
Pagi ini Papa dan adik William serta Bram sudah berkumpul di rumah William. Mereka bersiap siap akan mengantarkan William ke gereja, untuk mengucapkan janji nikah di gereja.
William terlihat sedang membenahi pakaiannya di depan cermin di dalam kamarnya. Dan papanya berada di sampingnya.
" Bagaimana Will ? kau sudah benar benar siap ?"
William membalikkan badannya. Diam sebentar sembari menundukkemudian menarik nafas panjang. Lalu dia menatap papanya kembali.
" Jika aku tidak siap, apakah pernikahan ini bisa dibatalkan pah ?"
" Mungkin saja Will, kenapa tidak ?"
" Ya...mungkin saja pah, dan itu berarti aku END...Paula kemudian akan menghancurkanku dengan sukses ".
" Kau berarti lebih mementingkan hartamu dibanding dengan kebahagiaanmu Will ?"
" Bukan harta pah yang aku pertahankan di sini, tapi harga diri. Aku tidak mau dianggap laki laki tidak bertanggung jawab. Mungkin hartaku bisa benar benar habis atau juga masih tetap bisa kupertahankan. Tapi reputasiku dan nama baikku apa masih bisa kubanggakan ? Tidak pah, aku akan menghadapinya, aku bisa menyelesaikan urusan ini belakangan ", kata William tanpa getar.
Papa William lalu berdiri mendekati anaknya itu, kemudian menepuk pundak William.
" Bagus nak...papa bangga padamu. Tidak sia sia dulu papa menanamkan disiplin dan tanggung jawab padamu ". Kata papa William sambil tersenyum.
" Iya pah, doakan aku ya agar bisa menjalani ini semua ?"
" Iya nak...doa papa akan selalu menyertaimu ", jawab papanya sambil mengusap rambut William.
William lalu memeluk pria tua di hadapannya itu.
" Sudah...ayo kita keluar, adikmu dan Bram sudah menunggu sedari tadi di meja makan ". Jawab papa William sambil melepas pelukannya.
Hatinya sebenarnya sedikit miris menyaksikan anak lelakinya itu begitu menderita menghadapi pernikahannya hari ini. Namun apa hendak dikata, itu semua sudah resiko yang harus William emban, dan dia tidak mau anak laki lakinya lari dari tanggung jawab.
" Iya pah ". Kemudian William berjalan beriringan bersama papanya, menuju meja makan.
Terlihat Mike dan Bram sedang mengobrol bersama.
" Hhmmm sudah rapih saja kau Will, namun tampilanmu tidak terlalu istimewa, bukankah hari ini adalah hari spesialmu ?" Tanya Bram.
" Tidak ada hari spesial dan tidak ada tampilan istimewa Bram. Ini adalah hari sialku, dan aku tidak akan pernah melupakannya seumur hidupku ". Jawab William sambil menyeruput kopi di hadapannya.
" Sudahlah Will kau harus ikhlas menerimanya, atau itu akan menjadi penyakit hatimu. Memang sulit untuk menghadapi ini semuanya, namun kamu harus belajar, sebelum itu akan menjadi bebanmu seumur hidup ". Kata Mike menimpali.
" Tenanglah kalian semua, aku sangat mengenalnya, dan aku tau dia pasti bisa mengatasi persoalannya seorang diri ", jawab papa William menimpali.
" Will aku dengar kau sedang mencari lokasi rumah baru, apakah benar ?"
" Iya Mike ".
" Apakah sudah dapat ?"
" Sudah Mike, dan hari ini siap untuk ditempati ".
" Lalu siapa yang akan menempatinya nanti Will ?" Tanya Mike lagi.
" Paula Mike, dia yang akan menempatinya.
Aku tidak akan sudi tinggal serumah dengannya ".
" Apakah Paula mau kau perlakukan seperti itu ? bukankah sudah sepantasnya seorang suami tinggal satu atap bersama istrinya ?" jawab Bram menimpali.
" Ya memang sudah seharusnya seperti itu, tapi bagi suami istri yang saling mencintai dan itu pengecualian buatku ".
" Lalu jika Paula tidak mau ?" Tanya Mike lagi.
" Dia harus mau, aku akan melengkapi semua fasilitasnya di sana. Asisten rumah tangga, mobil pribadi, supir pribadi. Bukankah itu sudah cukup layak ? Aku rasa dia itu hanya membutuhkan kemewahan dariku saja, dan semua akan kuberikan padanya agar dia tidak mengusikku lagi".
" Hahaha otakmu itu sungguh licik Will ", kata Bram.
" Butuh otak yang licik untuk menghadapi wanita tidak tau diri seperti Paula, Bram ".
" Ya ya ya...aku tidak tau sebelumnya jika kau amat membeci wanita ini ".
" Bukan cuma membencinya Bram, tapi sangat membencinya. Rasanya aku telah mendapat kutukan karena hendak menikahi wanita ini ".
" Dan kau berharap setelah menikahinya, kutukan tersebut segera sirna bukan ?"
" Hhhhh....entahlah aku rasa harapannya sangat kecil Bram ", jawab William putus asa.
" Hallo Will ".
" Hallo Dan ", rupanya Daniel yang menelfon William dari kejauhan.
" Hei...bagaimana kau sudah mendapatkan informasi ?"
" Belum Will, aku sedang dalam perjalanan ke alamat itu ".
" Jadi nanti kau tidak bisa hadir Dan ?"
" Aku belum tau Will, tapi aku sangat berharap bisa menghadirinya, tapi bukan untuk menyaksikan janji nikahmu, melainkan yang lebih menyenangkan daripada itu teman ". Jawab Daniel sambil tersenyum simpul, sebuah rencana manis sudah tersusun rapih di otaknya.
" Maksudmu Dan ?"
" Bersabarlah Will, aku akan berusaha sekuat tenagaku. Aku juga tidak akan rela membiarkan bosku didamping wanita jadi jadian seperti Paula ".
" Hahaha kau parah sekali mengatainya Dan, istilahmu membuatku jadi membayangkan sosoknya yang mengerikan ".
" Hmmm tapi bukankah kau dulu sempat dininabobokkan di bawah ketiaknya ? benar begitu tuan William ?" Kata Daniel menggoda William.
" Ya ya ya...beberapa bulan yang lalu, saat aku tau ternyata gadis baik baik itu lebih menyenangkan daripada perempuan liar sepertinya ".
" Hahaha tapi bukankah lebih sulit untuk mendapatkan wanita baik baik dibanding wanita seperti Paula tuan ".
" Sangat sulit Daniel, bahkan membuatku hampir gila, namun hingga kini tetap belum bisa kudapatkan juga. Menjengkelkan bukan ?"
" Sedikit tuan, kau hanya butuh ideku saja agar segera dapat menguasainya hahaha ".
" Hahhh terkadang idemu itu menyesatkan Dan ".
" Tergantung teman, kau ingin yang menyesatkan atau yang bermain cantik. Ideku sesuai pesanan tuan William ".
" Hahaha kau gila Dan, bisa bisa aku ikut ikutan brengsek lagi sepertimu ".
" Hhmmm apakah anda sekarang sudah berubah menjadi sosok yang manis dan menyenangkan tuan ?"
" Hanya sedang berusaha Dan ".
" Yahhh berarti aku tidak bisa senang senang lagi bersamamu seperti dulu ?"
" Aku kali ini bagian sponsornya saja, dan kamulah pemain utamanya hahaha ". Jawab William sembari terbahak.
" Ya ya ya ide bagus juga itu tuan ".
" Ya sudah...aku akan segera tiba di lokasi itu. Nanti akan aku kabari berita selanjutnya Will ".
" Ok Dan, aku sangat mengandalkanmu ".
Kemudian William menutup telfonnya.
" Kau sepertinya gembira sekali mengobrol dengan Daniel Will, apa yang kalian rencanakan sebenarnya ? bukan hal gila untuk membatalkan pernikahanmu kan ?" selidik Mike.
" Jangan khawatir Mike, kalaupun itu memang usahaku untuk menggagalkan pernikahan ini, tapi aku bukan tipe pria yang suka mencari cari kesalahan yang tidak beralasan untuk membalikkan fakta ".
" Hmmm aku harap kau tidak mempermalukan kami di sana nanti ".
" Hhhh kebahagiaankupun kukorbankan untuk menjaga nama baik keluarga kita Mike, jadi kau jangan menyangsikanku ".
" Tapi terkadang kau bertindak di luar kendali jika sedang emosi ", gumam William.
" Kau bicara apa Mike ?? sepertinya kau yang paling tidak suka jika aku gagal menikah dengan Paula. Kenapa ?vkau takut aku akan mengejar Dhea lagi ? Dengan aku menikahi Paulapun aku sudah pernah bilang padamu, aku tidak akan pernah berhenti mengejarnya Mike !!" Teriak William emosi. Kesabarannya sudah habis terhadap Mike.
" Apa kubilang ? lihat kau tidak bisa mengontrol emosimu. Ini yang kau bilang akan menjaga nama baik keluarga ? Bullshit !!"
" Terserah kau Mike ".
" Dan masalah Dhea, aku tidak pernah takut bersaing denganmu, biarkan Dhea yang menentukan siapa yang akan dipilihnya. Aku atau kamu ?"
" Sudah hentikan !!" Teriak papa William sambil menggebrak meja.
" Kalian ini apa apaan ? Hentikan omong kosong ini. Kau William persiapkan dirimu segera. Dan kau Mike ! Jangan terus terusan menyudutkan kakakmu lagi ". Jawab papa mereka tegas.
William dan Mike mundukkan wajah, sedang Bram hanya mengaduk ngaduk minuman di gelasnya, menyaksikan pertengkaran kakak beradik di hadapannya dan sedang memperebutkan sahabat, yang sebenarnya disukainya juga.
" Hmmm benar benar permasalahan yang rumit ", kata Bram dalam hati.