
Semakin hari Mike dan Dhea semakin akrab saja, bahkan Mike sudah berani menjemput Dhea tanpa diminta. Dheapun tidak menolak, karena Dhea menganggap Mike adalah orang yang baik sama seperti Bram. Kebersamaannya dengan Mike tidak ada yang tersakiti seperti kebersamaannya bersama Bram. Mike merasa begitu nyaman saat bersama Dhea, wanita itu mampu membuatnya selalu tertawa dan juga lupa bahwa dia sedang memiliki persoalan bersama Jessy. Proses cerainya masih terus berjalan. Seperti malam ini Mike menjemput Dhea saat pulang kerja.
" Hai Dhe...kau tidak keberatan kan jika aku menjemputmu lagi ?" kata Mike sambil menghampiri Dhea yang baru saja keluar dari tempat kerjanya.
" Sebenarnya sih keberatan Mike, karena sepertinya mulai ada gelagat buruk yang mulai tercium ".
" Gelagat buruk apa Dhea ?"
" Gelagat buruk seorang adik kandung hendak mens1abotase gebetan kakaknya hahaha ".
" Kau ini Dhe, bisa tidak jangan terlalu jujur begitu ?"
" Jujur itu memang menyakitkan tuan, tapi lebih menyakitkan jika dibohongi ".
" Hahaha aku selalu suka kata kata mutiaramu Dhe ".
" Dan aku tidak akan mengeluarkan semuanya, karena aku takut kau akan menyonteknya dan mencuri ilmuku ".
" Hahaha kau ini Dhe selalu saja bisa membuatku tertawa. Ayo naiklah, kursi belakangku masih belum ada penumpangnya ".
" Siap tuan, asalkan tidak kau suruh aku duduk di sampingmu ya ".
" Ya terserah kau saja ". Kemudian Dhea duduk di kursi belakang kendaran Mike.
" Kita mampir dulu di taman kota ya Dhe ?"
" Ok Mike, aku ikut saja yang penting setelah itu kau antarkan aku pulang ".
" Tentu saja Nona Dhea, kau jangan khawatir, aku adalah orang yang paling konsinsten menjaga kepercayaan ".
Kemudian Mike segera memacu kendaraannya menuju taman kota.
" Bagaimana proses perceraianmu dengan Jessy ? lancar ?" Tanya Dhea saat mereka sudah tiba di tempat tujuan, dan duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia di sana.
" Lancar Dhe, mungkin satu kali sidang lagi ".
" Lalu rencanamu selanjutnya apa Mike ?"
" Aku tetap akan melanjutkan hidupku Dhe, meneruskan usahaku, dan tentunya mencari pengganti Jessy ".
" Dan jangan lupa pengganti yang lebih baik dari Jessy, serta bisa mendampingimu sampai akhir hayatmu, bukan cuma di saat senangmu saja tapi juga di saat susahmu ".
" Memang ada ya Dhe wanita seperti itu ?"
" Adalah Mike...aku...!! Aku itu bercita cita kalau bisa hanya satu kali menikah seumur hidupku, dan ingin menua bersama suamiku, melihat anak anakku kelak menikah membangun rumah tangga, lalu aku mempunyai cucu dari mereka "
" Jika suamimu meninggal di usia muda ?"
" Itu berarti takdir Mike, dan aku tidak akan mungkin menolak jika Tuhan memberikan lagi jodoh padaku. Maksudku aku ingin mencari suami yang benar benar mencintaiku, menerima semua kekurangan dan kelebihanku, menghargai keberadaanku di sampingnya. Dan tidak mengharapkan perceraian seperti kau saat ini ".
" Aku juga berharap sama sepertimu Dhe, aku juga tidak pernah mengharapkan perceraian ".
" Makanya berhati hatilah mencari calon istri, cari yang baik dan cantik hatinya, bukan hanya fisiknya saja ".
" Seperti kamu ya Dhe ".
" Aku....????"
Dhea terkejut tiba tiba saja Mike justru mencontohkan wanita baik itu seperti dirinya, dan bukan kalimatnya saja yang mengangetkannya, tapi juga tatapan matanya yang tajam, seolah mengisyaratkan sesuatu yang lain, dan Dhea tidak mau mengartikan itu terlalu jauh, takut dia terlalu percaya diri karenanya.
" Eh ehm bagaimana pernikahan kakakmu ? kapan rencananya dilaksanakan ? Tanya Dhea coba mengalihkan pembicaraan ".
" Mungkin sekitar 2 minggu lagi William akan menikahi Paula, kenapa kau ingin menghadirinya ? Kalau kau mau nanti aku bisa menjemputmu ".
" Ohhh tidak Mike aku tidak akan mungkin mau datang ke pernikahannya ".
" Kenapa Paula ?"
" Karena dalam agamaku tidak dianjurkan untuk mengikuti upacara keagamaan lain, apalagi di dalam tempat ibadahnya, dan selain itu aku takut jika William melihatku di sana, dia justru menarik tanganku dan memaksaku menikah dengannya seperti biasanya dia memaksaku ".
" Hahaha jangan khawatir, aku yang akan menghalanginya Dhe ".
Entah kenapa semenjak Mike mengenal William, dia merasa begitu semangat menjalani hari harinya. Sepertinya dia baru saja mendapatkan energi baru setiap bertemu Dhea.
Mike terus mengobrol dengan Dhea hingga larut malam, rasanya dia merasa hari harinya begitu pendek jika sedang bersama gadis itu.
" Kenapa Dhe ?"
" Aku hanya rindu naik bus lagi, setelah William tidak pernah menjemputku, sekarang malah kau yang menggantikannya, beri aku kesempatan untuk berbagi rejeki dengan pengemudi bus di kota ini ".
" Hahaha alasanmu itu sungguh ingin membuatku tertawa. Ya...okelah besok aku tidak menjemputmu tapi lusa boleh kan ?"
" Ya kita lihat saja nanti ".
Dhea sengaja ingin menghindari Mike, dan mencoba menjaga jarak dengannya, dia takut Mike memiliki perasaan lain padanya, karena sepertinya sikap Mike terhadapnya sedikit berbeda, dia lebih perhatian dan sangat perduli padanya.
" Ok Mike aku turun dulu ya, sampai ketemu lagi ya ".
" Sampai ketemu lagi kapan Dhe ?"
" Ya kapan kapan, pasti nanti aku kabari ok ".
" Ok Dhe...selamat istirahat ya ".
Kemudian Dhea masuk ke dalam flatnya, lalu Mikepun pergi bersama mobilnya. Sementara itu William sedang memperhatikan mereka dari jauh, giginya bergemeretak menahan amarah. Setelah mendapat laporan dari orang suruhannya bahwa Mike sedang berduaan di taman kota, William segera meluncur kesana, dan memperhatikan mereka dari jauh. Hatinya begitu sakit saat mengetahui Mike begitu akrab dengan Dhe, bahkan Dhea tidak pernah tertawa selepas itu saat bersama dirinya.
William terus mengikuti Mike hingga ke rumahnya. Saat Mike baru saja masuk ke dalam rumahnya dan belum sempat menutup pintu rumahnya. William segera menyusulnya. Dia setengah berlari mengejar Mike.
" Mike....!!!"
Mike segera menengok saat mendengar teriakan William.
" William ??? Ada apa malam malam kau kesini ?"
" Kau jangan berpura pura Mike, aku sudah tau semua !!"
" Apa maksudmu ?"
" Kau sedang mencoba menusukku dari belakang kan ?"
" Kau ini bicara apa Will ?"
" Mike...kau ini adikku, tapi kenapa kau coba mendekati Dhea tanpa aku ketahui ?"
" Ohh itu, aku justru yang bingung denganmu. Bukankah Dhea itu bukan apa apamu ? dan bukankah kau juga akan segera menikahi Paula ?"
" Ya tapi bukan berarti kau bisa mendekati Dhea, kau tidak memikirkan perasaanku ? aku sangat mencintai Dhea Mike ".
" Jika kau mencintai Dhea seharusnya kau membiarkan dia bahagia, bukannya membatasi ruang geraknya setiap hari, bahkan kau mengambil hak untuknya memiliki kebebasan ".
" Kau tau apa tentang kebahagiannya, aku yang lebih dulu mengenalnya ".
" Aku bisa melihatnya sendiri, wajahnya begitu gembira saat dia tidak lagi kau ganggu ".
" Jangan bilang kau menyukainya Mike ?"
" Ya Will aku memang mulai menyukainya ".
" Kau keterlaluan Mike, dulu kau menikah dengan Jessy aku diam saja, dan sekarang aku tidak akan membiarkannya, dia milikku !!"
" Hahhh...kita lihat saja siapa yang akan mendapatkannya, aku atau kau William !!"
" Yaa...kau memang selalu saja ingin mengambil yang hendak jadi milikku ".
" Hei apa katamu ? dulu aku tidak tau bahwa Jessy itu adalah mantan kekasihmu !!"
" Tapi sekarang bukankah kau tau Dhea itu adalah wanita yang aku cintai ".
" Hhhh yang kau cintai dan bukan saling mencintai kan ? dan yang paling penting dia bukan apa apamu !!"
" Kau Mike, mulai sekarang kita bersaing untuk mendapatkannya ".
" Ya silahkan, aku hanya ingin memberi peringatan padamu, dia sangat membencimu apalagi tau saat kau menghamili Paula, aku hanya tidak ingin kau terpuruk kembali seperti saat Jessy meninggalkanmu ".
" Silahkan Mike, saat ini mungkin posisimu lebih diuntungkan, tapi jangan pernah kau lupa sifatku, aku bukan pria yang gampang menyerah, apalagi jika itu menyangkut harga diriku !!"
" Ya William aku tidak akan pernah lupa itu. Makanya akupun tidak akan menyerah untuk melawanmu ".
Kemudian William pergi meninggalkan rumah Mike, dia membanting pintu rumahnya dengan keras, hingga terdengar suara bergelegar. William benar benar marah oleh sikap Mike, belum pernah adiknya seberani ini untuk melawannya. Dia tau Mike adalah sosok orang yang santai, namun dia amat terkejut, demi mempertahankan Dhea, dia berani berbantahan dengan kakaknya sendiri.