
Tak terasa sudah 3 minggu Dhea berada di kampung halamannya. Dan siang ini dengan diantar kedua orang tuanya, Dhea bersama William bersiap kembali ke London.
" Dhe, ingat pesan kami ya!! Kamu satu-satunya harapan kami, selesaikan kuliahmu dengan baik, dan kembalilah di sisi kami lagi seperti sedia kala saat kami melepasmu pergi nak. " Pesan ayahnya.
" Iya yah, Dhea pasti akan selalu ingat pesan ayah dan ibu. Dhea mohon doa restu dan keikhlasan ayah dan ibu untuk kembali lagi ke London. Percayalah Dhea pasti akan selalu membuat ayah dan ibu bangga."
" Iya nak, tetap jaga nama baik keluargamu dan agamamu di sana ya!" Sambung ibunya.
" Pasti itu bu." Jawab Dhea.
Dhea paham sekali, bahwa saat ini kedua orang tuanya lebih khawatir untuk melepas kepergiannya dibanding dengan sebelumnya, terlebih saat tau adanya permasalahan asmara dalam kehidupan anak mereka satu-satunya, sehingga mereka tidak selesai-selesai memberi wejangan kepada Dhea.
" Nak katakan pada William, ayah ingin tau kesungguhannya padamu, seorang laki-laki sejati tidak akan mungkin mengingkari janjinya. Buktikan jika memang dia benar-benar mencintaimu, karena jika memang benar pasti dia rela berkorban, dan bukan meninggalkanmu."
" Iya yah, nanti akan Dhea katakan padanya."
" Dhea pamit dulu yah, bu, semoga ayah dan ibu sehat selalu, dan nanti bisa menghadiri wisuda Dhea di London."
" Insyaalloh nak, jika masih ada umur panjang, pasti ayah dan ibu akan menyusulmu ke sana." Jawab ibunya.
Kemudian Dhea segera memeluk ayah dan ibunya, dan juga menyalaminya. Williampun ikut menyalami dan pamit pada kedua orang tua Dhea, lalu berjalan masuk meninggalkan mereka berdua dan Dhea mengikuti William yang lebih dahulu mendorong koper yang mereka bawa.
Pesawat yang mereka tumpangi transit dulu sebentar diJakarta, dan pukul 7 malam baru pesawat mulai terbang lagi menuju kota Kelahiran William.
William duduk di samping Dhea yang lebih memilih duduk di samping jendela, karena bisa leluasa memperhatikan pemandangan luar, walaupun sebenarnya hanya hamparan awan yang bisa dilihatnya. Tatapan mata Dhea seolah sedang menyibak gumpalan-gumpalan awan putih yang begitu luas membentang sejauh mata memandang, seperti sedang mencoba menguak misteri yang sedang Alloh rencanakan untuknya.
" Sayang, kenapa sedari tadi kau melamun terus? Aku sedih melihatmu seperti ini. Kau pulang bukannya gembira tapi justru jadi merana."
Dhea hanya diam saja, dan terus menatap awan putih yang bergulung dari balik jendela tempat duduknya.
" Will!"
" Iya?"
" Tadi ayahku mengatakan ingin tau kesungguhanmu, beliau ingin kau membuktikan jika memang benar-benar mencintaiku."
" Ya Dhe, aku tau itu. Aku tidak mungkin bisa menjawabnya sekarang, yang jelas aku tidak akan mungkin ingkar janji." Jawab William.
" Will aku boleh bertanya tidak?"
" Kau mau tanya apa sayang?"
" Apa yang kau rasakan saat ini?"
William menarik nafas panjang.
" Hehhhhh...entahlah Dhe, aku tidak bisa menceritakannya padamu?"
" Itu juga yang aku rasakan saat ini, akupun tidak bisa menggambarkannya padamu Will."
" Sayang....Seandainya kita itu sama."
" Jangan berandai andai Will." Gumam Dhea.
" Nih bantalmu, ini selimutmu, pejamkan matamu, lalu kita tidur saja oke!! Tidak baik terlalu banyak menghayal. Mataku mengantuk, semalam aku tidak bisa tidur." Jawab Dhea sambil memberikan bantal dan selimut yang telah tersedia di atas pangkuan William.
" Heiii...sayang ini masih terlalu sore, kenapa kau sudah tidur?"
" Mengantuk itu tidak kenal pagi ataupun sore tuan. Jadi diamlah dan jangan berisik ya!!"
" Dhea ayolah temani aku!! Dhe...!!" Panggil William merajuk sambil menggoyang goyangkan tubuh Dhea.
" Ahhhh...malas, aku ingin tidur!!" Jawab Dhea sambil terus memejamkan matanya.
" Sayang ayo dong...atau aku akan terus mengganggumu ya...!!!"
" Ihhhh....kau ini!!" Jawab Dhea sambil membenarkan posisi duduknya kembali.
" Nih aku tidak jadi tidur!! Apa coba sekarang yang ingin kau ceritakan padaku? Jika tidak menarik aku akan tidur kembali ya!!" Ancam Dhea.
" Hahaha nah ini baru Dhea asli yang kukenal."
" Hei kau pikir kemarin bukan diriku yang asli?"
" Hahaha bukan begitu sayang, hanya saja kemarin aku telah kehilangan keceriaanmu, apalagi sikap galakmu itu tiba tiba musnah saat di sana."
" Itu karena ada ayahku yang bisa melindungiku di sana, sedangkan sekarang aku harus bisa menjaga diriku sendiri dari rayuan mautmu ya!!" Jawab Dhea.
" Dhea...Dhea seandainya kau itu jadi burung, aku ingin menjadi angin yang senantiasa berada di setiap kepakan sayapmu." Kata William berangan angan.
" Hihihi...kenapa jadi mirip lirik lagu group band Padi, atau jangan-jangan mereka sebenarnya bersaudara?" Bathin Dhea sambil tertawa dalam hati.
" Kau jadi angin Will? Berarti kentut dong?" Canda Dhea.
" Kok kentut sih Dhe?"
" Ya kan kentut itu dihasilkan oleh angin."
" Kau ini Dhe, apa tidak ada yang lebih mulia daripada kentut sih?" Gerutu William.
" Kentut juga itu mulia Will, manusia itu tanpa kentut, ibarat aku tanpa kamu Will hahaha." Kata Dhea sambil terbahak.
" Dhea...hehhh...tidak jadi romantis kan." Gerutu William sebal, walaupun sebenarnya hatinya sangat lega bisa melihat wajah kekasihnya itu kembali ceria, dan tidak sesuram sebelumnya.
" Dhe, aku senang bisa melihatmu tersenyum lagi." Kata William pelan sambil menatap mesra pada wanita di sampingnya itu.
" Hehhhh....mau bagaimana lagi Will, jika diratapi terus meneruspun lama-lama wajahku jadi tidak menarik lagi, seandainya nanti aku putus denganmu aku bisa rugi karena pasti tidak ada laki-laki yang mau mendekatiku lagi hahaha!!"
William diam, dia tau kekasihnya itu sedang menghibur dirinya sendiri, walaupun sebenarnya jauh di lubuk hati Dhea yang paling dalam begitu sakit. William melihat ada kegetiran dalam tawa Dhea yang sepertinya sedang berusaha melepaskan beban yang sedang dihadapinya.
Perlahan William menarik kedua tangan Dhea, dan memegang erat dalam genggamannya
" Sayang....menangislah jika kau ingin menangis, aku tau tawamu itu hanya untuk mengalihkan rasa sedihmu bukan?" Kata William sambil menatap kedua bola mata Dhea.
Dhea segera menghentikan tawanya. Ternyata William mengetahui semua sandiwara yang sedang diciptakannya. Dhea membalas tatapan mata kekasihnya itu, perlahan air matanya jatuh satu persatu dan tidak bisa dibendungnya lagi. Tangisnya pecah saat itu juga di hadapan pria yang begitu dicintainya namun sulit untuk bersatu dengannya. Padahal dia sendiri kemarin yang bilang pada William agar laki-laki itu bisa ikhlas untuk melepaskannya, namun ternyata diapun tak sanggup menghadapi ini semua. Terkadang manusia memang begitu, hanya padai berbicara saja namun belum tentu dia bisa menjalaninya.