Something different

Something different
Keluar dari rumah sakit



Setelah dua hari berada di rumah sakit, sore harinya Dheapun sudah diperbolehkan pulang. Semua biaya rumah sakit sudah ditanggung oleh William.


Dhea segera diantar pulang oleh Arthur juga Nyonya Christy.


" Dhea benar kau tidak ingin aku temani tinggal di apartemenmu?" Tanya nyonya Christy menegaskan.


" Tidak nyonya, anda jangan khawatir. Setelah ini aku akan memulai hidupku dari awal lagi. Tidak ada tangis-tangisan dan tidak ada kesedihan, percayalah padaku."


" Kau yakin Dhe?"


" Ya Nyonya, anda tidak usah meragukanku."


" Baiklah kalau kau tidak mau, aku tidak bisa memaksamu. Jika kau butuh apa-apa kau bisa menelfonku. Aku belum ganti nomor seperti kekasihmu itu." Kata nyonya Christy sambil tersenyum.


" Ya Nyonya, aku juga harus bisa menghadapi masalah, bukan malah menghindarinya. Benar kan nyonya?"


" Ya sayang kau memang gadis yang cepat untuk belajar. Lakukan aktifitasmu seperti biasa, jangan terlalu larut dalam masalah ini. Satu tahun bukan waktu yang lama sayang."


" Ya Nyonya, bukan waktu yang lama untuk orang yang bisa melewati ujiannya dengan sabar." Jawab Dhea lagi sambil tersenyum.


Dhea sudah bertekad agar tidak dianggap lemah oleh mantan kekasihnya itu, sehingga selalu menyiapkan apapun untuknya. Selama inipun sebelum hadir William, dia telah menjalani kehidupannya sendiria di negara asing itu tanpa sanak saudara. Hanya seorang Bram yang sering dimintai bantuan olehnya. Namun semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Dhea harus keluar dari gaya hidup mewah yang selama ini dinikmatinya saat bersama William, dan kembali ke kehidupannya yang dulu. Itulah, terkadang kita tidak boleh terlalu enjoy saat berada di sebuah titik nyaman, karena semua itu bisa saja berubah semudah kita membalik telapak tangan. Jangan gampang terbuai dengan kenikmatan yang akhirnya membuat kita lalai, sehingga sulit untuk bisa menerima kenyataan saat kita kembali ke titik nol, dan akhirnya bisa membuat kita hancur.


Saat tiba di apartemennya, Dhea segera turun.


" Arthur mulai besok kau tidak usah menjemputku lagi, bilang pada William, aku akan membiasakan diri naik bis lagi, jadi dia tidak usah repot-repot mengirimmu padaku." Kata Dhea.


" Tapi nona, nanti Tuan William bisa marah padaku." Jawab Arthur.


" Jika memang dia marah padamu, suruh dia menemuiku! Jika dia tidak mau melihatku, suruh telfon nomorku saja, nomorku masih yang dulu." Jawab Dhea ketus.


Keputusannya sudah bulat, dia tidak mau menggunakan fasilitas yang diberikan William lagi, juga kartu kreditnya. Bahkan dia bertekad, jika sampai esok hari William tidak mau menemuinya, maka dia akan keluar dari apartemennya hari itu juga.


" Baik nona akan saya sampaikan pada Tuan William." Jawab Arthur. Kemudian Arthur dan Nyonya Christy segera berpamitan pada Dhea, setelah itu Dhea masuk ke dalam apartemennya.


Dhea segera merebahkan diri di atas kasurnya, dan matanya mulai terlelap.


Arthur segera menambah kecepatan agar segera tiba di rumah majikannya itu.


" Christy, apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Tuan William nanti?" Tanya Arthur bingung.


" Apakah nanti dia tidak akan memarahiku?"


" Tidak mungkin! Karena bukan kau yang menolak perintahnya, tapi nona Dhea sendiri yang tidak mau lagi kau antar." Jawab Christy.


Arthur hanya mengangguk-angguk saja. Tak lama kemudian mereka sudah tiba di rumah kediaman William. William menyambut kedatangan mereka berdua.


" Bagaimana? Apakah kondisinya sudah benar-benar stabil?" Tanya William pada Christy.


" Sudah tuan, Nona Dhea sudah kembali sehat dan sudah diperbolehkan pulang."


" Hemmmm...syukurlah, walaupun dia tidak mau kau temani, tapi mudah-mudahan setelah ini dia lebih memperhatikan kesehatannya sendiri." Gumam William.


" Semoga saja tuan." Jawab Christy.


" Ya sudah silahkan kalian masuk ke dalam."


" Terimakasih tuan." Jawab Christy lalu masuk ke dalam, sedangkan Arthur masih saja berdiri di hadapan William


" Arthur? Kenapa kau masih berdiri di situ? Apakah ada yang ingin kau sampaikan padaku?"


" Iya Tuan, maaf saya ingin mengatakan bahwa nona Dhea tidak mau lagi saya antar kemana-mana, dia ingin naik kendaraan umum saja."


" Apa? Dia berkata begitu?"


" Iya Tuan." Jawab Arthur takut.


" Kenapa kau tidak memaksanya?"


" Sudah tuan, tapi Nona Dhea mengatakan jika anda tetap memintaku mengantarnya, anda diminta menyampaikannya sendiri pada Nona Dhea."


" Hehhh...pasti dia akan membuatku tidak bisa menolak permintaanya." Gumam William.


" Dhea...Dhea...Kenapa aku tidak bisa berhenti untuk tidak memperdulikanmu." Kata William dalam hatinya.


" Ya sudah, tolong kau siapkan mobilku, aku ingin menemuinya sekarang." Kata William sambil naik ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya.