Something different

Something different
Kembali ke rumah



Sudah satu minggu ini Dhea pulang ke Indonesia. Waktu satu bulan lebih di London, berhasil membuatnya fresh kembali, walaupun sikap jutek Deasy sempat membuatnya malas untuk berlama-lama mengobrol dengan wanita itu.


Hari-hari Dhea bersama William kembali normal. William yang menjelma sebagai apa saja bagi Dhea, bisa memberikan warna bagi kehidupan Dhea bersama laki-laki tampan itu. Ucapan syukur tak pernah lelah dia panjatkan, atas anugerah yang begitu indah Allah ciptakan untuknya. Suami yang begitu perfek di matanya, belum lagi sifat sayang terhadapnya yang sangat luar biasa, membuat Dhea seperti hidup di dalam surga dunia yang sesungguhnya.


" Pagi sayang...!!" sapa William saat baru saja mendapati istrinya keluar dari kamar dengan wajah yang masih terlihat kusut karena baru saja bangun.


" Hemmmm...kenapa kau tidak membangunkanku tadi?" sambil menarik kursi di samping William, kemudian mendudukinya.


" Tidurmu terlihat nyenyak sayang, tidak biasanya setelah sholat subuh kau ketiduran lagi, jadi aku biarkan saja." Sambil menyuapi seiris roti berbalut selai coklat ke mulut Dhea. Dhea langsung membuka mulutnya dan dengan lahap mengunyah roti tersebut.


" Kau tadi sudah cuci muka belum?" sambil membenahi jilbab Dhea sembari memasukan rambut yang terlihat mencuat keluar.


" Belum hehehe." Sambil cengar cengir.


" Hiiihhhh...jorok sekali sih..." Sembari mencubit pipi Dhea.


" Biar saja, salahnya kau keluar kamar duluan, sedangkan aku masih tidur di dalam sendirian."


" Hahaha....ya sudah ayo kita masuk lagi dan keluar bersama-sama."


" Yeee...kau pikir ada adegan reka ulang segala? seperti sedang menyelesaikan kasus hukum pidana saja." Sambil membuka mulutnya lagi, dan William sudah tau bahwa istrinya itu minta disuapi kembali.


" Sayang, kau ingin minum apa? biar aku buatkan" menawari istrinya. Sifat perhatian William yang satu ini memang jarang dimiliki laki-laki. Mau melayani istrinya tanpa merasa direndahkan statusnya sebagai seorang suami.


" Biar aku buat sendiri saja sayang."


" Ayolah, aku buatkan susu coklat kesukaanmu ya?" sambil berjalan menuju meja bar yang ada di dalam ruangan itu."


" Terimakasih suamiku i love you."


" Love you too sayang."


Dhea memperhatikan tangan lelaki belahan jiwanya itu begitu cekatan meracik minuman untuknya. Takaran yang sesuai dengan selera Dhea seperti biasanya, dengan jumlah susu yang tidak terlalu banyak tapi tidak juga terlalu sedikit, serta ditambahkan madu satu sendok, dan dicampur air dingin agar tidak terlalu panas.


" Ini sayang susu speasial buatan suami tercinta, untuk istri tercinta juga." Sambil menyerahkan kepada Dhea, lalu duduk kembali di kursi yang tadi didudukinya.


" Terimakasih suamiku."


" Sama-sama sayang."


" Kau mau makan roti atau nasi?" Menawari istrinya lagi.


" Aku mau roti sayang."


" Oke aku ambilkan ya." Sembari membuka penutup wadah roti yang ada di hadapannya.


" Tidak, aku tidak mau yang itu!!"


" Lho tadi kau bilang mau makan roti?" Menutup kembali wadah roti tersebut sambil menatap bingung pada istrinya.


" Iya aku memang mau makan roti."


" Lalu?"


" Tapi roti milik suamiku. Aku ingin disuapi suamiku lagi." Jawab Dhea manja sambil malu-malu.


" Hahaha...kenapa wajahmu memerah begitu sayang? aku tidak pernah keberatan untuk berbagi apapun denganmu, apalagi untuk menyuapimu." Sambil mengiris roti lalu menyuapi Dhea kembali. Dhea membuka mulutnya dan sepotong roti melesat bebas masuk ke kerongkongannya.


" Setelah makan kau mandi ya, nanti ikut aku ke kantor."


" Ok siap sayang." Tanpa menolak keinginan suaminya, padahal dia sangat tau bahwa setiap dia ikut suaminya ke kantor, pasti dia hanya sekedar duduk-duduk saja sambil memperhatikan suaminya mengobrol dengan bawahannya, atau jika dia bosan, akan keluar ruangan lalu berjalan menyusuri lokasi perusahaan suaminya, sambil menegur setiap pegawai yang berpapasan dengannya.


" Ya, aku mandi dulu ya." Sambil menyeruput sisa susu di dalam gelasnya, kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


Baru saja hendak melangkahkan kaki, William tiba-tiba menahannya.


" Ehhh...tunggu sayang...!!" Dhea spontan menengok.


" Ada apa sayang?" Tanpa menjawab, William mengambil sebuah tisu, dan kemudian mendekati istrinya itu.


" Kau ini mulutmu belepotan seperti ini." Sambil membersihkan bekas susu yang bersisa di mulutnya.


" Hihihi...aku tidak tau sayang. Terimakasih ya."


" Ya, naiklah." Dhea segera meninggalkan suaminya. William ingin menghabiskan minumannya dulu, dan hanya tinggal berganti pakaiannya, jadi masih bisa santai sambil menunggu istrinya selesai mandi dan berhias.


Dhea segera masuk ke dalam toilet, menyiram seluruh bagian tubuhnya. Air yang mengalir begitu dingin menyentuh kulitnya, hingga tubuhnya yang awalnya terasa begitu letih, berangsur-angsur hilang dan berganti dengan rasa segar. William yang telah menyelesaikan sarapan paginya, segera menyusul istrinya ke dalam kamar. Suara air yang mengucur dari atas shower beradu dengan lantai, terdengar suara gemericiknya hingga ke dalam sudut-sudut kamarnya.


William segera menuju lemari besar yang berisi pakaiannya. Ditelusurinya satu persatu pakaian yang telah tersusun rapih itu. Diambilnya sebuah kemeja abu-abu muda berlengan panjang, serta sebuah jas warna abu-abu tua yang melengkapi penampilannya pagi ini. Biasanya Dhea sudah menyiapkan pakaian suaminya sedari pagi, jika suaminya hendak mandi. Tapi memang tadi dia bangun kesiangan, sehingga tidak sempat menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.


Saat keluar dari toilet, dilihatnya William sudah rapih dengan stelan jasnya.


" Hemmm....kau tampan sekali sayang."


" Kemana saja kau selama ini? baru tau ya jika suamimu ini tampan?" sembari membenahi dasi yang baru dikenakannya.


" Hahaha...sudah lama sih aku menyadarinya, hanya saja jika setiap hari aku memujimu, kau jadi besar kepala."


" Heiii...sejak kapan kau sok jual mahal padaku??" sambil berbalik menatap istrinya yang masih berbalut handuk.


" Hemmmm....sejak aku tau aku begitu sangat mencintaimu, dan harus membiasakan diri untuk tidak terlalu mengagumimu, karena tidak boleh terlalu mengagumi mahluk ciptaanNya, melebihi diriNya."


" Hahaha...kemarilah sayang!!" sambil menarik tangan Dhea dan memeluknya.


" Tapi lebih baik mengagumi suami sendiri kan? daripada mengagumi suami orang lain?"


" Hemmm....mengagumi suami orang lain? aku sih mau, mereka mau tidak ya jika kukagumi?" sambil melirik genit pada William.


" Heiii...jangan coba-coba kau ya...!!!" sambil menggelitik pinggang Dhea.


" Hahaha....tidak....!!! aku hanya bercanda, aku tidak sungguhan.. !!" kata Dhea sambil berkelit.


" Awas ya jika berani main mata dengan orang lain...!!"


" Hahaha...mana mungkin sayang? jika aku ingin berbuat seperti itu, aku harus mencari artis keren sekelas Tom Cruise untuk menyaingi ketampananmu."


" Heiii...aku serius sayang..!!" sambil membelalakkan mata birunya yang indah.


" Aku juga serius sayang. Betapa bodohnya aku jika berbuat seperti itu. Pengorbananmu sudah sangat besar untukku. Dan yang terpenting kau adalah suami yang sangat sempurna buatku."


" Kau janji akan menjaga cinta kita?"


" Ya sayang aku janji, kaupun harus berjanji ya?"


" Tentu saja, karena aku sangat mencintaimu." Sambil memeluk istrinya sedikit lama.


" Sayang....? kita jadi ke kantormu, atau kau ingin sesuatu yang lain?"


" Hahhh...maksudmu?" sambil melepaskan pelukkannya, dan Dhea melirik penuh arti.


" Hahaha....ya...ya..ya...kau berganti pakaian saja. Nanti kita selesaikan jika sudah pulang dari kantor ya?" Sambil mengacak-acak rambut istrinya. Dheapun hanya tertawa melihat reaksi suaminya yang tersipu malu itu, lalu berjalan menuju lemari pakaiannya.