Something different

Something different
William menelfon Bram



" Terimakasih ya Bram atas makan siangnya?" Kata Dhea saat perjalanan pulang.


" Sama-sama Dhe."


" Oh iya kau jadi pulang tanggal berapa Dhe?"


" 30 Bram."


" Berarti 2 mingguan lagi?"


" Iya Bram."


" Secepat itu?"


" Itu juga sudah aku mundurkan beberapa hari."


" Kenapa? Kau mengharapkan William berubah pikiran dan ikut bersamamu ke Indonesia ya?" Goda Bram.


" Enak saja."


" Lalu?" Tanya Bram lagi.


" Aku kan harus mengemas barang-barangku semua, dan mengirimkannya ke Indonesia. Tidak mungkin akan kubawa sendiri semua nanti di pesawat."


" Ohhh aku pikir kau masih mengharapkan William datang." Kata Bram sambil tersenyum.


" Kau ini negatif thinking saja." Gerutu Dhea.


" Hahaha...bukan negatif thinking, hanya tebak-tebakan saja Dhe."


Kemudian Bram menghentikan kendaraannya di depan apartemen Dhea.


" Jika kau berangkat nanti, aku boleh menemuimu kan Dhe?" Tanya Bram sebelum Dhea turun dari kendaraannya.


" Tentu saja Bram, tidak ada orang yang boleh melarangmu menemuiku." Jawab Dhea.


" Ok, nanti sebelum kau berangkat, aku akan menemuimu di bandara ya."


" Ya Bram." Jawab Dhea singkat.


" Kalau begitu masuklah! Terimakasih ya sudah mau menemaniku?"


" Sama-sama Bram." Jawab Dhea.


Kemudian Bram segera kembali ke rumahnya, sedangkan Dhea segera naik ke dalam kamarnya.


Saat sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba handphone Bram berbunyi. Bram segera mengambil handphonennya dan melihat siapa yang telah menelfonnya.


" William?? Tumben dia menelfonku?" Gumam Bram saat tau yang menelfon dirinya adalah William. Kemudian Bram mengangkat telfonnya.


" Hallo."


" Hallo Bram." Jawab William di seberang sana.


" Ada apa kau menelfonku Will?"


" Aku hanya ingin bertanya, kau sedang ada di mana?"


" Hehhh...ada apa dia bertanya seperti itu? Apakah dia tau aku baru saja keluar bersama Dhea? Ahhh tidak mungkin bukankah mereka berdua sudah putus? Untuk apa William masih mengikuti Dhea terus menerus" Tanya Bram dalam hati.


" Aku sedang berada di perjalanan menuju rumahku Will? Ada apa?" Selidik Bram.


" Memangnya kau darimana?" Tanya William lagi seolah ingin tau.


Bram mulai sedikit curiga, jangan-jangan William memang benar-benar tau dia pergi bersama Dhea.


" Tidak penting kan kau harus tau aku darimana?"


" Tapi untuk kali ini penting Bram!" Jawab William tak mau kalah.


" Kenapa?" Tanya Bram.


" Karena kau baru saja pergi dengan kekasihku!" Jawab William ketus.


" Bukankah kau sudah tidak ada hubungan lagi dengan Dhea?"


" Siapa yang bilang?"


" Dhea sendiri!" Jawab Bram.


" Itu hanya sementara Bram, dan bukan berarti kau bisa bebas mengajaknya pergi!"


" Kau ini egois sekali Will. Kau memutuskan Dhea, tapi melarangnya untuk berhubungan dengan pria lain, bahkan selalu memata matainya. Itu berarti kau tidak membiarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri."


" Karena akulah yang nantinya akan memberinya kebahagiaan Bram!"


" Nanti? Nanti kapan?" Nanti jika kau berubah pikiran? Namun itu jika bisa, jika tidak?? Sampai kapan kau akan terus menyiksa perasaannya Will?"


" Hehhh...kau tidak usah mengkhawatirkannya, karena aku lebih tau caranya untuk membahagiakan Dhea dibanding kau."


" Hemmm...kita lihat saja, apakah kau bisa menepati janjimu atau tidak."


" Dhea akan kembali ke Indonesia tanggal 20, dan aku akan menemuinya untuk mengucapkan salam perpisahan, kau tidak bisa melarangku." Kata Bram lagi.


" Tanggal 30 besok?"


" Ya? Kenapa kau terkejut? Kau bilang mencintainya, tapi dia sebentar lagi akan pulang ke negaranyapun kau tidak tau." Gerutu Bram.


" Karena aku memang membatasi diri untuk berkomunikasi dengannya, itu janjiku, dan aku tidak mau melihatnya sedih setiap hari."


" Hehhhh...cinta macam apa itu, aku bahkan bingung untuk memahami cara berpikirmu." Gerutu Bram.


" Will kau tau tidak apa yang kubicarakan kemarin saat bertemu dengan Dhea?"


" Memangnya apa?" Tanya William.


" Aku itu mengungkapkan perasaanku padanya."


" Maksudmu apa hahhh...??? Kau ingin menusukku dari belakang???" Tanya William emosi.


" Hehh kau ini selalu berpikiran negatif padaku."


" Lalu apa coba?"


" Aku itu tau Dhea hanya menganggap aku sebagai teman biasa saja tidak lebih. Dan aku paham sekali dia tidak akan mungkin berubah menyukaiku setelah tau perasaanku padanya."


" Lalu kenapa kau masih saja mengatakan perasaanmu?"


" Karena aku ingin jujur terhadap diriku sendiri, aku tidak mau tersiksa dengan menyimpan perasaanku sedangkan Dhea tidak mengetahuinya. Walaupun pada kenyataannya aku tetap harus menerima penolakan Dhea terhadapku."


" Hehh...lalu untuk apa kau menceritakan semuanya padaku?"


" Aku ingin kau juga jujur pada perasaanmu sendiri, jika kau benar-benar mencintainya, kejarlah dia, berkorbanlah untuknya, bukan hanya seperti seorang pengecut yang setiap hari hanya memata matainya saja."


" Kau tau apa tentang segala hal yang telah aku lakukan untuk bisa bersama Dhea?"


" William...William...seandainya kau tau bahwa cinta Dhea itu begitu besar padamu. Bahkan secara tidak langsung dia mengatakan padaku akan menagih janjimu jika tiba saatnya nanti."


William hanya diam saja dan tidak menjawab satu patah katapun.


" Ya sudah, aku sudah hampir tiba di rumahku. Silahkan Jika memang kau mau mendengar nasihatku namun jika tidak, akupun tidak akan memaksamu. Selamat siang." Kata Bram, kemudian diapun segera menutup telfonnya.


William tetap berdiri mematung di depan jendela kaca ruangan kantornya. Namun kemudian dia seperti teringat sesuatu, lalu dia segera menelfon seseorang.


" Hallo." Jawab seorang laki-laki di seberang sana.


" Iya hallo." Kata William.


Kemudian William berbicara panjang lebar pada laki-laki itu.


" Ya, langsung kau antar ke sana saja ya?"


" Terimakasih sebelumnya." Jawab William, kemudian dia segera menutup telfonnya kembali.