Something different

Something different
Ditelfon Bram



" Sayang nanti sampaikan salamku untuk papa dan Mike ya, juga istrinya. Tolong katakan permintaan maafku karena tidak bisa menghadiri pernikahannya." Kata Dhea saat sudah berada di dalam mobil.


" Ya, pasti akan aku sampaikan. Mereka semua pasti bisa memaklumi kondisimu yang belum sembuh benar."


" Ahhhh...bisa aku bayangkan pesta pernikahan Mike pasti akan sangat meriah." Kata Dhea sambil membayangkan sendiri suasana pernikahan adik iparnya itu.


" Ya, tapi aku tetap akan merasa kesepian karena tidak ada kau yang menemani sayang."


" Ahhhh...kau ini, jangan begitu. Di sana nanti kau akan bertemu dengan saudara-saudara dan juga teman-temanmu, pasti kau akan terhibur dan akan lupa denganku untuk sementara waktu."


" Ya, tapi akan lebih lengkap lagi jika ada kamu." Sambil melirik istrinya. Dhea diam saja, dia memperhatikan suasana jalan dari balik jendela sampingnya. Kota Semarang yang masih tetap dengan kepadatan lalu lintasnya, namun tidak biasanya Dhea begitu menikmati suasana yang sedikit macet seperti ini, malahan dia berharap supaya tidak segera tiba di bandara, agar masih tetap bisa berlama-lama bersama William. Ahhh cinta mereka berdua selalu saja menggebu-gebu seperti disaat pertama kali jatuh cinta, sehingga sulit untuk berpisah satu dengan yang lainnya.


Sepelan apapun kendaraan yang dikemudikan supir William, tetap saja akhirnya tujuan mereka sudah ada di depan mata. Supir segera masuk ke halaman bandara, dan memarkirkan mobilnya.


" Sayang kau tidak usah ikut turun ya, seperti janjimu tadi. Karena jalan masuk ke sana sedikit jauh." Kata William mewanti-wanti istrinya.


Sebenarnya untuk ukuran normal jarak itu tidak terlalu jauh, namun bukan William namanya jika tidak berlebihan memperlakukan istrinya itu bak seorang tuan putri.


" Ya, aku tidak akan melanggar janjiku."


Supir William langsung turun dan sengaja tidak mematikan mobilnya, karena sang majikan perempuan akan berada di dalam. Dia lalu berjalan ke belakang, membuka bagasi, dan mengeluarkan koper bawaan William.


" Ya sudah sayang aku pergi dulu ya, kau tidak boleh bandel. Ingat pantangan yang dikatakan oleh dokter di rumah ya." Seperti seorang ayah yang sedang menasihati putri kecilnya.


" Ya sayang, tenanglah. Aku juga ingin cepat sembuh."


" Aku pasti akan merindukanmu sayang." Kata William sambil memeluk erat istrinya.


" Ya, aku akan menantimu di rumah. Pulanglah dengan selamat dan sehat ya." Balas Dhea.


Sebuah kecupan hangat mendarat di seluruh bagian wajah Dhea, William bahkan tidak melewatkan satu bagianpun dari wajah istrinya.


" Jaga diri baik-baik ya sayang dan jangan tinggal sholat."


" Ya sayang pasti itu." Jawab William sambil membuka pintu di sampingnya.


" I love you sayang."


" Love you too." Dhea memandang kepergian suaminya, diikuti sang supir pribadi sambil menarik koper bawaaannya, hingga tubuh mereka berdua benar-benar hilang masuk ke dalam gedung.


Hati Dhea merasa sedih, dia membayangkan selama satu minggu ke depan pasti akan merasa kesepian, karena biasanya mereka selalu bercanda berdua dan menghabiskan waktu bersama. Moment Dhea melepas kepergian Williampun seperti seorang prajurit perang yang hendak pergi ke daerah konflik. Padahal buat orang di luaran sana yang sudah biasa berpisah dengan suaminya berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mungkin tidak sesakral itu prosesnya. Namun itu semua karena faktor mereka terbiasa berjauhan, sedangkan Dhea tidak.


Memang terkadang kita harus melatih diri sendiri untuk menghadapi situasi yang tidak kita inginkan, saat sewaktu-waktu datang menghampiri kita. Saling ketergantungan yang sangat besar dalam hal apapun di antara pasangan itu, di sisi lain baik, namun bisa juga menjadi buruk. Dan salah satu keburukkannya adalah seperti yang dialami Dhea saat ini, ketika ada salah satu yang pergi, maka yang lain akan merasa menderita, padahal hanya pergi untuk sementara waktu. Jika saja itu pergi untuk selamanya, mungkin dia bisa berlarut-larut dalam kesedihannya dalam tempo waktu lama, bahkan bisa membuatnya terpuruk. Namun inti dari semua adalah, kita kembalikan pada yang kuasa. Apapun hal yang menjadi kehendakNya percayalah, semua tetap menjadi yang terbaik untuk kita.


Tak berapa lama supir pribadinya telah terlihat berjalan kembali menuju mobil seorang diri.


" Nyonya apakah kita akan langsung pulang?" Tanyanya pada Dhea.


" Tidak pak, kita tunggu dulu ya, setengah jam lagi pesawat yang dinaiki suamiku akan take out, aku ingin menunggunya di sini." Kata Dhea sambil melirik arlojinya.


Pesawat milik maskapai yang dinaiki oleh William tidak akan mungkin jika mundur dari jadwal yang ditentukan, apalagi nama besarnya yang sudah lama menjadi maskapai favorit tanah air itu, mustahil jika akan mengecewakan penumpangnya. Itu menurut pikiran Dhea.


" Baik nyonya." Jawab supirnya singkat.


Saat sedang asyik melamun, tiba-tiba handphone Dhea berdering. Dia sedikit terkejut, dan langsung mengambil telfon genggam itu di dalam tasnya.


" Bram??? heiii...tumben dia menelfonku?" Gumam Dhea. Dhea langsung menempelkan handphone itu di telinganya.


" Hallo Bram?"


" Hallo Dhe, apa kabarmu?"


" Aku baik Bram, bagaimana denganmu?"


" Tentu saja aku baik Dhe, jika tidak mana mungkin aku menelfonmu?"


" Hahaha...kau ini. Sudah lama ya kita tidak saling menelfon, tumben kau ingat memencet nomorku?"


" Kau ini, aku itu tidak akan mungkin lupa, tapi justru kau tuh yang sudah tidak ingat denganku. Mentang-mentang sudah menikah. Kau pasti sangat bahagia bersama William, makanya semenjak kepulanganmu dari London beberapa bulan yang lalu, kau tidak menghubungiku."


" Maaf Bram, bukan begitu. Aku hanya sedang konsentrasi dengan sesuatu hal saja."


" Sesuatu hal? apa itu? hemmmm...pasti perusahaan baru ya?"


" Kau ini bisa saja. Bukan, biarlah masalah perusahaan suamiku yang mengurusi. Alhamdulillah bisnisnya di sini semakin lancar Bram."


" Heiii...bagaimana kandunganmu? aku bisa bayangkan dengan badanmu yang kurus itu, dan perutmu yang buncit, pasti kau lucu sekali hahaha." Dhea diam saja. Bram memang belum tau tentang kondisinya saat ini.


" Aku kehilangan bayiku Bram." Jawab Dhea pelan.


" Keguguran Dhe?"


" Bukan Bram, tapi sengaja dikeluarkan sebelum waktunya, karena berpotensi buruk untuk nyawaku."


" Ya Tuhan...maafkan aku Dhe, aku tidak tau. Kau yang sabar ya. Jadi ini yang kau maksudkan sedang konsentrasi pada sesuatu?"


" Yahhh begitulah, baru dua minggu yang lalu aku keluar dari rumah sakit, dan bekas operasikupun belum terlalu kering."


" Yah semoga semuanya segera berlalu dan kau sehat kembali ya Dhe."


" Terimakasih Bram."


" Oh iya, aku mendapatkan undangan dari Mike, dia akan menikah minggu ini, jadi kau tidak kemari Dhe?"


" Tidak Bram, aku tidak boleh terlalu lelah dulu sebelum benar-benar sembuh. Suamiku yang pergi sendiri. Ini aku baru saja mengantar dia di bandara."


" Oh iya Dhe, pasti keluarga William bisa memaklumi jika kau tidak hadir ya."


" Yaa...mudah-mudahan begitu Bram."


" Semoga kau cepat sembuh ya Dhe, dan kesehatanmu bisa pulih seperti sediakala lagi."


" Amiin...terimakasih Bram atas doamu."