
Pernikahan William dan Dhea yang sudah dilaksanakan beberapa bulan lalu, menumbuhkan benih dalam rahim Dhea. Kebahagiaan mereka berdua tidak terkira dengan anugrah yang mereka terima begitu cepatnya di usia pernikahan mereka yang masih dalam hitungan bulan itu. Kado kehamilan yang diterima Dhea dari William untuk mengunjungi kota dimana mereka dulu pernah menjalin cinta itu, merupakan hadiah terindah untuk Dhea. Kota itu memiliki seribu kenangan buat mereka berdua. Banyak cerita yang mereka ukir saat di sana, cerita yang awalnya sangat menyebalkan bagi Dhea, namun akhirnya mengantarkan laki-laki yang dulu amat dibencinya itu menjadi laki-laki yang amat dicintainya, bahkan menjadi imamnya.
Dunia seakan terbalik, Dhea bahkan tidak pernah mengira setelah menikah dengan William dia menjadi sosok yang begitu sempurna, padahal masa lalu William yang hitam dan bergelimang dengan dosa bahkan tidak mengenal Tuhannya, justru sekarang berubah menjadi sosok yang membanggakan. William tidak pernah berhenti belajar, dan tidak pernah berhenti mencari tau hal yang belum diketahui tentang agama barunya.
Hari ini adalah merupakan hari pertama William dan Dhea berada di apartemen mereka, apartemen yang dulunya digunakan Dhea saat dia tinggal di London.
" Sayang....ternyata susunan barangnya masih seperti saat pertama kutinggalkan dulu ya?" Kata Dhea sambil meletakkan tas kecilnya di atas meja ketika baru saja tiba di apartemen itu.
" Ya sayang, aku dulu pernah bilang bahwa aku tidak akan menggantikan orang lain untuk menempati kamar ini, hanya kamu yang bisa tidur di kamar ini." jawab William sambil memeluk istrinya dari belakang sembari berdiri di balik jendela kaca yang menghadap langsung ke jalan.
" Aku dulu sangat suka berdiri di depan jendela ini, sambil menatap pemandangan luar dari kamarku." Kata Dhea sambil bersandar di dada suaminya.
" Aku tau." Jawab William singkat.
" Kau tau kebiasaanku itu?"
" Sangat tau sekali, bahkan kau dulu sering mengintipku di balik jendela kamarmu yang lama jika aku baru saja mengantarmu pulang kan?"
" Ihhh kau ini, kenapa sih dulu kau suka sekali memata-mataiku hingga sedetail itu kau tau kegiatanku?" Kata Dhea sambil membalik badan menghadap suaminya.
" Karena aku yakin bahwa kau adalah wanita yang dipilihkan Allah buatku, yang datang untuk membawa kebahagiaan buatku dan merubah semua kehidupan kelamku sayang." Jawab William sambil menatap mata istrinya.
" Ya, dan sekarang aku tidak lagi sendiri berdiri di sini untuk menatap kepergianmu meninggalkan kamarku, tapi ada kamu yang setiap waktu menemaniku kan?"
" Ya sayang, selama Allah mengijinkan kita tetap bersama-sama, insyaallah aku menjaga amanah yang Dia anugrahkan padaku, juga buah cinta kita ini." Kata William sambil memegang perut istrinya.
" Sayang, aku lapar!!" Rajuk Dhea manja.
" Ohhh iya, kau mau aku pesankan makanan, atau kita keluar saja, biar aku telfon supirku dulu?" Tanya William.
" Aku masih lelah sayang, kau pesankan saja, kita makan di dalam kamar ini ya?"
" Kalau begitu kamu mau makan apa biar aku telfon pegawaiku?"
" Kau masih ingat tidak makanan kegemaranku saat masih di sini sayang?"
" Tentu istriku, aku tidak akan mungkin begitu saja melupakannya, kegemaranmu itu akan menjadi kegemaranku juga, karena akupun sekarang harus hati-hati memilih makanan. Iya kan???" Kata William sambil mencubit pipi istrinya.
" Ya kau sungguh pintar sekarang."
" Dari dulupun aku memang sudah pintar, kalau tidak mana mungkin aku bisa mendapatkan istri sepertimu."
" Ya sudah aku telfon pegawaiku dulu ya?" kata William lagi. Dhea hanya mengangguk dan beberapa saat kemudian William terlihat sedang bercakap-cakap menggunakan telfon genggamnya.
" Ahhhhh.....nyaman sekali bisa tidur di sini lagi." Kata Dhea sambil merebahkan tubuhnya sembari memejamkan matanya, berusaha flash back dengan kejadian beberapa tahun yang lalu saat dia berada di kamar ini.
" Sayang, kau lelah?" Tanya William sambil ikut merebahkan tubuhnya di samping Dhea.
" Tidak sayang. Walaupun perjalanan panjang semalam itu menyita tenagaku, namun semua kelelahan terbayar saat aku bisa merasakan kembali tidur di atas kasur ini." Jawab Dhea.
William memiringkan badannya sembari menatap wajah istrinya itu.
" Aku tau, pasti kau sedang mengenang saat kau begitu bergejolak menahan hasratmu ketika berduaan denganku di kamar ini, sedangkan hatimu menolaknya kan?" Goda William.
" Ihhhh kau bicara apa sih??? Aku tidak pernah menyesal melakukan itu, bahkan sangat bersyukur. Kalau tidak, belum tentu kau saat ini kau mau menikahiku, apalagi jika aku mau kau ajak bermesraan dulu." Gerutu Dhea sambil merengut.
" Tapi aku tau, dulu setiap kau memintaku membuka pintumu lebar-lebar, sebenarnya kau berharap pintu itu bisa tertutup angin tiba-tiba kaannn??? Ayolah kau jujur saja padaku, kita kan sudah menikah." Kata William.
" Sayang..." Kata Dhea sambil menatap wajah suaminya.
" Dulu aku pernah khilaf. Apapun alasannya yang kita lakukan dulu adalah salah, di kamar ini banyak kenangan manis denganmu, dan untungnya kita berdua tidak sampai lupa diri, entah apa yang terjadi saat itu jika saja aku lalai dan terbuai dengan bujuk rayumu." Jawab Dhea.
" Ya aku tidak mau, jika anak ini mewarisi sifat play boy papanya." Jawab Dhea.
" Hahaha...tidak mungkin sayang, sifat play boyku itu karena aku pernah dikecewakan, jadi tidak akan mungkin kambuh jika aku tidak dikecewakan lagi."
" Tidak!! Pokoknya apapun alasannya aku lebih baik nanti memasukkan anak ini ke pondok pesantren saja, biar dia mendapat bekal agama yang baik sejak dini oleh orang yang tepat."
" Sayang, kau menganggap bahwa kau bukan orang yang tepat untuk mendidik anakmu sendiri?"
" Tapi aku merasa bahwa belum terlalu pintar dalam hal agama."
" Ya benar, tapi kau harus ingat, pendidikan kharakter anak yang pertama itu harus dipegang oleh orang tuanya, disitulah tugas kita sebagai orang tua harus bisa mengajarkan sesuatu yang baik pada anak kita nanti, melalui kebiasaan-kebisaan di rumah, dan juga mengajarkan dia ketaatan dan kedisplinan. Jika anak kita nanti sudah mewarisi sifat baik kita yang kita ajarkan di rumah, baru kau boleh melepasnya untuk dididik oleh gurunya di pesantren nanti. Kau tidak mau kan anakmu nanti lebih mencontoh karakter orang lain, daripada karakter kita orang tuanya?"
" Iya sayang jangan khawatir, aku akan memasukkan dia jika sudah baligh saja, karena aku tau saat dia belum baligh kita harus terus mendampinginya, karena dia masih perlu pengawasan kita dalam banyak hal terutama masalah perhatian dan kasih sayang, karena itu akan berpengaruh pada psikologis dia."
" Ternyata kau sungguh istri yang pintar." Kata William.
" Itulah gunanya aku sekolah tinggi, walaupun aku tidak memanfaatkannya di dunia pekerjaan, tapi aku bisa memanfaatkannya di dalam keluargaku."
Tiba-tiba bel dikamar mereka berbunyi.
" Mungkin makanan kita sudah tiba, aku buka pintu dulu ya sayang?" Kata William sambil beranjak bangun dari tempat tidur.
Dhea hanya mengangguk sambil memandang tubuh suaminya yang sedang berjalan keluar itu. Tak lama kemudian terdengar William memanggilnya dari luar.
" Sayang ayo makan dulu!! Ini sudah aku siapkan!!" Teriak William.
" Sini dulu dong!!" Jawab Dhea.
" Ada apa?" Tanya William lagi.
" Ahhhh sini dulu!!" Jawab Dhea manja. Tak lama kemudian William masuk ke dalam kamar lagi.
" Apa sayang???" Kata William sambil menatap mesra pada istri manjanya itu.
" Anakmu ini minta digendong tuan." Jawab Dhea sambil tersenyum.
" Hahhhh....sepertinya ini bukan keinginan anak itu, tapi keinginan mamanya, ya kaaannn???" Jawab William sambil mengangkat tubuh Dhea menuju meja makan.
" Hehehe....dua-duanya sih." Jawab Dhea.
" Upppsss....tubuhmu sedikit berat? apakah akhir-akhir ini makanmu terlalu banyak?"
" Ihhh kau kan tau aku sedang hamil!!" Kata Dhea sambil merengut.
" Hahaha....aku hanya bercanda sayang kau sensitif sekali sih." Jawab William, sambil kemudian mendudukan istrinya di kursi, dan lalu mereka berdua terlihat menikmati makanan yang baru saja mereka pesan.
inilah sosok Dhea yang bisa author gambarkan. Dhea gadis yang dulunya amat tinggi memegang tinggi prinsip hidup dan agamanya, namun harus lalai karena tergoda oleh pesona laki-laki tampan yang muncul dalam hidupnya. Sosok gadis cerdas, sedikit keras kepala, dan tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata ketus dan judes pada orang yang tidak disukainya, mencerminkan gaya anak muda sekarang yang cenderung meledak-ledak.
William....pria tampan dan mapan di usinya yang tergolong muda. Menjadi rebutan wanita-wanita cantik di kotanya. Pria yang sebenarnya memiliki sifat baik hati, penyayang, tegas, dan romantis namun sedikit posesif. Tapi karena pernah dikecewakan wanita dia berubah menjadi pemarah, play boy, dan semaunya sendiri.
Mike adik William. Lelaki yang tidak terlalu pandai merayu wanita, dan ketika dia mencintai satu wanita dia akan begitu saja percaya padanya. Namun dia lebih bersifat terbuka dan menerima segala hal yang terjadi dalam hidupnya dengan ikhlas dan merupakan takdir yang harus dia terima.