
Tepat pukul 1 siang Dhea keluar dari panti asuhan tersebut. Setelah berpamitan pada pengurus dan beberapa anak, Dhea segera meninggalkan tempat itu. Dhea berjalan di bawah teriknya matahari. Panas siang ini seakan tidak dirasakannya, karena rasa gembira baru saja berjumpa dengan anak-anak di panti asuhan itu.
William terus mengikuti Dhea dari belakang. Perlahan William menambah kecepatan mobilnya, dan berhenti tepat di samping Dhea.
" Ayo naik Dhe?"
" William....kau tau aku ada sini?"
" Sudah jangan banyak bertanya, naiklah cepat."
" Tidak, pergilah saja aku akan naik taksi." Kata Dhea, lalu kembali melangkahkan kakinya dan kali ini lebih cepat. William kembali mengikutinya dari belakang dengan mobilnya.
" Kau jangan membuat kesabaranku habis ya!"
" Terserah kau!" Jawab Dhea.
Sebuah taksi lewat di depan Dhea, dan dia segera menghentikannya, lalu naik ke atasnya.
" Ayo jalan tuan!"
" Baik nona."
William terlihat sangat marah dengan penolakan Dhea. Tiba-tiba saja dia menginjak gas mobilnya dengan kencang, dan langsung berhenti di depan taksi yang dinaiki Dhea tadi. Otomatis pengemudi taksi marah-marah dan segera turun hendak memaki-maki William. Namun sebelum pengemudi taksi itu sempat membuka mulutnya, William segera memberikan berapa lembar uang kepadanya.
" Bukankah ini cukup untukmu? Dan segeralah pergi. Penumpang wanita itu kekasihku, aku akan menyuruhnya turun."
" Ohhh maaf tuan, ini bahkan lebih dari cukup. Silahkan bawa dia...aku tidak tau jika dia kekasih anda."
William tidak menjawab sepatah katapun, wajahnya terlihat memerah menahan marah. Didekatinya taksi tersebut, Dhea beringsut mundur saat William mencoba membuka pintu mobilnya. Tiba-tiba saja Dhea berlari keluar melalui pintu mobil lainnya.
" Hei Dhe tunggu, kamu jangan coba lari ya!!" Teriak William.
Dhea sangat ketakutan melihat reaksi William. Dia merasa laki-laki itu seperti harimau yang hendak menerkamnya.
William terus mengejar Dhea, dan ternyata langkah kaki William lebih cepat dibanding Dhea.
" Kau mau kemana hah? Mau mencoba lari dariku?" Kata William sambil mencengkeram lengan Dhea.
" Lepaskan aku Will, aku mohon!! Aku punya salah apa denganmu sehingga mengejarku seperti ini?"
" Salahmu itu karena selalu lari dan menghindar dariku mengerti?" Kata William sambil menahan kemarahannya.
" Ikut aku cepat...!!" kata William lagi sambil menarik tangan Dhea. Lalu menyuruhnya masuk mobil. Kemudian William menjalankannya.
" Will...tolong hentikan dong! Aku lelah setiap hari seperti pencuri selalu kejar-kejaran denganmu. Aku itu bukan penjahat Will."
" Kau ingin aku berhenti mengejarmu?"
" Ya, aku ingin kau berhenti mengejarku."
" Oke, jika kau mau ikuti semua syaratku."
" Apa syaratmu?"
" Jadilah kekasihku." Kata William sambil menatap mata Dhea dengan kedua bola matanya yang tajam.
" Apa???"
" Aku tidak mau!!"
" Kalau begitu kau ingin aku terus mengikuti kemanapun kau pergi??"
" Jika kau memang tidak lelah lakukanlah, kau tidak akan mungkin mendapatkanku!"
" Hahaha oke, kau menantangku?"
" Terserah apa katamu!!"
" Oke Dhea...kau akan tau siapa aku, dan aku tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkanmu, juga tubuhmu ", kata William seperti ingin menakut-nakuti Dhea.
Dhea bergidik ngeri mendengar kata-kata William.
" Laki-laki gila ", kata Dhea dalam hati.
Perlahan William menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah.
" Hei kenapa kau berhenti di sini?"
" Kita makan dulu, ini sudah siang. Apa kau ingin sakit lagi?"
" Aku tidak mau makan-makanan yang kau beli dengan uangmu."
" Silahkan saja, mungkin saja setelah ini akan ada sebuah jeritan, seorang gadis berjilbab telah diperkosa oleh pengusaha kaya raya, kau mau itu terjadi denganmu sayang????" Kata William sambil menatap Dhea tajam, seolah ingin menelanjanginya dengan kedua bola matanya.
" Kau.....???"
" Hahaha Dhea Dhea...kau ini kenapa masih keras kepala saja, ayo turun cepat!!"
Dhea akhirnya mengikuti kata-kata William, karena pria itu selalu tidak pernah main-main dengan ancamannya.
William memilih tempat duduk, dan menarik kursi di sampingnya untuk Dhea.
" Duduklah di sampingku!!" Kata William.
Dhea menurut saja. Tak lama William memanggil seorang pelayan dan memesan makanan.
" Will...makanan yang aku makan itu berbeda denganmu, apakah restoran ini.....??"
" Aku itu tau semua tentangmu, jadi jangan khawatir, makanan di sini bisa dimakan oleh orang beragama islam sepertimu." Kata William memotong kalimat Dhea.
" Dhea Dhea...aku sudah bilang dari dulu, aku bukan orang sembarangan, bahkan jika aku mau, warna dalamanmu yang kau pakai hari inipun aku bisa tau. Mata-mataku di mana-mana Dhea, dan kau tidak bisa lari kemana-mana oke?" kata William sambil tersenyum.
" Brengsek, aku benar-benar seperti pesakitan di hadapannya ", kata Dhea dalam hati.
Tak lama kemudian dua orang pelayan datang mengantarkan pesanan William.
" Makanlah, bukankah semua ini boleh kau makan?"
Dhea melihat ada beberapa menu ikan di atas meja.
" Kau ini pemborosan saja, kita cuma makan berdua tapi makanan yang kau pesan banyak sekali!!" kata Dhea.
" Ahhh sudahlah jangan banyak bicara, makanlah saja."
Dhea hanya menggerutu dalam hati, karena William tidak mengindahkan omongannya.
Setelah selesai makan mereka berdua keluar dari restoran tersebut.
" Kau mau mengajakku kemana lagi?"
" Ke kantorku."
" Ke kantormu? Apa pentingku harus ikut ke kantormu?"
" Aku yang punya kepentingan dan bukan kamu."
" Lalu apa hubungannya denganku sehingga kau mengajakku?"
" Jika kau banyak bertanya, aku akan memplester mulutmu, mau?"
" Dasar pria kasar!!!" gerutu Dhea.
" Kau bilang apa???"
" Tidak, aku tidak bicara apa apa!!!" jawab Dhea ketus.
Padahal dalam hati, William merasa bahagia sekali bisa bersama gadis ini. Walaupun sifat ketusnya itu belum berhasil ditaklukan, namun Dia merasa tenang bisa berada di dekat Dhea. William sangat gemas jika melihat gadis ini cemberut, marah, apalagi jika sedang mengomel tidak jelas seperti yang baru saja dilakukannya. Dalam hati dia tertawa geli sendiri, karena selama ini belum pernah ada satupun wanita yang mengomelinya, bahkan memaki-makinya seperti yang Dhea lakukan padanya. Yang dia dengar hanyalah sebuah rayuan, pujian dan ribuan kata manis dari mereka. William sudah muak dengan semua itu. Rasanya seperti seorang penjilat saja. Dan saat ini William seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan sebuah mainan baru, yang setiap waktu bisa membuatnya gembira.
Tak lama kemudian William menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung megah bertingkat. Dhea hingga harus menengadahkan kepalanya untuk melihat letak puncak gedung itu.
" Ayo turun, kenapa kepalamu melihat ke atas terus? Kau tidak merasa pegal dari tadi seperti itu?"
" Ohh iya, aku hanya sedang menghitung jumlah lantai gedung ini." Jawab Dhea polos.
" Dasar gadis bodoh, kau juga nanti akan mengetahuinya jika sudah naik bersamaku."
Kata William sambil membuka pintu mobilnya.
" Kau ini selalu memperolokku, jika aku ini bodoh tidak mungkin aku bisa mendapatkan beasiswa dan melanjutkan S2ku di sini ", jawab Dhea sewot.
" Oke maaf kalau begitu, kau seperti gadis pintar, tapi keras kepala."
" Kau ini...dasar laki-laki brengsek, arogan, maniak, semaunya sendiri ", jawab Dhea lagi tak mau kalah.
" Sudah selesai mengomelnya?"
" Belum!! Aku belum selesai!!"
" Kau laki-laki pemboros, egois, suka memaksa orang lain, suka mempermainkan wanita, temperamen."
" Ayo apa lagi? Cepat teruskan!!!" kata William.
" Kau ini hiihhh...aku muak denganmu, aku beeeenciiiii....sekali denganmu William."
" Oke kita masuk sekarang ". Ajak William.
" Hiiiihhhh pria menyebalkan ", gerutu Dhea lagi.
William menahan tawa sedari tadi, seandainya gadis ini tidak galak mungkin akan segera dipeluknya, dan melumat bibir cerewet gadis di sampingnya ini. Namun dia berusaha bersikap biasa saja, dan menjaga wibawa di depan Dhea.
Saat mulai memasuki gedung, beberapa orang pegawai menyapa mereka, dan sepertinya memperhatikan Dhea, bahkan ada yang berbisik bisik. Dhea diam saja sambil terus menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya. William terus berjalan sambil sesekali mengangguk membalas sapaan para pegawainya.
" Hhhhhh....laki-laki ini ternyata berwibawa juga jika di depan pegawainya, tidak sedikitpun terlihat sifat maniaknya ", kata Dhea dalam hati.
Kemudian William berhenti di depan sebuah lift, menekan tombol yang ada di sampingnya. Kemudian pintu lift tersebut terbuka. Setelah masuk sebuah angka 10 ditekannya.
" Kamu tau kan jumlah lantai gedung ini ada berapa?"
" Ya aku tau ada 12 lantai."
" Ya benar, 2 lantai sebelum lantai 1 adalah lantai dasar, dan selanjutnya lantai untuk ruangan rapat dan ruangan pertemuan. Kamu sudah paham sekarang kan? Dan tidak perlu menghitungnya dari bawah seperti tadi bisa-bisa kepalamu pusing." Jawab William lagi, sedangkan dalam hati dia sedang tertawa.
" Terserah, ini kepalaku sendiri kenapa kau yang harus ribut."
" Kau ini, aku hanya ingin memberitahumu saja, kenapa kamu tidak bisa menerima ide orang lain?"
" Masa bodoh ", jawab Dhea ketus.
Tak lama lift berhenti. Dhea dan William segera keluar. Seorang pegawai wanita menyambut kedatangan mereka berdua.
William hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam ruangannya. Saat berada di dalam, Dhea dibuat takjub dengan ruangan tersebut. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sebuah kaca besar di belakang tempat duduk William, dan semua pemandangan di bawah sana bisa terlihat dari ruangan ini. Ada sebuah sofa besar di dalamnya. Sepertinya William juga penikmat musik sehingga ruangan ini dilengkapi sebuah sound system yang berada di sudut kiri tempat duduk William, juga terdapat sebuah lemari es Di sudut kanannya.
" Kamu duduk dulu di situ, aku akan menyelesaikan pekerjaanku." Kata William.
Dhea menurut, dan dia duduk di sofa besar itu sambil memperhatikan William yang sedang asyik dengan laptopnya.