Something different

Something different
Refreshing



Setelah pekerjaan rumah selesai William duduk bersama di teras depan.


" Dhe, kenapa sedari tadi wajahmu tidak ceria? Kau masih marah padaku?"


" Tidak Will, aku tidak marah padamu."


" Lalu?"


" Aku hanya merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini."


" Dhe, maafkan aku ya jadi membuatmu dilema?"


" Kita keluar saja yuk Dhe, selama aku di sini kau kan belum pernah mengajakku jalan-jalan melihat suasana kotamu." Ajak William berusaha mencairkan suasana.


" Kau ingin kuajak kemana?"


" Terserah kamu, aku ikut saja."


" Ya sudah aku ijin ibuku dulu ya?" Jawab Dhea.


William menganggukan kepalanya. Kemudian Dhea segera ke dalam menemui ibunya yang sedang asyik membuka buka sebuah buku.


" Hemmm...bu sedang membaca apa?"


" Ini nak, ibu sedang membaca buku cara menjadi seorang istri yang baik bagi seorang suami."


" Kenapa ibu harus membaca buku itu lagi? Ibu itu sudah sangat sempurna di mataku."


" Nak, tidak ada salahnya kita itu selalu belajar, jangan merasa bahwa kita sudah sempurna, kesempurnaan itu hanya milik Alloh. Jika kita selalu merasa pintar itu sangat berbahaya, bisa menyebabkan kita menjadi sombong. Padahal apa yang kita ketahui itu belum seujung kuku kita. Buku ini bisa membuat kita semakin berintropeksi, apakah selama ini sikap kita terhadap suami itu sudah baik atau belum. Kau paham kan?"


" Iya bu Dhea paham. Ibu itu memang ibu yang terbaaaaik di dunia!! Kata Dhea memuji ibunya.


" Dan kamu buat ibu adalah anak yang terbaik di dunia nak, jadi jangan pernah kecewakan ibu ya?" Kata ibu Dhea sambil memegang pipi Dhea dengan kedua tangannya


" Insyaalloh bu." Jawab Dhea singkat. Dhea tau pujian yang diberikan oleh ibunya memiliki makna yang dalam buatnya. Ibunya ini selalu pintar memainkan kata-kata, walaupun sedikit namun besar sekali artinya.


" Bu, Dhea boleh jalan-jalan bersama William tidak?"


" Kau mau kemana Dhe?"


" Aku ingin mengajaknya ke Bandungan bu, boleh?"


" Yang penting jangan sore-sore ya pulangnya?"


" Iya bu terimakasih ya? Mobilnya aku bawa ya?"


" Iya, hati-hati di jalan!"


" Iya bu."


Kemudian Dhea segera memberitahukan William untuk bersiap-siap. Setelah Dhea selesai mengganti pakaiannya, lalu mereka berangkat menuju lokasi yang hendak mereka kunjungi, setelah sebelumnya berpamitan dulu pada ibu Dhea.


" Kita mau kemana Dhe?"


" Kau ikut saja, pasti nanti kau suka." Jawab Dhea singkat.


Perjalanan mereka tempuh kurang lebih 45 menit hingga sampai di tempat tujuan.


" Ternyata kau ahli juga mengendarai mobil di lokasi ekstrim seperti ini Dhe?"


" Sebenarnya aku ngeri juga Will."


" Tapi wajahmu biasa saja?"


" Ya kalau aku terlihat panik, pasti kau akan lebih ketakutan duduk di sampingku." Jawab Dhea.


" Hehehe iya Wil." Jawab Dhea sambil tersenyum.


" Kalau begitu pulangnya nanti biar aku yang bawa saja!!!"


" Tapi kau kan tidak biasa mengemudikan mobil di sini


" Ahhh itu hal gampang? Yang penting tetap konsentrasi Dhe."


" Ya sudah terserah kamu asalkan hati-hati ya."


Tak lama kemudian mereka berdua telah sampai di tempat tujuan, tepatnya di lokasi Umbul Sidomukti. Lalu Dhea dan William turun dari mobil, dan berjalan berdampingan.


" Ahhhh...segar sekali udara di sini sayang." Kata William sambil membentangkan kedua tangannya, sembari menghirup udara dalam-dalam.


" Namanya juga daerah pegunungan Will, tapi sebenarnya lokasi seperti ini di negaraku banyak Will, dan indah-indah."


" Ya aku lihat daerahmu ini sangat potensi untuk dijadikan kawasan wisata ya?"


" Ya Will begitulah." Jawab Dhea.


William kemudian meraih tangan Dhea dan menggandengnya. Dhea menariknya kembali, namun ternyata genggaman tangan William lebih erat dari perkiraannya.


" Kenapa? Kau masih malu bergandengan tangan dengan kekasihmu di tempat ini? Bukankah ini hanya sekedar bergandengan dan bukan berpelukan?"


" Hehhhh...kau ini jika dilarang malah semakin menjadi." Gerutu Dhea, dan William hanya tertawa saja.


" Dhe, aku sangat salut dengan keluargamu, begitu harmonis dan saling menghargai. Aku tau orang tuamu pasti tidak terlalu menyukai kehadiranku, namun hebatnya mereka tetap memperlakukanku dengan baik."


" Memang itu sudah menjadi kewajiban kami untuk memuliakan seorang tamu Will."


" Dhe, kau masih sedih sayang?"


" Entahlah Will, yang jelas aku masih bingung."


" Dhe, sebenarnya aku malu dengan diriku sendiri."


" Kenapa Will?"


" Setelah aku tau siapa dirimu sebenarnya, rasanya aku sangat tidak pantas berdampingan denganmu Dhe, terlebih saat mengenal keluargamu."


" Maksudmu?"


" Kau itu orang baik Dhe, berasal dari keluarga yang baik pula, bahkan kau sangat sempurna di mataku. Sedangkan aku? Aku itu terlalu banyak dosa, terlalu banyak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama."


" Will, semua orang itu memiliki masa lalu, akupun bukan orang yang suci, aku juga masih belajar untuk selalu memperbaiki diri. Kau masih muda, masih mempunyai banyak waktu untuk membenahi semuanya. Mulailah dari awal, lupakan semua masa kelammu. Kau itu sebenarnya juga orang baik, dan aku yakin hidupmu nanti pasti bahagia, dengan ataupun tanpa aku."


" Maksudmu Dhe?"


" Will, seandainya kita berjodoh entah bagaimana caranya Tuhan pasti akan menyatukan kita, namun jika tidak Dia pasti akan memberimu wanita yang lebih pantas untuk mendampingimu."


" Dhe, entah apa yang terjadi jika aku berpisah darimu, aku tidak bisa membayangkannya."


" Berubahlah Will, perbaiki hidupmu. Dan aku minta jangan kau siksa lagi dirimu dengan meratapi kegagalanmu. Banyak orang yang menyayangimu Will, orang tuamu, adikmu, sahabatmu, maka kau juga harus menyayangi dirimu sendiri.


" Tapi kau tetap mau bersamaku untuk dua bulan ke depan kan?"


" Hehhhhh....." Dhea menarik nafas panjang.


" Yahhh....Walaupun aku tidak bisa berharap banyak padamu." Jawab Dhea lagi.


William tidak pernah menyangka, hubungannya dengan Dhea bisa serumit ini. Dulu dia mengira bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Kegigihannya mengejar Dhea wanita yang dulu membuatnya penasaran karena berbeda dengan wanita pada umumnya, membuat dia berpikir bahwa nantinya pasti dia bisa memiliki wanita itu dengan sangat mudah, ternyata sebaliknya. Dia merasa begitu kerdil di hadapan wanita yang dicintainya itu, sifat Dhea yang membuatnya kagum itu menjadi penyebab William merasa takut untuk tidak bisa menjadi pendamping yang sempurna bagi Dhea. Dulu dia merasa pria yang hebat dengan segala kelebihan yang dia miliki, wajah rupawan, kekayaan berlimpah, namun semua itu ternyata tidak bisa membuat Dhea bertekuk lutut padanya, dan justru dia sendiri yang pada akhirnya tidak bisa berkutik di hadapan wanita itu.