
" Sayang.....heiii bangun...!!" Kata William sambil menggoyang-goyangkan tubuh istrinya pelan, yang setelah sholat subuh tadi kembali tertidur.
" Hoammmmm......aku masih mengantuk sayang." Jawab Dhea malas-malasan.
" Ya sudah aku pergi ya, aku ingin melihat kondisi kantor dulu. Kau tidak ingin ikut?"
" Tidak sayang, aku di sini saja." Jawab Dhea.
" Ya sudah, jika kau lapar telfon saja pegawaiku ya?"
" Iya sayang." Jawab Dhea.
" Aku pergi ya." Kata William.
" Hati-hati di jalan." Jawab Dhea sambil terus memejamkan matanya.
" Hei nak, jaga mamamu ya, papah cari uang dulu agar kau tidak kelaparan di dalam situ." Kata William sambil mendekat ke perut Dhea. Dhea hanya tersenyum saja melihat kelakuan suaminya itu.
" I love you." Kata William sambil mencium pipi istrinya.
" Love you to." Jawab Dhea singkat. Matanya begitu berat untuk dibuka. Padahal kemarin dia bilang kepada suaminya, bahwa rasa lelah lamanya perjalanan yang mereka tempuh sudah terbayar dengan rasa senangnya bisa tinggal di apartemen itu lagi, namun kondisi badannya yang sedang hamil muda tidak bisa menipunya.
William segera meninggalkan istrinya seorang diri yang sedang tertidur di dalam kamarnya, supirnya Simon telah menunggunya di depan sedari tadi.
" Selamat pagi tuan!" Sapa Simon sambil membukakan pintu pada tuannya itu.
" Selamat pagi Simon!" Jawab William sambil masuk ke dalam kendaraan pribadinya itu. Kemudian Simon segera naik di belakang kemudi, lalu mengantarkan William ke kantornya.
" Bagaimana kabar anda tuan?" Tanya Simon membuka pembicaraannya di dalam mobil.
" Aku baik Simon. Bagaimana denganmu dan pegawai lainnya di rumah?" Tanya William.
" Kami semua baik tuan."
" Apakah hak-hakmu sudah dibayarkan tepat waktu oleh adikku?" Tanya William lagi.
" Ohhh kalau itu Tuan Mike tidak pernah terlambat membayarnya."
" Bagus kalau begitu." Jawab William singkat. Kemudian dia terlihat mengotak atik hpnya untuk menelfon seseorang.
" Hallo teman, tumben sepagi ini kau menelfonku!!" Jawab orang di seberang sana. Ternyata itu adalah Daniel.
" Kau sedang dimana Dan?"
" Aku sedang di kantor Will, ada apa?"
" Ohhh tidak apa-apa, aku hanya ingin tau saja apakah selama kutinggal kau mengurusi perusahaanku dengan baik." Jawab William lagi.
" Tenang saja teman, aku tidak akan membuatmu bangkrut dan jatuh miskin.
" Hahaha....kau tidak akan mungkin membuatku bangkrut teman, karena kau hanya menghandle seperempat saja asetku, dan lainnya bisa aku urus sendiri walaupun aku di Indonesia, kau lupa bahwa sekarang semua teknologi sudah canggih?"
" Ya ya ya, jika masalah ilmu, aku tidak akan mungkin bisa bersaing denganmu teman." Jawab Daniel lagi.
Tiba-tiba pintu ruangan William yang sekarang sudah ditempati Daniel diketuk dari luar.
" Hei teman maaf ya, sepertinya ada seseorang yang mengetuk pintu ruanganku, nanti kita sambung lagi ya?"
" Ok Dan selamat bekerja." Jawab William.
William memang sengaja tidak memberitahukan kedatangannya pada Daniel dan karyawan lainnya, dia ingin mengetahui kondisi perusahaannya apakah masih berjalan normal saat ditinggalkannya atau tidak.
" Masuk!!" Jawab Daniel melalui microphone di mejanya. Ternyata yang datang adalah Hellen, pegawai William yang selalu berpenampilan seksi.
" Oooohhh ternyata kau Hellen!! Wanita terindah satu-satunya di dalam kantor ini. Masuklah cantik!!" Kata Daniel mulai mengeluarkan jurus mautnya.
Hellen hanya senyum-senyum saja, bos barunya ini sangat berbeda dengan William. William yang bersikap sangat dingin padanya, bahkan tidak pernah mau meliriknya sedikitpun, walaupun dia telah berulang kali berusaha menggodanya.
" Tuan, ini laporan yang tuan minta sudah selesai saya kerjakan." Kata Hellen sambil berdiri.
" Duduklah dulu, tidak usah terburu-buru. Kau tau kan aku tidak suka jika suatu pekerjaan itu dilakukan secara terburu-buru maka hasilnya tidak akan maksimal." Kata Daniel sambil berdiri dari duduknya dan memutari tubuh Hellen sambil mengamatinya dari atas ke bawah.
" Kau semakin hari semakin seksi saja Hellen, sepertinya kau sangat pintar untuk memilih pakaian yang pas di tubuhmu ini." Kata Daniel sambil berbisik di telinga Hellen.
" Ahh tuan, kau berlebihan memujiku." Jawab Hellen malu-malu.
" Benar Hellen, sepertinya aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan isi hatiku ini padamu, karena setiap hari bayangan wajahmu itu selalu menari-nari dalam khayalanku." Kata Daniel sambil mulai berani membelai rambut Hellen.
" Tuan, anda sangat berbeda dengan Tuan William." Jawab Hellen.
" Memang kenapa dengan dia?"
" Dia tidak pernah menggoda saya seperti anda." Jawab Hellen.
" Hahaha....dia itu mungkin ingin menjaga image sebagai pimpinan di perusahaan ini, jadi dia tidak ingin menjalin hubungan dengan salah satu karyawannya."
" Tentu saja! kenapa tidak? jika kita berdua sama-sama saling menyukai kenapa harus saling jual mahal? aku itu orang yang tidak pandai berpura-pura sayang." Jawab Daniel.
" Apakah itu maksudnya anda itu memiliki perasaan pada saya tuan?"
" Jangan panggil aku tuan, karena tidak ada seorang pria menyuruh calon pasangannya untuk memanggil dengan sebutan tuan, Hellen. Panggilah aku Daniel saja jika kita sedang berduaan ya?"
" Iya tu...eh Daniel." Jawab Hellen malu-malu.
Padahal saat itu hatinya sangat berbunga-bunga bisa mendapatkan tempat di hati seorang bos besar, walaupun Daniel itu hanya sebagai tangan kanan William, namun saat ini dialah pemegang tangkup pimpinan tertinggi perusahaan tempat dia bekerja sekarang ini.
" Hellen..." Kata Daniel sambil memegang bahu wanita di sebelahnya itu, kemudian menarik tubuh sintal wanita itu untuk menghadapnya.
" Kamu sekarang adalah pasanganku, aku mau kamu menjadi kekasihku. Kau bersedia kan?" Tanya Daniel.
" Apakah tuan...eh kamu serius menyukaiku?"
" Ya Hellen, aku itu sangat menyukai wanita yang berhasil membuat pandanganku tak pernah beralih padanya."
" Hemmmm....sepertinya kau sangat pandai merayu." Jawab Hellen.
" Hahaha....aku tidak sedang merayumu, tapi aku sedang berusaha untuk mendapatkan tempat di hatimu."
" Bagaimana? kau mau kan menjadi milikku?"
" Menjadi milikmu bagaimana maksudnya?" Tanya Hellen meyakinkan.
" Menjadi milikku semuanya, hatimu, tubuhmu, perasaanmu, cintamu, semuanya untukku sayang." Jawab Daniel sambil mendekatkan wajahnya kepada wajah Hellen.
Pesona Daniel yang besar tidak bisa ditolak Hellen, walaupun sebenarnya laki-laki itu tidak setampan William, namun kepandaiannya dalam merayu wanita tidak bisa diremehkan juga.
Saat mereka sedang asyik bercumbu, tiba-tiba saja pintu dibuka dari luar. Otomatis Daniel dan Hellen terkejut, karena yang masuk adalah William, bos besar mereka. Hellen terlihat salah tingkah dan kemudian permisi untuk meninggalkan ruangan bosnya.
" Heiiii...Will....apa kabarmu? Kenapa kau datang tidak memberitahuku dulu???" Tanya Daniel seperti tidak terjadi apa-apa.
" Aku sengaja tidak mengabarimu, karena aku ingin tau kesibukanmu di sini dalam mengurus perusahaanku. Ternyata kau malah bermesraan dengan Hellen di sini." Jawab William sambil melemparkan tubuhnya di atas sofa.
" Hahaha....ahhh itu hanya hiburan saja, agar tidak terlalu stres bekerja teman." Bela Daniel.
" Ya, tapi aku tidak suka kau melakukannya di dalam ruangan ini. Untung saja aku tadi tidak membawa istriku, seandainya saja dia tau, sudah pasti dia memintaku memecatmu." Jawab William.
" Hahaha jangan begitu teman, kau tau kan aku selalu profesional dalam menjalankan pekerjaanku, kau tidak usah khawatir aku tidak akan mengabaikan tugasku."
" Tapi jika kau menjalin hubungan dengan salah satu karyawanku, kau tidak akan mungkin bisa lagi bersikap profesional Daniel. Dulu Hellenpun selalu menggodaku, tapi aku bisa menahannya, dan sekarang dia malah ganti menggodamu. Kau tau kan type wanita seperti apa dia? Kau bilang kau mau aku mendoakanmu agar segera bisa mendapatkan wanita pendamping untuk hidupmu, tapi kau malah menjalin hubungan dengan wanita seperti dia."
" Ya benar teman, tapi selagi aku belum mendapatkannya boleh kan aku bersenang-senang dulu?"
" Boleh saja, tapi tidak dengan Hellen." Jawab William.
" Kenapa Will?"
" Karena itu akan mengganggu cara kerja kau dan juga dia, Dan."
" Untuk kali ini kau kumaafkan, tapi tidak dengan Hellen, karena dulupun aku sudah pernah mewanti-wantinya. Entah apa niat dia selalu menggoda orang yang duduk di belakang kursi ini?" Kata William.
" Aku akan membuatkan surat resign untuk dia, ini sudah keputusanku. Maaf aku harus melakukannya, demi keberlangsungan perusahaan ini, dan kau tau kan aku tidak pernah memiliki tujuan buruk padamu? ini semua demi kebaikan kita bersama, Dan."
" Iya Will, aku tau." Jawab Daniel pasrah.
" Dan satu lagi, tolong jangan pernah bermesraan lagi di dalam ruangan ini, karena aku memiliki tanggung jawab terhadap kesucian tempat ini juga. Dari tempat inilah aku memberi makan istri dan calon anakku nanti. Aku tidak mau ada kegiatan maksiat dalam usahaku untuk menghidupi mereka, karena uang yang kupakai nanti akan mengalir di dalam darah mereka. Kau paham kan Dan?"
" Iya Will, aku paham. Sekali lagi maafkan aku."
" Ya Dan, aku maafkan. Kau boleh tetap menjalin hubungan dengannya tapi di luar perusahaan ini, itu lebih aman buatmu."
" Oh ya bagaimana kabarmu? setelah aku tinggal belum lama ini, apakah ada kemajuan yang significant denganmu?" Tanya William berusaha mencairkan suasana.
" Kemajuanku atau kemajuan perusahaan ini?" Jawab Daniel mencoba memperjelas pertanyaan William.
" Hahaha tentu dua-duanya teman. Jika kabar orang yang mengurusinya saja tidak baik, bagaimana dengan kabar perusahaanku? pasti tidak pernah terurus."
" Tenang saja teman, kau tau Daniel kan??? Orang yang mempunyai seribu akal untuk tetap membuat usahamu ini berada di atas angin, kubuat seluruh klien-klien untuk terus bergantung dengan kita."
" Hahaha bagus, tapi ingat kau tidak boleh mematikan mereka, kita itu bekerjasama teman, dan bukan untuk membuat mereka gulung tikar. Aku tidak mau gara-gara kau ingin memajukan usahaku, lalu kau memadamkan dapur tetangga, aku tidak mau berbahagia di atas penderitaan orang lain ya." Jawab William.
" Wuiiiihhhhh....perubahanmu sangat drastis sekali, dulu kau bahkan tidak segan-srgan membuat lawanmu mati kutu, tapi sekarang kau seperti malaikat penyelamat buat mereka Tuan William."
" Itu dulu Dan, saat aku masih hidup di jaman purba. Tapi sekarang aku sudah memiliki pedoman hidup yang aku panuti. Tidak ada rizki yang lebih nikmat selain rizki yang berkah dan diridhoi olehNya."
" Ckckck....Hebat sekali...cinta bisa merubahmu seperti ini teman."
" Bukan cinta Dan, tapi hidayah. HidayahNyalah yang berhasil merubahku. Kau belum merasakannya sih, jadi aku tidak bisa menceritakan secara detail padamu."
" Tidak perlu teman, secara kasat matapun aku sudah tau. Yang jelas aku ikut senang kau jadi berubah seperti ini." Jawab Daniel sambil memegang pundak William.