
Hari-hari Dhea bersama William tidak lain dan tidak bukan, hanya disibukkan dengan aktifitas jalan-jalan, bertemu dengan teman-teman lama, dan mengunjungi tempat yang satu ke tempat yang lain.
Berpindah-pindah tempat menginap, mulai dari apartement yang pernah ditempati oleh Dhea, rumah besar William, juga rumah mewah papanya. Tiga tempat yang menyimpan kenangan luar biasa yang tidak mungkin bisa dilupakan oleh Dhea dan William saat mereka berpacaran.
" Sayang, aku selalu ingat setiap saat berdiri di depan jendela ini, dan melihat mobilmu berlalu dari depan kamarku." Kata Dhea malam itu, saat menjelang tidur malam mereka, di dalam apartement yang pernah ditinggali Dhea
" Ya sayang aku tau. Dulupun kau sering melakukannya saat kau berada di flatmu itu kan?"
" Aku tau, bayangan tubuhmu itu terlihat jelas dari bawah setiap saat kau mengintipku."
" Hiiihhhhhh kau ini ya. Kau dulu itu seperti bayanganku saja, kemanapun dan apapun yang aku lakukan, kau pasti mengetahuinya."
" Ya, harus itu sayang. Karena aku sangat mencintaimu, dan aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu." Kata William sambil mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri.
" Dulu aku memilih kamar ini untukmupun, karena mempertimbangkan juga posisi jendela ini yang letaknya persis dengan jendela kamar flatmu yang dulu."
" Ohhh ya?? kenapa harus begitu??"
" Karena aku ingin kau terus mengintipku saat aku berlalu dari depan kamarmu sayang. Aku merasa, kau seolah sedang mengantarku pulang, dan berbisik padaku, hati-hati di jalan Tuan William Sean Anderson, panggilan kesayanganmu dulu saat kau sedang marah padaku hahaha."
" Ihhhhh kau ini. Kau dulu memang sangat menyebalkan. Kenapa bisa ya aku jatuh cinta padamu?"
" Aku juga tidak tau sayang, kalau kau bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa?"
" Ihhhhh kaaannn....kau mulai menyebalkan lagi Tuan William Sean Anderson!!!" sambil mencubit pinggang suaminya. William lalu menangkap tangan sang istri.
" Aku rindu sekali panggilan itu sayang. Jika kau sedang memanggilku seperti itu, aku merasa flash back saat aku dulu ingin menaklukanmu."
" Dan sekarang??"
" Dan sekarang apa tuan???"
" Dan sekarang aku juga ingin menaklukanmu lagi...lagi...dan lagi... hahaha." Sambil mengangkat tubuh Dhea lalu membawanya ke atas tempat tidur.
" Heiii...kau ini ya..." Teriak Dhea, dan setelah itu sunyi.
Malam panjang yang diisi romantisme Dhea dan William, seolah begitu cepat berlalu. Tubuh lelah Dhea terlihat pulas tidur di bawah selimut tebal. Udara dingin London benar-benar membuat Dhea meringkuk begitu nyaman di dalam apartement mewah milik suaminya. William yang terbangun duluan dan baru saja keluar dari dalam toilet, tersenyum melihat tubuh istrinya yang tidak bergerak sedikitpun. Setelah sholat subuh, dia segera mendekati Dhea.
Diusapnya pipi Dhea dan memanggil pelan namanya, agar tidak mengejutkan sang istri. Begitu nyenyaknya Dhea, sehingga tidak mendengar sedikitpun panggilan suaminya.
" Hemmm...tidurmu nyenyak sekali sayang, biasanya kau cepat sekali terbangun jika aku memanggilmu." Dibangunkannya sekali lagi Dhea dengan menepuk-nepuk pipinya. Namun ternyata istrinya tidak bereaksi sama sekali.
" Ehhhh tidak bangun juga ya. Ok harus dengan cara lain." Kata William sambil tersenyum. Sunggingan senyumnya yang licik, seolah sedang menyimpan rencana jahat. Dan benar saja, tiba-tiba dia mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah, sehingga air yang berasal dari rambutnya mengenai wajah Dhea. Perlahan-lahan kelopak mata Dhea terbuka. Dilihatnya, William sedang duduk di hadapannya.
" Sayang...apakah kamar ini bocor?? Apakah sedang turun hujan??? kenapa aku merasa ada air yang membasahi wajahku?" Kata Dhea sambil mengusap pipinya, dan benar ada air yang membasahi telapak tangannya.
" Hahaha....iya sayang bocor!!! Cepat bangun kita harus segera mencari tempat aman!!!"
" Hahhh...benarkah???" kata Dhea spontan beranjak dari tempat tidurnya, dan saat itu William terbahak.
" Hemmm...kau sedang mengerjaiku ya??" kata Dhea setelah benar-benar sadar, sambil merengut sebal.
" Hahaha...dari tadi kau kubangunkan, tapi tidak mendengar sama sekali, jadi kukibaskan rambut basahku ini." Sambil membenahi rambutnya yang berantakkan.
" Hehhhh...awas kau ya."
" Ayo buruan mandi, lalu sholat subuh."
" Yaaaaa...siap tuan..." Kata Dhea sambil berjalan ke arah toilet. Dan William hanya tersenyum memperhatikan istrinya berjalan sempoyongan akibat masih terkantuk-kantuk.
" Awas sayang, buka dulu matamu, nanti kau menabrak tembok." Sambil terkekeh
" Hemmmmm....." Kata Dhea sambil mengacungkan ibu jarinya.
Setelah sholat subuh, bukannya langsung berhias seperti biasanya, Dhea malah rebahan lagi.
" Sayanggg....kok tidur lagi, kau tidak ingin menikmati makan pagimu dulu?"
" Kenapa? apa kau sakit?" kata William sambil meraba dahi istrinya.
" Tapi tubuhmu tidak panas, apa yang kau rasakan?"
" Aku hanya merasa lemas sayang."
" Wajahmu terlihat pucat. Aku buatkan kau teh hangat ya, dan setelah itu biar kutelfon dokter kemari."
" Iya sayang." Kata Dhea pasrah. Dia tidak akan mungkin menolak kata-kata suaminya untuk memanggilkan dia dokter, walaupun sebenarnya yang dia rasakan hanya lemas saja, dan tidak ada yang sakit sama sekali. Bisa jadi itu hanya karena kelelahan. Tapi karena sudah tau watak suminya yang begitu mengkhawatirkannya, maka Dhea tidak membantah sama sekali kalimat William.
" Ya dokter, cepat ya!!!"
" Aku tunggu di apartemenku, selamat pagi..!!" Terdengar kalimat terakhir William mengakhiri telfonnya.
" Sayang kau tiduran dulu ya, sebentar lagi dokter datang." Dhea hanya mengangguk. Dengan setia William menemani istrinya sambil ikut rebahan di samping Dhea.
Benar saja, tak lama kemudian dokter yang ditelfon William datang. Dokter pribadi yang dulu pernah mengobati kaki Dhea. Dokter yang dulu pernah dikirim William saat sedang berusaha mendekati Dhea.
" Selamat pagi dokter, masuklah!!"
" Terimakasih tuan."
" Apa yang terjadi dengan istrimu? bukan kakinya lagi yang terluka kan?"
" Hahaha tentu saja bukan dokter. Itu kan cerita lama."
" Ya, cerita lama yang sangat mengesankan bukan. Dan aku ikut terlibat dalam permainanmu."
" Ahhh dokter, kau membuatku malu."
" Mana istrimu?"
" Dia ada di dalam dokter, mari ikut aku." Kata William sambil berjalan ke dalam kamar, diikuti dokter di belakangnya.
" Hai sayang, dokter sudah datang." Dhea segera bangun dari tempat tidurnya, dibantu oleh William.
" Apa yang kau rasakan Dhe?"
" Entahlah dokter, tubuhku terasa lemah tidak bertenaga."
" Oh iya, coba aku periksa sebentar ya." Sembari mengeluarkan peralatan medis dari kopernya, lalu segera memeriksa Dhea.
" Bagaimana dok?" tanya William.
" Semuanya normal, denyut jantungnya, tekanan darahnya. Sementara ini aku beri vitamin saja dulu ya.
" Apa tidak sebaiknya aku bawa istriku ke rumah sakit dokter, agar bisa diketahui lebih lanjut kenapa tubuhnya lemah?"
" Iya Will, tidak apa-apa. Nanti langsung temui aku saja di ruangan ya."
" Baik dok, nanti aku langsung membawa istriku kesana."
" Ok Dhe. Kau istirahat saja ya, dan jangan lupa minum vitaminnya."
" Terimakasih dokter."
" Sama-sama Dhe."
" Kalau begitu aku permisi dulu ya, aku tunggu kalian di ruanganku ya."
" Iya dok." jawab William.
Kemudian William mengantarkan dokter hingga di depan pintu.