Something different

Something different
Pergi bersama Reihan



" Jadi itu tadi tempat usahamu Rei?"


" Iya Dhei."


" Hehhh...kau harus bersyukur sudah memiliki tempat usaha sebesar itu, dan tinggal mencari pasangan hidup saja." Kata Dhea lagi.


" Aku memang sedang mencari pasangan hidup Dhei." Kata Reihan sambil melirik Dhea.


Dhea paham bahwa maksud perkataan Reihan itu ditunjukkan padanya, namun Dhea pura-pura tidak tau.


" Dhei...Kemana nih?"


" Terserah kamu Rei, aku ikut saja." Jawab Dhea.


" Ok kalau begitu." Jawab Reihan.


Reihan terus memacu kendaraannya, entah kebetulan atau tidak, Reihan justru mengajak Dhea ke tempat wisata Umbul Sidomukti, tempat dimana dulu Dhea pernah mengajak William ke sana.


" Ya Alloh...beberapa bulan yang lalu aku masih ingat sekali, William ketakutan saat kubohongi bahwa aku baru saja belajar mobil dan melewati tempat seperti ini." Kata Dhea dalam hati.


Hatinya tiba-tiba begitu sedih, padahal baru beberapa hari yang lalu dia sempat lupa dengan sosok laki-laki itu karena kehadiran Reihan, namun ternyata tempat yang baru saja hendak dikunjunginya itu mengembalikan ingatannya pada William.


" Indah ya Dhei tempat ini? Jaman kita SMU dulu tempat ini belum seramai sekarang." Kata Reihan.


Dhea diam saja, karena pikirannya masih saja membayangkan William dan kenangannya saat berada di tempat ini.


" Dheii...? Dheii..? Kau melamun ya?" Panggil Reihan.


" Eh ehmm apa Rei?" Jawab Dhea kaget.


" Kau melamun? Kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?"


" Oh tidak Rei, aku hanya sedang asyik menikmati perjalanan kita." Jawab Dhea berbohong.


" Ohhh aku pikir kau melamun. Kita langsung ke pondok kopi saja ya? Cuaca seperti ini pasti asyik minum segelas kopi sambil menikmati pemandangan dari ketinggian." Kata Reihan menyebut nama cafe yang ada di tempat tersebut.


" Ya Rei aku ikut saja."


Reihan terus memacu kendaraannya hingga ke atas, dan memarkirkannya tidak jauh dari lokasi cafe.


" Kau pesan apa Dhei?"


" Teh panas dan roti bakar saja Rei."


Setelah menulis pesanan mereka, Reihan segera menyerahkannya pada seorang pegawai.


" Apa rencanamu setelah ini Dhei?" Tanya Reihan kemudian.


" Rencanaku? Yang jelas aku ingin konsentrasi dengan pekerjaanku dulu Rei." Jawab Dhea sambil menatap hamparan tumbuhan hijau yang nampak begitu mempesona di bawah sana.


" Kau belum ada rencana untuk menikah? Masak dari dulu kau hanya memikirkan belajar terus. Bahkan sekarangpun dunia kerjamu masih saja tetap berhubungan dengan pelajaran." Nada bicara Reihan terlihat sedikit serius.


" Menikah sih pasti, tapi bukan sekarang Rei."


" Lalu kapan Dhei?" Tanya Reihan.


" Nanti jika William bersedia menjadi imamku." Jawab Dhea dalam hati.


" Dhei..." Panggil Reihan dan menatap Dhea begitu lama.


" Ya." Jawab Dhea.


" Ada apa Rei? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


" Dhei, kau masih ingat kan saat kau memutuskan aku dulu?"


" Kenapa Rei?"


" Kau tau kan bahwa dulu aku tidak pernah mau kamu putuskan?"


" Lalu?"


" Kau tau kenapa Dhei?"


Dhea menggelengkan kepalanya.


" Karena aku masih mencintaimu Dhei."


" Ahhhh itu kan dulu Rei 9 tahun yang lalu."


" Kejadian itu memang sudah 9 tahun yang lalu Dhei, tapi perasaanku sekarang masih sama seperti 9 tahun yang lalu juga."


Dhea ternganga, dia tidak menyangka bahwa ternyata Reihan masih menyimpan perasaan padanya.


" Rei benarkah?"


" Ya Dhei."


" Bahkan aku selalu mengingat semua pesanmu padaku dulu, tempat usahaku yang sekarang itu juga karena aku mengikuti saranmu."


" Dhei kau memang cinta pertamaku saat kita masih sama-sama abg, tapi buatku kau juga sekaligus cinta terakhirku. Aku tidak pernah bisa menggantikan posisimu dengan orang lain."


" Rei...maaf aku belum siap untuk menjalin hubungan denganmu lagi."


" Kenapa Dhei?"


" Karena......!!" Dhea terlihat ragu-ragu untuk mengatakan bahwa dia sudah memiliki pengganti Reihan.


" Kenapa kau diam Dhe? Apakah ada seoarang pria yang saat ini sudah mengisi hatimu?"


Dhea diam sebentar, namun kemudian mengangguk pelan. Wajah Reihan berubah suram, ada perasaan kecewa dalam hatinya. Padahal semenjak dia mendengar bahwa Dhea telah kembali ke Indonesia, dia memiliki harapan besar bisa bersama dengan gadis itu lagi, karena dia yakin bahwa prinsip Dhea untuk tidak mau berpacaran selama dia masih menempuh pendidikan tidak dilanggarnya. Namun ternyata Reihan salah besar, justru sekarang gadis itu sudah melabuhkan hatinya pada laki-laki lain.


" Siapa pria beruntung itu Dhe kalau boleh aku tau?" Tanya Reihan.


" Namanya William."


" Ya dia memang orang London Rei."


" Kau mencintainya?"


Dhea mengangguk.


" Lalu dimana dia sekarang?"


" Dia masih di negaranya Rei."


" Di negaranya bagaimana? Jadi kalian LDR?" Tanya Reihan.


Akhirnya Dhea menceritakan semuanya pada Reihan, Reihan mendengarkan dengan seksama.


" Padahal aku mengharapkan bisa bersama lagi denganmu Dhei, bahkan jika kau mau, aku ingin menikahimu." Kata Reihan pelan.


" Maaf Rei, saat ini aku tidak bisa karena terikat janji dengannya."


" Jika dia tidak menepati janjinya?" Tanya Reihan.


" Berarti aku harus melupakannya dan mencari penggantinya."


" Apakah itu artinya aku masih memiliki peluang untuk bisa kembali bersamamu Dhei?"


" Aku tidak bisa berjanji Rei, yang jelas aku harus belajar untuk melupakan dia dulu." Jawab Dhea sambil mengaduk-aduk teh yang baru saja disediakan oleh pelayan.


" Aku akan menunggumu Dhei."


" Tapi jangan terlalu berharap Rei, karena aku tidak tau bagaimana ke depannya nanti."


" Iya Dhei, aku hanya sedang berusaha saja." Jawab Reihan sambil kemudian menyeruput kopinya.


Reihan menikmati kebersamaan mereka hingga sore hari. Banyak hal yang diceritakan Reihan selama mereka berpisah. Perjuangannya saat ingin membuka tempat usahanya, hingga perjuangannya melupakan Dhea dengan menghadirkan wanita lain di hatinya. Kemudian Reihan mengajak Dhea kembali ke rumah karena hari sudah semakin sore.


" Terimakasih ya Rei sudah mengajakku main seharian."


" Sama-sama Dhei, tapi setelah ini aku masih boleh menghubungimu dan main ke sini lagi kan?"


" Memangnya kenapa aku harus melarangmu? Silahkan Rei, aku malah senang kau tidak sakit hati dengan jawabanku tadi dan tidak memutus silaturahmi."


" Hahaha tidak mungkinlah Dhei, kecuali laki-laki itu telah memenuhi janjinya dan menemuimu kembali, baru aku tidak berani lagi menampakkan batang hidungku padamu." Jawab Reihan.


" Hahaha kau ini Rei."


" Ya sudah aku pulang dulu ya Dhei, salam untuk orang tuamu."


" Iya Rei insyaalloh aku sampaikan." Jawab Dhea, kemudian Reihan segera pergi meninggalkan rumah Dhea, dan Dhea segera masuk ke dalam rumahnya.


" Siapa dia nak? Kekasih barumu?" Tanya ibu Dhea saat bertemu dengannya di ruang tengah.


" Bukan bu, dia temanku." Kata Dhea berbohong lalu duduk di samping ibunya.


" Tapi ibu lihat dari gerak geriknya dia seperti menyukaimu.


Dhea diam saja, perasaan seorang ibu memang sangat peka, dan Dhea terkadang tidak bisa menyimpan rahasia pada ibunya itu.


" Nak...kau tidak lupa akan janjimu kan?"


" Tidak bu, aku masih ingat janjiku dengan William."


" Ya nak, ibu hanya takut kau mengingkarinya, karena sepahit apapun keputusan yang kau terima nanti, yang penting kau sudah menjaga amanahnya untuk datang menemuinya lagi, karena ibu tidak suka memiliki anak yang tidak bisa dipercaya."


" Iya bu, Dhea pasti ingat nasehat ibu."


" Bersabarlah untuk satu tahun ini nak, ibu yakin sesudahnya kau akan menemukan kebahagiaanmu."


" Iya bu selalu doakan Dhea ya?"


" Pasti itu nak. Lalu ngomong-ngomong siapa sebenarnya laki-laki yang mengajakmu pergi tadi Dhe? Kau jangan coba bohongi ibu ya, karena ibu tau kau tidak akan mungkin mau pergi dengan laki-laki yang tidak benar-benar kau kenal."


" Tapi ibu jangan marah ya?" Kata Dhea.


" Marah bagaimana? Memangnya ibu pernah marah padamu?"


" Tidak pernah sih, tapi mungkin hanya cemberut hehehe."


" Hei kau jangan coba-coba berkelit ya, siapa dia?"


" Dia itu mantan kekasih Dhea saat SMU bu."


" Ooohhh jadi dulu kau sudah pacar-pacaran tanpa sepengetahuan ibu ya?"


" Aahh ibu, itu juga hanya 3 bulan, lalu Dhea putuskan."


" Kenapa?"


" Karena ternyata pacaran saat sekolah bisa mengganggu konsentrasi belajarku bu."


" Untung kau segera menyadarinya Dhe."


" Iya bu, dan sekarang dia minta kembali padaku."


" Kamu masih menyukainya?"


" Untuk sementara ini tidak bu, karena hanya William yang saat ini ada dalam pikiranku."


" Ya semoga semua cepat berlalu ya."


" Iya bu. Dan dia tadi kirim salam untuk ibu."


" Wa'alaikum salam." Jawab ibu Dhea singkat.