Something different

Something different
Kejutan William 2



" Kau ingat ini tanggal berapa sayang?" tanya William saat kendaraannya sudah semakin jauh membelah keramaian jalanan kota.


" Hemmm tanggal 10, kenapa?"


" Kau ingat sesuatu tidak?"


" Ingat sesuatu???" tanya Dhea bingung sambil mengulangi pertanyaan suaminya. Dia sedikit mengernyitkan keningnya, berusaha mengingat-ingat setiap moment di tanggal ini, namun dia sungguh lupa sama sekali.


" Sayang maafkan aku jika aku tidak bisa mengingatnya sama sekali."


" Ya sudah tidak apa-apa, daripada kau nanti jadi setres mengingat-ingatnya." Kata William yang melihat Dhea gagal mengingat moment tersebut.


" Lho ini bukankah jalan menuju panti asuhan yang sering aku kunjungi itu kan sayang???" tanya Dhea setelah sedikit tau tempat yang dituju suaminya.


" Iya sayang, kamu suka?"


" Ya Allah sayang, aku suka sekali!!! Kenapa aku melupakan mereka?? Hehhhh...ini mungkin karena aku selalu menghabiskan waktu di sini dengan bersenang-senang denganmu, jadi aku melupakan tempat ini. Terimakasih ya sayang kau sudah mengajakku kesini."


" Iya sayang sama-sama." Jawab William sambil tersenyum.


Tak lama kemudian kendaraan yang dikemudian William segera masuk ke dalam halaman panti asuhan, dimana panti asuhan itu dulunya tempat yang sering dikunjungi Dhea setiap selesai ganjian dari uang hasil kerjanya, untuk sekedar membagikan makanan kecil pada anak-anak yang ada di sana.


Bangunan panti asuhan itu belum berubah sama sekali, masih sama seperti saat terakhir kali Dhea ke situ. Ukurannya tidak terlalu besar, namun terlihat bersih dan terawat.


" Sayang aku ingat sekali, setiap aku baru saja masuk ke dalam halaman panti asuhan ini, anak-anak pasti menyambutku dengan antusias, walaupun buah tangan yang aku bawakan untuk mereka itu tidak seberapa."


" Ya sayang. Mereka itu anak-anak yang tidak mendapat perhatiannya dari orang tuanya. Jadi saat kau memberi perhatian, maka mereka akan bahagia sekali."


" Oh iya, lalu tanggal 10 itu apa sayang???" tanya Dhea masih penasaran dengan tanggal yang disebutkan William tadi.


" Tanggal itu ya???


" Masak kau tidak ingat sama sekali?"


" Tidak sayang, sungguh aku tidak bisa mengingatnya."


" Tanggal ini mungkin bukan tanggal dan bulan yang spesial buatmu. Tapi buatku tanggal dan bulan ini tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku."


" Maksudmu apa sih aku jadi bigung?" Kata Dhea. Dia ingat sekali ini bukan tanggal lahirnya, tanggal lahir suaminya, ataupun tanggal pernikahan mereka berdua. Tapi kenapa suaminya itu menyebutkan bahwa tanggal ini adalah tanggal spesial.


" Apakah ini tanggal ulang tahun salah satu keluarganya, papanya atau Mike misalnya?" tanya Dhea dalam hati.


" Ahhh tidak mungkin, tapi mengapa dia hanya mengajakku saja, dan tidak mengajak mereka? lalu kenapa memilih panti asuhan ini untuk merayakannya? apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya saat ini?" Kata Dhea dalam hati.


Beribu pertanyaan memenuhi seluruh dimensi ruang pemikiran Dhea. Namun jangankan untuk menemukan jawaban, untuk mendapatkan sedikit saja bocoran mengenai kejadian di tanggal inipun, Dhea bahkan tidak mendapatkannya sama sekali.


" Kalian tunggu di sini dulu ya, aku dan istriku akan masuk sebentar ke dalam. Nanti aku akan telfon kamu." Kata William berbicara pada Simon yang ternyata membawa satu orang pegawai lain untuk menemaninya.


" Baik tuan." Jawab Simon.


Dhea berjalan dengan semangat masuk ke dalam panti, diikuti William yang berjalan di sebelahnya. Seperti biasa dua orang pasangan itu selalu saja bergandengan tangan, tidak perduli dimanapun tempatnya.


Biarkan saja, kebiasaan baik memang harus terus dilakukan, yang penting syaratnya hanya menggandeng pasangan sendiri, dan bukan pasangan orang lain ya🤭


" Permisi." Kata Dhea setelah berada di depan pintu panti yang tidak tertutup.


Setelah dua kali mengucap salam, keluarlah seorang wanita dari dalam.


" Dhea, ya ampun!!!! kamu Dhea kan???" kata wanita itu begitu gembira.


" Iya aku Dhea, kau masih mengingatku Jasmine?" kata Dhea sambil memberikan pelukan pada wanita yang umurnya tidak terlalu jauh dengannya. Dia adalah salah satu pengurus panti. Dhea memang sangat akrab dengan semua orang yang berada di panti tersebut.


" Tentu saja aku ingat!! kau kemana saja? sudah lama sekali kau tidak datang kemari?" tanya wanita tersebut.


" Studiku telah selesai, jadi aku kembali lagi ke Indonesia."


" Ohhhh aku pikir kau sudah melupakan kami semua."


" Tidak mungkin Jasmine aku lupa dengan kalian."


Kemudian wanita itu melirik pada William.


" Sssttttt...siapa pria tampan di sampingmu itu? apakah dia temanmu? bolehkah aku berkenalan dengannya? kebetulan aku baru putus dengan kekasihku" kata Jasmine yang merasa terpesona oleh ketampanan William.


" Ohhhh...iya, maaf aku lupa mengenalkannya padamu. Dia suamiku namanya William." Kata Dhea.


" Sayang ini Jasmine salah satu pengurus panti asuhan di sini." William hanya memberikan senyumannya sambil mengganggukan kepala.


" Hahhhh...jadi dia suamimu Dhe? ahhhhh....padahal aku baru saja memikirkan agar kau menjodohkanku dengannya, ternyata ini adalah suamimu. Beruntung sekali kau mendapatkan suami setampan dia. Aku pikir dia hanya temanmu, aku bisa membayangkan betapa beruntungnya aku jika bisa menjadi kekasihnya." Kata Jasmine begitu jujur tanpa basa-basi. Kebiasaan cara berbicara orang-orang di negara ini yang begitu terbuka dan tanpa risih sudah sangat dipahami Dhea, jadi hal itu tidak menjadi ganjalan hatinya sama sekali.


" Hahaha...sepertinya anda terlambat sedikit nona, hatiku sudah dikuncinya." Kata William sambil melirik Dhea yang sedari tadi hanya senyum-senyum saja.


" Iya tuan, hahhhhh....kemana saja aku selama ini? sepertinya bermainku kurang jauh sehingga tidak tau ada mahluk sempurna sempertimu di negara ini."


" Heiiii...Jasmine, kau jangan mencoba merayunya ya???" kata Dhea sambil melirik pada William yang terlihat tersipu-sipu dipuji aleh wanita di depannya itu.


" Hahaha...tidak mungkin aku menikungmu Dhe."


" Ayo masuk!!! pasti anak-anak akan senang sekali melihatmu kemari. Kata Jasmine sambil menggandeng tangan Dhea. William mengikuti dari belakang dua orang wanita yang baru saja bertemu itu.