Something different

Something different
Masalah kehamilan Dhea



Pernikahan Dhea dan William berjalan harmonis, terlebih di masa-masa kehamilan Dhea seperti sekarang ini. Usia kandungan Dhea yang sudah mulai memasuki 20 minggu atau kurang lebih 5 bulan. Perutnya sudah mulai terlihat besar. Namun hari itu saat bangun tidur dan baru saja selesai sholat subuh, tiba-tiba kepala Dhea terasa pusing, dan tidak lama diapun segera berlari ke dalam toilet dan muntah di sana. William yang melihat itu langsung panik.


" Sayang kau kenapa?" Tanya William seraya memijit tengkuk istrinya.


" Aku tidak tau sayang. Tiba-tiba saja kepalaku pusing, dan perutku mual."


William segera memegang dahi istrinya.


" Tubuhmu tidak demam. Ayo tiduran saja, biar aku panggilkan dokter untukmu." Kata William sambil memapah tubuh istrinya yang terlihat lemah. Lalu membantunya berbaring di atas ranjang. Dhea terus memejamkan matanya, kepalanya sangat pusing, dan perutnya terasa sakit serta mual seperti diaduk.


William segera mengambil telfon genggamnya dan menghubungi dokter langganan mereka. Suara seorang wanita terdengar merdu di seberang sana.


" Hallo dokter Sherli, maaf pagi-pagi sekali sudah mengganggu anda." Sapa William.


" Ohhhh tidak ada apa-apa tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?"


" Ini istri saya tiba-tiba kepalanya pusing dan muntah-muntah. Bisakah anda kemari untuk memeriksanya?"


" Oh iya tuan, saya akan bersiap-siap dulu, baru kemudian ke rumah anda."


" Terimakasih sebelumnya dokter."


" Sama-sama tuan." Kemudian telfonpun ditutup.


William lalu mendekati istrinya yang masih saja menutup kedua kelopak matanya. William memindahkan kepala istrinya di pangkuannya, dan dibelainya rambut istrinya, dengan niat mengurangi rasa sakit di kepala Dhea.


" Sayang, sabar ya, sebentar lagi dokter Sherli datang."


" Apa yang kau rasakan? apakah perutmu masih mual?"


" Iya sayang, dan kepalaku ini pusing sekali sayang."


" Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa pada kandungannya." Doa William dalam hati sambil membelai perut besar istrinya.


Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk bisa mengurangi rasa sakit pada istrinya, satu-satunya yang dilakukan hanya menemani istrinya yang terus memejamkan matanya, sambil membelai rambutnya.


Tak lama pintu kamar mereka diketuk. William segera meletakkan kepala Dhea kembali di atas bantal, dan dia segera membuka kunci pintu kamarnya. Dokter Sherli telah berdiri di depan pintu kamarnya, lengkap dengan membawa tas yang berisi alat periksanya.


" Selamat pagi Tuan William, boleh aku masuk?"


" Selamat pagi dokter, silahkan istri saya sedang tiduran di dalam."


Dokter dan William berjalan beriringan.


" Hai Dhe!! Kenapa? kau jangan-jangan salah makan sesuatu ya?" Tanya dokter sambil mendekati Dhea.


Dhea segera membuka matanya, namun pandangannya sedikit buram, sehingga dia harus mengerjap-ngerjapkan matanya, namun ternyata masih tetap sedikit buram.


" Hei...kenapa matamu? sakit ya?" tanya Dokter Sherli, sedangkan William hanya duduk di pinggiran ranjang.


" Tidak dok, tapi anehnya kenapa penglihatanku sedikit buram ya? seperti membayang begitu, padahal aku ingat, dari kemarin aku tidak makan yang aneh-aneh, hanya makan masakan rumah saja." Jawab Dhea sambil mengingat-ingat bshwa tidak ada yang salah dengan yang dikonsumsinya, sehingga dia bisa seperti sekarang.


" Lalu apa lagi yang kau rasakan?" sambil memeriksa denyut jantung Dhea.


" Aku mual dan perut bagian atas sedikit sakit dok."


" Benarkah?"


" Ya dok."


" Sejak kapan kau merasakan ini?"


" Kalau mual dan sakitnya baru sekali ini, tapi pusingnya sudah sering, cuma masih bisa kutahan."


Dokter Sherli mengernyitkan keningnya, raut wajahnya sedikit berubah, dan William melihat perubahan itu.


" Berapa dok?" Tanya Dhea.


" Tekanan darahmu tinggi Dhe."


" Oh ya? padahal selama ini aku tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi dok."


" Ok, sementara ini aku berikan obat pengontrol tekanan darah dulu dan beberapa vitamin serta obat mual ya."


" Lalu apa yang harus kami lakukan dok?" tanya William.


" Sebaiknya anda segera membawa Dhea ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Nanti temui saya di sana, biar saya cek lab dulu, baru bisa diketahui sumber dari rasa sakit dan mualnya itu."


" Baik dok, saya akan segera membawanya kesana." Jawab William singkat.


" Ya tuan, semakin cepat semakin baik."


" Dhe, istirahatlah dulu ya sementara waktu ini. Dan sebaiknya tidur dengan posisi miring ke kiri." Kata dokter tersebut.


" Baik dok."


" Ya sudah saya permisi dulu ya."


" Terimakasih dok."


" Sama-sama Dhe."


" Sayang aku antar Dokter Sherli dulu ya."


" Iya sayang." Jawab Dhea singkat.


Dokter Sherli diantar oleh William hingga keluar kamarnya. Saat di luar William menanyakan perihal sakit yang diderita Dhea.


" Dok, maaf sebelumnya, saya lihat ekpresi dokter tadi sedikit berubah saat mengetahui tekanan darahnya. Kalau boleh saya tau, apakah ada hal yang dokter khawatirkan mengenai kondisi istri saya?"


Dokter Dhea terlihat menarik nafas panjang.


" Saya khawatir istri anda mengalami gejala preeklamsia tuan."


" Preeklamsia? apa itu dokter?" Tanya William sedikit bingung.


" Hingga saat ini, penyebab terjadinya preeklamsia belum diketahui dengan pasti. Namun, diduga kondisi ini diakibatkan oleh adanya kelainan pada fungsi dan formasi plasenta. Tapi lebih lanjutnya nanti bisa kita ketahui saat saya sudah menguji lab istri anda. Tapi semoga saja tebakan saya salah."


" Lalu jika tebakan anda benar bagaimana dok? apakah itu berbahaya?"


" Jalan yang harus ditempuh yaitu....." dokter Sherli mendadak diam, sepertinya dia tidak tega untuk mengatakan semuanya.


" Apa dok? katakan saja, aku akan mendengarnya." Kata William.


" Satu-satunya cara melahirkan anak yang dikandungnya lebih cepat tuan." Kata Dokter Sherli pelan.


" Apa lebih cepat??? usia kandungannya masih 5 bulan dokter, dan paru-paru anakku saja belum matang? apa dia bisa bertahan hidup?"


" Yahhh...anda pasti bisa memaknai kata-kataku tuan, jika memang masih ingin dipertahankan tergantung kondisi istri anda." Jawab dokter Sherli lagi. Dan William sangat tau apa maksud kalimat dokter wanita di depannya itu.


" Jika aku tidak mau melakukannya dokter?"


" Resiko teringan adalah, bayi anda akan terhambat pertumbuhannya, dan pada istri anda itu akan lebih parah lagi, karena tahap selanjutnya dia akan mengalami kejang berulang, dan kejang itu bisa membahayakan istri anda pada fungsi syaraf dan organ tubuhnya. Dan resiko terburuk adalah anda siap kehilangan kedua-duanya tuan. Tapi tenanglah, semoga ini hanya pradugaku saja. Berdoalah semoga semuanya salah." Sambil membesarkan calon ayah di depannya itu.


Tubuh William langsung lemas mendengar penjelasan dokter. Baru saja dia akan dipanggil ayah, namun cobaan mulai datang menderanya.


" Ya sudah saya permisi dulu ya. Saya tunggu di rumah sakit. Lebih baik pagi ini, sebelum pasien lain datang tuan." Kata Dokter Sherli kemudian.


" Baik dok, terimakasih." Lalu dokter itupun segera meninggalkan William sendirian dengan wajah muramnya.