Something different

Something different
William pergi



Sudah hampir satu minggu ini sikap William begitu dingin pada Dhea. Dia masih kecewa dengan keputusan istrinya yang tetap ingin mempertahankan pekerjaannya.


Saat pagi hari Dhea melihat William sedang berkemas-kemas dengan kopernya.


" Kau mau pergi kemana?" Tanya Dhea.


" Aku akan ke London." Jawab William singkat.


" Ke London? Mendadak begini?" Tanya Dhea.


" Tidak, sudah dari kemarin aku menyusun pakaian ini." Jawab William.


" Kenapa aku tidak tau?"


" Karena kau sibuk dengan kegiatanmu sendiri, mana tau kamu apa yang kulakukan sehari-hari di sini." Jawab William sambil mengunci kopernya.


" Will, kau jangan menyindirku seperti itu." Kata Dhea.


" Siapa yang menyindirmu, apakah kata-kataku salah? Bukankah setiap hari kau berangkat pagi pulang sore, bahkan di rumahpun kau masih terus sibuk? Bagaimana kau bisa tau tentang keseharianku?"


" Will ayolah kau jangan seperti ini, kita baru saja 3 bulan menikah dan seharusnya kita masih menikmati suasana sebagai pengantin baru." Kata Dhea.


" Suasana sebagai pengantin baru? Coba bisa tidak kau ceritakan padaku bagaimana suasana sebagai pengantin baru menurut versimu, siapa tau aku bisa menerima gambaranmu dengan baik." Kata William.


" Ya seharusnya kita tidak bertengkar seperti ini, apalagi kau pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu."


" Jadi hanya itu? Ternyata sederhana sekali ya pemikiranmu?"


" Dhea, aku itu sudah sangat lama merencanakan bagaimana nantinya rumah tangga kita, tidak hanya saat kita jadi pengantin baru saja, tapi di saat-saat yang lain. Bagaimana caranya aku dan kamu punya banyak waktu untuk berdua, punya banyak waktu untuk bercengkerama, punya banyak waktu untuk saling duduk berhadap-hadapan dan membicarakan semua keluh kesah kita, bukan seperti ini. Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu, tidak perduli padaku, bahkan aku sering makan sendirian tanpa kau temani. Itu yang kau sebut sebagai suasana pengantin baru?"


" Lalu kenapa kau pulang ke London?"


" Aku ada urusan pekerjaan."


" Kau pasti berbohong, kau sengaja menghindariku kan?"


" Kenapa? Kau tidak percaya? Bagaimana jika kau ikut bersamaku agar kau tau suamimu ini tidak akan berbuat macam-macam." Kata William mencoba memancing Dhea.


" Tidak!! Kau kan tau, aku harus memiliki ijin dari atasanku dulu jika tidak masuk kerja." Jawab Dhea.


" Itulah kenapa aku ingin kau keluar dari pekerjaanmu, untuk mendampingi suamimu sendiripun, kau harus meminta ijin orang lain." Kata William ketus.


" Dia pimpinanku Will!!"


" Ya pimpinanmu, tapi dia tetap orang lain bukan? Dan yang dihadapanmu sekarang adalah suamimu Dhe!!"


" Lalu kau akan pergi berapa hari?" Tanya Dhea kemudian.


" Bisa satu minggu, dua minggu, bahkan satu bulan, tergantung urusanku sudah selesai atau belum." Kata William.


" Kenapa lama sekali? Apakah tidak bisa dipercepat?"


" Namanya juga urusan pekerjaan, aku juga tidak pernah protes jika kau sampai malam sibuk dengan pekerjaanmu dan lupa padaku." Jawab William membela diri.


" Will, pleas jangan seperti itu, kenapa kau menyudutkanku."


" Menyudutkanmu bagaimana Dhe?"


" Kau membuatku berdiri di posisi yang sulit."


" Sulit itu kan karena kau yang buat sendiri, padahal sudah jelas kau harus memilih yang mana." Jawab William.


" Ya sudah aku pergi dulu, aku yakin kau tidak akan kesepian karena pasti kau akan segera lupa karena kesibukanmu itu."


" Oh ya kenapa kau belum bersiap-siap? Nanti kau terlambat, kau tidak takut dipecat pimpinanmu?" Kata William menyindir lagi.


Dhea hanya diam saja, padahal dia sudah mengajukan cuti selama dua hari untuk menemani suaminya di rumah demi menyelamatkan rumah tangga mereka, membangun komunikasi yang baik kembali dengan suaminya, namun ternyata William malah pergi meninggalkannya.


" Aku pergi dulu, baik-baik di rumah ya." Kata William sambil mencium kening Dhea dan menarik kopernya keluar.


Dhea hanya mengikuti William dari belakang dan menatap kepergian suaminya itu diantar dengan supir pribadinya. William bahkan tidak mengajaknya makan pagi dulu seperti biasanya.


" Ya Alloh, apa yang harus kulakukan??? Aku bingung." Kata Dhea dalam hati.


Sepeninggal William Dhea hanya bolak-balik keluar masuk kamarnya, dia bahkan tidak tau harus mengerjakan apa, rasanya jenuh sekali. Biasanya saat ada William di hari libur begini dia akan menghabiskan waktunya bersama suaminya, entah itu jalan-jalan di mall, entah itu makan di luar, atau hanya sekedar bersenda gurau di dalam kamarnya. Namun semua itu membuatnya sangat gembira, dan melupakan semua beban pekerjaannya, tidak seperti sekarang ini, rasanya waktu berputar begitu lama dan sangat membosankan sekali.


Dhea hanya menatap makanan di depannya, rasanya malas sekali untuk mengambil makanan itu. Biasanya William menemaninya di sini, dan hari ini dia harus makan sendiri. Akhirnya Dhea meninggalkan makanan itu tanpa menyentuhnya sedikitpun dan kembali ke kamarnya.


" Hehhhhh....mungkin inilah yang William rasakan setiap hari saat tidak ada aku." Gumam Dhea pada diri sendiri.


" Tapi kenapa dia tidak mau ke kantornya saja? Bukankah di kantor dia punya banyak teman?" Kata Dhea dalam hati, tetap saja dia tidak bisa mengalahkan keegoisannya sendiri.


Sementara itu William sudah berada di atas pesawat untuk mengantarkannya kembali ke London. Dia memang sengaja meninggalkan istrinya sendiri, dia ingin istrinya itu merasakan jika tidak ada dia di sampingnya.


" Sayang maafkan aku, bukan maksudku meninggalkanmu, tapi aku harus melakukan ini agar kau tau bahwa aku ini berarti dalam hidupmu." Bisik William dalam hati.


" Semoga kau menyadari, bahwa rumah tangga kita itu adalah yang paling utama, dan kau mau mengorbankan pekerjaanmu demi menyelamatkan rumah tangga kita. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri, agar kita sama-sama intropeksi, apakah aku yang terlalu egois karena menuntutmu berlebihan, atau karena kita memang tidak bisa untuk saling mengalah hingga waktu kebersamaan kita selama 3 bulan ini tidak bisa membuat kita bisa menyatukan pendapat." Kata William lagi.


" Aku tau, kau ingin membuat bangga orang tuamu dengan menunjukkan keberhasilan kariermu itu, tapi apakah tidak ada jalan lain untuk menyenangkan mereka hingga kau mengorbankan waktu untuk bersama suamimu? Sebenarnya apa yang kau takutkan sayang?" Tanya William dalam hati. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, namun tidak ada satupun jawaban yang dia dapatkan.