
" Sayang kau baik-baik saja kan?" tanya William saat Dhea sudah dipindahkan ke dalam ruangan kamar inap.
" Saat ini aku belum merasakan apa-apa sayang, mungkin karena obat biusnya masih bekerja."
" Sayang kau sudah melihat anak kita?" Tanya Dhea memastikan bahwa suaminya sudah melihat buah hatinya yang baru saja dikeluarkan dengan paksa sebelum waktunya itu.
" Belum sayang, ibu dan ayah yang sedang melihatnya."
" Anak kita perempuan sayang. Tadi aku mendengar dokter berbicara. Walaupun aku belum bisa melihatnya, tapi aku yakin anak kita sangat cantik, dan memiliki hidung mancung sepertimu." Kata Dhea sambil wajahnya menerawang, membayangkan rupa buah hatinya itu. Willim hanya diam saja, walaupun sebenarnya diapun sudah tau jenis kelamin anaknya itu. William yang tadinya sedang berdiri di samping Dhea, segera menarik kursi dan kemudian mendudukinya sambil tetap berada di sebelah ranjang istrinya.
" Sayang berdoalah agar anak kita bisa bertahan, dan ada keajaiban dari Allah untuknya. Dan kalaupun Allah mengambilnya, ikhlaskan dia, berarti Allah lebih sayang dengan dia." Jawab William sambil menggenggam jemari istrinya.
" Ya sayang, selama operasi berlangsung tadi, aku tak pernah berhenti mendoakannya. Bahkan aku tidak perduli dengan kegiatan orang-orang yang sedang merobek-robek perutku, yang aku pikirkan anak kita bisa bertahan dengan usianya yang masih sangat muda itu." Sambil menahan rasa sesak dalam dadanya, rasa ingin berjumpa dengan buah hatinya itu begitu besar. Dia ingin barang sedetik saja memeluknya dan mencium pipinya. Hanya saja memang sangat tidak mungkin sekali, bayi itu tidak mungkin bisa dikeluarkan dalam box kaca yang melindunginya dari suhu udara di luar.
" Sabar ya sayang, dokter sedang berusaha untuk membantu menyelamatkannya. Nanti jika sudah memungkinkan, kau pasti bisa melihatnya langsung." Sambil tetap membesarkan hati istrinya, walaupun William sendiripun ingin segera melihat anak perempuannya itu. Namun tidak tega jika membiarkan istrinya seorang diri di dalam kamar itu. Perlahan pintu kamar diketuk. Kedua orang tua Dhea masuk, karena kebetulan pintu tersebut tidak dikunci. Wajah Dhea langsung sumringah, dia tidak sabar ingin mendengarkan cerita dari kedua orang tuanya yang baru saja melihat buah hatinya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikum salam." Dhea dan William menjawab bersamaan.
" Bu...bagaimana anakku? dia cantikkan? pasti wajahnya mirip dengan papanya ya? biasanya anak perempuan cenderung lebih mirip dengan papanya kan?" Tanya Dhea antusias. Rasa penasaran ingin segera tau kondisi anaknya, membuat Dhea langsung mencecar dengan pertanyaan bertubi-tubi, pada orang tuanya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. William hanya menarik nafas panjang mendengar pertanyaan istrinya.
" Kau pikirkan kesehatanmu saja dulu Dhe. Anakmu sudah ada yang mengurusi, jadi kau tenang saja ya." Berusaha mengalihkan pembicaraan. Padahal ibunya tidak tega menceritakan kondisi cucunya yang penuh dengan kabel yang menempel di tubuhnya. Apalagi melihat kondisi Dhea yang masih belum stabil dan baru saja keluar dari ruang operasi. Ibunya tidak ingin anak semata wayangnya itu jadi semakin sedih, jika tau bayinya yang sangat memprihatinkan itu.
" Iya nak, kami tadi sudah melihat anakmu. Wajahnya sangat cantik. Mirip dengan kalian berdua." menjawabnya sambil berbohong. Padahal saat itu merekapun tidak bisa melihat jelas rupa cucunya, karena sebuah alat bantu pernafasan lebih mendominasi sebagian wajahnya, sehingga mereka hanya bisa melihat mulut bayi tersebut yang menganga, dan hidungnya yang juga tak luput dari alat menyakitkan itu.
Ayah dan ibunya tidak bisa menjawab. Mereka bahkan tidak tau apakah cucunya itu sedang tertidur atau sedang tidak sadarkan diri. Yang mereka tau, saat itu mereka hanya ingin menangis melihat bayi mungil yang tak berdosa itu pasti sangat menderita.
" Dhe....tenanglah. Ayah dan ibu tau, kau pasti sangat ingin memeluk bayimu. Tapi dari awal kaukan sudah tau, bahwa anakmu itu prematur, jadi harus ditangani dengan serius. Dia sekarang ada di dalam inkubator. Serahkan semuanya pada yang kuasa, kita yang penting sudah berusaha dengan maksimal ya." Ayahnya akhirnya harus menjelaskan yang sebenarnya walaupun tidak secara rinci, namun harapannya Dhea bisa menerima semuanya dengan akal sehatnya.
" Ya ayah aku sangat tau, dan sudah bisa membayangkan, pasti dia tidak seperti bayi-bayi yang lain kan? pasti dia mendapat perlakuan spesial kan? aku tau itu." Jawab Dhea yang mulai bisa mengontrol dirinya.
" Ya na, kita semua harus menerima kenyataan ini ya. Tuhan sayang dengan kita semua, makanya Dia menguji ketaatan kita padaNya." Dhea hanya diam saja.
" Sayang, lihatlah anak kita. Walaupun aku tidak bisa menatapnya langsung, tapi kau bisa memfotokan dia untukku kan?"
William dan kedua mertuanya saling bertatapan, ada keraguan dalam hatinya, dan melalui isyarat matanya, sebenarnya dia ingin meminta bantuan pada kedua mertuanya itu.
" Sayang, apapun dan bagaimanapun kondisi anak kita, insyaallah aku akan menerimanya dengan ikhlas. Aku hanya ingin melihat wajahnya saja. Percayalah padaku." Kata Dhea penuh harap.
" Pergilah nak, beritahukan kondisi anaknya pada dia, bagaimanapun itu. Disana nanti kau akan langsung bisa menemukan anakmu tanpa harus bertanya pada suster perawat." Kata ibu Dhea. William tidak bisa lagi mencari alasan untuk tidak menuruti permintaan istrinya, akhirnya dia segera melangkahkan kaki keluar menuju ruangan dimana anaknya dirawat.
Benar saja, saat sudah sampai disana, tanpa harus bertanya kesana kemari, William bisa langsung melihat satu-satunya bayi yang kondisinya berbeda dari bayi lainnya. Hanya dia sendiri yang berukuran sangat kecil, juga terlihat diam di dalam ruangan inkubator. Dan bayangannya selama ini tidak meleset sama sekali, seperti bayi-bayi lain pada umumnya yang terlahir prematur, apalagi anaknya yang jantungnya saat ini belum bisa memompa dengan sempurna, sudah pasti banyak alat yang membantunya untuk menyambung hidup. Selama ini pemandangan itu hanya dia ketahui dari televisi ataupun media online lainnya, namun sekarang semuanya ada di depan mata, dan itu adalah darah dagingnya sendiri. Sudah tentu sebagai seorang ayah tidak mungkin tega menatapnya terus menerus. Namun semua dikuatkannya demi untuk mendapatkan gambar sempurna, yang akan ditunjukkan pada istrinya nanti. Kamera handphone diarahkan pada bayinya, posisi zoom diaturnya agar lebih terlihat jelas. Dengan satu jepretan berhasil William mendapatkan foto bayinya itu. Diamatinya foto tersebut. Sebuah foto dengan pemandangan sangat menyedihkan, bukanya seorang bayi lucu dengan wajah dan senyum polosnya, tapi lebih mirip seperti bayi mahluk asing luar angkasa, dengan kabel bersliweran di seluruh tubuhnya dan mulut yang menganga.
William memejamkan matanya sejenak sembari menarik nafas panjang. Apakah istrinya setega itu melihat gambar yang ada di dalam handphonennya? Dia membuka matanya, dan menatap kembali foto itu sejenak. Tombol hapus hendak dia tekan, dia nanti bisa beralasan jika batre handphonennya habis. Namun diurungkannya setelah dia berpikir kembali, karena jika foto yang dimintanya itu tidak diberikannya, pasti istrinya akan terus merengek dan memohon-mohon padanya, dan akan meminta dia mengecharge handphonennya, lalu balik kesini lagi untuk mengambil gambar itu. Dia sangat hafal sifat istri kesayangannya itu.
Akhirnya dengan meyakinkan diri, bahwa istrinya akan baik-baik saja setelah melihat foto tersebut, dia kemudian membalikkan diri dan segera melangkah meninggalkan bayinya sendirian. Terlalu lama berada di situ, membuatnya semakin sedih. Seharusnya saat ini, anaknya ada di dekapan sang istri dan sedang asyik menikmati asi, bukannya malah berada di dalam sebuah kotak kaca yang terlihat sangat tidak nyaman itu. William terus melangkahkan kakinya, jika saja seluruh uang dan hartanya bisa ditukar dengan keselamatan anaknya, pasti itu sudah dilakukannya dari kemarin-kemarin. Ternyata tidak semuanya bisa dibeli dengan uang, termasuk sebuah nyawa dan kebahagiaan.