Something different

Something different
Pengacau



Di sebelah apartemen Dhea tersedia sebuah retoran besar yang juga dimiliki oleh William. Jika sedang tidak malas Dhea sering makan sendirian di restoran itu, namun sebaliknya jika dia sedang malas, maka dia hanya memesan nya melalui pegawai William yang ada di apartemen itu. Siang ini Dhea ingin menikmati makan di restoran tersebut, kebetulan setelah mengantar Dhea pulang tadi, William langsung kembali ke kantornya karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.


Sementara itu terlihat 2 orang pria dan wanita sedang berada di dalam mobil membicarakan sebuah rencana penting.


" Kita tunggu saja dia, aku yakin sebentar lagi dia akan masuk ke dalam restoran itu, karena William tidak menemaninya siang ini." Kata sang wanita yang sepertinya lebih mendominasi obrolan mereka.


" Kau sudah paham kan rencana yang kita bicarakan kemarin?" Tanyanya lagi pada pria di sebelahnya.


" Ya tenanglah, aku tidak terlalu bodoh untuk bisa mencerna kata-katamu. Yang penting kau jangan lupa bayaranku, jika tidak aku akan bongkar semua rahasiamu!!" Kata laki-laki itu menimpali.


" Kau belum bekerja sudah membicarakan bayaran, jika misi kita berhasil aku akan langsung membayarmu. Tapi jika tidak, aku tidak akan pernah memberikan uang sepeserpun padamu! Ingat itu!!"


" Hahaha...tugasmu itu terlalu mudah buatku nyonya!!"


" Hehhh...kau buktikan saja kata-katamu jangan terlalu sombong dulu." Jawab sang wanita lagi.


Perlahan-lahan Dhea terlihat keluar dari apartemennya dan berjalan menuju restoran tersebut.


" Itu dia baru keluar dari apartemennya!! Cepat ikuti dia!!" Perintah wanita itu pada pria yang ada di sebelahnya.


Laki-laki tersebut buru-buru keluar dan mengikuti Dhea di belakangnya, namun dia mengambil jalan memutar, dan melalui pintu lain yang berseberangan dengan pintu masuk yang dilewati Dhea.


Saat Dhea sedang berjalan masuk, pria tersebut segera menyambutnya melalui arah yang berlawanan, dan berakting sedang pura-pura menelfon, lalu dengan sengaja menabrakan diri pada Dhea, hingga tubuh kurus Dhea oleng dan hendak terjatuh. Namun cepat-cepat pria tersebut memeluk tubuh Dhea dan pura-pura melindunginya, walaupun itu mungkin hanya gerakan refleks namun posisi tersebut sangat tidak menguntungkan Dhea.


Dhea segera mendorong tubuh pria tersebut untuk melepaskan diri dari pelukannya.


" Ohhh maaf nona, saya tidak sengaja." Kata pria itu.


" Iya tidak masalah." Jawab Dhea singkat.


Lalu meninggalkan pria tersebut, tanpa mau memperpanjang urusan itu lagi. Dhea memilih sebuah kursi kosong, kemudian mendudukinya dan memesan makanan pada seorang pelayan. Setelah itu Dhea asyik mengotak atik androidnya.


Setelah pria itu sudah berhasil menjalankan rencananya, dia langsung saja keluar dan kembali ke dalam mobil yang sedari tadi terparkir di depan jalan tidak jauh dari restoran tersebut. Seorang wanita terlihat berjalan santai menghampirinya, wajahnya terlihat sumringah.


" Hemmm...dari wajahmu yang ceria itu pasti kau telah berhasil mendapatkan gambar dengan anggle yang bagus kan?"


" Hahaha...posemu tadi sungguh menggoda Dav...!!"


" Hahaha...berarti aku sangat pantas untuk menjadi pemain film ya!"


" Yahh...dan kau sebagai pemeran antagonis ya hahaha."


" Hemmm kau boleh menikmati kegembiraanmu, tapi mana bayaranku? Kau belum lupa kan?"


" Kau ini, uang saja yang kau pikirkan!"


Kemudian wanita itu mengambil uang dari dalam tasnya.


" Nih...!!" Kata dia.


Lalu pria yang dipanggil Dav itu menghitung uang yang baru diterimanya itu, kemudian dia mengernyitkan dahinya.


" Heiii...kenapa jumlahnya tidak sesuai dengan yang kau janjikan padaku?" Katanya.


" Tugasmu itu belum selesai, masih ada yang harus kau kerjakan lagi!"


" Tapi itu tidak pernah kita bicarakan sebelumnya, kau ingin mempermainkanku?"


" Siapa bilang aku ingin mempermainkanmu? Laki-laki itu tidak akan mungkin begitu saja percaya hanya dengan foto-foto ini."


" Lalu?" Tanya Dave.


" Aku ingin kau benar-benar berakting langsung di hadapan pria itu."


" Lalu kapan waktunya?"


" Tunggu saja, aku harus mengolah William dulu. Setelah semua berjalan sesuai rencanaku, baru aku akan menghubungimu lagi."


" Ok, aku pegang kata-katamu, jika tidak kau sendiri yang akan kuolah nyonya!" Ancam wanita itu.


" Aku ini sudah lama berkecimpung dalam dunia hitam nyonya, sebenarnya tugas yang kau berikan ini ini hanya pekerjaan recehan, dan kemampuanku lebih dari itu. Aku bukan hanya bisa membuat dua orang itu berpisah secara fisik saja, bahkan lebih menyeramkan daripada itu. Karena aku tidak sungkan-sungkan bermain kasar, kau paham itu!!" Kata pria tersebut seolah sedang menakuti wanita di depannya.


" Aahhh...sudahlah jangan banyak bicara, yang penting aku itu ingin buktinya!!" Kata perempuan tersebut seolah tidak jera dengan gertakan pria di depannya.


" Ok aku tunggu telfonmu secepatnya, karena kau masih berhutang padaku!!" Kata pria itu lagi sambil keluar dari mobil.


" Hehhh dasar penjahat, mau berakting seperti apa saja tetap saja penjahat." gerutu wanita tersebut sambil menstarter mobilnya, kemudian meninggalkan tempat itu.


Sementara itu William terlihat masih mengobrol dengan Daniel di dalam ruangan kantornya.


" Jadi seperti itu Will ceritanya?"


" Ya Dan, dan hubunganku dengan Dhea sekarang sedang berada di ujung tanduk." Jawab William sambil berjalan mendekati kaca lebar yang ada di belakang kursinya.


" Hehhh...kalian berdua tidak ada yang mau mengalah." gumam Daniel.


" Mengalah itu gampang Dan, tapi konsukensinya yang berat untuk dihadapi!" Jawab William.


" Hahhhh kau bicara masalah konsekuansi? Jika kau memang mencintai Dhea, pasti kau bisa menerima konsekuensi itu seberat apapun!!"


" Tidak segampang itu Dan, ini bicara masalah agama, masalah kepercayaan, bukan hal untuk main-main!"


" Ya aku tau Will, pasti akan sulit untuk memulai semua itu dari awal, sedangkan kau sama sekali belum pernah mengetahuinya kan."


" Nah itu kau paham."


" Dulupun kau tidak pernah memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan agamamu bukan?"


" Itulah Dan, masak aku mau mengulangi kesalahan yang sama, lalu apa bedanya aku dulu dengan sekarang?"


" Hemmmm....otakmu sepertinya sudah mulai benar Will?"


" Hahh kau pikir dari dulu otakku salah?"


" Tidak salah sih cuma sedikit bergeser hahaha."


" Ya seperti kau saat ini Dan."


" Hahaha...tapi aku tidak pernah merana karena cinta Will."


" Tapi cinta juga yang mampu merubah masa laluku yang kelam Dan."


" Asalkan kau siap saja dengan akibat terburuk yang hendak kau hadapi ini Will?"


" Ya...harus itu." Jawab William pelan.


" Lalu maumu bagaimana?"


" Aku ingin jika memang ditakdirkan berjodoh dengan Dhea, bisa menjadi suami yang baik untuknya."


" Maksudmu?"


" Ya jika memang aku harus menganut agamanya, aku ingin itu karena keinginanku sendiri dan bukan paksaan dari orang lain."


" Bukan juga karena Dhea?" Tanya Daniel menegaskan.


" Bukan Dan, tapi karena panggilan jiwaku sendiri."


" Wooowww...hebat sekali!!! Jadi sekarang panggilan jiwamu kemana?"


" Aku belum bisa memberitahukannya padamu, ini menyangkut hubunganku dengan Tuhan, dan hanya aku dan Dia saja yang tau."


" Hehhh...kita lihat saja nanti, jika memang kau tetap mempertahankan keputusanmu itu, jangan panggil aku, lalu kau menangis-nangis di pundakku jika kau terpuruk karena kehilangan Dhea."


Kata Daniel lagi.


" Hehhh....ya semoga saja itu tidak terjadi." Gumam William.