
Malam itu pesta sederhana diadakan di rumah papa William. Mengundang beberapa sahabat, dan kerabat dekat. Hidangan lengkap tersedia di meja makan.
Sebuah acara yang sengaja dibuat, sebagai ungkapan rasa bahagia papa William atas kehamilan istrinya. Daniel yang malam itu hadir sendiri, lagi-lagi menjadi bulan-bulanan William dan beberapa temannya.
" Will, ingat jaga istrimu baik-baik. Jangan sampai kau lengah lagi di kehamilannya kali ini. Bila perlu kau sewa ICU untuk merawat istrimu 24 jam, oh iya jangan lupa ambulance juga ya. Benar tidak Mike?"
Mike yang malam itu datang sendiri tanpa didampingi Deasy, tertawa lebar mendengar kalimat Daniel.
" Hahhh...kau pikir istriku ini pasien gawat darurat, harus dirawat di ICU segala?"
" Ya kan alat di ICU lengkap Will, jadi kau tidak perlu repot-repot mencari jika membutuhkannya."
" Hemmm...awas kau ya, sudah lama aku tidak mengerjaimu."
" Heiii...hati-hati...!! istrimu kan sedang hamil, kau tidak takut jika kau sering mengerjaiku, anakmu nanti mirip denganku??"
" Haahhh...mirip denganmu??? Ya Allah.....memangnya tidak ada ciptaanMu yang lebih indah daripada orang yang ada di hadapanku ini?"
" Heiii...sialan kau!! Begini-begini banyak wanita tergila-gila padaku Will."
" Ohhh ya? tentu saja Daniel, karena kesadaran mereka sedang hilang. Jika kesadarannya telah pulih, aku jamin mereka akan berputar 180° kabur meninggalkan kau hahaha..!!"
" Hehhhh...kalian berdua ini jika bertemu, selalu saja seperti itu." Bram yang malam itu juga ikut hadir dan bergabung bersama William, angkat bicara.
" Kau ini seperti baru kenal mereka berdua saja Bram. Jika mereka saling mengolok, itu berarti hubungannya sedang mesra, tapi jika pembicaraannya serius, itu yang patut dipertanyakan." Dhea yang sedari tadi menemani papa mertuanya, tiba-tiba datang dan ikut bergabung bersama suaminya.
" Eh sayang, mana papa?? bukankah papa memintamu menemaninya?"
" Iya sayang, tapi sekarang papa sedang mengobrol serius dengan sahabatnya, jadi beliau memintaku menemanimu."
" Ooohh ya sudah."
" Dhe....kau sangat beruntung ya."
" Beruntung bagaimana Bram?"
" Kau memiliki keluarga yang sangat menyayangimu."
" Karena aku juga menyayangi mereka Bram. Di dunia ini semua ada sebab dan akibatnya. Apa yang kita tanam, itu juga yang akan kita petik."
" Will....!!"
" Iya Dan?"
" Seandainya ada 2 orang seperti istrimu dan sama persis, aku rela melepaskan statusku sebagai penakluk wanita sekarang juga Will."
" Sungguh Dan? tapi apa mungkin kau siap melakukan seperti apa yang kulakukan dulu, saat sedang berusaha mendapatkan istriku Dan???"
" Ohhh iya....?? apa aku siap ya? hingga kau melakukan berbagai macam cara, mengorbankan seluruh tenaga dan pikiran, sampai tidak tidur berhari-hari karena memikirkan Dhea seorang?? hahhh aku ralat Will, aku cari yang pasti-pasti saja hahaha."
" Hemmmm...awas jangan mulai ya..!!!"
" Hahaha...tidak Will. Tapi aku salut, pengorbananmu ternyata tidak sia-sia. Memang benar ya Will, barang bagus itu sangat sulit untuk didapatkan, beda dengan barang yang jelek, di pinggir jalan juga banyak, tinggal bawa pulang hahaha."
" Hahhh...sialan, kau samakan istriku dengan barang Dan?"
" Ya kan itu hanya istilah Will. Kau ini kenapa sense of humormu jadi hilang? jangan terlalu serius teman, masa muda kita sangat indah hahaha."
" Kau itu Dan, humor terus kapan seriusnya?"
" Maksudmu?"
" Serius dengan satu wanita hahaha."
" Ahhh itu lagi yang kau tanyakan." Gerutu Daniel, diiringi tawan teman yang lainnya.
Suasana pesta terlihat akrab. Tawa bahagia terdengar dari seluruh kerabat dan juga sahabat yang datang. Dhea begitu bahagia, banyak doa yang dipanjatkan untuknya dan buah hatinya. Perbedaan yang ada di antara mereka tidak lantas menjadi penghalang. Dhea dan William tetap berperan selayaknya seorang muslim. Dan untungnya sang papa yang sangat tau aturan dalam agama anaknya itu, hanya menyiapkan menu yang memang bisa mereka makan. Tidak ada arak, bir, ataupun minuman keras lainnya. Semua hanyut dalam kebersamaan dan sukacita yang begitu harmonis.
Setelah acara pesta selesai, semua tamu kembali ke rumahnya masing-masing. Hanya tinggal Bram, Daniel dan Mike yang memang sengaja menginap, karena semalam mereka mengobrol hingga larut malam.
" Selamat pagi semuanya!!! Gembira sekali? tertawa kalian terdengar hingga di kamarku. Sedang mengobrolkan apa hingga seceria itu??" Pagi itu Dhea yang baru saja turun dari kamarnya, ikut bergabung bersama suaminya dan juga teman-teman yang menginap di sana.
" Haiii sayang, kau sudah cantik sekali!! Dhea hanya tersenyum mendengar pujian suaminya, namun Daniel tiba-tiba berdiri dan menarik kursi kosong di sebelahnya.
" Heiii...kenapa kau menarik kursi itu Dan??"
" Ohhh...aku hanya menyiapkannya untuk Dhea Will. Sini Dhe, duduk di sebelahku. Di sini lebih nyaman daripada di situ." Sambil menunjuk posisi duduk William.
" Kau ini ya, ibu-ibu hamil masih berani kau goda juga Dan???"
" Hahaha...Ibu-ibu hamil kan bakal melahirkan juga Will."
" Maksudmu?"
" Ya kan Dhea tidak akan hamil seterusnya Will, mungkin 9 bulan lagi dia akan melahirkan, dan 9 bulan itu bukanlah waktu yang lama Tuan William yang terhormat."
" Hemmm....mulai berani kau ya...Awas ya bonusmu tidak kuberikan selama 9 bulan juga."
" Ahhh...tidak masalah tuan, bukankah 9 bulan hanya waktu yang singkat hahaha." Daniel yang sangat hafal candaan sahabatnya itu, tidak gentar sedikitpun dengan ancaman William yang tidak sungguhan. Dhea hanya tertawa saja, melihat kelakar mereka berdua.
" Sini sayang, duduk di samping suamimu. Di sebelah itu banyak racun berbisanya." Daniel dan lainnya hanya terbahak mendengar kalimat William.
" Oh ya Will, rencana kalian setelah ini apa?"
" Mungkin satu minggu lagi kami akan pulang ke Indonesia pah. Banyak hal yang harus aku persiapkan untuk mengawasi kehamilan Dhea. Aku tidak mau kejadian yang sama di kehamilannya yang pertama, menimpanya lagi."
" Apa tidak lebih baik selama kehamilan istrimu kalian tinggal di sini dulu? Papa akan mencari dokter profesional untuk merawat istrimu. Papa punya banyak kenalan dokter hebat di sini."
" Iya aku juga Will, Bram juga. Itu asisten rumah tanggamu juga pasti mau membantumu." Jawab Daniel, sembari menunjuk asisten rumah tangga yang baru saja datang sembari membawa makanan kecil. Yang ditunjuk bengong saja, karena tidak paham maksud pembicaraan Daniel. Namun semua orang yang ada di rumah itu sudah paham bagaimana watak Daniel, sehingga asisten tersebut hanya geleng-geleng kepala lalu beringsut mundur meninggalkan mereka semua.
" Kau ini kenapa bawa-bawa asisten rumah tangga segala? kasihan kan dia? lihatlah wajahnya, dia pasti bingung dengan sikapmu tadi."
" Hahaha...biar saja Bram. Masak hanya keluargaku saja yang bingung dengan sikapku, sekali-kali aku buat bingung orang lain tidak ada salahnya kan?"
" Dasar, orang aneh!!" Gerutu Bram.
" Bagaimana nak, kau setuju? lihatlah mereka semua sayang dengan kalian berdua, dan siap membantu kapan saja." William lalu menatap Dhea, Mata mereka saling beradu pandang. Namun William tau apa yang dipikirkan istrinya. Jika Dhea tidak memberi komentar sama sekali, itu berarti istrinya tidak bersedia.
" Maaf pah. Bukannya aku tidak mau tinggal di sini. Namun mungkin akan lebih nyaman jika istriku tinggal di Indonesia. Dia bisa lebih dekat dengan orang tuanya. Pasti dia akan lebih gampang dan tidak sungkan meminta bantuan ibunya dibanding meminta bantuan pada papa, dan kalian semua, apalagi orang satu itu." Sambil melihat ke arah Daniel.
" Hahhh..aku lagi??? Kenapa selalu aku yang disalahkan??"
" Hahaha....kau muncul di dunia ini saja sudah merupakan kesalahan Dan."
" Hehhhh...sialan kau Mike!!" Gerutu Daniel.
" Pah....jangan tersinggung ya. Aku tidak ingin merepotkan papa. Doakan saja aku baik-baik saja, dan bisa melahirkan cucu papa ini dengan sehat. Aku janji, di kehamilanku kali ini, aku akan sangat berhati-hati."
" Hehhh...ya sudah Dhe, tidak apa-apa. Papa hanya mengkhawatirkanmu saja."
" Iya pah, aku tau, papa sangat menyayangiku. Terimakasih ya pah atas semua kebaikan papa padaku."
" Iya nak. Yang penting kau dan suamimu selalu dalam lindungan Tuhan, amin."
Dhea memang lebih nyaman tinggal di Indonesia. Banyak hal yang membuatnya tidak nyaman berada di London, terutama perbedaan budayanya.
Kebahagiaan Dhea yang begitu sempurna, dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya. Rasanya semua itu seperti mimpi. Dia tidak pernah membayangkan kehidupannya yang sekarang ini. Dulu saat pertamakali dia datang ke negara ini, tujuannya hanya untuk menuntut ilmu, kemudian pulang kembali, dan mengabdikan diri di almamaternya. Berangkat pagi, pulang sore. Menjalani segala rutinitas kesehariannya, yang memang sudah terbayang di pelupuk matanya.
Namun takdir berkata lain. Dia sekarang menjelma menjadi seorang istri pria bule kaya raya, yang bukan hanya tampan, namun juga seorang milyader terkenal di negaranya. Manusia hanya bisa berencana, namun Allahlah yang menakdirkan. Dan rencana Allah pasti lebih indah dari yang direncanakan oleh manusia, walaupun terkadang manusia harus menangis darah ketika kecewa mendapati kegagalannya. Manusia tetaplah manusia. CiptaanNya yang seringkali mengeluh dan sedikit bersyukur. Dia baru akan menyadari semuanya, setelah mendapati hikmah dari segala kegagalannya. Tidak dapat dipungkiri, Allah adalah sebaik-baiknya pembuat rencana.
Kita juga tidak pernah tau akan perubahan nasib seseorang. Seringkali kita memandang rendah terhadap orang yang kondisinya jauh di bawah kita, namun kita tidak pernah tau kehidupan dia 1 tahun, 2 tahun, atau 10 tahun ke depan, bisa jadi semua berbalik kitalah yang kemudian berada di bawah dia. Seperti kehidupan Dhea saat ini. Dia yang dulunya hanya seorang gadis biasa, bahkan bekerja pada sebuah swalayan, dan terus mengejar ilmu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ternyata takdir membawanya sepertikehidupannya saat ini. Semua akan indah pada waktunya, karena usaha tidak pernah mengkhianati hasil, dan tentunya selalu ada doa di sana. Karena usaha tanpa doa, semuanya akan sia-sia, dan begitu pula sebaliknya.
Suasana semakin menyenangkan. Obrolan diantara keluarga Anderson terlihat seru. Bram dan Daniel yang sudah seperti keluarga sendiri, tidak pernah merasa canggung berada diantara keluarga Anderson yang begitu hangat itu. Untuk sementara Mike dapat melupakan masalahnya dengan Deasy, walaupun hingga sekarang Deasy belum juga muncul ke rumahnya.
Sementara itu Deasy sendiripun merasa enggan untuk kembali sendiri, jika bukan Mike yang menjemputnya. Dia tidak tau apa sebenarnya yang telah direncanakan Mike. Yang Deasy tau, Mike pasti tidak akan rela melepaskannya, karena dia sangat tau sifat suaminya. Deasy tidak menyadari, bahwa manusia itu gampang sekali berubah. Sifat egois dan keras kepala yang dimilikinya, menghilangkan rasa lembut dan kasih sayangnya terhadap suami dan juga anak yang ditinggalkannya. Mungkin itulah terkadang yang membuat rumah tangga menjadi berantakan. Sifat gengsi dan tidak mau mengakui kesalahan, yang kemudian pada akhirnya membuat permasalahan jadi berbuntut panjang. Seandainya saja, masing-masing mau menurunkan sedikit saja tensi egonya, mungkin segala permasalahan yang tidak terlalu genting bisa segera diatasi.
Kepulangan Dhea ke Indonesia diantarkan oleh papa dan juga Mike. Tidak biasanya mereka mengantar hingga ke bandara seperti sekarang.
" Tau tidak sayang? kenapa Mike dan papa hari ini mengantar kita hingga ke bandara?"
" Hemmm..ada apa ya sayaang?"
" Tuhhh...karena ada anak kecil di perutmu, mereka pasti mengkhawatirkan itu."
" Benarkah pah?"
" Kau ini Will bisa saja. Kami berdua memang berencana ingin mengantarkan kalian hingga bandara, iya kan Mike."
" Hemmmm....iya tidak ya??" Kata Mike sambil sok berpikir.
" Hahaha....ayo Mike katakan padaku, pasti papa mencemaskan istriku kan? tepatnya janin di perut istriku."
" Hahaha....sepertinya sih begitu, karena dari kemarin papa sibuk cari-cari informasi dokter hebat di Indonesia untuk merawat istrimu Will."
" Sudah dapat belum Mike?"
" Sudah sih...tapi pasti kau tidak mau jika dokter yang merawat istrimu pria kan?"
" Oooohhh tentu!!! enak saja, tidak ada pria lain yang boleh menyentuh istriku, kecuali aku.
" Hahaha...itulah Will, makanya papa belum mendapatkannya."
" Pahhh tenanglah, semoga saja di kehamilannya kali ini, istri dan anakku sehat-sehat saja. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk menjaga istriku. Bila perlu akan kusiapkan dokter yang mendampinginnya 24 jam."
" Sayaaang....jangan berlebihan dong....!!"
" Hahaha...itu biar papa tidak terlalu mengkhawatirkanmu sayang."
" Pahhh....percayalah, aku akan baik-baik saja. Aku akan melahirkan cucu papa ini dengan keadaan sehat. Doakan saja kami ya."
" Yaaaahhhh...apa boleh buat, memang hanya berdoa yang bisa papa lakukan untukmu nak."
" Hahaha....lihatlah Will, papa sepertinya pasrah. Dulu saat Deasy hamil papa tidak seposesif ini."
" Siapa bilang Mike?"
" Aku yang bilang pah."
" Papa tidak pernah membeda-bedakan antara menantu papa yang satu dengan yang lainnya, begitu juga antara kau dan William. Semuanya papa sayang."
" Yahhh...memang semua orang tua seperti itu, selalu saja berkata tidak pernah membeda-bedakan, namun sikap tidak bisa disembunyikan pah. Ibaratnya ya, kita itu punya pakaian banyak di lemari, tapi pasti kita punya satu pakaian yang sering sekali kita kenakan, betul tidak Will?"
" Hahaha...kau ini jangan menggoda papa terus Mike."
" Tapi tidak mengapa Will, papa punya alasan tepat karena begitu menyayangi istrimu, dan semua orang yang tau pasti akan memahaminya, bukankah begitu pah??"
" Ahhh terserah katamu saja Mike." Dan semua yang ada di dalam mobil terbahak.
Assalamualaikum...
Hiiiiiii.....apa kabar kalian semua...? semoga baik-baik aja ya. Alhamdulilah novel saya sudah mencapai episode yg ke 295. Ga kerasa ya, walaupun kadang harus lama nunggu upnya..maklum terkadang author lagi kehilangan ide dan kehilangan semangat. hehehe....Oh ya...inshaallah novel ini akan berakhir, karena author rasa sudah terlalu panjang, dan author takut permasalahan semakin melebar sehingga pesan moral yang disampaikan author tidak tepat sasaran. Jadi tetep pantau ya di episode2 terakhirnya. Makasih atas waktunya buat kalian semua yang udah sempetin baca karya saya.
Wassalamualaikum Wr.Wb.