ada dua, mungkin dia bisa menularkan penyakit gilanya pada seluruh orang di kota ini." Bathin Deasy.


" Mike, kau sudah sarapan?" Yang ditanya hanya menengok sebentar dan menjawab singkat.


" Sudah, baru saja."


" Ya sudah aku mencari papa dan Dhea dulu, lanjutkan saja obrolan kalian." Kata Deasy masih tetap memasang tampang ramah, padahal hatinya sangat meradang melihat sikap Mike itu.


" Eh Deasy...!!"


" Iya Will?"


" Mereka berdua ada di dekat kolam renang, kesanalah..!!"


" Oh iya Will, aku akan susul mereka. Terimakasih ya?"


" Ya, sama-sama."


Sepeninggal Deasy, mereka segera melanjutkan obrolannya.


" Mike, kenapa kau masih bersikap cuek pada istrimu? padahal dia sudah mau keluar kamar dan tidak cemberut seperti tadi?"


" Biar saja Will, dia harus diberi sedikit pelajaran, bahwa sebagai istri dia tidak bisa berbuat semena-mena padaku, dia harus bisa menghormatiku sebagai suaminya."


" Hahaha...kau ini polos atau bodoh sih Will?"


" Maksudmu apa Dan?"


" Kau tau strategi perang?"


" Strategi perang? untuk apa aku menggunakan strategi perang? aku itu lahir di jaman yang sudah merdeka dan di jaman yang sudah modern. Mungkin itu kamu yang memerlukannya, dan itu berarti kau seumuran kakek buyutku hahaha."


" Hehhh...sialan...!! aku itu berbicara serius Will?"


" Iya aku tau kau serius. Tapi kalau membuat perumpamaan itu, kenapa sih tidak cari yang gampang-gampang saja dan sedikit modern? kenapa bukan hidupmu saja yang sulit? ternyata cara berpikirmupun lebih sulit. Sangat menyedihkan sekali kamu Dan!"


" Hahahaha...." lagi-lagi Mike tergelak.


" Hahhhh...susah kalau berbicara dengan orang yang kepandaiannya di bawah rata-rata, sudah bisa kutebak pasti cara pemikiranmu tidak sampai jika mengimbangi kemampuanku Will." Gerutu Daniel.


" Hahaha...jika William tidak mau dengar, biar aku saja yang mendengarkan Dan, lanjutkan kalimatmu." Jawab Mike di sisa tawanya.


" Yahhh...kita berbicara berdua saja Mike, pasti dia bingung jika mendengar pembicaraan kita." Dan William hanya tersenyum saja mendengar Daniel yang begitu gondok karena diusilinnya sedari tadi.


" Maksudmu strategi perang yang seperti apa tadi Dan?"


" Begini Mike, kau tau kan biasanya musuh itu pasti akan bersembunyi di tempat yang aman agar tidak diketahui lawannya?"


" Ya sudah tentu itu, lalu?"


" Dan kau tau tempat yang terkadang tidak terpikirkan oleh musuh itulah yang merupakan tempat yang nyaman."


" Tempat apa itu?"


" Tempat yang paling aman untuk bersembunyi adalah tempat yang sebenarnya berbahaya untuk kita, dan itu pasti tidak terpikirkan oleh musuh."


" Lalu apa hubungannya persoalanku dengan tempat berbahaya tadi?"


" Hahaha....kau percaya bahwa istrimu sudah benar-benar berubah seperti yang kakakmu bilang itu?" Mike diam sesaat sambil mengernyitkan dahinya.


" Entahlah....aku juga belum terlalu memahami karakternya."


" Nah itulah....kita harus mengenal karakter lawan jika ingin memenangkan peperangan."


" Apa lagi sih Dan yang kau bicarakan?"


" Aduhhhhh....ganteng-ganteng ternyata kau kurang cerdas juga.


" Sudah simpan dulu hinaanmu itu, lanjutkan saja kata-katamu."


" Saat ini mungkin saja istrimu sedang bersandiwara, dia bersembunyi dibalik wajahnya yang ramah, polos dan tanpa dosa itu. Dengan begitu kau tidak akan curiga dengan sikapnya saat ini, bisa jadi dia sedang menyusun strategi yang lebih menyeramkan daripada ini. Itu yang aku bilang tempat berbahaya sekaligus tempat yang aman untuk sembunyi."


" Kau paham kan sekarang? atau aku perlu datangkan penerjemah untuk mengartikan kata-kataku padamu? tidak perlu kan?"


" Tidak Dan, aku cukup bisa memahami kalimatmu yang memang sulit untuk dipahami orang biasa ini."


" Untung kalian dianugerahi wajah tampan, jika tidak sudah bisa dipastikan kalian akan tersingkir dari peradaban dunia."


" Hehhh..sialan kau ini. Tapi masak Deasy harus berpura-pura demi untuk membalas rasa cemburunya itu?"


" Wanita itu jika sedang cemburu akan lebih menyeramkan daripada kucing yang sedang beranak Mike."


" Oh ya? kau pernah berkelahi dengan kucing yang sedang beranak ya?"


" Hehhhh....kau ini aku serius Mike, berhati-hatilah kau!! awasi istrimu dengan baik."


" Ya...ya..ya terimakasih atas nasehatmu."


" Kau boleh mendengarkan kata-kata Daniel, Mike. Tapi yang harus kau ingat adalah, bahwa Daniel itu berpikirnya di luar orang kebanyakan, kadang sedikit upnormal, jadi kau perlu waspada juga hahaha." William terbahak sendiri. Sedangkan Daniel hanya bersungut-sungut saja William tak henti-hentinya menggoda.