Something different

Something different
Masak bersama



Minggu paginya William datang lagi ke apartemen Dhea. Dhea terlihat sedang repot di dapur. Hari ini dia memang ingin menikmati makanan hasil masakannya sendiri. Bumbu dapur yang dikirimkan ibunya dari Indonesia belum lama ini dan telah dikeringkan, masih banyak tersedia di lemarinya. Tadi pagi Dhea telah membeli beberapa sayuran dari swalayan yang letaknya ada di samping apartemen. Tiba tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.


" Ahhh itu pasti William." Gumam Dhea.


Dhea hafal sekali kebiasaan laki laki itu, dia jarang mau menekan bel yang ada di depan pintu kamar Dhea.


Dhea segera keluar, dan masih menggunakan celemek yang menempel di dadanya. Tak lupa dia juga meraih jilbab yang teronggok di sofa depan. Lalu langsung membukakan pintu untuk William.


" Pagi sayang."


" Pagi Will, masuklah."


" Hemmm harum sekali." Kata William sambil mencium aroma yang keluar dari ruangan dapur.


" Kau sedang memasak Dhe?"


" Iya Will, aku bosan sekali jika harus makan di luar terus."


" Boleh aku bantu Dhe?"


" Ya, kemarilah." Jawab Dhea.


William mengikuti Dhea yang berjalan ke arah dapur.


Dilihatnya berbagai macam sayuran dan ikan ada di meja dapur.


" Kau ingin masak apa Dhe?"


" Aku ingin masak soup Will."


" Lalu aku bisa membantu apa?" Tanya William sambil berdiri di samping Dhea yang sedang meracik bumbu dapur, dan melumuri ikan dengan berbagai macam rempah-rempah.


" Sini." Ajak Dhea.


" Kau potong sayuran ini semua ya, setelah itu berikan padaku, dan jangan banyak tanya lagi ok."


" Kau galak sekali Dhe!" Goda William.


" Hehhhh." Gerutu Dhea. William hanya tersenyum menanggapi gerutuan Dhea. Tak lama kemudian mereka berdua asyik dengan pekerjaannya masing masing. Dhea menggoreng ikan, sedang William memotong sayuran.


" Ini Dhe sudah selesai!"


" Bawa kemari Wil, biar aku cuci."


William kemudian memberikan sayuran itu pada Dhea. Setelah mencucinya, Dhea memasukkannya pada air yang telah mendidih sedari tadi dan sudah diberi bumbu.


" Hmmm sepertinya nikmat sekali Dhe, perutku jadi lapar."


" Apakah kau sudah pernah mencicipi masakan Indonesia Will?"


" Sudah Dhe."


" Menurutmu bagaimana?"


" Enak Dhe, dan kaya akan rempah."


" Ya negara kami memang kaya akan rempah- rempah, itulah sebabnya mengapa dulu negara kami banyak diperebutkan oleh negara lain, karena mereka iri dengan kesuburan tanah yang kami miliki."


" Iya Dhe, tidak seperti di sini, ingin menanam sesuatu saja sulit."


" Tapi kau tetap harus bersyukur Will! Jika kau tinggal di negara kami, belum tentu kau sekaya sekarang."


" Hahaha benar katamu Dhe."


Kemudian Dhea mencicipi soupnya yang sepertinya sudah hampir matang.


" Hmmm...!!" Gumam Dhea.


" Enak Dhe?" Tanya William.


" Kau mau mencicipi?"


" Boleh." Jawab William.


Kemudian Dhea mengambil sedikit kuah dan disodorkan ke mulut William.


" Nih buka mulutmu."


" Huaaaaa.....", teriak William sambil mengipas ngipas bibirnya dengan telapak tangan.


" Hei kenapa Will? Kau kepedasan?"


" Panas Dhe....!!" Kata William.


" Hahahaha.....!!" Dhea tertawa terbahak bahak sambil memegangi perutnya.


" Heiiii...kamu senang sekali melihatku menderita ya?"


" Hahahaha lucu sekali ekspresimu William hahaha..!"


Dhea tidak bisa berhenti tertawa.


William menatap Dhea tanpa berkedip, entah kenapa hatinya begitu tenang melihat wanita di depannya ini begitu gembira. Dhea tertawa hingga keluar air mata.


Namun tertawa Dhea perlahan berhenti, karena dilihatnya William hanya memandanginya sambil tersenyum tipis.


" Kenapa kau memandangku seperti itu Will?" Tanya Dhea, dia jadi salah tingkah sambil membuang padangannya.


Tiba tiba dia meraih tangan Dhea, dan menggenggamnya erat.


" Dhe aku tidak bisa mengontrol gairahku saat bersamamu seperti ini. Tapi bukan nafsu yang menguasaiku saat ini, namun keinginan untuk memelukmu dan mendekap tubuhmu agar kau tidak pergi jauh dariku Dhe itu saja." Kata William.


Dada Dhea tiba tiba berdebar debar saat beradu pandang dengan William. Lalu William mendekatkan wajahnya seperti hendak mencium Dhea. Namun entah kenapa Dhea tidak menolaknya dan justru memejamkan matanya seolah ingin memberikan kesempatan pada William.


Jarak wajah mereka berdua sudah sangat dekat, namun entah kenapa tiba tiba William mengurungkan niatnya, perasaan takut tiba tiba menyergapnya, dia tidak berani melakukan itu, karena khawatir akan membuat Dhea pergi darinya dan tidak mempercayainya lagi.


William hanya menatap wajah Dhea yang begitu mempesona apalagi dengan jarak sedekat ini. Mata Dhea yang sedari tadi terpejam menambah jantungnya semakin berdetak tak karuan.


" Tidak, aku sudah janji tidak akan melakukan ini lagi." Kata William dalam hati. William hanya mengusap pipi Dhea yang begitu halus dengan jarinya.


" Sayang...posisimu sekarang sangat membahayakanmu." Kata William tiba tiba. Dhea terkejut, dan segera membuka matanya. Dhea sangat malu wajahnya langsung memerah.


" Ya Alloh apa yang baru saja kulakukan? Kenapa aku seperti terhipnotis? Ahhhhhhh.....memalukan!!" Jerit Dhea dalam hati.


Dhea tiba tiba tersadar dan segera menarik tangannya.


" Kenapa sayang? Kau tidak kecewa kan karena aku tidak jadi menciummu?"


" Ihhhhh siapa juga yang mau kau cium!!" Jawab Dhea ketus sambil memalingkan wajahnya menghindari tatapan William karena malu.


" Tapi wajahmu memerah sayang..!!" Goda William lagi.


" Kau ya....pergi sana! Duduk didepan saja!" Teriak Dhea sambil berusaha memukul tubuh William.


" Hahaha....!!!" William berusaha berkelit menghindari pukulan tangan Dhea yang bertubi tubi.


Tiba tiba William meraih tangan Dhea kembali.


" Sssttttt...Sayang dengar....!! Aku sudah bilang, aku begitu takut untuk menyentuhmu, juga untuk menciummu. Aku takut kau tidak percaya padaku dan menganggapku hanya ingin mempermainkanmu. Aku tidak akan mau menyentuhmu lagi sebelum aku bisa menikahimu. Itu janjiku Dhe."


Dhea setengah tak percaya dengan kenyataan yang dia hadapi sekarang ini. Seorang laki laki yang begitu tulus mencintainya, bahkan nyaris sempurna di mata manusia. Tapi kenapa agama jadi penghalang mereka berdua untuk bersatu? Walaupun saat ini Dhea belum menerima cinta William, namun dia yakin, hatinya saat ini telah dicuri oleh laki laki yang dulu sempat dibencinya itu.


" Eh ehm Will, sepertinya masakan kita sudah matang. Kita makan dulu yuk?" Kata Dhea sambil melepaskan tangan William dan berusaha mengalihkan pembicaraan


" Kau bantu aku menyiapkannya ya?" Kata Dhea pura pura sibuk.


William hanya tersenyum melihat sikap Dhea yang seolah ingin menghindarinya. Namun William tetap menuruti permintaan Dhea.


Tak lama kemudian mereka sudah terlihat duduk di depan meja makan, sambil menikmati masakan yang baru dibuat oleh Dhea tadi.


" Bagaimana Will rasa masakanku? Kau suka?"


" Hmmmm...sebenarnya rasa masakanmu biasa saja Dhe, tapi karena ada kau yang menemaniku makanan ini jadi terasa nikmat." Goda William sambil melirik Dhea.


" Ihhh kau ini, jangan dimakan kalau tidak enak!!" Jawab Dhea ketus.


" Hahaha tidak sayang, makanan ini nikmat sekali, aku tadi hanya bercanda. Aku yakin kau pasti sering masak sendiri di rumahmu dulu ya?"


" Hehhhh masa bodoh!" Kata Dhea ketus.


" Hemmm...jika kau marah begitu wajahmu sangat menggemaskan sayang."


" Terserah kau!"