Something different

Something different
Fitting baju pengantin



" Selamat pagi Dhea."


" Selamat pagi Mbak Astrid, bagaimana baju saya sudah siap?" Tanya Dhea pada desainer baju yang khusus dipesan Dhea untuk merancang baju pengantinnya.


" Ya Dhe, kemarin mbak telfon kamu berkali-kali tapi handphonemu mati."


" Iya mbak maaf, aku kemarin sibuk seharian di kampus dan hanphone sengaja kumatikan, baru sorenya aku baca sms dari mbak."


" Iya Dhe, tidak apa-apa. Ayo masuk ke dalam!" Ajak orang yang dipanggil Astrid itu.


" Ayo sayang!" Ajak Dhea pada William.


William kemudian mengikuti Astrid dan Dhea masuk ke dalam.


" Nih baju kalian 90 % lagi selesai." Kata Astrid sambil menunjuk dua pasang baju pengantin berwarna kuning emas dan pich.


" Sayang lihatlah baju kita, kau suka tidak?" Tanya Dhea pada William.


" Ya Dhe aku suka. Pasti kau akan terlihat cantik memakai baju itu sayang." Jawab William sambil tersenyum.


" Tapi aku minta saat malam pertama kau jangan memakainya ya, karena aku pasti akan sulit sekali membukanya." Jawab William menggoda Dhea, sambil memperhatikan kebaya panjang yang menjuntai hingga ke lantai, serta ditaburi manik-manik di seluruh bagiannya itu.


" Sssttt...kau ini tidak boleh berbicara seperti itu ada Mbak Astrid di sini, kau pikir dia tidak tau bahasamu."


" Hahahaha...tidak apa-apa Dhe, calon suamimu ini sepertinya orang yang humoris." Jawab Astrid.


" Humoris tapi cenderung tidak punya malu mbak, maklum turunan kompeni." Jawab Dhea sambil tersenyum malu-malu.


" Hemmmm....kau pasti sedang mengataiku kan sayang???" Tanya William sambil melotot lucu.


" Lihatlah mbak ekspresinya itu, hehhh...bisa-bisanya dulu aku mau dengannya ya mbak?"


" Hahaha jika kau tidak mau, untuk mbak saja bagaimana Dhe??? Mbak sudah lama lho menjanda hehehe."


" Gara-gara dia aku menderita selama satu tahun mbak, jika kuberikan pada mbak aku akan merana bertahun-tahun dong." Jawab Dhea lagi.


" Hahaha...dan mbak yakin kau akan menutup diri dari mahluk yang bernama laki-laki kan?"


" Ihhh mbak ini."


" Mak tau Dhe, ibumu sudah cerita banyak pada mbak. Kau wanita beruntung mendapatkan dia yang sangat mencintaimu. Semoga keluargamu langgeng. Perlakukan suamimu benar-benar sebagai imammu, jangan sampai seperti mbak ini ya. Mbak dulu sering lupa kewajiban sebagai istri gara-gara kesibukan mbak, jadinya yahhhh...seperti ini." Kata Astrid menasehati.


" Insyaalloh mbak, terimakasih nasehatnya." Jawab Dhea.


" Sayang, kau tau tidak?" Tanya William pada Dhea.


" Kenapa Wil?"


" Aku seperti sedang berada di planet Mars, mendengarkan kalian berdua mengobrol dari tadi, dan aku hanya bengong saja seperti orang bodoh. Bisakah kalian berbicara dengan bahasa yang lebih bisa kupahami nona-nona cantik?" Tanya William sambil terseyum.


" Hahaha...itu sudah resikomu Will menikah dengan bangsa kami." Jawab Astrid.


" Ya karena cuma wanita dari bangsa kalian inilah yang bisa membuatku tergila-gila, hingga meninggalkan semua asetku yang bermilyar-milyar di sana."


" Hemmmm apakah itu artinya kau sudah tidak membutuhkan hartamu lagi Will? Aku mau menerimanya dengan kedua tangan terbuka." Canda Astrid lagi.


" Hahaha....aku masih membutuhkannya Astrid, karena aku tidak ingin membuatnya menderita hidup bersamaku, dan memikirkan cara membeli beras setiap harinya."


" Lihatlah Dhe, aku rasa dia ingin memanjakanmu jika sudah hidup bersamanya nanti."


" Will jangan kau bongkar rahasiamu itu, jika tidak ingin wanita-wanita muda nanti jadi tertarik padamu dan ingin merebutmu dariku."


" Tenanglah calon istriku, saat ini hanya kau wanita yang paling kucintai yang pernah kumiliki."


" Maksudmu untuk saat ini dan entah untuk masa selanjutnya kaaan....???"


" Hehhhhh....kenapa kau selalu bisa membaca pikiranku sayang." Gerutu William mencoba mencandai Dhea lagi.


" Williaaaammm....kau ini tidak pernah puas ya buat aku sebal terus."


" Hahaha Lihatlah dia Astrid, jika dia sedang cemberut seperti itu rasanya aku gemas sekali padanya."


" Ahhhhh kalian berdua ini membuatku sangat iri." Gerutu Astrid.


" Sabar mbak, aku yakin suatu hari mbak bisa mendapatkan pendamping yang mencintai mbak." Kata Dhea.


" Aamiin." Jawab Astrid.


" Ya sudah ayo kalian coba baju ini agar aku bisa cepat menyelesaikannya." Kata Astrid kemudian.


Lalu Astrid membuka baju yang ada di dalam patung tersebut, dan memberikan pada William juga pada Dhea.


" Sayang kau ingin mencobanya di dalam sini bersamaku tidak?" Tanya William yang hendak masuk ke dalam ruang ganti sambil mengerling pada calon istrinya.


" Kau ini genit sekali ya." Jawab Dhea sambil masuk ke dalam ruang ganti di sebelah William.


" Hahaha....." William hanya terkekeh sambil kemudian menutup pintu ruang gantinya.


Tak lama kemudian William sudah keluar dari ruang ganti, dan kemudian disusul dengan Dhea.


" Ya ampun sayang kau cantik sekali seperti seorang ratu." Kata William memuji Dhea.


Dhea hanya tersipu malu mendengar pujian William.


" Belum Astrid aku belum puas?" Jawab William.


" Kau ada yang merasa kurang pas dengan baju itu sayang? Atau kau tidak menyukainya?" Tanya Dhea ingin tau.


" Tidak sayang aku suka sekali."


" Lalu kenapa kau merasa belum puas?"


" Memang aku belum terpuaskan sayangggg??? Masa kau tidak paham?" Jawab William sambil menatap Dhea penuh arti.


" Williammmm....kau ini.benar-benar tidak punya malu." Jawab Dhea sambil cemberut, sedangkan Astrid hanya tertawa terbahak-bahak.


" Itu Dhe resikonya punya suami bule, mereka lebih suka berterus terang dibanding masyarakat kita yang suka menyimpan perasaannya dan malu mengungkapkannya." Kata Astrid.


" Iya mbak, tapi kalau dia itu sudah termasuk kategori overdosis."


" Hahaha mungkin itu karena dia belum menyesuaikan dengan budaya kita saja, jadi itu tugasmu untuk mengajarinya."


" Iya mbak, memang payah dia itu."


" Sudah cepat jangan bernegosiasi terus kalian berdua." Kata William pada Astrid dan Dhea.


" Hehhh...sabar sayang, mbak Astrid sedang mengamati bagian yang kurang pas." Kata Dhea berbohong, padalah dia baru saja membicarakan William.


Kemudian Astrid segera membenahi pakaian yang sedang dipakai oleh William dan Dhea.


" Baiklah sekarang kalian lepas bajunya, sudah kutandai bagian yang harus diperbaiki. Insyaaloh tiga hari lagi sudah siap."


" Ya Astrid jangan sampai terlambat ya, aku tidak mau calon istriku ini uring-uringan jika bajunya tidak selesai pada jadwal yang ditentukan."


" Pasti itu William, aku akan segera mengerjakannya." Jawab Astrid.


Kemudian William dan Dhea segera masuk ke kamar ganti lagi untuk membuka pakaiannya.


" Ya sudah sayang, kita langsung ke mall kan?" Kata William setelah selesai menukar pakaian.


" Iya Will, bukankah kita akan mencari sepatu untukmu?"


" Mbak kita pamit dulu ya, 3 hari lagi baju itu harus jadi ya? Karena dua hari kemudian kami akad nikah." Kata Dhea mewanti-wanti.


" Iya Dhea tenang saja." Jawab Astrid.


" Ya sudah ya mbak, kami pergi dulu!!"


" Iya hati-hati kalian di jalan."


" Iya mbak." Jawab Astrid singkat.


Kemudian William dan Dhea segera meninggalkan bridal salon milik Astrid dan langsung menuju mall.


Setelah tiba di mall William dan Astrid langsung menuju stand sepatu.


Di depan stand sepatu terlihat sekumpulan gadis abg yang sedang tertawa bercanda bersama teman-temannya.


" Sayang kenapa kau memperhatikan gadis-gadis itu? Kau lupa ya ada calon istri di sampingmu? Hemmmmm kau sedang menikmati kaki jenjang mereka ya?" Kata Dhea sambil melihat ke arah William yang sedang memperhatikan abg-abg berseragam sekolah tertawa cekikikan tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


" Tidak sayang, untuk apa aku menikmati kaki jenjang mereka, sedangkan isi dari kaki jenjang itu biasa aku lihat." Jawab William sambil menggoda Dhea.


" Ihhh..kau ini menjijikkan sekali."


" Hahaha salah sendiri menuduhku sembarangan. Aku hanya tidak habis pikir melihat mereka semua sepagi ini berada di mall, apakah mereka tidak sekolah?"


" Mungkin mereka membolos Will."


" Hehhh...sayang sekali, harusnya di usia muda seperti mereka jangan pernah menyia-nyiakan waktu pasti akan menyesal nanti."


" Benar Will, mereka tidak tau bahwa semakin hari persaingan hidup itu semakin berat." Jawab Dhea.


" Untung kau dulu termasuk murid yang rajin dan pintar ya Dhe, sehingga akhirnya bisa mendapatkan calon suami setampan aku." Kata William sambil tersenyum.


" Yeeee...apa hubungannya coba aku rajin denganmu?"


" Ada dong Dhe, jika kau bukan murid yang rajin, kau tidak akan mendapatkan beasiswa ke London dan tidak akan mungkin bertemu denganku, betul kannn?"


" Oh iya, bertemu kamu pria tampan, yang sayaaang sekali denganku, dan sedikit keras kepala sepertimu, begitu kan lebih tepatnya?" Jawab Dhea ganti menggoda William.


" Hahaha...jika aku tidak keras kepala, tidak akan mungkin aku mendapatkan gadis yang tidak kalah keras kepalanya sepertiku, sehingga aku dulu harus sering memaksamu sayang." Jawab William tak mau kalah.


" Hehhhh...kau ini pandai sekali memainkan kata." Gerutu Dhea.


" Walaupun aku bukan dosen sepertimu, tapi aku juga tidak mau dong terlihat lebih bodoh dari calon istriku ini."


" Hahaha...ya ya ya...kau memang pandai sayang, tapi pandai merayuku." Kata Dhea sambil tertawa."


" Karena aku tidak akan pernah kehabisan akal untuk memujimu belahan jiwaku." Jawab William lagi sambil menatap Dhea mesra."


" Ayo kita pergi ke toko lain!!! Atau kau ingin aku tetap mengagumi gadis-gadis yang ada di depan kita itu?" Kata William sambil menjulurkan jemarinya pada Dhea.


" Huuuuu....." Jawab Dhea sambil menarik hidung William yang mancung kemudian menyambut uluran tangan William, dan segera keluar dari toko sepatu itu.