
" Dhe mungkin hasil diagnosaku ini nanti bisa membuatmu amat terkejut, tapi yang aku harapkan kau bisa menerima dengan ikhlas. Aku tau kau adalah muslim yang taat, semua cobaan asalnya dari Dia. Dan kau tau kan janjiNya pada umatNya tidak pernah mengecewakan?"
" Sebenarnya ada apa dok? kenapa serius sekali? anda tidak sedang bercanda kan?"
" Tidak Dhe, aku sangat serius. Aku harap kau bisa menerima semuanya dengan lapang dada ya?"
" Katakan sekarang dok, aku ingin mendengarnya."
" Begini Dhe, menurut hasil uji lab yang aku lihat ini, kau sekarang sedang menderita preeklamsia."
" Preeklamsia dokter? apa itu?" tanya Dhea seolah asing dengan kata-kata itu.
" Preeklamsia yaitu kondisi peningkatan tekanan darah diiringi dengan adanya protein dalam urine. Biasanya terjadi jika usia kandungan 20 minggu, preeklamsia bisa berpotensi menjadi eklamsia dan efeknya sangat berbahaya."
" Apakah itu sangat berbahaya?"
" Ya Dhe, jika memang kau ingin mempertahankan janinmu, kau harus dirawat sejak sekarang. Namun aku juga tidak bisa menjamin 100 %, terkandung kondisimu juga Dhe, karena aku lihat hasil labmupun sepertinya sudah warning, terlebih jumlah protein dalam urinmu."
" Maksud anda dok?"
" Dhe kita itu hanya berusaha, Allah yang menentukan."
" Lalu jika kondisiku tidak sesuai dengan yang diharapkan?"
" Terpaksa kita harus mengorbankan bayimu."
" Apa??? tidak...!!! itu berarti sama saja membunuhnya!!!"
" Dhe, aku hanya ingin mengusahakan yang terbaik untukmu, tidak ada tujuan lain."
" Tapi itu justru membuatku lebih buruk lagi dok, aku membunuh darah dagingku sendiri, dia bahkan belum sempat menghirup udara."
" Sayang tenanglah, dokter hanya membantu kita mencari jalan keluar."
" Iya sayang, tapi anak kita yang akan menjadi korbannya."
" Dhe, oke jika kau memang tetap bersikeras untuk mempertahankannya, kita usahakan dulu. Aku akan terus memberimu obat, mengawasi setiap hari tensi darahmu. Namun jika hal terburuk terjadi, kau harus tetap mengikuti saranku."
" Ya Allah kenapa ini semua bisa terjadi?" Kata Dhea air matanya mulai keluar.
" Sssttttt....sini sayang, stop jangan menangis ya. Bersabarlah, pasti ada rahasia yang indah dari Allah buat kita berdua." Kata William sambil memeluk istrinya.
" Kau harus mengikuti semua saran dokter ya."
" Iya sayang, maafkan aku ya, karena tidak bisa menjaga anak kita dengan baik."
" Hei jangan berkata seperti itu sayang, ini bukan salahmu, tapi Allahlah yang memang sedang menguji kesabaran kita, sejauh mana kita bisa menghadapi cobaannya ini dan tetap beriman padaNya."
" Dhe, aku akan berusaha maksimal untuk mempertahankan janinmu, tapi yang aku harapkan kau harus tetap menstabilkan pikiranmu agar bisa membantuku juga. Jika kau terus berpikir berat mengenai kondisimu ini, bisa berpengaruh juga pada tensi darahmu, itu yang harus kau jaga. Dan satu lagi, pasrahkan semua padaNya, kita hanya manusia biasa dengan segala kerterbatasan."
" Ya dok, saya tau itu. Saya sangat shock dan tidak menyangka akan mengalami ini semua."
" Sebenarnya ini jarang terjadi Dhe, tapi berdasarkan riwayat kesehatanmu, aku lihat kau tidak memiliki penyakit tertentu yang menyebabkan hal ini terjadi padamu. Biasanya sih preeklamsia berpotensi menjadi eklamsia pada orang yang memiliki riwayat penyakit lupus, arthritis rheumatoid, dan penyakit ginjal. Juga ada hal lain misalnya dari orang tuamu. Apakah mereka pernah mengalami ini juga?" Tanya Dokter Sherli.
" Kalau itu aku tidak tau dok. Aku anak tunggal, dulu orang tuaku pernah memiliki seorang anak juga tapi meninggal. Hanya saja mereka mengatakan bahwa itu keguguran biasa."
" Ohhh...coba kau tanyakan pada mereka, apa penyebab keguguran itu. Jadi aku bisa tau faktor utama kau mengalami ini."
" Sayang, tenang ya. Ada aku yang akan selalu mensuportmu, apapun yang terjadi insyaallah aku selalu ada untuk kamu. Jangan pikirkan apapun, pikirkan kesehatanmu saja, karena itu yang paling penting. Dan yang harus tetap kamu ingat adalah, aku selalu ingin hidup denganmu." Kata William sambil mempererat pelukannya.
" Sayang, aku hanya ingin mempertahankan anak kita itu saja. Aku tidak mau kehilangannya, apapun akan kulakukan untuk menyelamatkannya."
" Ya sayang, tapi ingat kau juga harus memikirkan kesehatanmu juga."
" Kau tidak tau bagaimana perasaanku, kau bukan seorang ibu."
" Tapi aku ini juga calon seorang ayah, dia juga anakku sayang. Akupun sedih, tapi ini harus kita hadapi bersama, apapun kenyataannya."
" Dhe, lebih baik mulai sekarang kau lebih berhati-hati, batasi garam juga makanan yang memiliki protein tinggi. Nanti aku buatkan catatan khusus untukmu terkait semua hal yang perlu kau lakukan, termasuk menu makananmu."
" Tuan, sebaiknya anda membantu istri anda juga, beri dia suport agar emosinya bisa stabil."
" Ya dokter pasti itu."
" Ya sudah aku pulang dulu ya, ini obat-obatan yang harus kau makan Dhe, tadi aku telah membawakannya untukmu. Karena aku tau, pasti kau tetap bersikeras untuk mempertahankan kandunganmu, semoga saja tidak terjadi hal yang lebih parah lagi."
" Terimakasih dokter." Jawab Dhea pelan. Semangatnya seperti sirna. Dia tidak keberatan untuk diminta diet atau membatasi asupan makanan yang disukainya. Tidak keberatan untuk meminum obat setiap hari selama kehamilannya. Tapi yang membuatnya sedih dan khawatir adalah, jika semua yang dilakukkannya tetap tidak menghasilkan apa-apa, dan ujung-ujungnya dia tetap kehilangan buah hatinya.
" Sabar ya Dhe, semoga ada keajaiban untuk keluargamu." Kata Dokter Sherli sambil memegang bahu Dhea, berusaha menguatkan pasiennya yang saat ini begitu bersedih dengan berita yang dibawanya. Dhea tidak menjawab apapun, dan hanya menganggukan kepalanya.
Dokter Sherli lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar. Hanya William yang mengantar tamunya itu hingga di depan pintu. Tidak ada ucapan apa-apa, hanya salam saja yang keluar dari bibir mungilnya, dan Williampun menjawabnya pelan.
Setelah dokter itu pergi William segera mendekati istrinya kembali.
" Sayang sudahlah, jangan terus-terusan meratapi nasib. Mulai sekarang kita hadapi masalah itu bersama-sama, aku juga akan ikut diet makanan sepertimu bagaimana?"
Dhea lalu mengangkat kepalanya.
" Ikut diet makananku? maksudmu?"
" Maksudku, apapun makanan yang dilarang kau makan, itupun tidak akan kumakan."
" Kenapa sayang? kau kan tidak sakit apa-apa, kenapa harus mengikuti pola makanku juga?"
" Karena kau adalah bagian dari hidupku, penderitaanmu adalah penderitaanku juga, dan bahagiamu adalah bahagiaku juga sayang. Aku ingin merasakannya bersama-sama denganmu, apapun itu. Tapi ada satu pengecualian."
" Apa itu sayang?"
" Aku tidak mungkin kan minum obat sepertimu juga?"
" Hehhhh...kau ini tidak mungkinlah aku meracuni suamiku sendiri." Kata Dhea sambil tersenyum.
" Nahhhh...tersenyum begitu baru cantik."
" Ihhhh kau ini." Kata Dhea sambil memukul bahu William. Dan William menangkap tangan istrinya, lalu segera memeluknya.
" I love you sayang, jangan takut aku akan selalu menemanimu dan menjagamu."
" Terimakasih sayang."
Dua anak manusia itu saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain. Seorang pegawai di rumahnya yang hendak masuk mengurungkan langkahnya, karena dilihatnya majikannya itu terlihat begitu mesra, dipikirnya William dan Dhea sedang dimabuk asmara, padahal hati mereka berdua sedang porak poranda layaknya sebuah hamparan pasir yang dihantam ombak di lautan.