
Akhirnya jadwal operasi hari itu berjalan lancar. Dhea masuk ke dalam ruangan tanpa ragu. Dia meminta doa terlebih dahulu dari suami juga kedua orang tuanya. Ada harapan di hatinya agar bayi itu bisa selamat dan mendapat mukjizat dari Tuhan, walaupun mungkin itu hanya 0,00%. William dan kedua mertuanya menunggu dengan tegang di depan ruangan operasi. Sebentar-sebentar William berdiri dari duduknya, berusaha mengintip apa yang sedang dilakukan terhadap istrinya, namun rapatnya ruangan operasi tersebut dari segala macam celah yang dapat memantau setiap mata mengintip dari luar, tidak berhasil membuat William mendapatkan informasi sedikitpun mengenai aktivitas di dalamnya. Akhirnya dia hanya berjalan mondar mandir kesana kemari seperti orang bingung, dan jika lelah dia duduk kembali, namun sebentar kemudian berdiri lagi. Kedua mertuanya hanya saling berpandang-pandangan melihat menantunya itu yang tidak bisa duduk tenang.
" Nak Will, tenanglah. Semua pasti baik-baik saja." Kata ayah Dhea yang merasa kasihan dengan menantunya itu.
" Saya tidak bisa tenang, sebelum mendengar sendiri keadaan istri saya dari dokter ayah." Jawab William.
" Biar saja ayah, dia pasti sedang mencemaskan Dhea." Kata ibu Dhea mencoba menengahi.
Sementara itu di dalam ruang operasi Dhea terus berdzikir menyebut asma Allah. Tubuh bagian bawahnya memang dibius, tapi dia masih sadar, dan masih bisa mendengar dan merasakan pergerakan bagaimana dokter merobek perutnya, serta mengeluarkan bayinya dari dalam rahimnya. Benar-benar pengalaman yang menyeramkan bagi orang yang mungkin baru pertamakali merasakannya. Namun itulah perjuangan wanita, yang bahkan mempertaruhkan nyawa sendiri demi si buah hati.
Dhea mendengar dengan jelas obrolan orang-orang yang sedang menyayat perutnya. Kalimat-kalimat dokter yang begitu ngeri di telinganya, yang meminta bantuan para dokter mulai dari jarum, gunting bedah, dan peralatan medis lainnya yang menurutnya lebih mirip dengan peralatan untuk mencabut nyawa.
Dhea tidak mengingat berapa lama dia terbaring di situ, yang pasti dia bisa melihat dengan sangat jelas saat suster mengangkat bayinya yang masih sangat kecil, bahkan ukurannyapun mungkin tidak sampai 30 cm. Dan salah seorang dari petugas medis itu mengatakan bahwa jenis kelamin anaknya adalah perempuan. Dhea sudah bisa membayangkan, pasti wajah anaknya itu sangat cantik, terlebih jika mirip dengan suaminya yang sangat tampan itu.
Dhea melihat bagaimana bayinya masih terlihat penuh darah, bahkan dia tidak tau apakah buah hatinya itu bisa bertahan hidup atau tidak. Yang jelas saat itu suster langsung bertindak cepat membersihkan bayi tersebut, dan langsung memasukkannya ke dalam inkubator, juga memasang beberapa peralatan untuk membantu pernafasan. Karena kondisi paru-parunya yang memang belum matang dengan sempurna. Saat itu Dhea menitikkan air mata. Dia tidak merasakan lagi, entah apa yang dilakukan dokter terhadap perutnya saat ini, yang pasti pandangan terus mengikuti suster yang tadi membawa bayinya. Dia ingin sekali memeluknya barang sejenak, seperti sewajarnya ibu-ibu yang baru saja melahirkan, namun entah mengapa suster tersebut tidak memberikan padanya, ataukah mungkin kondisi anaknya yang tidak memungkinkan untuk terlalu lama berada di luar ruangan seperti sekarang ini?
" Nak bertahanlah, mama dan papa sangat mengharapkanmu. Pleas jangan menyerah...!!!" Jerit Dhea dalam hati diiringi doa yang terus dibisikan dalam setiap hembusan nafasnya. Dia terus memohon pada Allah, agar bisa memberikan kesempatan hidup pada bayinya yang masih sangat muda itu.
Setelah bayi yang dikandung Dhea telah dikeluarkan, dengan cekatan dokter segera menyelesaikan tugasnya kembali untuk menutup luka di perut Dhea.
Dhea tidak perduli dengan apa yang dilakukan para petugas medis itu. Dia hanya perduli dengan anaknya ya anaknya.
Kurang lebih satu jam William mondar-mandir di depan ruang operasi, dan perlahan pintu terbuka. Dokter Sherli terlihat keluar. William segera menyambutnya, kedua orang tua Dheapun bergegas beranjak dari duduknya.
" Bagaimana keadaan istri saya dokter?" Tanya William antusias.
" Semuanya berjalan lancar tuan, dan sekarang perawat sedang mengganti pakaiannya, untuk kemudian memindahkan dia di kamar inap."
" Alhamdulillah...!!!" kata William. Wajahnya yang semula tegang berangsung-angsur mulai normal kembali.
" Dia masih bisa diselamatkan kan dok?" Tanya William lagi, berharap Dokter Sherli bisa memberi jawaban yang memuaskan.
" Harapannya sangat kecil tuan. Denyut jantungnya tidak normal, karena memang belum seharusnya dia lahir ke dunia ini."
" Lalu???"
" Saat ini kami meletakkan bayi anda di dalam inkubator, dan memasangkan alat untuk membantu pernafasannya."
William langsung menunduk sedih, walaupun sebenarnya hal ini sebelumnya sudah diberitahukan oleh Dokter Sherli, namun tetap saja dia tidak tega melihat bayi kecil mereka yang sudah pasti sangat menderita dengan yang dialaminya. Ayah mertuanya langsung mendekatinya dan menepuk nepuk pundaknya untuk menguatkan hati sang menantu.
" Dokter apakah kami sudah bisa melihat bayi itu?" Sambung ibunya.
" Silahkan bu, anda langsung saja ke ruangan khusus bayi." Jawabnya.
" Nak William, kami kesana sebentar ya, nanti kami akan menyusulmu ke ruangan Dhea."
" Ya bu silahkan."
Tanpa menunggu waktu lama orang tua Dhea langsung menuju ke ruangan tersebut. Sedangkan William tetap menunggu hingga Dhea keluar dari ruangan operasi, dan dipindahkan ke ruangan khusus rawat inap.
Dengan mudah kedua orang tua Dhea menemukan letak ruangan bayi itu. Namun ruangan tersebut steril dan tidak boleh ada sembarangan orang bisa masuk, kecuali petugas. Melalui jendela kaca mereka bisa melihat dengan jelas cucu mereka yang berada di dalam inkubator, dan seperti yang dikatakan oleh Dokter Sherli, tubuh bayi yang amat mungil itu ditempeli beberapa kabel dan juga alat untuk membantu pernafasan. Orang tua Dhea, terutama ibunya tak kuasa melihat pemandangan tersebut. Bayi cantik yang tidak berdaya, ingin hidup dan menghirup udara saja harus dibantu oleh sebuah peralatan yang sangat menyiksanya. Tak kuasa air mata ibu Dheapun mengalir deras, spontan sang suami langsung memeluknya.
" Yah...kasihan cucu kita." Kata ibu Dhea sambil terisak. Matanya tak kuasa lagi melihat pemandangan di depannya itu. Sementara bayi-bayi lain terlihat tertidur lelap di dalam box dengan wajahnya yang tenang, bahkan hanya dilindungi oleh sebuah selimut saja, sedangkan cucunya berada di sebuah kotak kaca bening yang tidak bisa terjangkau oleh siapapun.
" Iya bu, yang tabah ya. Allah pasti akan berikan yang terbaik buat dia." Jawab aya Dhea yang terlihat lebih tegar.
" Ya sudah ayo kita segera kesana lagi, Dhea pasti sudah keluar dari ruangan operasi. Kita serahkan semua pada yang di atas." Ibu Dhea tidak menjawab apa-apa dan hanya mengikuti langkah suaminya. Dia menengok sebentar ke arah cucunya lagi, dan kemudian pergi walaupun tetap dengan berat hati.