Something different

Something different
Di apartemen Dhea



Hubungan Dhea dan William semakin hari semakin baik. William sangat perhatian dengan Dhea, mulai dari mengantar jemputnya di kampus, hingga memenuhi segala kebutuhannya, walaupunsemua itu Dhea tak pernah memintanya.


" Will!" Panggil Dhea saat berada di dalam mobil ketika baru saja pulang dari kampusnya.


" Iya sayang!" Jawab William singkat, sambil terus memperhatikan jalan di depannya.


" Sebentar lagi kan aku libur semester."


" Iya, lalu?"


" Aku ingin pulang ke Indonesia ya?"


" Ke Indonesia Dhe? Berapa lama?"


" Mungkin satu bulanan Will."


" Satu bulan? Lama sekali Dhe?"


" Ya kan memang waktu liburanku satu bulan Will."


" Tapi nanti aku akan rindu sekali denganmu Dhe?"


" Ahh kau ini, kita kan bisa telfonan Will."


" Iya aku tau, tapi kan aku tidak bisa dekat denganmu Dhe?" Rengek William.


" Lalu kalau aku tidak pulang, apa yang bisa kukerjakan di sini Will? Pasti akan sangat membosankan."


" Tapi aku kan bisa mengajakmu liburan di tempat- tempat yang belum pernah kita kunjungi. Atau bagaimana jika kita liburan ke luar kota? Kita bisa menghabiskan liburanmu berdua denganku, Bagaimana?"


" Ahhh tidak!" Jawab Dhea buru buru.


" Kenapa sayang? Kau tidak ingin pergi berdua denganku?"


" Bukan begitu, sangat berbahaya jika kita pergi berduaan dan menginap di satu tempat yang sama."


" Hemmm kau pikir aku akan berbuat macam-macam denganmu kan??"


" Tidak hanya kamu Will, tapi aku juga. Dua orang yang sedang jatuh cinta seperti kita ini, akan lebih banyak mempunyai peluang untuk melakukan perbuatan di luar akal sehat kita, dan aku tidak mau itu terjadi."


" Aku janji Dhe, sebisa mungkin akan menahan diriku."


" Aku tetap tidak mau! Tidak ada yang bisa menjamin itu."


" Tapi Dhe....Aku tidak akan mungkin bisa jauh dari kamu, aku pasti nanti tidak akan mungkin bisa tenang."


" Kau tidak tenang karena mengkhawatirkanku dekat laki-laki lain kaaan?" Selidik Dhea.


" Iya Dhe, aku takut membayangkan di sana nanti kau pasti bertemu teman temanmu, lalu bertemu juga dengan mantanmu kan???" Kata William sambil cemberut.


" Tenanglah sayang!! Mana mungkin aku bisa berpaling dari kekasih tampanku ini, sedangkan belum tentu di negaraku sana aku bisa mendapatkan laki-laki sempurna sepertimu." Kata Dhea sambil mengusap pipi William.


" Benarkah sayang?? Kau tidak akan tergoda oleh laki laki lain??" Tanya William meyakinkan.


" Tentu tidak sayaaang...Justru aku takut, kaulah nanti yang mencari wanita lain untuk menemani kesepianmu."


" Aku janji Dhe, cuma kamu cinta terakhirku. Aku tidak akan pernah mendekati wanita manapun sayaaang!!"


" Janji ya??" Tanya Dhea menegaskan.


" Iya sayang, aku janji!"


" Tapi Dhe, kau jangan satu bulan ya di sana? Terlalu lama sayang!"


" Lalu berapa hari Will?"


" Dua minggu saja ya?" Tawar William.


" Kok dua minggu sih? Kalau tiga minggu bagaimana?"


" Tiga minggu ya?? Hhhmmm, ya sudahlah daripada empat minggu." Jawab William.


" Lalu kapan kau berangkatnya?"


" Dua minggu lagi setelah selesai ujian, besoknya aku langsung pulang."


" Ya sudah, nanti aku belikan tiket untukmu ya?"


" Iya sayang, terimakasih ya..?"


" Sama-sama sayang." Jawab William sambil tersenyum sekilas.


Kemudian William terus memacu kendaraannya, hingga tiba di depan apartemen Dhea.


" Kok ikut turun Will? Kau tidak ke kantormu kembali?" Tanya Dhea saat tau William hendak ikut naik ke apartemennya.


" Tidak sayang, aku masih rindu denganmu, bukankah dua minggu lagi kau akan pulang ke negaramu?"


" Hahaha kan masih dua minggu lagi sayang? dan bukan dua hari lagi?" Kata Dhea sambil tertawa.


" Tapi bagiku waktu itu cepat sekali bagaikan dua hari, apalagi jika aku sedang bersamamu."


" Hehhh kau ini seperti pengantin baru saja, selalu ingin berdua duaan." Gumam Dhea.


" Bagaimana jika kita jadi pengantin baru sungguhan? Kau tidak keberatan kan sayaaang??"


" Keberatan tuan, saaaangat keberatan!!" Kata Dhea sambil mengacak acak rambut William. William hanya tersenyum saja.


" Ayo masuk!!" Ajak Dhea.


Lalu William berjalan beriringan di samping Dhea, kemudian masuk ke dalam apartemen Dhea, dan tak lupa pintu kamarnya dibukanya lebar-lebar.


" Will kamu mau minum apa?" Tanya Dhea.


" Teh panas saja boleh."


" Ok, tunggu sebentar ya?"


Kemudian Dhea segera ke belakang untuk membuatkan minuman William. Tak lama kemudian dia telah kembali lagi ke depan, dan meletakan minuman itu di meja.


" Makasih sayang." Ucap William.


Dhea hanya tersenyum saja, kemudian duduk di samping William di sebuah sofa panjang, sambil ikut menyaksikan siaran televisi.


William lalu merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Dhea.


" Ahhhh nyamannya...!" Gumam William.


" Dhe, aku mau setiap hari seperti ini denganmu." Sambil menengadahkan kepalanya menatap wajah Dhea.


Dhea hanya tersenyum sambil membelai rambut William dengan jemarinya. Walaupun sebenarnya dia bingung dengan masa depan hubungannya dengan laki-laki itu, namun dia tidak bisa memungkiri bahwa kebersamaannya dengan William membuatnya nyaman. Tidak ada rasa khawatir dalam hatinya lagi, terlebih perhatian William yang begitu besar padanya, membuat dia semakin hari semakin mencintai kekasihnya itu.


" Will!"


" Ya!"


" Seandainya setelah lulus nanti aku kembali ke negaraku bagaimana?"


" Kembali ke negaramu Dhe?" Tanya Wiliam terkejut, dia segera bangkit dari tidurnya.


" Iya Will, setelah lulus nanti aku memang harus kembali ke negaraku." Jawab Dhea sambil menatap William.


" Kenapa Dhe? Kau tidak ingin mencari kerja di sini dulu?"


" Tidak Will, aku tidak bisa meninggalkan orang tuaku di sana."


" Ohhh ya sudah tidak apa-apa Dhe, jika memang itu sudah menjadi keputusanmu." Jawab William tenang dan kembali tidur di pangkuan Dhea, kemudian memindah chanel televisi.


" Heiiiii....kenapa kau setenang itu??" Kata Dhea.


" Memangnya aku harus bagaimana?"


" Ayo bangun!!" Suruh Dhea sambil menggoyang goyangkan tubuh William.


" Kenapa sayang? Kau ini, aku sedang nyaman di posisiku sekarang malah kau suruh bangun!!" Jawab William sambil bangkit dari tidurnya.


" Aku curiga, kenapa kau setenang itu saat tau aku akan kembali ke Indonesia?"


" Lalu maumu aku bagaimana Dhe?"


" Kau sendiri yang bilang, aku liburan satu bulan ke Indonesia saja kau sudah merasa rindu, tapi justru saat aku bilang setelah lulus akan pulang ke Indonesia dan kembali menetap di sana, kau tenang tenang saja! Berarti kau tidak merasa kehilanganku?" Kata Dhea sedikit emosi.


" Aku pasti akan kehilanganmu sayang, tapi itu kan bisa dipikirkan nanti, kenapa harus pusing? Bukankah semuanya itu bisa berubah sewaktu waktu?"


" Kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku? Kau bahkan tidak menahanku untuk bisa tetap di sini?"


William tertawa dalam hati, dia paham bahwa Dhea pasti sedang sebal sekali melihat sikapnya saat ini, padahal William hanya ingin tau sejauh mana Dhea mencintainya.


" Pulanglah sana!! Aku mau istirahat!!"


Kata Dhea seraya hendak berdiri dari tempat duduknya.


" Heiii sayang." Panggil William sambil menarik tubuh Dhea dan menahannya tetap duduk di sampingnya.


" Sayang...Dengar aku." Kata William sambil menghadap Dhea yang wajahnya sudah berubah cemberut.


" Kamu itu sudah jadi bagian dalam hidupku, mana mungkin aku bisa kehilanganmu. Aku itu sudah mati matian untuk mendapatkanmu, lalu apa mungkin aku begitu saja melepaskanmu?" Kata William pelan sambil memegang kedua tangan Dhea.


" Lalu tadi apa? Kau sepertinya tidak perduli padaku!" Jawab Dhea, matanya memerah menahan tangisnya.


" Aku itu hanya ingin tau, apakah selama ini kau benar-benar mencintaiku atau tidak? Aku takut hanya aku yang ingin mempertahankan hubungan ini sedangkan kamu tidak. Tapi sekarang aku percaya bahwa kau itu juga mencintaiku sayang."


" Lalu jawabanmu apa?"


" Jawaban yang mana?"


" Jawaban jika aku kembali ke Indonesia?"


" Dhe, aku itu ingin sekali menikahimu, tapi kau bilang tidak akan sudi menikah jika keyakinan kita berbeda. Aku butuh waktu untuk memikirkan itu semua, aku butuh waktu membangun kepercayaan diriku untuk memilih, dan itu sulit Dhe."


" Lalu?"


" Kau bilang kita jalani saja dulu, ya aku jalani semuanya. Sejauh mana kita saling bergantung, dan sejauh mana kita saling membutuhkan. Semoga itu nanti bisa jadi bahan pertimbangan kita berdua."


Dhea diam saja, sebenarnya hati kecilnya sedih sekali, dia amat mencintai William, tapi dia tidak mau menggadaikan akidahnya.


" Dhe, percayalah...aku itu mencintai kamu, saaangat mencintai kamu!! Bahkan lebih dari diriku sendiri. Aku tidak perduli dengan apa yang menimpaku asalkan aku bisa membuatmu bahagia."


Dhea menitikkan air mata, mendengar kata-kata William.


" Maafin aku sayang, aku juga mencintai kamu." Bisik Dhea pelan.


" Sssttt...jangan menangis, bukankah aku dulu berjanji tidak akan membiarkan air matamu ini jatuh lagi? Tersenyumlah sayang!" Kata William sambil menghapus air mata Dhea.


Perlahan Dhea tersenyum.


" Nahhhh...begini jauh lebih cantik, senyummu itu membuatku semakin bersemangat menjalani hari hariku sayang." Kata William lagi.


William menghabiskan waktunya bersama Dhea hingga malam hari. Mereka seolah tak pernah bosan untuk menghabiskan waktu kebersamaan mereka yang sepertinya semakin indah untuk dilalui berdua.