
Sudah 2 hari ini William pergi dan belum menelfon Dhea sama sekali. Malam ini tiba tiba Dhea merasa kesepian. Dhea ingin menelfonnya, tapi ada keragu raguan di hatinya.
" Ahhh nanti dia bisa besar kepala ", bathin Dhea dalam hati.
Namun tiba tiba saja handphone Dhea berdering. Dilihatnya Williamlah yang menelfonnya, Dhea langsung saja mengangkatnya.
" Hallo William?"
" Hahaha..."
" Hei kenapa kau tertawa?" Tanya Dhea heran.
" Tidak sayang, aku baru saja menelfonmu kau langsung saja mengangkatnya. Apakah kau rindu padaku? Tenang saja sayang aku baik baik saja, tidak ada wanita disampingku. Aku sedang istirahat di hotel, seharian aku mengurus proyekku yang baru."
" Proyek?"
" Ya proyek untuk masa depan kita."
" Maksudmu?"
" Hahaha serius sekali kamu Dhe."
" Hehhhh pasti dia sedang menggodaku." Bathin Dhea.
" Will bolehkah aku keluar malam ini?"
" Tumben kau ijin denganku?"
"Jika aku tidak ijin, pasti kau akan segera tahu dan kau langsung mengirim orangmu untuk menjemputku pulang. Benarkan Tuan William?"
" Hahaha kau mulai paham rupanya."
" Kau ingin pergi kemana?"
" Aku hanya ingin jalan jalan saja, rasanya bosan di dalam kamar terus."
" Baiklah kamu telfon saja Hendrik biar dia mengantarkanmu pergi."
" Terimakasih William ", kataku begitu riang.
" Tapi jangan terlalu malam Dhe, besok kau harus kuliah pagi bukan? Jangan sampai kau kelelahan hingga bangun kesiangan!"
" Siap tuaannn...."
" Ya sudah hati hati ya sayang." Kata William kemudian menutup telfonnya.
Kemudian Dhea menelfon Hendrik, dan tak lama kemudian supir William telah tiba di depan apartemen Dhea.
" Hallo nona saya sudah di depan apartemen anda." Katanya di telfon
" Oh ya tunggu sebentar." Jawab Dhea, sembari turun ke bawah.
" Kita pergi kemana nona?" Tanya Hendrik saat Dhea sudah naik ke atas mobil.
" Terserah kamu Hendrik, aku hanya ingin keliling keliling saja menikmati malam. Rasanya sangat jenuh sendirian terus di kamar."
" Baik nona."
" Kau sudah lama bekerja dengan William?" Tanya Dhea.
" Kira kira sudah 8 tahunan nona."
" Cukup lama ya, kamu betah sepertinya bekerja dengannya?" Selidik Dhea.
" Sangat betah nona."
" Bukankah dia pria yang arogan?"
" Menurutku tidak nona, karena dia begitu baik dengan pegawai pegawainya di rumah, juga sangat tegas."
" Benarkah?"
" Ya nona, dia pria yang sangat perhatian, dia banyak membantuku dan keluargaku".
" Oh ya? Sepertinya dia hanya menghambur hamburkan uang dengan banyak wanita."
" Ya itu hal biasa nona, seorang pria sekaya tuan William apalagi dia tampan, wajar saja dia begitu banyak dikagumi wanita cantik, dan tidak sedikit yang ingin bercinta dengannya. Tapi dia tidak pernah mengejar wanita hingga seperti anda nona."
" Maksudmu?"
" Ya dia biasanya tidak akan pernah lama bertahan dengan seorang wanita. Hanya dengan anda saja nona, apalagi sampai memindahkan anda ke apartemennya. Andalah wanita satu satunya yg membuat dia hingga mengerahkan seluruh pegawainya untuk melayaninya."
" Kau bisa saja Hendrik!" Kata Dhea sembari membuang pandangannya ke luar jendela.
" Hemmm benarkah yang dikatakan Hendrik padaku? Atau jangan jangan ini salah satu triknya saja meminta Hendrik memuji mujinya di depanku agar aku tertarik dengannya?" Dhea terus bertanya tanya dalam hatinya.
Tiba tiba telfon Dhea berdering.
" Hallo sayang, kau sedang dimana?"
" Aku sedang di dalam mobil bersama Hendrik."
" Apakah kau sudah tidak merasa kesepian?"
" Lumayanlah, daripada cuma di rumah saja."
" Seandainya saja kuliahmu libur, aku pasti akan mengajakmu."
" Lalu tinggal di hotel dan satu kamar dengan anda Tuan William? No no no, lebih baik aku di sini saja, duduk manis dan menunggumu pulang."
" Tapi tetap saja aku tidak mempercayaimu." Gerutu Dhea.
" Mana Hendrik sayang? Aku ingin bicara dengannya?"
Dhea menyerahkan telfonnya pada Hendrik.
" Iya tuan, baik tuan. Anda tidak usah khawatirkan itu, aku akan menjaganya."
Kemudian Hendrik menyerahkan handphonennya pada Dhea lagi.
" Ini nona hp anda." Kata Hendrik setelah selesai.
" Dia bicara apa Hendrik?"
" Tuan mengatakan jangan sampai meninggalkan nona sedetikpun, aku harus tetap berada di samping anda, dan dia minta aku untuk menjaga keselamatan anda nona. Sepertinya Tuan William benar benar tergila gila pada anda nona."
" Aahh dia itu berlebihan sekali Hendrik."
Sambil menatap ribuan lampu jalan yang sepertinya lebih berwarna dan bersinar indah dibanding malam malam yang lalu.
" Nona anda ingin berhenti di mana? Biar saya parkirkan mobilnya."
" Tidak usah Hendrik, kita terus saja ke apartemenku."
" Anda ingin pulang nona?"
" Ya, percuma juga aku turun tidak ada William yang menemaniku."
" Bukankah ada saya nona?"
" Terimakasih Hendrik kau tidak usah repot repot."
" Ya sudah jika anda tidak berkenan, aku akan mengantar anda pulang saja ya?"
" Iya Hendrik."
Kemudian Hendrik segera memacu mobilnya menuju apartemen Dhea.
" Selamat malam nona, saya permisi dulu."
" Terimakasih Hendrik sudah mau mengantarku."
" Iya nona sama sama."
" Besok pagi saya akan jemput anda seperti biasanya kan?"
" Iya Hendrik jam 8 pagi ya. Hati hatilah di jalan."
Kemudian William segera pergi, dan Dhea langsung masuk ke apartemennya. Baru beberapa langkah saja berjalan, telfon Dhea berdering.
" Hallo sayang, apakah kau belum pulang?"
" Aku baru saja sampai apartemen Will, ada apa?"
" Oh tidak, syukurlah kalau kau sudah di rumah. Segera beristirahatlah! Aku tidak ingin selama aku pergi kau tidak menjaga kesehatanmu sayang."
" Tenang will, aku bukan anak kecil lagi."
" Tapi kau wanitaku sayang."
Dhea tidak menjawabnya sedikitpun dan hanya senyum senyum sendiri.
" Dhe?"
" Eh ehm iya Will?"
" Aku merasa kesepian sekali tidak ada kamu di sini ."
" Hehhh...kau sedang merayuku ya?"
" Tidak sayang, mana pernah aku merayumu. Aku hanya merasa hari hariku begitu lama di sini. Aku selalu mengkhawatirkanmu sendirian di sana."
" Tenang saja Will, aku baik baik saja di sini. Bukankah orang orangmu selalu menjagaku 24 jam di sini? Konsentrasilah dengan pekerjaanmu agar bisa cepat kembali ke sini lagi."
" Dan bertemu lagi denganmu begitu kan sayang maksudmu???" Kata William sambil menggoda Dhea.
" Eh ehmm bukan begitu, aku eh....." Dhea terlihat gugub.
" Hahaha Dhea Dhea...kau membuatku begitu merindukanmu, rasanya sudah tidak sabar aku kembali kesana".
" Iyaaa....tapi jangan lupa diri ya jika sudah bertemu denganku nanti."
" Iya sayang pasti itu, aku tidak akan berani melawan tatapanmu jika sedang marah, sepertinya biji matamu akan melompat keluar."
" Hehhh...awas kau ya."
" Ya sudah sayang istirahatlah, ini sudah malam!"
" Selamat malam cintaku."
" Selamat malam Tuan William."
Lalu William menutup telfonnya.
Dhea tersenyum sambil mencium layar handphonennya. Entah kenapa hatinya begitu berdebar setelah mendapat telfon dari William. Dia kemudian masuk ke dalam apartemennya, lalu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit langit kamar. Pikirannya melayang terbang entah kemana.