Something different

Something different
Bertengkar dengan Deasy



Pagi itu Deasy terlihat sedang menyisir rambut indahnya di depan cermin. Wajahnya yang cantik terlihat begitu segar, walaupun tanpa polesan make up. Matahari yang mengintip di balik jendela kamarnya, menimpa kulit wajahnya yang putih, menambah sensansi tersendiri bagi seseorang yang memandangnya. Seharusnya itu menjadi daya tarik luar biasa bagi Mike. Bola mata Mike tidak sedikitpun berpaling dari tubuh istrinya yang ada di hadapannya itu. Dia masih bermalas-malasan di atas kasur. Walaupun matahari sudah cukup tinggi, namun udara dingin London yang menusuk kulit, membuat setiap orang enggan untuk meninggalkan kasur empuknya, dibandingkan keluar rumah dan harus berjibaku dengan suhu yang sangat ekstrim itu. Beruntungnya Mike hidup berlimpah harta, sehingga jika tidak keluar rumah, maka dia tidak khawatir kelaparan. Dan walaupun sepanjang musim dingin, dia tetap terus meringkuk di dalam selimut tebalnya.


Diperhatikannya terus wajah sang istri dari kaca yang ada di depannya. Matanya terus menelusuri pemilik wajah yang nyaris sempurna itu. Namun perasaan marah yang berusaha dipendamnya agar tidak meledak, sekuat tenaga dia simpan. Dia ingat kata-kata kakaknya, bahwa memperlakukan seorang istri itu harus memiliki tehnik tersendiri. Perasaannya yang halus, kadang tidak bisa ditebak.


Wanita yang dulu sempat membuatnya kagum dengan sikapnya yang begitu familier, dan sangat dewasa ketika dia pertamakali melihatnya di dalam pesawat, Mike tidak butuh waktu lama untuk memutuskan menikahi wanita mantan pramugari itu.


Cerdas? sudah pasti dia sangat cerdas. Apalagi maskapai dimana dia bernaung adalah maskapai terbaik di negaranya. Sudah tentu tidak sembarangan perusahaannya menerima seorang karyawan yang tidak memiliki kecerdasan di atas rata-rata.


Cantik? jangan ditanya. Fisiknya bahkan bisa disandingkan dengan sekelas miss universe. Karena memang untuk menjadi seorang pramugari, dituntut memiliki wajah cantik juga tinggi badan di atas rata-rata, layaknya seorang foto model yang berlenggak-lenggok di atas catwalk


" Kau lucu, kenapa kau cemburu pada Dhea yang dulunya aku hanya sebatas pernah suka saja padanya. Sedangkan istriku, yang aku pernah hidup dengannya, kau bahkan tidak pernah menanyakannya. Kenapa kau tidak pernah cemburu pada mantan istriku? kau salah sasaran sayang. Cemburumu sungguh tidak masuk akal."


" Hahaha...kau bilang sebatas pernah suka saja? mudah sekali kau mengatakan itu. Kau yang tidak masuk akal sayang."


" Maksudmu?"


" Masak aku kau minta cemburu pada orang yang sudah tidak ada dalam kehidupan kita? bukankah mantan istrimu sudah pergi dan tidak pernah muncul di sini lagi? lalu bagaimana aku bisa cemburu padanya?"


" Ohhhh...begitu ya, jadi jika dia ada di sini kau pasti akan cemburu padanya?"


" Yahhhh...sudah pasti itu. Apalagi dia pernah jadi istrimu, pernah mengisi kehidupanmu, dan pernah tidur denganmu."


" Hemmmm....jika suatu hari dia tiba-tiba muncul di sini, apa yang akan kau lakukan?"


" Aku akan usir dia...!!!"


" Tidak bisa begitu sayang!!!" Mike spontan beranjak dari tidurnya.


" Itu sama saja kau membuat masalah dengannya. Dia pernah jadi menantu di rumah ini, walaupun dia memiliki persoalan denganku, tapi tidak dengan papaku. Itu artinya, dia bisa menemui papa kapan saja dia mau, kita tidak bisa melarangnya." Masih berusaha sabar menghadapi Deasy, walaupun jantungnya berdetak cepat pertanda sedang menahan emosinya.


" Untuk apa menjalin hubungan dengan orang yang berpotensi menjadi sumber masalah dengan rumah tangga kita? Lebih baik tidak usah bertemu sama sekali."


" Jika tiba-tiba dia datang kemari, kau benar-benar akan mengusirnya? kau tidak malu? itu sama saja menjatuhkan harga diri sendiri, secara tidak langsung kau telah menunjukkan karaktermu yang sesungguhnya pada dia."


" Jika memang kau tidak mengijinkan aku mengusirnya, lebih baik kita yang menghindarinya saja, beres kan? kenapa harus pusing? bukankah dia datang hanya ingin menemui papah dan bukan untuk menemui kita?"


" Deasy....aku itu sudah menjadi suamimu, itu artinya sepenuhnya aku sudah menjadi milikmu. Jadi apapun yang menjadi masa laluku, jangan kau permasalahkan. Aku menikahimu karena ingin mengubur semua masa laluku dan memulai hidupku yang baru bersamamu. Aku memilihmu karena aku merasa kau lebih baik dari wanita-wanitaku sebelumnya."


" Apakah itu termasuk juga Dhea?" Mike diam sesaat. Dia tidak bisa menjawab, karena Dhea adalah wanita yang begitu sempurna di matanya. Deasy sekalipun tidak bisa disandingkan olehnya.


" Kenapa kau diam sayang? apakah itu artinya Dhea bahkan jauh lebih baik dariku?"


" Bukan begitu sayang. Aku itu menikah denganmu karena Tuhan yang memilihkan kau untukku. Itu berarti, kau wanita yang memang pantas dan siap mendampingiku. Walaupun banyak wanita di luaran sana yang lebih sempurna ataupun lebih cantik darimu, tapi belum tentu mereka bisa menerima segala kekuranganku seperti kau. Itu artinya kau wanita terbaik untukku sayang."


Deasy tersipu mendengar kata-kata Mike. Sifat wanita yang selalu silau ketika dipuji. Telinga wanita yang sering menjadi titik kelemahan ketika dia mendengar kalimat indah, dan seketika bisa meruntuhkan segala pertahanannya. Mike melihat perubahan mimik muka istrinya, dan berharap hatinya tersentuh mendengar kalimat Mike, lalu mau melupakan rasa bencinya pada Dhea.


" Sayang, kita perbaiki semuanya dari sekarang ya. Lupakan semua rasa bencimu pada wanita di masa laluku. Aku ingin keluarga kita harmonis, aku ingin hidup denganmu selamanya hingga maut memisahkan kita. Aku ingin kau dan aku untuk selalu mengingatkan jika kau melakukan kesalahan ataupun aku yang melakukan kesalahan." Sambil membelai rambut indah Deasy, Mike berharap hati istrinya akan segera melunak


" Wait..!!! apakah itu artinya aku juga harus melupakan rasa tidak sukaku pada Dhea?"


" Bukan hanya pada Dhea saja, tapi pada semua wanita yang pernah menjadi masa laluku."


" Tidak...!!! kau tidak bisa memaksaku!!"


" Kenapa sayang?"


" Sayang, tidak sepantasnya kau cemburu bahkan memusuhinya. Jika Dhea mau, sudah dari dulu-dulu dia menikah denganku, dan tidak memilih kakakku. Itu artinya dia tidak menginginkanku."


" Tapi jika kalian terus bertemu, bukankah kemungkinan besar cinta itu bisa tumbuh lagi?"


" Deasy!!! Dhea bukan wanita seperti itu. Dia itu wanita yang sangat taat pada agamanya, dan sangat mencintai William. Mana mungkin dia mau berbuat sebejad itu denganku."


" Hahaha...sesuci apa sih Dhea itu? apakah dia itu bak malaikat di surga? sehingga tidak akan mungkin melakukan kesalahan?"


" Dan kau? apakah kau bisa menjamin jika terus-terusan bertemu Dhea, kau tidak akan tertarik lagi dengannya?"


" Sayanggg...itulah tugasmu untuk membuatku tidak akan berpaling pada wanita lain. Bukan hanya Dhea, tapi juga wanita di luaran sana."


" Hahhh...apakah kecantikanku, kemolekan tubuhku, serta kecerdasan yang aku miliki ini tidak cukup untuk membuatmu tidak melirik wanita lain? Kurang apa aku di hadapanmu?" sambil sedikit emosi.


" Sayang...fisik yang kau miliki itu sangat sempurna, namun yang perlu kau ketahui, ketika seseorang itu sudah menikah, ada sebuah point penting yang lebih diutamakan dari sekedar kesempurnaan fisik sayang."


" Jadi maksudmu itu tidak penting?"


" Bukan tidak penting. Aku sudah pernah menikah, dan itu gagal. Istriku yang dulupun cantik. Tapi sekarang yang aku butuhkan adalah, bagaimana pasanganku yang sekarang ini bisa mengerti aku, menerima segala kekurangan dan kelebihanku, membuatku selalu nyaman berada di sisinya dengan kelembutan dan kebaikan sifatnya. Dan satu lagi, lupakan semua masa lalu burukku, dan terima aku yang sekarang. Itu sayang yang nantinya menentukan keberlangsungan rumah tangga kita."


" Hemmmm...kau pandai bersilat lidah ternyata." Kata Deasy dengan sedikit mencibir.


" Maksudmu apa?"


" Inti dari semua kalimatmu itu adalah, bahwa kau ingin aku berdamai dengan masa lalumu, itu artinya kau memintaku berbaikan dengan Dhea kan?"


" Bukan hanya dengan Dhea sayang, tapi dengan semua wanita di masa laluku."


" Kau ini sebenarnya lebih memikirkan perasaanku atau perasaan mereka sih? aku ini istrimu, tapi kenapa kau sepertinya justru lebih berpihak pada mereka?"


" Berpihak bagaimana sayang? aku hanya ingin kau hilangkan rasa cemburumu itu. Tidak ada gunanya sayang, justru itu bisa menambah penyakit karena kau pasti akan terus memelihara rasa dendam di hatimu. Sampai kapan kau akan membenci Dhea?"


" Sampai dia menyadari, bahwa dia adalah duri dalam keluarga kita."


" Duri bagaimana? dia itu sudah menikah dengan kakakku, bahkan dia hadir di rumah ini lebih dulu daripada kau. Jika memang dia ingin berbuat macam-macam, tidak perlu menunggu sekarang saat aku sudah menikah lagi. Jika dia mau, sudah dari dulu dia lakukan itu."


" Lagi-lagi kau membelanya!!"


" Aku tidak membelanya, aku hanya memperbaiki jalan pikiranmu yang sedikit aneh itu." Mulai terpancing emosi.


" Aneh katamu!!! kau yang aneh!!! Bukannya membela istri sendiri, malah membela orang lain."


" Ahhhh susah berbicara denganmu. Kau ini pintar, tapi tidak bisa menerima masukan dari orang lain."


" Terserah kau, yang jelas aku hanya ingin menyelamatkan rumah tangga kita!!!"


" Menyelamatkan katamu???"


" Hahhhh...kau justru membuatku jadi semakin sebal padamu." sambil berjalan keluar meninggalkan Deasy, lalu membanting pintu kamarnya dengan keras, tanpa menghiraukan teriakan Deasy.


" Mike......!!! aku belum selesai bicara. Mike!!!!!"