Something different

Something different
William yang aneh



Dhea sudah sekitar satu minggu lebih keluar dari rumah sakit. Dokter dan suster yang disewa William menjaganya dengan baik, begitupun dengan William, tak sedikitpun perhatiannya luput pada istri tercintanya itu. Setelah kehilangan bayinya, Dhea memang sudah bisa melupakannya, namun dia jadi sedikit pendiam dan tidak seceria dulu saat masih hamil. William sangat merasakan perubahan itu. Dia merasa pasti ini efek kehilangan bayinya, sehingga Dhea jadi lebih banyak membisu dan bicara seperlunya saja.


Siang itu disaat mereka sedang berduaan di dalam kamar, dan Dhea terlihat sedang membaca-baca sebuah buku, William membuka pembicaraan.


" Sayang, aku lihat akhir-akhir ini kau lebih banyak diam, dan tidak seceria dulu, kenapa? kau masih ingat dengan anak kita?"


" Aku memang sedih kehilangan dia, tapi bukan itu penyebabnya."


" Lalu apa sayang?"


" Setelah beberapa kali membaca buku ini, aku merasa bahwa mungkin apa yang Allah timpakan kepada kita ini merupakan sebuah teguran."


" Teguran bagaimana sayang?"


" Sayang, mungkin selama ini kita terlalu asyik sendiri, dan kurang memikirkan orang lain. Mungkin ada atau bahkan banyak yang tersakiti dengan keadaan kita."


" Tersakiti bagaimana sayang?" William heran dengan ucapan istrinya.


" Sayang hidup kita jauh lebih beruntung dari orang-orang di luaran sana. Apapun yang kita inginkan, asalkan itu masih bisa ditukar dengan uang, pasti akan kita dapatkan. Namun, terkadang kita berlebihan sayang, seperti semua fasilitas yang kau berikan padaku, terkesan membuang-buang uang. Allah mungkin ingin menegur kita sayang. Bahwa sekaya-kayanya kita, tidak semua bisa kita miliki sepenuhnya, termasuk janin yang berada di perutku, bahkan aku tidak bisa mempertahankannya walaupun harta kita berlimpah."


" Lalu maksudmu bagaimana?"


" Sayang, mungkin selama ini kita terlalu asyik menikmati itu semua sendiri. Bisa jadi sedekah yang kita keluarkan tidak sebanding dengan uang yang kita gunakan untuk kenikmatan dunia. Kita harus benahi itu, mungkin ini bisa jadi salah satu penyebab penyakit datang di tubuhku. Kita tidak sengaja memakan hak orang lain yang wajib kita berikan pada mereka."


" Tapi kita kan rutin mengeluarkan zakat sayang." Protes William.


" Zakat itu beda dengan sedekah. Jika zakat ada hitungannya, tapi sedekah itu tidak terhingga."


" Ya sudah sayang, mulai besok kita perbaiki semuanya ya. Sedekah kita, ibadah kita, ahlak kita. Mungkin memang benar katamu, ini sebagai teguran Allah untuk kita."


" Ya sayang. Sebuah pernikahan itu adalah jembatan kehidupan manusia. Di situlah kehidupan yang sebenarnya dimulai. Segala hal apapun yang kita lakukan dalam sebuah pernikahan, adalah bernilai ibadah. Yang penting kita tulus dan ikhlas. Aku ingin rumah tangga kita nantinya membawa kita semua menjadi umatNya yang baik. Kau imamku, aku makmummu. Kita berjalan bersama untuk selalu menuju ridhonya. Tegur aku bila ku salah, sebaliknya aku juga tidak akan pernah lelah untuk mengingatkanmu bila kau khilaf."


" Ya Allah terimakasih kau telah anugerahkan istri yang sholeha untukku. Aku bahagia sayang benar-benar bahagia. Entah apa jadinya jika aku tidak mendapatkanmu dulu, mungkin aku masih berkutat dengan dunia hitam dan menyesatkan."


" Sayang, itu juga karena usahamu. Jika kau ingin mendapatkan pasangan baik, maka kau harus memperbaiki dulu dirimu. Aku tidak menganggap bahwa diriku sempurna, tapi aku akan selalu berusaha menjadi yang sempurna untukmu." Kata Dhea sambil mengerling.


" Heiiii...kau jangan menggodaku ya, bukankah operasimu itu belum memperbolehkanmu untuk bergerak?" Kata William sambil menatap tajam istrinya.


" Hahaha siapa juga yang menggodamu, mataku kan memang indah, kau saja yang merasa tergoda." Bela Dhea malah sambil mengedipkan sebelah matanya.


" Lalu itu kenapa kau malah bermain mata padaku??"


" Ohhh ini mataku kelilipan." Kata Dhea sambil tertawa.


" Hehhhh...kau nakal sekarang." Kata William sambil memeluk istrinya tanpa bisa berbuat lebih, dia tidak mau membahayakan kesehatan istrinya dulu setelah dioperasi.


" Oh iya sayang, aku belum cerita padamu ya." Kata William sambil melepaskan pelukkannya.


" Cerita apa?" Tanya Dhea, sembari membenahi rambutnya yang sedikit berantakan, lalu mengucirnya ke belakang.


" Mike akan menikah sayang."


" Mike menikah? kenapa papa tidak memberitahukanku, saat beliau menelfonku di rumah sakit?"


" Papa tidak mau membebani pikiranmu. Papa ingin kau konsentrasi saja dengan kesehatanmu dulu."


" Ohhh begitu. Beruntung sekali aku memiliki mertua seperti beliau, hehhhh aku rindu sekali padanya." Gumam Dhea.


" Oh ya, kenapa kau tidak menghadiri pernikahan Mike?"


" Sebenarnya aku ingin kesana, tapi aku tidak tega membiarkanmu sendiri, dan tidak mungkin aku mengajakmu, karena aku ingin kau sembuh 100% dulu."


" Hahaha....siapa bilang aku sendiri? bukankah banyak pegawai yang menemaniku di sini? belum lagi dokter dan suster yang kau sewa untukku?"


" Iya, maksudku aku tidak tega membiarkan kau tidur sendiri. Pasti kau tidak akan merasa nyaman."


" Tidak sayang, aku pasti baik-baik saja. Nanti aku bisa meminta salah satu pegawai menemaniku tidur, kalau tidak dokter dan suster itu aku suruh tidur di sini, jadi jika aku perlu apa-apa aku tinggal membangunkan mereka."


" Tapi sayang?"


" Sayang ayolah, kau jangan cemaskan aku. Dia adik kandungmu satu-satunya. Pasti kehadiranmu sangat diharapkannya."


" Kau benar-benar ikhlas aku pergi kesana tanpamu?"


" Sayang? kenapa kau malah melamun? pergilah, kau bisa menelfonku setiap saat jika kau mencemaskanku." William menarik nafas sesaat.


" Baiklah sayang, besok aku akan memesan tiket, lusa aku berangkat. Aku janji cuma sehari di sana, dan besoknya aku akan pulang kesini lagi."


" Hahaha...sayang...sayang. London itu kan jauh, seperti cuma di seberang jalan saja, kau tidak perlu buru-buru seperti itu. Kau juga kan masih punya seorang papa, tinggalah di rumahnya barang dua atau tiga hari, pasti beliau senang sekali, dan pasti akan mengajakmu mengobrol sepanjang hari menceritakan banyak hal. Sayang, aku itu memang istrimu, tapi jangan lupa, kau juga milik papamu, jadi jangan abaikan dia. Kau memang tidak bisa merawatnya, tapi bukan berarti kau melupakannya." William menatap mata Dhea begitu lama.


" Kenapa aku bisa seberuntung ini memiliki istri yang sangat pengertian seperti kau sayang." sambil menggenggam tangan Dhea.


" Ahhhh...kau ini. Jangan terus-terusan memujiku, nanti aku bisa besar kepala." Sambil tersenyum.


" Oke, kalau begitu aku akan menelfon Daniel, untuk memesankan tiket pesawatku kembali ke sini."


" Hehhhh...Daniel lagi, aku bisa tebak, kalian nanti akan sangat lama mengobrolnya, tapi bukan langsung ke inti pembicaraan, tapi untuk saling berolok. Benar tidak?" Kata Dhea yang sudah sering mendengar pembicaraan suaminya bersama Daniel.


" Hahaha....jika masih saling berolok berarti hubungan kami baik-baik saja sayang, tapi kalau to the point, berarti kami sedang marahan."


" Dasar, persahabatan yang aneh." Gerutu Dhea dan William hanya terkekeh.


" Ok, kali ini aku akan berbicara serius dengannya ya."


" Hemmm ya silahkan, aku berani jamin kau tidak akan bisa melakukannya." Kata Dhea.


" Ya, lihat saja." Tantang William.


" Ya sudah aku telfon Daniel dulu ya." Kata William sambil mengecup dahi istrinya, lalu turun dari tempat tidur, mengambil handphone, kemudian duduk di sofa panjang yang ada di kamar tersebut.


" Hallo teman ada apa menelfonku?" Tanya Daniel saat mengangkat handphonennya.


" Tolong kau pesanku tiket untukku pulang ke Indonesia, jadwal keberangkatan hari Rabu depan ya, rabu lusa aku akan pulang ke London menghadiri pernikahan adikku, jadi aku satu minggu tinggal di sana." Kata William singkat, padat dan jelas. Namun bukan jawaban yang William dapatkan, tapi justru tidak ada suara sama sekali. Sementara itu, di seberang sana Daniel terlihat bengong, mendengar sahabatnya itu bicara tanpa berhenti, tanpa basa basi dan tanpa tanya kabar.


" Dan, hallo Dan? kau masih hidup kan?" Dhea yang sedari tadi memperhatikan suaminya juga ikutan bengong, karena terlihat begitu kaku suaminya menelfon sahabatnya dengan gaya seperti itu.


" Eh...iya Will, aku masih hidup, masak kau tidak mendengar jantungku berdetak?"


" Kau paham kan yang aku katakan tadi?"


" Iya aku paham perintahmu. Tapi kau yang tidak kupahami."


" Maksudmu?"


" Ada apa denganmu? Apakah saat ini sedang ada satu pasukan tentara menodongmu dengan senjata mereka, sehingga kau menelfonku dengan terburu-buru dan seserius itu?"


" Ahhhh...kau jangan memancingku. Istriku baru saja mengataiku jika menelfonmu selalu bercanda, kali ini aku ingin serius." Kata William sambil melirik Dhea.


Yang dilirik spontan terbahak, kenapa suaminya malah terlihat lucu dan kaku berbicara dengan Daniel.


" Sayang, kenapa kau terbahak seperti itu." Tanya William, Danielpun mendengar Dhea tertawa dari kejauhan.


" Tidak sayang teruskanlah menelfon Daniel, aku ingin tau setahan apa kau berbicara serius dengannya." Kata Dhea masih di sisa tawanya.


" Hallo Wil, hallo!!! jika ingin ingin bermusyawarah dengan istrimu lakukanlah, aku yang akan menjadi moderatornya." Kata Daniel yang merasa dicueki oleh William.


" Ohhh maaf Dan, itu tadi istriku menertawaiku."


" Jangankan dia, aku saja yang mendengarmu ingin tertawa. Aku pikir kau baru kerasukan setan mana sehingga jadi seperti itu."


" Hemmmm....kali ini aku tidak main-main, segera laksanakan perintahku, dan jangan membantah!!!"


" Ok siappp bos laksanakan. Aku akan segera memesankan tiket untuk anda. Jika ada keluhan dan pelayanan kami yang kurang memuaskan. Anda bisa memberikan masukan di kotak saran kami. Terimakasih atas kunjungan anda." Kata Daniel terus nyerocos. William bingung arah pembicaraan Daniel yang lari entah kemana itu.


" Dasar aneh. Sudah aku akhiri telfonku saja." Kata William lagi.


" Baik tuan, selamat jalan, semoga anda selamat sampai di tempat tujuan." Kata Daniel yang masih tidak nyambung itu. Lalu William segera menutup telfonnya sambil geleng-geleng kepala.


" Hahhh...pasti dia sedang sakit." Gumam William. Sedangkan di seberang sana mulut Daniel terlihat komat kamit.


" Ya Tuhan, kembalikanlah ingatan William yang dulu, kasihan dia masih terlalu muda jika harus mengalami beban hidup yang sepertinya sangat berat itu, amiin." Kata Daniel, lalu menatap handphonennya sebentar dan mengucap.


" Stresss...!!!!"