Something different

Something different
Surat Dhea



Dhea menatap keluar jendela pesawat yang ada di sampingnya, yang terlihat hanya keremangan malam dan hamparan awan putih yang nampak sedikit samar karena tidak adanya cahaya di luar. Dia pikir dulu saat pertamakali datang ke negara asing itu hanyalah ingin melanjutkan studinya tanpa terganggu oleh hal lainnya, apalagi terganggu oleh yang namanya asmara, bahkan itu sama sekali tidak terpikir dalam memori otaknya. Namun ternyata, sekarang dia kembali ke Indonesia dengan membawa segores luka yang begitu perih menyayat hatinya.


Dulu cita-citanya bisa memiliki suami seperti ayahnya, sholeh, rajin berjamaah, pandai melantunkan ayat suci Al Quran, sangat sabar dan bijaksana memimpin keluarganya. Namun ternyata saat ini justru kebalikkannya.


Dia tau William sangat mencintainya, bahkan sangat perhatian padanya. Namun karakter yang ada dalam diri William sangat bertolak belakang dengan calon suami idaman Dhea selama ini. William lebih keras kepala, lebih tegas dan cenderung meledak ledak. Bahkan sama sekali belum tau sedikitpun tentang ajaran agamanya, bentuk huruf alifpun mungkin dia juga tidak tau.


Namun Dhea sangat mengharapkan Alloh bisa merubah keadaan itu, menjadikan William menjadi sosok suami yang diidamkannya dan minimal mendekati walaupun tidak 100 % sama. Semoga waktu satu tahun ini ada sebuah keajaiban dalam hidupnya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Dia berkehendak.


Dhea terus menerawang jauh, pikirannya terbang entah kemana, meninggalkan sekeping hatinya yang telah dibawa oleh sesosok pria yang amat di cintainya di negara asing itu.


Sementara itu William terus memacu kendaraannya, diliriknya jam yang ada di dasboard mobilnya, sudah pukul 11.10 malam, namun William tidak langsung menuju ke rumahnya untuk beristirahat, tapi justru menuju ke apartemen Dhea.


Sampai di sana dia menemui penjaga yang ada di apartemen tersebut.


" Tolong carikan kunci kamar kekasih saya yang ditinggalkan tadi, aku tunggu di atas!!" Kata William.


Penjaga itupun menganggukan kepalanya, sedangkan William segera berjalan naik menuju bekas kamar yang tadinya ditinggali Dhea.


Setelah beberapa saat menunggu di sana, penjaga tadi sudah menyusul William ke atas.


" Ini tuan." Kata penjaga itu sambil menyerahkan sebuah kunci kamar pada William.


" Terimakasih."


" Sama-sama tuan." Lalu dia segera pergi meninggalkan William seorang diri.


William kemudian memasukkan anak kunci ke lobang yang ada di pintu tersebut, saat masuk ke dalamnya William masih mencium sisa aroma parfum yang biasa dipakai Dhea yang tertinggal di dalam ruangan itu. William menghirupnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya, seolah sedang ingin menikmati setiap hirupan angin yang masuk ke dalam rongga-rongga hidungnya.


William berjalan pelan ke dalam ruangan tersebut, mengitari setiap sudutnya, dan menyentuh setiap barang dimana jejak anggota tubuh Dhea tertinggal di sana. Sofa panjang yang biasa mereka duduki berdua dibelainya, seolah sedang meraba bayangan Dhea yang biasa menemaninya di situ.


Hati William terasa perih, ternyata hatinya sesakit ini saat Dhea sudah benar-benar meninggalkan dirinya jauh di sana. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaannya, hanya deru nafasnya yang turun naik tidak teratur seolah sedang menahan gejolak perasaannya yang sedang tidak menentu itu.


William masuk ke dalam kamar Dhe, kamar yang biasa ditiduri kekasihnya itu. Perlahan dia duduk di atas ranjang besar itu, dan diambilnya sebuah bantal. Diciumnya bantal tersebut dimana bau wangi rambut Dhea masih menempel di situ.


" Ya Tuhannn...bisakah aku memulai semuanya dari awal sekarang?"


Rasanya sangat jarang seorang laki-laki sedih kemudian menangis karena asmara, dan Williampun demikian. Dia ingat saat putus dengan Jessy dulu tidak sedikitpun mengeluarkan air mata, namun justru uring-uringan tidak karuan. Tapi sekarang kenapa hatinya jadi berubah melankolis dan gampang sekali meratapi kesedihannya dengan mengeluarkan air mata.


Dia sebenarnya sangat sebal dengan dirinya sendiri, kenapa jadi secengeng ini, namun entah kenapa sifat keras hatinya dulu seolah tidak lagi bersisa dalam dirinya.


Tiba tiba William melihat sebuah amplop yang ada di atas meja. Kemudian dia berjalan. Dilihatnya itu bukan hanya sebuah amplop saja, melainkan kartu kredit juga.


" Ini kan kartu kredit yang aku berikan pada Dhea? Kenapa dia meninggalkannya di sini?" Tanya William dalam hati sambil memegang kartu kredit tersebut.


" Hehhh...tidak mungkin Dhea melupakannya, pasti dia sengaja meninggalkannya di sini." Gumam William lagi.


Lalu matanya segera beralih pada amplop putih yang masih ada di atas meja itu.


" Hehhh..apa ini?" Kata William dalam hati.


William segera mengambilnya, kemudian menyobeknya, dan kembali duduk di atas ranjang tempat tidur.


Dilihatnya sebuah surat yang memang sengaja ditulis Dhea untuk William.


*William.....


Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah terbang jauh meninggalkan negaramu. Maaf aku memang tidak ingin memberitahumu. Kau tau kan, aku paling benci jika harus terus menangis. Aku tau kau mungkin memang tidak bisa datang atau lebih tepatnya tidak mau datang untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal padaku, karena sebenarnya kau sudah tau bahwa malam ini aku akan kembali ke Indonesia, namun buktinya kau tidak sedetikpun menampakkan batang hidungmu. Tapi itu wajar saja, karena aku sudah tidak memiliki hak apapun untuk melarangmu ataupun memerintahkanmu.


Aku dan kamu saat ini hanya disatukan oleh waktu yang mungkin bisa berpihak pada kita berdua, atau bahkan justru akan memisahkan kita berdua. Namun itu semua tergantung padamu untuk membawa hubungan kita ini kemana. Yang jelas aku bukan wanita yang mudah untuk mengucapkan janji lalu mengingkari. Aku akan kembali setahun lagi, dan akan menerima segala keputusanmu.


Terimakasih untuk semuanya. Untuk kebersamaan kita, untuk perhatianmu, untuk kasih sayangmu.


Maaf jika selama ini aku selalu merepotkanmu


Semoga hidupmu ke depannya lebih baik lagi, ada ataupun tanpaku.


Dhea*


William langsung mencium surat itu, matanya memerah menahan kesedihannya. Dia segera merebahkan tubuhnya di kasur, mendekap guling yang selalu dipakai oleh Dhea, berharap sosok wanitanya itu akan hadir dalam mimpi tidurnya, hingga kemudian diapun terlelap.