
Selama dua hari William menghafalkan surat Al Fatihah dengan dibimbing Feri. Feri dan Mariyam bahkan tidak bisa menahan geli melihat ekspresi William pertama kali, saat mendengar ayat yang harus dihafalkannya itu, ternyata ayat tersebut sangat sulit dilafazkan oleh lidahnya yang tidak terbiasa mengucapkan bahasa Arab. Dan Alhamdulillah, ternyata otak William cukup pandai. Selama dua hari tersebut William sudah menguasainya, bahkan dia rela tidur hingga larut malam demi menekuni hafalan tersebut.
" Will ada satu syarat khusus yang harus kau lakukan saat kau ingin memeluk agama islam." Kata William saat sedang duduk santai bersama Feri dan istrinya, sembari menikmati suasana sore di taman belakang rumah mereka.
" Apa itu Fer? apakah itu seberat saat awal-awal aku menghafalkan surat Al Fatihah?" Tanya William penasaran.
" Ini bukan masalah berat dan tidak, tapi ini masalah keberanian." Jawab Feri.
" Hahaha....kau meragukan keberanianku? hanya tuhan yang aku takuti saat ini Fer, apapun akan aku lakukan demi untuk bersatu dengan kekasihku." Jawab William penuh percaya diri.
" Sungguh kau berani Will?" tanya Feri.
" Jangan ragu-ragu, katakan padaku, persyaratan apa yang harus aku lakukan? semua pasti akan kuhadapi."
Feri dan Mariyam saling berpandang-pandangan. Mariyam tau maksud perkataan suaminya itu.
" Will, seorang laki-laki dalam agama kami sebelumnya harus dikhitan dulu, bukankah dulu kau belum dikhitan?" Tanya Feri.
" Dikhitan? maksudmu?" Tanya William setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
" Iya dikhitan!!! itumu dipotong!!" kata Feri. Wajahnya justru seperti sedang menakuti William, dibanding sedang memberi pengertian, sembari dia mempraktekkan dengan tangannya seperti memotong sesuatu, menambah keterkejutan di wajah William.
" Apakah itu harus???" tanya William masih setengah tidak percaya, bahkan tanpa disadari dia menutupi bagian depannya dengan kedua telapak tangannya.
Mariyam yang melihatnya tergelak sambil menundukkan wajahnya, akibat malu sendiri melihat reaksi sahabatnya itu, dia benar-benar tidak bisa menahan rasa gelinya.
" Heiii...apa-apaan kau ini? turunkan tanganmu!! lihatlah ada istriku yang melihatmu." Kata Feri.
William spontan menurunkan tangannya. Mariyam masih terus terbahak hingga mengeluarkan air mata.
" Maaf...aku tidak sadar." Kata William.
" Fer...apa tidak ada cara lain? kenapa harus dikhitan sih? lalu nanti aku bagaimana?" Rengek William.
" Kau pikir sedang transaksi jual beli pakai ditawar segala. Lalu bagaimana apanya? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Feri heran dengan pertanyaan William.
" Ya kan kau tau, setelah ini aku ingin menikahi kekasihku, lalu bagaimana kalau aku dikhitan."
" Hahahaha.....memang kau akan menikahi Dhea satu minggu lagi? tidak kan?
" Ya tidak Fer, tapi maksudku apa tidak ada cara lain yang lebih memudahkanku begitu?"
" No..no...no....ini syarat wajib dan tidak boleh ditawar. Kau benar-benar ingin menikah dengan Dhea tidak??" tanya Feri.
" Ya iyalah sudah sejauh ini kenapa aku harus mundur?" jawab William.
" Ya sudah, besok aku akan mengantarkanmu ke dokter. Jangan berlebihan begitu. Anak kecil saja berani, mengapa kau setakut itu." Kata Feri, Mariyam masih saya senyum-senyum mendengar pembicaraan dua laki-laki dewasa tersebut.
" Iya deh aku mau. Sssstttt jangan berulah ya, awas kau nanti jika tampilanmu tidak menarik lagi, ingat!! kau harus sekeren aku, suatu hari nanti jangan sampai permalukan aku di depan istriku, aku sentil habis-habisan kau nanti ya." Tiba-tiba William menundukkan kepalanya sambil membisikkan sesuatu pada bagian depannya.
" Woooiiii.....kau ini, bisikanmu itu sepertinya terlalu keras!! aku mendengarnya ya...!!! Dasar bule tak tau malu." Kata Feri sambil memukul pundak William.
William yang merasa bisa membalas mencandai Feripun terbahak, Mariyam bahkan menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena tak bisa menahan tawa.
" Aku akan menelfon ayah Dhea, bahwa harus menunggu lukamu sembuh dulu, baru kau bisa mengucap sahadat. Mungkin ayah Dhea belum tau jika kau belum dikhitan."
Kemudian Feri segera menelfon ayah Dhea.
" Assalamualaikum pak." Sapa Feri saat ayah Dhea mengangkat telfon darinya.
" Wa'alaikum salam nak Feri. Ada apa nak Feri?" tanya ayah Dhea.
" Maaf sebelumnya pak sudah mengganggu istirahat bapak."
" Oh tidak apa-apa nak, ini saya sedang ngobrol saja dengan istri saya."
" Sudah nak, tapi jadwal belum ditentukan, karena masih ada hal-hal penting lainnya yang harus dipersiapkan ."
" Iya pak, tapi sebaiknya prosesinya harus diundur terlebih dulu, karena William kan harus dikhitan, dan menunggu lukanya sembuh." Kata Feri.
" Astagfirullahaladzim...!!! kenapa saya jadi lupa satu syarat itu? untung kamu ingat nak." Kata Ayah Dhea sedikit terkejut.
Ahh...kenapa ayah Dhea tidak ingat masalah khitan? padahal kan ritual itu salah satu syarat wajib bagi setiap pria muslim. Ternyata beliau seperti author yang lupa menuliskan tentang hal penting ini😜
" Baiklah nak, setelah prosesi khitan itu selesai kamu kabari bapak lagi ya?"
" Iya pak, pasti nanti saya kabari. Ya sudah ya pak, maaf sekali sudah mengganggu."
" Iya nak Feri tidak apa-apa, bapak tunggu kabar dari nak Feti."
" Baik pak, assalamu'alaikum."
" Wa'alaikum salam." Kemudian telfonpun ditutup.
" Fer, kira-kira lukaku bisa sembuh dengan cepat tidak?" tanya William, ada nada khawatir dalam kalimatnya.
" Hemmmm....berapa hari ya???? mungkin bisa 1 bulanan." Kata Feri sok serius.
" Apaaaaa???? satu bulan???? bisa apa aku sambil menunggu lukaku yang satu bulan itu???" Kata William amat terkejut dengan jawaban Feri.
" Ya kau duduk diam saja di rumahku, jangan melakukan apa-apa, karena jika kau banyak bergerak, kau mau bentukmu nanti tidak proporsional???"
" Maksudmu tidak proporsional???" tanya William.
" Punyamu bisa berubah jadi segini, kau mau???" kata Feri sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
" Haaaa....bisa mati gaya aku nanti Fer di depan istriku." Kata William setengah berteriak.
" Tapi kan wajahmu tetap tampan, hanya itumu saja yang sedikit memprihatinkan." Kata Feri sambil menahan tawanya.
" Ahhhh...tidak...tidak!!! aku tidak mau jika resikonya sebesar itu. Aku akan mencari dokter spesialis yang ahli di London saja untuk memiimalisir resikonya. Aku akan melakukannya di sana Fer."
" Hahahaha......kau ini, kenapa seserius itu sih....bodoh, bodoh, bodoh!!!" kata Feri sambil menonjok lengan temannya itu.
" Aku hanya bercanda teman. Tidak seekstrim itu juga kali Will. Tenang saja, paling hanya seminggu kau sudah bisa beraktifitas lagi." Kata Feri sambil tergelak, dan lagi-lagi Mariyam tidak bisa menahan tawanya melihat Feri terus-terusan mengerjai temannya itu.
'" Sialan kau Fer, aku sudah membayangkan yang tidak-tidak tadi." Gerutu William.
" Bi, jangan mengerjai William terus dong, kasihan dia, nanti dia malah membatalkan niat baiknya lho." Kata Mariyam mengingatkan suaminya.
" Aku hanya ingin tau seberapa besar sih niat dia untuk serius dengan Dhea, ternyata tekadnya memang sudah bulat, walaupun tadi dia sudah sedikit gentar."
" Hahhhh...bagaimana tidak gentar? kebanggaanku selama ini yang selalu membuat wanita tergila-gila sedikit terancam dan jadi segini.....ihhhh apa kata dunia???" Kata William sambil menunjukkan jari kelingkingnya sembari bersungut-sungut.
" Jadi besok kau sudah siap ya aku antar ke dokter?" tanya Feri.
" Siap Fer, sangat siap. Semakin cepat semakin baik, agar proses selanjutnya bisa aku laksanakan lagi." Jawab William penuh semangat.
" Hahaha...ini baru namanya pria sejati Will." Kata Feri.
" Hehhh...kau pikir selama ini aku bukan pria sejati? aku tidak perlu mendatangkan para korbanku untuk membuktikan bahwa aku benar-benar pria sejati kan???" kata William.
" Itu namanya kau ingin mempersulitku teman. Tapi sebenarnya menarik juga jika kau ajak mereka kemari." Bisik Feri ke telinga William.
" Hemmmmm.....abi, jangan coba-coba merencanakan sesuatu di belakangku ya!!!" kata Mariyam sambil melirik tajam pada suaminya.
" Hahaha...tidak umi, mana berani aku seperti itu. Ini nih William, sepertinya dia ingin mengajariku aliran sesat." kata Feri.
" Heiiii...kenapa jadi aku yang disalahkan???" kata William, dan Feripun hanya terbahak saja.