Something different

Something different
William menemui Dhea



William segera memacu kendaraannya menuju apartemen Dhea, setelah beberapa hari tidak bertemu dengan wanita itu dan bertatap muka dengannya, perasaan rindu William begitu besar. Entah bagaimana nanti reaksinya saat ada di hadapan Dhea, sepertinya dia harus menyiapkan seluruh kekuatan agar bisa mengontrol dirinya.


Setelah menempuh perjalanan, sebentar kemudian dia telah tiba di apartemennya. William segera turun dari kendaraannya dan langsung menuju kamar Dhea. Saat berada di depan kamar, William tidak langsung mengetuk pintu, ada sedikit keraguan dalam hatinya..


" Ahhhh...tidak aku harus bisa mengalahkan diriku sendiri." Gumam William.


Dia menarik nafas beberapa saat, kemudian dengan segenap hati segera mengetuk pintu kamar Dhea.


Saat itu Dhea baru saja terlelap, namun sebuah ketukan mengejutkannya. Akhirnya diapun terbangun.


" Hehhh...siapa yang mengetuk kamarku? Apakah orang suruhan William seperti waktu itu?" Tanya Dhea dalam hati.


Diliriknya jam dinding kamarnya, pukul 15.30.


" Ahh tapi ini masih terlalu sore untuk makan malam, kenapa dia sudah meminta pegawainya untuk mengirimkan makanan untukku?" Gumam Dhea lagi.


Lalu dia segera beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu. Dan alangkah terkejutnya Dhea saat tau ternyata yang datang adalah William. Dia sempat bengong sesaat, seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya, namun dia segera bisa mengontrol diri, kemudian pura-pura bersikap biasa pada William.


" Masuklah! Dan jangan lupa buka pintunya lebar-lebar." Kata Dhea, lalu segera membalikkan badannya dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


" Ya Dhe, aku tidak pernah lupa dengan kebiasaan itu." Jawab William sambil mengikuti Dhea dari belakang.


" Siapa tau kau berusaha melupakannya, seperti usahamu untuk melupakanku juga." Jawab Dhea.


Kata-katanya dibuat sedatar mungkin, seolah menunjukkan ketegaran hatinya. Padahal saat itu dada Dhea bergetar hebat menahan rasa rindu yang begitu mendalam pada laki-laki yang ada di belakangnya itu.


Dhea tidak duduk di sofa panjang seperti biasanya, namun lebih memilih sofa tunggal yang hanya bisa diduduki satu orang saja.


" Kenapa tiba-tiba kau kemari? Apakah Arthur sudah menyampaikan pesanku padamu?" Tanya Dhea.


William tidak menjawab sekecappun kalimat Dhea. Sedari tadi dia hanya memperhatikan Dhea yang saat ini ada di depannya tanpa berkedip, seolah tidak ingin melewatkan sedetikpun kebersamaan mereka hari itu.


Dhea salah tingkah dengan tatapan William.


" Kenapa kau melihatku seperti itu Will? Apakah tujuanmu kemari hanya ingin memandangku saja?" Tanya Dhea sedikit ketus, seolah tidak suka dengan sikap William itu, padahal jantungnya dag dig dug seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta.


" Kau tidak usah berpura-pura ketus dan menutupi perasaanmu yang sebenarnya Dhe." Kata William masih dengan tatapannya yang tajam.


" Apa maksudmu?"


" Aku tau dibalik sikapmu itu, kau sangat merindukanku kan?" Tanya William.


" Hehhh...terserah apa katamu, cepat jelaskan saja apa keperluanmu datang ke sini? Bukankah kau tidak mau berurusan denganku lagi? Bahkan memutus komunikasi denganku?" Kata Dhea kemudian.


" Jika aku tidak salah ada nada sedih di kalimatmu itu sayang?" Jawab William santai.


Dia merasa sangat diuntungkan di posisinya sekarang, bahkan dia lebih bisa mengontrol emosinya dibandingkan Dhea yang justru sikapnya sangat terlihat dibuat-buat. Bagaimana tidak? William adalah orang yang sangat berpengalaman dalam dunia percintaan, sehingga dia sangat mahir memainkan perasaan seorang wanita, sedangkan Dhea???


" Stop...kamu jangan memanggilku seperti itu lagi Will."


" Kenapa Dhe? Bukankah aku sering memanggilmu seperti itu?"


" Itu dulu Will, dan bukan sekarang!" Jawab Dhea ketus.


" Apa bedanya dulu dengan sekarang sayang?"


" Dulu aku masih menjadi kekasihmu, dan sekarang kita hanya sebatas mantan kekasih, kau paham!!"


" Tapi kan kita sudah berjanji satu tahun lagi akan bertemu kembali?"


" Apakah satu tahun kemudian kau bisa menjamin kita bisa kembali bersama?" Jawab Dhea kalimatnya masih saja tidak bersahabat.


William diam saja dan tidak menjawab sepatah katapun.


" Nah..kau sendiri tidak bisa menjawabnya kan? Intinya jika kita nanti bisa bersama berarti kau jodohku, jika tidak itu artinya kau tidak bisa mencampuri urusanku lagi, dan tidak ada lagi panggilan sayang, cinta ataupun panggilan romantis lainnya. Mulai sekarang panggillah Aku Dhea. kau paham kan?"


" Kenapa sifatmu jadi ketus seperti saat pertama kita kenal dulu Dhe?"


" Karena jika aku lembut, kau tidak pernah mau mendengar kata-kataku!!"


" Kenapa kau tersenyum Willam? Kau menganggapku sedang bercanda?"


" Tidak sayang, aku hanya flashback saja, kau lama tidak pernah galak lagi padaku, dan sekarang aku baru melihatnya lagi. Kau tau aku sangat gemas jika kau seperti itu."


" Awas kau ya, jangan macam-macam padaku!!"


" Hehhh...memangnya aku pernah macam-macam padamu."


" Hehhh...kau terlalu banyak basa basi, bahkan belum mengatakan keperluanmu datang kesini."


" Bukankah kau sendiri yang memintaku menemuimu seperti Arthur bilang, apakah kau lupa?"


" Ohhh ...begitu ya. Aku hanya ingin mulai sekarang kau jangan pernah sekalipun mengirim orang-orangmu untuk melayaniku lagi! Dan satu lagi aku ingin kembali ke tempat tinggalku yang lama!!"


" Kenapa sayang? Aku mau kau nyaman selama berada di sini karena aku tidak lagi bisa menemanimu."


" Aku bisa melakukan semuanya William walaupun tanpa bantuanmu. Biarkan aku menjalani kehidupanku di sini sendiri." Kata Dhea sambil beranjak dari tempat duduknya, sembari menatap pemandangan di luar kamarnya melalui jendela kaca yang ada di sampingnya.


" Apakah itu artinya kau sedang berusaha melupakanku?" Tanya William sambil ikut berdiri dan mendekati Dhea.


" Tidak penting kan untuk mengatakan alasanku padamu?" Tanya Dhea sambil membalikkan badannya.


" Hmmm...memang tidak penting sayang, karena aku sudah bisa mengetahuinya tanpa kamu harus menjelaskannya padaku?"


" Memang apa yang sedang kau pikirkan tentangku?"


Tiba-tiba William meraih tubuh Dhea dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Dhea, sehingga tubuh dan wajah mereka berdua sangat dekat jaraknya.


" Lepaskan William!! Apa yang kau lakukan?" Kata Dhea dia berusaha melepaskan dirinya sembari terus mendorong tubuh William, namun ternyata tenaga Dhea tak sebanding dengan William.


" Sayang...aku tau sebenarnya kau sangat menginginkan dekat denganku kan? Kau tidak usah berpura-pura dibalik kalimat ketusmu itu."


" Lepaskan Will kataku!!"


" Aku akan melepaskanmu, jika kau menarik semua ucapanmu."


" Maksudmu apa?"


" Aku mau kau tidak menolak semua fasilitas yang sudah kuberi untukmu, atau jika tidak aku akan segera menutup pintu kamarmu ini rapat-rapat sayang."


" Kenapa kau tega mengancamku Will? Bukankah kau bilang kau mencintaiku?"


" Karena aku mencintaimu maka aku mengancammu, karena aku tau jika kau sudah memiliki kemauan pasti tidak bisa ditolak."


" Kau ini sangat menyebalkan!!"


" Bagaimana? Kau tidak akan menolaknya kan? Atau kau ingin aku memelukmu semakin lama lagi?" Goda William, sambil pandangannya tidak beralih sedetikpun dari wajah Dhea.


" Ya...aku mau, tolong lepaskan tanganmu sekarang!!"


Perlahan William melepaskan pelukannya, ada gurat senyum di wajahnya.


" Kau ini tidak berubah sama sekali, sukanya memaksa orang lain." Gerutu Dhea sambil membenahi pakaiannya, lalu kembali duduk.


" Aku lega sekarang, dan ingat sayang jangan lupa jaga kesehatanmu aku tidak mau kau sakit seperti kemarin lagi."


" Hehhh...aku sudah tau, cerewet sekali!!" Gumam Dhea.


" Ya sudah aku pulang dulu ya, ingat jangan pernah kau ingkari janjimu!!"


" Justru aku yang harusnya berkata itu padamu, jangan-jangan belum ada satu tahun kau sudah melupakannya."


" Lihat saja nanti sayang, siapa yang bisa menjaga kepercayaan ini, aku atau kamu!!" Kata William kemudian dia segera berjalan keluar.


" Tutuplah pintumu, jangan pernah membiarkan laki-laki lain masuk ke ruangan ini kecuali aku sayang." Kata William.


Dhea hanya diam saja sambil memandangi tubuh William yang mulai hilang dari balik pintu kamarnya.