
Pagi ini Paula menelfon William, dan memintanya untuk mengantarnya ke tempat dokter kandungan memeriksakan kahamilannya.
" Apakah kau tidak bisa pergi sendiri Paula ? aku sedang banyak pekerjaan ".
" Kau ini Will, bukankah ini anakmu juga ? kenapa aku harus menanggungnya sendiri, baru begini saja kau sudah hendak lepas tanggung jawab, bagaimana jika kau tidak jadi menikahiku ?"
" Iya iya...cerewet sekali, nanti aku akan mengantarmu. Sekarang aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu !!" Bentak William kesal.
Lalu William segera menutup telfonnya, dan melanjutkan kembali pekerjaannya. Dan siangnya dia segera meluncur ke apartemen Paula. Setelah tiba di apartemen Paula, William tidak masuk seperti biasa, tetapi dia menelfon Paula.
" Aku sudah di bawah cepat kau turun !!" Kata William ketus.
" Kau tidak ingin minum kopi di kamarku dulu ?" Tanya Paula.
" Tidak !! Cepatlah buang buang waktu saja, aku sedang buru buru !!"
" Iya tunggu sebentar, aku berganti pakaian dulu ", jawab Paula tak kalah ketus.
Dia menggerutu sendiri, laki laki ini dulu amat memujanya, dia bahkan rela menunggunya berjam jam hanya untuk mengantar ke tempat kerjanya. Tapi sekarang, jangankan berjam jam, baru saja 5 menit dia tiba di depan apartemennya sudah ngomel ngomel tidak karuan.
Tak lama kemudian Paula sudah terlihat keluar dari apartemennya dan berjalan menuju ke mobil William.
Saat Paula sudah berada di dalam mobil, tanpa basa basi William sudah memacu kendaraannya.
" Will bisakah kau mengurangi kecepatanmu ? kau bisa menggugurkan kandunganku jika cara mengemudimu seperti ini ".
" Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak mempunyai banyak waktu ".
" Ya, tapi bukan berarti kau bisa mengendarai mobil ini secara ugal ugalan, hmmm atau kau sengaja ingin membunuh janin dalam rahimku ini dan lepas tanggung jawab ?"
" Hhhh wanita gila, kau pikir aku sebejat itu. Aku tidak perlu jadi pembunuh hanya untuk melepas tanggung jawabku, dasar bodoh !!"
" Kau yang bodoh, seenaknya mengataiku seperti itu, aku sudah muak melihat sikapmu itu Will ".
" Lalu jika kau muak kenapa ingin menikah denganku hah ? Hahaha pasti kau menginginkan hartaku kan ??? Padahal saat kita menikah nanti aku bahkan tidak sudi tinggal serumah denganmu, jangan harap kau bisa mendapatkan semuanya ".
" Hhhhhh lihat saja nanti kau William, aku akan segera membuat kau jadi gelandangan ". Kata Paula dalam hati.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di tempat praktek dokter spesialis kandungan.
" Selamat siang Nyonya Paula ", seorang dokter wanita menyapa mereka.
" Selamat siang dokter ".
" Oh kau membawa suamimu hari ini ?"
" Maaf dokter aku belum menjadi suaminya ", jawab William ketus.
" Tapi dia calon ayah dari anakku dokter ", sambung Paula sambil melirik William yang masih saja bersungut sungut.
" Ya ya ya...ayo silahkan duduk ".
" Terimakasih dokter ". jawab Paula. William tetap diam saja.
" Bagaimana kondisi kandunganmu, tidak ada masalah kan ?"
" Tidak dok, sepertinya dia sangat betah ada di dalam rahimku ".
" Ya nyonya pasti dia akan tumbuh menjadi seorang anak yang kuat ".
" Pasti itu dokter lihat saja ayahnya, dia juga orang yang kuat bahkan sangat kuat ", kata Paula sambil tersenyum dan melirik William.
William hanya membuang muka, dan tidak menggubris perkataan Paula sedikitpun.
" Baik mari kita lihat dulu perkembangan janin di perutmu nyonya ", ajak dokter tersebut.
" Iya dokter ".
" Will tidakkah kau ingin ikut ke dalam melihat calon anakmu ini ?"
" Tidak perlu Paula, kau masuklah sendiri ", jawab William masih dengan muka masamnya.
" Hhmmm oke kalau begitu ".
Tak berapa lama kemudian mereka sudah keluar lagi.
" Kandungan kekasih anda baik baik saja tuan, tapi bukan berarti anda tidak menjaganya, biasanya wanita hamil itu butuh perhatian khusus, jaga mood baiknya, agar calon anak anda nantinya memiliki psikis yang bagus ".
William hanya diam saja tidak mengiyakan perkataan dokter tersebut. Hanya Paula saja yang antusias mendengarkannya.
" Iya dokter terimakasih banyak ya ".
" Jangan lupa anda harus rutin memeriksakan kandungan anda setiap bulannya ya ?"
" Kalau begitu kami permisi dulu dokter ". Kata Paula lagi.
" Ya nyonya silahkan ", jawab dokter itu ramah.
Kemudian William dan Paula segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
" Kau ini Will, bisa tidak bersikap sedikit manis di hadapan dokter kandunganku ?" Kata Paula saat sudah berada di dalam mobil.
" Hhhh bersikap manis ? jangan harap ya, sudah untung aku mau mengantarkanmu ".
" Kau ini keterlaluan sekali, bukankah ini anakmu ? kenapa kau begitu keberatan hanya untuk mengantarku saja ".
" Aku sebenarnya tidak keberatan jika yang kuantar itu bukan kamu, tapi wanita lain ".
" Dhea maksudmu ?"
" Itu kau tau, kenapa masih bertanya lagi ?"
" Hahaha kasihan sekali kau ya, cintamu saja bertepuk sebelah tangan, tapi kau masih juga bersikeras untuk mendapatkan dia ".
" Tau darimana kamu tentang perasaannya padaku, sok tau !!"
" William William...aku itu mendengar sendiri dari mulut gadis itu, dia bahkan merasa gembira sekali kau akan menikah denganku, karena selama ini kehadiranmu itu mengganggunya ".
" Menyerahlah usahamu akan sia sia, lebih baik memperbaiki hubungan kita saja, menikah denganku, memiliki anak dan kita akan bahagia ".
" Bahagia ? denganmu ? Hahaha jangan harap aku bisa hidup bahagia dengan wanita materialistik sepertimu. Yang aku bayangkan justru lambat laun kau akan menghabiskan uangku, kau gunakan untuk belanja, hura hura, foya foya, ya kan ? kau pikir aku tidak mengenal karaktermu ? wanita yang bisanya hanya menghambur hamburkan uang saja ".
" Hahaha bukankah itu juga tidak beda denganmu, kau pria yang juga suka menghambur hamburkan uang, bahkan tidak segan untuk menghabiskannya hanya demi mengejar seorang wanita ya kan ?"
" Kau memang wanita yang sangat menyebalkan Paula, begitu sialnya aku bisa mengenalmu bahkan akan menikahimu !"
" Hhhhh terima saja takdirmu bahwa aku adalah jodohmu ".
" Kau memang wanita brengsek ".
" Hahaha wanita brengsek berjodoh dengan laki laki brengsek, bukankah itu sangat cocok sayaaaaang ".
" Hhhhh...apa sih hebatnya wanita itu sehingga kau begitu tergila gila padanya ? Aku bahkan seribu kali lebih baik daripada dia ".
" Hahaha kau seribu kali lebih baik daripada dia ??? berkacalah dulu Paula, ada puluhan wanita di jalanan yang sama sepertimu ".
" Hhhhhh...lalu apakah wanita penjaga kasir itu kau anggap lebih baik dariku ? bahkan penampilannya sungguh ingin membuatku ingin tertawa ".
" Dhea itu jauh lebih baik darimu, dan harus kau tau, bukan dari penampilannya orang itu bisa dinilai baik atau tidaknya, tapi dari sikap dan tingkah lakunya. Lihat saja sikapmu sekarang ? Apakah menunjukkan bahwa kau wanita baik baik ? Bahkan aku sedang berpikir kau ini lebih pantas disebut sebagai wanita penggoda Paula ".
" Sialan kau Will, aku tidak akan membiarkan kau terus menghinaku, lihat saja nanti ", kata Paula dalam hati.
Tak lama mobil William telah tiba di depan apartemen Paula. Kemudian Paula segera turun, dan tanpa basa basi William langsung memacu mobilnya meninggalkan Paula yang masih berdiri mematung di depan kendaraannya.
" Hhhhhh...laki lali yang tidak berperasaan sama sekali ", gerutu Paula. Kemudian dia segera masuk ke dalam apartemennya.
Sementara itu William terus memacu mobilnya menuju ke rumah, dia amat malas untuk kembali ke kantor lagi.
" Hallo Dan ". Sapa William saat menelfon Daniel setelah tiba di rumahnya.
" Hallo Will ".
" Bagaimana Dan, kau sudah mendapatkan cara untuk menghentikan wanita itu ?"
" Belum Will, aku masih terus memikirkannya. Tapi kamu jangan khawatir, kau pasti tidak akan lama mendampingi wanita itu ".
" Hhhmmm ya Dan, aku sudah tidak sabar menyingkirkan wanita itu dalam hidupku ".
" Lalu bagaimana hubunganmu dengannya ? kau tidak menampakkan rasa bencimu padanya kan ?"
" Hhhh aku tidak bisa berpura pura Dan, sikapnya itu membuatku sangat muak ".
" Harusnya kau bisa menahan diri Will, kau tidak mau kan wanita itu berbuat sesuatu yang bisa merugikanmu, dia itu wanita yang sangat licik Will ".
" Tapi aku rasa dia tidak akan berani berbuat apa apa, karena dia sudah tau aku akan menikahinya ".
" Ya Will mungkin benar katamu, karena sebenarnya dia hanya ingin mengicar status sebagai istrimu ".
" Bersabarlah Will, aku akan menyelesaikan semua ini tepat pada waktunya ".
" Ya Dan, aku mengandalkanmu ".
Kemudian William menutup telfonnya, dan segera membaringkan tubuhnya di kasur.