
Mereka bertiga melanjutkan obrolannya. Piring makan Mike yang telah kosong segera disingkirkannya. Dua potong roti yang masuk ke dalam perutnya, sudah cukup untuk memenuhi standar sarapan paginya. Mike menengok ke arah Daniel yang tak henti-hentinya memamah biak.
" Will, sahabatmu itu apa menderita kebocoran lambung?" sambil sedikit berbisik.
" Kenapa memangnya?" jawab William.
" Aku lihat dari tadi mulutnya tidak berhenti mengunyah. Apa tidak kenyang dia?"
" Maafkan dia adikku. Mungkin dia memang sengaja melakukan itu, mumpung ada makanan gratis di rumah ini, lumayan untuk satu minggu ke depan dia tidak perlu mengeluarkan uang, karena masih ada stok makanan di temboloknya hahaha."
" Heiii...jika ingin menggunjing itu nanti saja, jika orangnya tidak ada. Dan kau Mike? kenapa kau harus tanya kakakmu? kau kan ingin tau permasalahanku, kenapa tidak menanyaiku langsung? kau ada persoalan pribadi ya denganku?" Masih sibuk mengunyah dan tidak mengangkat kepalanya sedikitpun dari piring di depannya.
" Hahaha...kau ini Dan, awas perutmu nanti meledak." Sela William.
" Kau bilang tadi aku kau suruh diam. Giliran aku diam dan sedang bergumul dengan makanan ini, kau begitu perduli padaku. Lalu aku harus bagaimana? hehhhh...laki-laki memang selalu salah."
" Hahaha....lanjutkan saja makanmu Dan, itu sudah benar, dibandingkan kau berbicara tidak jelas seperti ini." Jawab Mike.
" Oke....lanjutkan urusan kalian, dan aku akan melanjutkan urusanku. Kita jangan saling mengganggu ok...fix..!!" Melanjutkan kembali mengunyah. William hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah sahabatnya itu.
" Mike, sifat cemburu istrimu yang berlebihan itu bisa menyebabkan penyakit. Nasehatilah dia, mumpung pernikahan kalian masih baru. Jika kau tidak bisa mendidiknya mulai dari sekarang, itu bisa berbahaya untuk ke depannya, bisa-bisa dia tidak menghargaimu sebagai suaminya, seperti mantan istrimu dulu."
" Iya Mike, katakan padanya, semua orang itu punya masa lalu. Masa lalu itu tidak untuk diingat-ingat, tapi cukup dikenang saja. Masa lalu bisa jadi acuan untuk membuat kita lebih baik lagi, serta tidak mengulangi kesalahan yang sama. Katakan seperti itu pada istrimu ya, hanya itu pesanku." Kata Daniel sok bijak sambil menyingkirkan piringnya yang telah kosong.
" Daniel, kau makan ikan berapa potong tadi? kenapa kecerdasanmu jadi bertambah?" sambung William.
" Kecerdasanku bukan karena ikan Will, tapi karena takdir. Dan takdir pintar ini sungguh menyiksaku, aku jadi merasa orang-orang di sekitarku terlihat lebih bodoh hahaha."
" Hehhhh...dasar kau ini." Jawab William sambil mendorong tubuh Daniel.
" Hahhh...temanmu itu sekali-kali kau periksakan ke spesiali penyakit dalam Will, mungkin syarafnya ada yang putus."
" Dia tidak butuh spesialis Mike, tapi butuh psikiater." Jawab William.
" Terserah kalian saja, jika menurut kalian itu benar, aku menurut saja, tapi ingat ya, aku tidak mau mengeluarkan biaya satu dolarpun hahaha." Mike dan William hanya geleng-geleng kepala saja.
" Jadi sekarang apa yang dilakukan istrimu di kamar?"
" Entahlah Will, mungkin tiduran atau bermain android. Tadi saat aku masuk dia sedang duduk diam di atas ranjang, dan mukanya ditekuk. Sangat tidak enak dipandang mata." Gerutu Mike.
" Hahaha...sejak kapan wanita kalau marah itu memasang tampang manis dan cute Daniel??? kalau ada wanita seperti itu, carikan aku satu ya."
" Hahhhh....diamlah Dan!! makan lagi saja sana, jangan mengganggu kami."
" Ok...maaf teman keceplosan." Kata Daniel menjawab kalimat William.
" Aku semalam melihatmu keluar kamar, dan masuk ke kamar lain, kau semalam tidak menemani istrimu tidur?"
" Tapi tunggu, atau mungkin kau pernah menyinggung perasaan istrimu, sehingga dia bisa begitu benci dengan Dhea?"
" Menyinggung bagaimana maksudmu?"
" Yahhh...misalnya saja tanpa sengaja kau membandingkan istrimu dengan istriku."
" Hahaha....mana ada orang yang mau dibandingkan dengan orang lain Will? terlebih istri sendiri, sudah pasti dia akan murka. Aku tidak pernah melakukan itu Will, aku sangat menjaga dan menghargai perasaannya. Kekurangan dan kelebihan dia itu adalah sebuah paket lengkap yang harus aku terima, karena dia istriku. Tidak ada satupun manusia itu yang sempurna di muka bumi ini Will, tinggal bagaimana kita bisa menutup kekurangan itu dengan kelebihan yang dimilikinya, jadi kita tidak melihat keburukannya terus."
" Wooowwe...applaus buatmu Mike. Luar bisa pemikiranmu sangat out of the book. Perlu kau contoh pemikiran adikmu ini Will. Itu namanya suami yang baik." Sambil mengacungkan dua ibu jarinya.
" Ahhhh...kau tidak usah mengajariku Dan, kau itu yang seharusnya belajar, agar cepat mendapatkan istri, supaya ada yang melengkapi kekuranganmu."
" Aduhhhh...salah bicara aku, senjata makan tuan ini namanya." Sok sibuk kembali mengotak-atik hpnya.
" Ya benar begitu, main hp saja ya, jika hpmu sudah bosan denganmu, mungkin dia juga akan meninggalkanmu dan mencari majikan lain hahaha."
" Hahhh...kau pikir hpku bisa berjalan sendiri?"
" Jika dia bisa berjalan, mungkin sudah dari dulu-dulu dia pergi, karena tidak betah berada di dekatmu terus hahaha."
" Terserah apa katamu Will." Gerutu Daniel.
" Mike, apakah kau perlu bantuanku untuk menjelaskan semua pada Deasy? semua ini harus segera diluruskan sebelum berlarut-larut, sebelum dia semakin tidak menyukai kehadiran istriku. Kasihan Dhea jika selalu disudutkan istrimu, padahal dia sama sekali tidak bersalah."
" Tidak usah Will, biar aku yang mengatasinya sendiri.
" Tugas suami adalah mendidik seorang istri untuk menjadi lebih baik lagi demi keutuhan rumah tangga. Sebagai pasangan yang baik, harus bisa saling mengingatkan untuk kebaikan bersama. Dan semua itu harus dimulai dari sekarang, dari awal sebuah pernikahan dibangun, untuk membuat sebuah komitmen yang nantinya akan menentukan masa depan rumah tangga ke depannya." Gumam Daniel
" Nah itu kata-katamu benar lagi Dan. Bahasamu cukup mudah untuk kami pahami, dan cukup masuk akal." Daniel langsung mengangkat kepalanya, kemudian menatap William bingung.
" Kata-kataku benar? kata-kataku yang mana Dan?"
" Itu, nasehat yang baru saja kau ucapkan untuk Mike."
" Siapa yang menasehati Mike? tadi kan kau menyuruhku diam dan tidak ikut campur pembicaraan kalian berdua?"
" Iya, lalu kalimat itu tadi apa?"
" Ooohhh...ini? aku sedang membaca di google tentang tips membangun keharmonisan keluarga bersama pasangan Will. Luar biasa Will, ini penulisnya pasti orang yang sangat bijaksana. Kau ingin membacanya juga? nih lihatlah!!" sambil menyodorkan telfon genggamnya.
" Hehhhh...pria yang menyebalkan...!!" gerutu William, sambil melemparkan tisu ke arah Daniel yang baru dipakainya.
" Menyebalkan dan menggemaskan itu beda-beda tipis teman hahaha." Dan Mike tak kuasa menahan tawanya hingga tergelak-gelak, melihat Daniel berhasil memperdaya bosnya sekaligus sahabatnya itu.