
" Dhe suruh masmu makan yang banyak, jangan sungkan-sungkan." Suruh ibunya saat mereka bertiga sedang menikmati makanan.
" Mas, bu??" Tanya Dhea meyakinkan dan sedikit bingung
" Iya, masmu? Itu lho William kok malah bingung?"
" Iya itu...anu...masak Dhea harus panggil mas bu?"
" Ya iyalah dia kan calon suamimu nak, tidak pantas jika kau panggil namanya terus. Tidak sopan nak, dia calon imammu kan?"
" Iya bu, maksud Dhea???" Jawab Dhea sambil menengok laki-laki yang sedang duduk disampingnya sembari menikmati makanannya. Dia yang berparas bule, dengan garis wajahnya yang tegas, dimana sekitar dagu dan rahangnya ditumbuhi bulu halus, juga bodynya yang atletis dan tinggi besar. Tiba-tiba Dhea tertawa terbahak hingga terbatuk-batuk dan langsung menghabiskan minuman di dalam gelasnya. Spontan ibunya dan William menatap Dhea keheranan.
" Dhe, ya ampun kenapa kamu tertawa seperti itu tidak baik nak?" Kata ibunya.
" Hahaha...Dhea hanya merasa lucu bu, orang sesangar dia aku harus memanggilnya Mas William bu? Hahaha dia seperti mas...mas ya bu? Padahal Dhea sudah mati-matian untuk mendapatkan pria bule ini, ujung-ujungnya masiiiihhhh...juga dipanggil mas hahaha." Jawab Dhea tidak bisa berhenti menahan tawanya.
" Memangnya panggilan mas itu salah ya? Itu kan panggilan masyarakat kita nak, kamu jangan mentang-mentang sudah mendapatkan calon suami bule jadi melupakan asal usulmu ya, ibu tidak suka itu. Darahmu itu tetap darah wong Jowo nduk."
" Iya bu Dhea tau, Dhea tidak pernah malu jadi orang Jawa, justru Dhea sangat bangga dibesarkan oleh orang tua yang bersuku Jawa. Cuma rasanya panggilan itu aneh di telinga Dhea untuk William."
" Lalu kau akan tetap memanggil namanya saja begitu?" Tanya ibunya lagi.
" Tidak bu, nanti akan Dhea pikirkan panggilan apa yang tepat untuk dia." Jawab Dhea sambil mulai bisa kembali mengontrol dirinya.
Ibu Dhea hanya menarik nafas saja dengan sikap anak semata wayangnya itu. Sedangkan William masih saja kebingungan karena melihat Dhea tertawa tadi.
" Ada apa sayang? Kenapa kau tertawa hingga seperti itu? Kau sedang mengataiku?"
" Ya ampun William kenapa kau jadi sering curiga aku mengataimu? Ibuku tadi memintaku agar tidak lagi memanggilmu dengan namamu saja, tapi dengan sebutan mas."
" Mas? Apa maksudnya?" Tanya William penuh tanda tanya.
" Maksudnya itu panggilanku untuk menghargaimu sebagai calon suamiku. Dalam tradisi masyarakat kami, seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan namanya saja dianggap tidak sopan sayang."
" Mas? Hemmm kedengarannya sangat unik, oke panggil aku Mas William ya?"
" Tidak!!" Jawab Dhea tegas.
" Kenapa sayang? Bukankah itu sangat menarik?"
" Menarik bagaimana? Sangat tidak pantas kau dipanggil dengan sebutan itu."
" Lalu kau akan memanggilku apa sayang?"
" Hemmmm.....jika kita sudah menikah aku akan tetap memanggilmu sayang saja? Lebih mudah kan? Dan aku sudah terbisa mengucapkannya ."
" Ya terserah kau saja, apapun panggilanmu padaku yang penting kau tetap milikku." Jawab William lagi. Dhea hanya membalas perkataan William dengan senyumannya.
Kemudian mereka bertigapun terlihat hening sembari menghabiskan makanan. Setelah selesai makan siang Dhea mengajak William duduk di depan teras.
" Sayang." Panggil Dhea.
" Iya, ada apa?"
" Memangnya kau sudah mempelajari agamaku sejauh mana?" Tanya Dhea.
" Yang ingin kau tanyakan bagian apanya?"
" Kok kamu malah ganti bertanya?" Jawab Dhea.
" Maksudku kau akan tau sejauh mana aku mempelajari agamamu dari jawaban yang aku berikan nanti."
" Alif??? Alif itu adalah aku Dhe."
" Maksudmu apa Will alif adalah kamu?"
" Ya, alif adalah aku. Alif itu huruf pertama dalam abjad Al Quran. Dan letak alif dalam hubungan kita nantinya berada di pundakku. Akulah orang pertama yang bertanggung jawab atas keluarga kita, rumah tangga kita. Orang pertama yang harus bisa membawamu ke surganya, membimbingmu di jalannya. Dan aku adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas dunia dan akhirat atas kamu calon istriku dan anak yang Dia percayakan nanti pada kita berdua." Jawab William sambil menatap mesra pada Dhea.
" Kau sejauh itu mengartikannya? Aku sendiri belum pernah tau sebelumnya." Jawab Dhea.
" Itulah, seharusnya kau bisa lebih paham daripada aku dan lebih beruntung dibesarkan oleh orang tuamu dan menganut agama itu sejak kecil, tidak seperti aku sekarang. Tapi aku tidak pernah berhenti belajar untuk mengetahui segala ilmu yang berkaitan dengan agamaku saat ini. Yang harus kau ingat adalah, sekali kita mengambil keputusan, tuntaskan semua hingga ke akarnya dan jangan cuma setengah-setengah, karena kita pernah tau bagaimana nanti ke depannya."
" Luar biasa kamu Will, mudah-mudahan kau tetap istiqomah ya?"
" Istiqomah? Apa itu artinya Dhe?"
" Williammmm.....!!! Tadi kau baru saja menasehatiku, tapi kenapa istilah sesederhana itu kau belum mengetahuinya?"
" Ya kan aku belum belajar istilah-istilah Dhe."
" Hehhhh...makanya belajar itu harus dimulai dari nol dulu bukannya langsung ke angka 10, makna huruf alif kau artikan sejauh itu, giliran arti istiqomah kau belum paham, dasar bule aneh." Gerutu Dhea.
" Itu juga aku dapatkan dari google Dhe." Jawab William sambil cengar cengir.
" Makanya belajar itu harus langsung pada ahlinya Will bukan cuma membacanya di handphonenmu, itu bisa berbahaya dan salah kaprah, kau paham!!"
" Iya sayang aku tau, makanya aku memintamu untuk mencarikan aku guru."
" Nanti aku akan minta tolong ayahku agar kau tidak terjerumus dalam ajaran sesat."
" Hahhh...kau pikir aku akan belajar ilmu hitam." Gerutu William, dan Dhea hanya tersenyum saja melihat reaksi kekasihnya itu.
" Dhe aku pernah mendengar tentang hukum sunah dan wajib. Apa artinya ya?"
" Wajib itu artinya jika kau kerjakan mendapatkan pahala dan jika kau tinggalkan mendapatkan dosa. Sedangkan sunah jika dikerjakan mendapatkan pahala jika tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa. Kau paham?"
" Ya ya ya aku paham, berarti kita sangat beruntung jika bisa mengerjakan ibadah sunah tiap hari ya?"
" Benar sekali sayang."
" Jika mengerjakan ibadah sunah pahalaku jadi bertambah?? Berarti jika seorang suami poligami, seumur hidup dia akan mendapatkan pahala? bukankah poligami sama saja mengerjakan ibadah sunah? Hemmm sangat menarik." Gumam William sambil sok serius sembari mengangguk anggukan kepalanya.
" Apa??? Kau memikirkan poligami???? Enak saja belum juga menikahiku sudah memikirkan mencari maduku??? Williammmm...jangan macam-macam kau ya. Memilih ibadah sunah yang mudah!! Perbaiki dulu ibadah wajibmu dan sunah lain baru kau bicara sunah yang itu!!!" Kata Dhea emosi, wajahnya berubah cemberut.
" Hehehe...akhirnya aku bisa melihatmu seperti ini lagi. Sifat galakmu itu dulu yang membuatku penasaran padamu sayang, sampai aku mempertaruhkan semua untuk mendapatkanmu." Kata William lagi karena merasa senang sudah berhasil mengerjai Dhea.
" Hemmm kau sedang memperdayaku ya?" Tanya Dhea dengan lirikan matanya yang tajam.
" Sayang...mana mungkin aku mau menduakanmu. Semua wanita itu rasanya sama jika hanya memikirkan kepuasan lahir saja, tapi ada yang lebih penting dari itu, rasa di dalam sini yang membedakannya." Kata William sambil menunjuk dadanya.
" Kau wanita terindah yang pernah aku miliki. Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku Dhe." Kata William lagi menenangkan Dhea.
" Benarkah? Kau tidak akan pernah membahas poligami itu selama bersamaku nanti?"
" Pasti Dhe."
" Sungguh?"
" Ya, kecuali kau mengijinkannya." Jawab William sambil mengerling.
" Williammmm......menyebalkan kau ya!!!" Jawab Dhea sambil memukuli pundak William, dan Williampun hanya terbahak melihat calon istrinya yang mulai terlihat manja itu.