Something different

Something different
Nostalgia



" Mike kau sedang dimana?" telfon William saat hari itu menemani Dhea jalan ke tempat-tempat yang dulu pernah mereka kunjungi bersama.


" Aku sedang di kantor Will, ada apa?" tanya Mike.


" Nanti malam kami akan menginap di rumah papah, kau jadi menginap di sana juga kan?"


" Tentu Will, nanti sore aku akan meluncur ke sana."


" Oh ya, kau ingin kubelikan makanan apa untuk menemani kita begadang nanti malam? biar nanti aku bawakan untukmu." tanya Mike yang merasa bahwa sudah lama sekali tidak mengobrol berlama-lama dengan kakaknya itu.


" Terserah kau saja, yang penting tidak memabukkan dan tidak membahayakan buat kesehatan tubuh. Dan yang harus kau ingat aku dan kakak iparmu boleh memakannya.


" Hahaha....tenang saja aku akan menyeleksinya seketat mungkin." Jawab Mike sambil tertawa.


" Apa kau masih di apartemenmu?" tanya Mike kemudian.


" Tidak Mike, istriku ingin napak tilas di tempat-tempat jajahannya dulu saat study di sini." kata william sambil melirik Dhea yang ada di depannya dan sedang menikmati minuman sari buah.


" Hahaha....kau anggap istrimu itu dulu pasukan perang ya?"


" Ya, karena dulu dia begitu galak dan gampang meledak-ledak seperti sebuah amunisi." kata William sambil bercanda, dan Dhea yang mendengarnya hanya memonyongkan bibirnya menanggapi candaan suaminya yang sedang memperoloknya.


" Sayang katakan pada adikmu, dia tidak perlu repot-repot membawa makanan apa-apa, bawa calon istri saja sudah cukup!!" kata Dhea sambil disusul tawa William.


" Hahaha kau dengar kata-kata kakak iparmu kan Mike? jelas tidak kalimatnya di handphonenmu?"


" Ya Will, aku sudah mendengar kalimat itu, kau tidak perlu mengulanginya lagi." kata Mike menanggapi candaan saudaranya itu.


" Hahaha...itu namanya sedikit bicara tapi kaya makna. Istriku sedari tadi diam saja dan hanya mendengarku mengobrol denganmu, tapi sekali dia mengucapkan kata-kata, langsung menohok di hatimu ya?"


" Bukan hatiku saja Will, tapi juga jantungku." jawab Mike.


" Ya sudah jangan dimasukkan perasaan, tapi masukkan di pikiran saja ya. Karena perasaan itu kadang-kadang salah." Ujar William.


" Hehhhh....dasar kalian berdua suka sekali memperolokku. Lihat saja suatu hari nanti bukan cuma 1 calon istri tapi 2 calon istri sekaligus yang akan aku kenalkan pada kalian." " Jawab Mike.


" Hahaha...itu namanya overdosis Mike, awas bisa darah tinggi kau nanti."


" Ya sudah? nanti aku tunggu di rumah papah ya, tawaran makanannya masih berlaku kan? jadi aku tunggu buah tanganmu itu."


" Ok Will tenang saja, pasti akan aku bawakan." Jawab Mike sambil disusul menutup telfonnya setelah saling mengucapkan salam.


" Bagaimana sayang? kau ingin aku antar kemana lagi? tadi kita sudah memutari kota ini, lalu kau juga sudah mampir di tempat kerjamu yang dulu, kemudian di tempat tinggalmu yang lama, dan sekarang kita menikmati minuman di dekat kampusmu." Kata William merinci tempat-tempat yang telah mereka kunjungi hari ini.


" Kau lupa sayang? ada satu tempat yang begitu spesial buat kita berdua."


" Hahaha...tempat-tempat yang baru saja kita kunjungi semuanya sangat spesial buatku, karena di tempat itu dulu aku berjuang untuk memenangkan hati seorang wanita yang sangat kucintai." Jawab William sambil mengusap pipi istrinya.


" Tapi di tempat itu dulu kau pernah membiarkanku menangis sendirian, dan tanpa merasa bersalah kau malah mengambil gambarku. Kau tidak tau betapa hancurnya perasaanku malam itu." Gerutu Dhea.


" Ihhhh enak saja!! aku tidak menagih janji, tapi menepati janji ya lebih tepatnya. Kau itu seandainya dulu aku tau kau di situ pasti aku sudah....!!"


" Pasti sudah berlari dan menghambur di pelukanku, lalu kau mengatakan dengan sisa-sisa isakanmu, aku cinta kamu William, sangat mencintaimu!! benar kaaannn???" kata William memotong kalimat istrinya, dan tidak henti-hentinya menggoda.


" Issshhhh....kau ini, menyebalkan sekali." Gerutu Dhea sambil cemberut.


" Hahaha...jika kau cemberut seperti itu lucu sekali sayang." Jawab William.


Tiba-tiba Dhea berdiri dan segera berjalan meninggalkan suaminya itu.


" Heiii....sayang!!! kau mau kemana???" teriak William sambil mengejar istrinya yang berjalan secepat mungkin.


" Aku ingin pergi ke taman itu sendiri, karena sedari tadi kau hanya memperolokku, jika kau tidak mau mengantarku aku akan naik taksi." Kata Dhea merajuk.


" Hei....pelan-pelan dong jalannya, aku akan mengantarmu, ingat kau sedang hamil sayang." Kata William sambil menghentikan langkah Dhea.


" Kau tidak tau, betapa berharganya kenangan tempat itu buatku. Kenapa kau sepertinya tidak serius melihat bahwa semua itu berarti buat kita?"


" Sayanggg.....bukan cuma buat kamu, tapi juga buat aku. Kita kesana sekarang ya?" kata William.


Dhea hanya mengangguk saja. Memang tidak bisa dipungkiri usia Dhea yang lebih muda membuat dia bersikap manja dan kolokan pada suaminya, terlebih Dhea tau bahwa suaminya sangat menyayanginya, . Terkadang hati manusia memang begitu, disaat dia tau ada yang memujanya, dia akan begitu saja terlena dan lupa bahwa segala sesuatu di dunia itu ada saatnya dan masanya. Dia lalai jika masa itu telah habis, maka tidak ada lagi hal-hal yang bisa membuat dia merasa berada di awan-awan seperti dulu, dan yang perlu diketahui adalah, akan sangat menyiksa sekali saat seseorang itu harus kembali berada di titik awal seperti dulu..


William kemudian menggandeng tangan istrinya, dan mengajaknya berjalan ke arah mobil yang terpakir tidak jauh dari tempat mereka duduk tadi.


" Ayo sayang tersenyumlah." Kata William mencoba mengembalikan keceriaan istrinya.


" Hemmmmm....!!" kata Dhea sambil menunjukkan senyumnya yang seolah dipaksakan.


" Hahaha kenapa mukamu jadi sejelek itu sayang? senyummu yang kau paksakan itu seperti orang yang sedang menahan buang angin." Kata William.


" Ihhhh....kau ini." Kata William sembari memukul lengan suaminya.


" Aawww...pukulanmu lumayan sakit ya, apa karena akhir-akhir kau banyak makan?" kata William sambil mengusap-usap lengannya yang sebenarnya tidak terlalu sakit itu.


" Kau lupa? bahwa aku sedang membawa 1 calon anak di tubuhku, jadi wajar saja jika tenagaku bertambah." Jawab Dhea.


" Hehhh...masih kecil saja sudah sekuat itu, jangan-jangan setelah besar nanti dia bisa sekuat Arjuna sayang."


" Hahaha....yang jelas sekuat papanya sayang, dulu saja hanya sekali kibas tanganku pernah kau buat kesakitan." Kata Dhea mulai sedikit melupakan kekesalannya.


" Hehhhh...jika ingat dulu, rasanya aku menyesal sekali pernah menyakitimu sayang."


" Aahhh...sudahlah, itu kan hanya masa lalu sayang." Kata Dhea sambil menatap mesra suaminya.


Terimakasih buat readers yang tetep setia membaca novelku, maaf jika tulisanku ini masih jauh dari kata sempurna dan banyak ketidaksetujuan terhadap karakter Dhea yang bertentangan dengan muslimah sejati. Yang perlu disadari disini adalah, setiap mahluk hidup itu akan melakukan segala sesuatu untuk melindungi dirinya jika ada hal yang mengancam ketenangannya. Maaf atas ketidaksukaan kata-kata yang saya tuliskan di beberapa bab, mungkin itu sebagai bentuk penekanan bahwa betapa amat bencinya Dhea pada William. Jika berkenan jangan lupa votenya ya, yang sudah memberikan vote terimakasih banyak, semoga kalian sehat selalu dan masih bisa terus membaca kelanjutan novel ini. Tapi ingattt!!! jangan sampai lupa kewajiban, gara-gara keasyikan baca jadi kebablasan deh. Ohya...untuk visual act sebenarnya sudah berkali-kali buat, tapi setiap saya sertakan foto sampai sehari semalam pending terus jadi saya hapus lagi. Kalau ada reader yang tau penyebabnya tolong kasih masukan ya buat jalan keluarnya.🙏🙏