
" Sayang..." panggil Dhea di kamar, saat mereka telah selesai bercengkerama bersama keluarga William.
" Iya ada apa?" Tanya William sambil mendekati Dhea yang sedang tiduran di kasur. Ditariknya tubuh istrinya dan meletakan kepalanya di pangkuannya.
" Aku merasa Deasy seperti tidak menyukaiku. Ada apa ya? padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi dia sepertinya tidak menghendaki kehadiranku di rumah ini." Sambil mengenggam tangan suaminya.
" Itu hanya perasaanmu sayang. Mungkin karakter Deasy memang seperti itu. Kita belum mengenalnya saja, jadi belum paham sifatnya."
" Sayang, Daniel saja merasakannya, kenapa kau tidak? alu bisa membedakan antara orang yang suka dengan kita dan ysng tidak."
" Aku hanya tidak ingin bersuudzon sayang. Apa yang ada di pikiran kita, itulah nanti yang akan menjadi nyata..Jadi positif thinking saja ya."
" Yaaa....mudah-mudahan sih pikiranku salah terhadap Deasy, dan benar katamu, mungkin itu sudah menjadi karakternya."
" Ya sudah, ayo kita tidur sayang!" ajak William. Kemudian mereka langsung membenahi posisinya masing-masing dan menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Sebenarnya perasaan Williampun sama dengan apa yang dirasakan Dhea, hanya saja dia tidak mau menunjukkan pada istrinya agar tidak semakin membebani pikiran Dhea. Dia sendiripun bingung, Deasy semalam sepertinya sangat ingin menyudutkan Dhea di depan orang-orang, terlebih setelah tau Dhea kehilangan bayinya, dia seperti mendapatkan senjata ampuh untuk menekan Dhea terus. Untungnya istrinya itu bisa mengontrol emosinya, padahal dia sangat tau, istrinya itu sangat tidak suka jika dibahas mengenai bayinya yang meninggal. Tapi Deasy justru sengaja terus memana-manasi Dhea.
Sementara itu Deasy dan Mike yang juga berada di dalam kamar mereka, terlihat sedang mengobrol berdua.
" Sayang, bagaimana perasaanmu setelah melihat kedatangan Dhea?" tanya Deasy sambil membenahi pakaian tidurnya yang baru saja dikenakannya.
" Bagaimana apanya?"
" Ya kan kau pernah memperebutkan wanita itu dulu?"
" Itu kan dulu sayang, dan sekarang cuma kamu yang aku cintai."
" Tapi pasti masih ada perasaan berdebar di dadamu jika melihatnya bukan?"
" Sayang...sudahlah jangan bahas itu lagi, ini sudah malam, itu juga hanya sekedar masa laluku. Dheapun sekarang sudah menjadi istri kakakku. Mereka berdua saling mencintai, mana mungkin aku memiliki perasaan lagi terhadapnya?"
" Tapi aku tetap tidak percaya jika kau sudah tidak memiliki perasaan padanya. Minimal hatimu pasti berdesir jika melihatnya kembali." Deasy tetap tidak puas dengan jawaban yang diberikan Mike.
" Ooohhhh...iya..iya...aku paham sekarang dengan apa yang dikatakan Daniel. Jadi ini maksud kalimatnya tadi. Kau tidak suka ya dengan Dhea?"
" Ya, aku tidak suka karena kalian pernah saling mencintai."
" Bukan saling mencintai sayang, tapi akulah yang menyukainya."
" Hahhhhh...jadi kau yang menyukainya?"
" Hehhhhh....gara-gara mulut Daniel yang ember, masalah ini jadi panjang."
" Hei...kau jangan menyalahkan Daniel!! aku justru berterimakasih padanya, karena sudah memberitahukan rahasia ini padaku, dengan begitu aku bisa mengantisipasi jika ada hal-hal yang kemudian terjadi lagi di antara kalian berdua."
" Ayolah sayang.....Kau hanya belum mengenal Dhea. Jika kau sudah mengenalnya kau pasti aksn menyukainya juga. Dia itu wanita yang baik sayang."
" Luarrrr biasa...!! apa sih hebatnya Dhea sehingga kau menyukainya dan memujinya di depanku?"
" Sudahlah sayang, tidak usah membahas ini lagi, itu kan hanya masa lalu, tidak ada pengaruhnya apa-apa buat kita."
" Itu menurutmu, menurutku tidak..!!! masa lalumu itu menggangguku, terlebih wanita itu sekarang menjadi saudaramu. Bisa saja kan cinta kalian tumbuh lagi?"
" Kau ini kenapa sih sayang? kenapa sifat lembutmu tiba-tiba berubah hilang semenjak kedatangan Dhea?"
" Wanita itu itu bisa berubah menjadi apa saja, jika dirasa ada sesuatu yang mengancam rumah tangganya...!!!" masih dengan nada tinggi.
" Ohhhh jadi Dhea kau anggap ancaman?"
" Kenapa tidak? kau memiliki televisi kan? bahkan saudara ipar yang awalnya tidak memiliki hubungan apa-apa saja bisa selingkuh, apalagi kalian yang pernah memiliki hubungan apa-apa."
" Cukup Deasy....!!! kau jangan terus memojokkan Dhea...!!! dia itu tidak bersalah, dan aku tidak pernah menjalin hubungan apa-apa dengannya...!!" Panggilan sayang sudah tidak lagi terdengar, berganti dengan nama yang diucapkan lugas oleh Mike.
" Ooohhhhh....manis sekali, kau membela dia dibanding aku ya?"
" Lalu aku harus menganggapnya apa?"
" Dia kakak iparmu Deasy, saudaramu, dan akan tetap menjadi saudara iparmu...!!!"
" Jika tiba-tiba kemarin William meninggal dalam kecelakaan pesawat, apakah kau masih berani mengatakan dia akan tetap menjadi saudara iparku Tuan Mike Anderson?" Mike spontan terdiam. Dia bingung kenapa tiba-tiba Deasy melemparkan pertanyaan seperti itu.
" Hahaha...kau diam? atau kau sedang bingung karena sebenarnya isi hatimu itu seperti yang kupikirkan?"
" Tidak!!! aku tidak bingung, aku hanya terkejut kau menanyakan itu."
" Karena kau sendiripun bingung dengan jawabanmu yang tidak sesuai dengan kata hatimu kan?"
" Hehhhh...aku yakin dia tidak akan menjadi saudara iparku lagi, melainkan menjadi maduku....!!!"
" Kau ini berbicara apa Deasy? aku tidak mungkin memperistri mantan kakak iparku sendiri...!!"
" Hanya mantan kan? kau tidak jujur Mike. Bahkan kau diam dahulu untuk memikirkan jawaban ini. Jika itu memang keluar dari dalam hatimu, kau bisa langsung spontan menjawabnya."
" Aku jujur, aku tadi hanya terkejut dengan pertanyaanmu yang sejauh itu. Aku bahkan tidak pernah berfikiran seperti itu."
" Mike kita itu harus berfikir satu langkah jauh ke depan."
" Ya tapi bukan memikirkan hal yang tidak penting seperti itu, karena akan menimbulkan kebencian di hatimu."
" Lalu apakah aku harus bersukacita dengan kedatangan orang yang menjadi boomerang dalam rumah tanggaku?"
" Kau yang menganggapnya sebagai boomerang Deasy. Dan sedari tadi itu kau hanya berbicara misalkan...misalkan saja dan bukan kenyataan...!!"
" Jika misalkan itu tiba-tiba menjadi kenyataan bagaimana?"
" Ya itu berarti takdir."
" Hahhh...takdir kau bilang? takdir yang seperti itu masih bisa dirubah Mike. Dan kau harus memikirkan dari sekarang, juga mencari jalan keluarnya."
" Lalu apakah dengan membencinya itu kau anggap sebagai jalan keluar?"
" Minimal dia tau jika aku tidak menyukainya."
" Hemmm pantas saja kemarin kata-katamu selalu menyudutkannya."
" Ya...memang aku sengaja melakukannya."
" Kau itu sebenarnya baik Deasy, tapi sekarang aku tau, jika kau tidak menyukai seseorang sifat baikmu itu hilang semuanya."
" Aku itu heran Mike. Saat memikirkan Dhea, aku membayangkan sosok wanita bak seorang putri di dalam negeri dongeng, cantik, anggun, menarik. Namun ketika melihatnya langsung aku sangat terkejut, apa yang kubayangkan ternyata jauh dari kenyataan. Apa sih yang membuat kalian berdua memperebutkannya? apakah tidak ada wanita yang memiliki nilai lebih dibanding dia?"
" Stop Deasy...!!! hentikanlah cemburu butamu itu. Cemburumu sangat tidak masuk akal...!!"
" Itu menurutmu, tapi menurutku tidak...!!" Jawab Deasy tak mau kalah.
" Aaahhh...sudahlah...kau ini, kita baru saja menikah satu bulan, kau sudah membuatku sebal." Sambil berjalan keluar kamar.
" Heii...kau mau kemana Mike?"
" Aku mau tidur di kamar lain." Jawabnya tanpa menoleh.
" Kau tidak segan dengan papamu, jika dia tau kita tidur terpisah? pasti dia akan menanyakan masalahnya."
" Aku lebih tau sifat papaku dibanding kau, jadi aku sudah memiliki jawabannya." Sambil membuka pintu, keluar dan lalu membatingnya dengan keras.
" Hebat sekali kau Dhea....!!! lihatlah, hanya karena membelamu, suamiku meninggalkan aku di kamar ini sendirian." Katanya dengan sedikit geram. Perasaan benci di hatinya semakin membara.