Something different

Something different
Rapat mendadak



Setelah William dan Feri selesai sholat dan makan siang. Mereka langsung naik ke lantai satu, dan masuk ke salah satu ruangan yang difungsikan sebagai ruang rapat. Saat mereka masuk, beberapa petinggi hotel dan perwakilan dari karyawan sudah siap menunggu kehadiran bos besar mereka. Suasana terlihat hening. Hanya suara deru nafas yang terdengar sahut menyahut dari saluran diafragma mereka. Saat ini yang terlihat hanya wajah-wajah tegang, karena mereka semua tau, rapat kali ini merupakan rapat dadakan akibat insiden tidak mengenakan yang baru saja terjadi. Sebenarnya William tidak ingin memarahi siapapun di dalam ruangan ini, namun mungkin mereka sudah takut duluan sehingga situasinya sedikit menegangkan.


William segera duduk di kursi empuk yang telah disediakan untuknya, sedangkan Feri berada di sebelah kanannya.


" Assalamualaikum wr.wb." William segera memulai rapat dengan ucapan salam.


Balasan salam terdengar kompak dari seluruh anggota rapat.


" Selamat siang, bagi umat yang beragama lain." Sambungnya lagi, dan ada beberapa orang saja yang menjawabnya.


" Baiklah, tentunya anda semua sudah tau kenapa saya mengadakan rapat mendadak hari ini?" Suasana hening. Tidak ada jawaban satupun dari peserta rapat, walaupun sebenarnya mereka semua sudah tau jawabannya, namun tidak ada yang berani membuka mulutnya.


" Saya amat menyesalkan kejadian ini semua. Seharusnya semua tidak terjadi jika kita semua bersama-sama menjaga, dan mengikuti peraturan yang telah kita sepakati bersama sejak pertamakali hotel ini berdiri."


" Saya tidak bisa menyalahkan salah satu pihak atas insiden yang terjadi. Bukan hanya direktur saja sebagai pemegang wewenang tertinggi dalam hotel ini. Namun juga seluruh karyawan yang ada di hotel ini. Seharusnya kita semua bisa memikirkan sebelumnya akibat yang terjadi atas keteledoran ini. Jangan cuma bertujuan meramaikan pengunjung, lalu kemudian menghalalkan segala cara. Anda tau semua? saya sebagai pemilik bangunanpun menanggung atas segala resiko yang terjadi. Jika hanya resiko materi saja, itu bukan masalah besar buat saya. Namun resiko dosa yang saya tanggung juga, karenasecara tidak langsung menyediakan tempat yang digunakan untuk kegiatan kotor yang jelas-jelas dilanggar agama. Itu yang justru saat ini sangat memberatkan saya. Untung semuanya terkuak sebelum terjadi hal yang lebih parah lagi. Saat saya baru masuk tadi, sangat kentara efek dari kejadian itu. Anda semua pasti juga merasakannya kan? hotel ini terlihat sedikit lengang, tidak seperti biasanya." William menarik nafasnya sesaat, sambil melirik Feri yang sedari tadi menunduk di sebelahnya.


" Kenapa dia dari tadi menunduk saja? bahkan tidak bereaksi sedikitpun. Mengangguk, menggeleng atau apalah. Ohhh jangan-jangan dia tidur. Awas ya pulangnya nanti, kalau dia benar-benar tertidur. Dianggapnya aku ini sedang bercerita padanya apa? sehingga langsung terlelap." Kata William dalam hati.


" Baiklah saya lanjutkan. Nah sekarang tugas kalian adalah harus bekerja lebih keras lagi demi untuk menikkan pamor hotel ini kembali, sebagai tempat yang bebas dari kegiatan terlarang itu, ataupun sejenisnya. Buatlah citra yang baik di mata masyarakat. Tegakkan kembali peraturan bagi setiap tamu yang akan menginap di sini, siapapun dia dan apapun pangkatnya, jangan membeda-bedakan. Peraturan tetaplah peraturan. Benar begitu kan Tuan Direktur." Tanya William sambil menengok pada direktur utama yang duduk di sebelahnya.


" Ya tuan, saya akan memperbaiki semuanya, dan akan memulihkan nama baik hotel ini."


" Ya bagus, memang harus seperti itu. Bekerjasamalah dengan semua bawahanmu. Dan jika ada apa-apa, jangan mengambil keputusan secara sepihak, karena kau tidak bisa bekerja sendirian di sini, kau butuh mereka semua untuk membantu pekerjaan di sini."


" Dan kalian semua, tolong jangan segan-segan untuk menegur dan mengingatkan direktur kalian ini jika dia membuat kesalahan. Tapi ingat!! bukan untuk menjatuhkannya ya, namun untuk mengingatkannya saja."


" Baik tuan." Kata seluruh peserta rapat kompak.


" Ada pertanyaan?" tanya William di akhir kalimatnya.


Tidak ada satupun jawaban yang keluar dari seluruh peserta rapat.


" Baiklah jika tidak ada yang bertanya, saya anggap kalian semua paham dengan apa yang saya bicarakan barusan. Semoga kalian tidak cuma mendengarnya saja, namun juga melaksanakannya juga. Hotel ini adalah sumber kalian mencari rejeki. Jadi jagalah, karena kelangsungan hotel ini tergantung bagaimana kalian sebagai karyawan yang mengurusnya juga."


" Saya kira rapat hari ini cukup sekian saja, dan saya akhiri Wassalamualaikum Wr.Wb."


Suara sambutan salam menggema memenuhi seluruh ruangan. Lalu satu persatu orang keluar dari ruangan itu. Hanya tertinggal William, Feri dan sang direktur saja.


" Tuan, terimakasih anda tadi tidak menyudutkan saya di hadapan para karyawan lain, walaupun sebenarnya ini adalah akibat dari kesalahan saya juga."


" Saya cukup tau bagaimana baiknya untuk bersikap. Saya tidak akan menjatuhkan harga diri anda di depan orang lain. Tapi bukan berarti anda bisa santai setelah ini. Anda tetap harus bekerja keras untuk memulihkan nama baik hotel ini. Jika hanya untuk memikirkan diriku sendiri, itu bukan masalah besar, tapi banyak orang yang menggantungkan hidupnya di sini."


" Ya tuan, saya pasti akan berusaha memperbaiki semua dari awal. Saya janji."


" Ya sudah ayo kita keluar." Ajak William.


Kemudian mereka bertiga keluar bersama-sama.


" Anda kembalilah ke pekerjaan anda, saya dan Feri ingin mengobrol di lobby terlebih dahulu." Kata William.


" Baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


" Silahkan." Kata William. Sepeninggal direktur tersebut, William dan Feri melanjutkan langkah mereka menuju lobby hotel.


" Fer, kau tadi kenapa diam saja saat aku sedang berbicara di rapat? Kau tidur ya?"


" Tidur? siapa bilang aku sedang tidur?"


" Lalu kenapa kau tidak bereaksi sedikitpun? menggeleng atau menganggukan kepalapun tidak."


" Apanya yang harus kugeleng dan kuangguk? kau tidak menawariku sesuatu apapun, kenapa aku harus menggeleng dan mengangguk?"


" Ahhhh...kau ini memang tidak memiliki rasa toleransi sedikitpun terhadapku, yang sudah bersusah payah menyusun kata-kata indah di depan tadi."


" Lalu aku harus bagaimana? harusnya saat sebelum masuk tadi kau bilang bahwa aku harus menganggukan kepala setiap kau berkata-kata."


" Kau anggap kita sedang bermain sinetron, harus mengarahkan gaya segala." Gerutu William.


" Suudahlah jangan dibahas. Jadi bagaimana? kita jadi duduk di lobby tidak? katamu ingin mengobrol denganku dulu?"


" Ahhhh tidak jadi, apa asyiknya mengobrol denganmu berdua. Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. lebih baik aku langsung pulang dan menemui belahan hatiku di rumah."


" Lho tadi kau bilang pada direktur itu ingin mengobrol dulu bersamaku?"


" Itu kan hanya caraku untuk mengusirnya secara halus. Jangan sampai dia tau obrolan kita yang tidak pernah masuk akal ini, atau kita akan kehilangan wibawa di depannya."


" Ahhhh kau ini pencitraan saja."


" Eh ingat ya, kau awasi pekerjaan mereka, kau kan ikut bertanggung jawab juga. Awas jika terjadi insiden seperti itu lagi kudenda kau."


" Kau ini seperti leasing saja sukanya mendenda."


" Heiiii...tunggu main kabur saja kau." Teriak Feri pada William yang tiba-tiba jalan dengan cepat masuk ke dalam lift.


" Kau pikir lift ini seperti taxi bisa kau stop lalu berhenti sendiri. Cepat naik!!" Kata William.