
Pagi ini Dhea ke kampus seperti biasanya, diayunkan kakinya menuju halte di tempat biasa menunggu bus.
Matanya berkeliling mencari sesuatu.
" Dimana orang itu? Apakah dia sudah bosan menggangguku?" Tanya Dhea dalam hati.
Sampai kendaraan yang ditunggu datang William tetap tidak menampakkan batang hidungnya.
" Hmmm syukurlah, mungkin dia sudah lelah." Pikir Dhea.
Dhea memilih duduk di samping seorang pria, wajahnya tidak begitu jelas karena ditutupi oleh topi dan dia memalingkan mukanya menghadap jendela.
" Permisi, maaf boleh bergeser sedikit?"
Tanya Dhea
Kemudian pria itu segera menggeser duduknya, memberikan tempat di sampingnya.
Bus segera berjalan, namun tiba-tiba ada seorang pria berbicara padanya.
" Hai nona manis, bagaimana kabarmu pagi ini? semoga mood baikmu tidak berubah setelah bertemu denganku di sini."
Dhea segera menengok ke arah suara itu.
" Ya Alloh dia lagi! Kenapa dia bisa ada di sampingku? Aku pikir dia sudah lelah mengikutiku tapi ternyata justru duduk satu kursi denganku ", bathin Dhea.
" Kamu lagi? Ya ampun bisa gila aku setiap hari kau ikuti seperti ini, pergilah dari kursi ini, aku tidak sudi duduk di sampingmu !!"
" Hahaha apakah kendaraan ini milikmu? Sehingga kau mengusirku?"
" Terserah apa katamu, kalau begitu aku yang akan turun!" Kata Dhea sambil hendak berdiri.
" Kebetulan sekali aku ingin mengantarkanmu ke kampus, ayo turun denganku?"
" Aku tak sudi ikut denganmu ", kata Dhea sembari berdiri.
" Lalu kau mau kemana?"
" Aku akan pindah ke tempat duduk lain ", kata Dhea.
" Silahkan saja, jika kau ingin aku melakukan seperti yang kau lihat di pesta tempo hari pada wanita itu." Katanya.
Dhea bergidik ngeri saat ingat William mencium wanita di pesta malam itu, dan memeluknya di depan umum.
" Kau sudah gila ya?"
" Ya aku memang gila, aku tau kau tak akan mungkin mau kupermalukan di dalam kendaraan ini kan sayang?" Katanya lagi.
" Brengsek ", gerutu Dhea.
" Ayo ikut denganku!!" Kata William sembari mengulurkan tangannya.
" Aku bisa jalan sendiri, jangan pernah menyentuhku, camkan itu!!!"
" Hahaha ok My Dhee."
" Hhhhh aku benci panggilan itu ", kata Dhea, sambil memberikan perintah kepada supir bus untuk menghentikan kendaraannya.
Perlahan bus berhenti, Dhea segera turun disusul William yang mengikutinya dari belakang.
William kemudian menelfon seseorang. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di belakang mereka, mobil yang biasa dibawa oleh William. Pintu kemudi dibuka, seorang pria membungkuk dan menyerahkan kunci mobil ke William.
" Terimakasih, pergilah ", kata William.
Kemudian pria itu pergi meninggalkan kendaraan yang dibawanya tadi.
" Kau tega sekali dengannya, kenapa tak kau biarkan dia naik bersama kita?"
" Hahaha wanita yang baik hati."
" Tapi sayangnya aku ingin berduaan denganmu saja sayang ", jawabnya.
" Dasar pria tidak berperasaan ", gerutu Dhea sambil membuka pintu belakang dan hendak masuk ke dalamnya.
" Hei kenapa kamu membuka pintu itu? Duduklah di depan bersamaku!"
" Tidak, aku ingin duduk disini saja!"
" Apakah kau mau aku memaksamu?"
Kata William lagi sembari bermain mata.
" Hhhh..." tiba tiba saja Dhea merasa takut melihat reaksi William seperti itu.
" Pria egois ", gerutu Dhea sambil membuka pintu depan.
Mobil segera berjalan menuju kampus.
" Pulang jam berapa kamu nanti?"
" Apa maksudmu?"
" Aku ingin kau pulang bersamaku."
" Kenapa kau selalu memaksaku?"
" Karena aku tertarik padamu Dhea."
" Hahaha mungkin?"
" Kau gila, tak akan kubiarkan semua itu terjadi!!" kata Dhea sembari melotot.
" Hahaha kau cantik sekali kalau sedang marah sayang."
" Ahhhh muak sekali aku dengan pria ini." Kata Dhea dalam hati.
Untung saja tak lama setelah itu Dhea sudah sampai di kampusnya dan segera turun.
" Hei kau pulang jam berapa nanti?" Katanya lagi.
Dhea diam saja dan segera pergi meninggalkannya.
Sedangkan William hanya tergelak melihat reaksi Dhea.
" Dhea Dhea kau pikir aku tidak tau jadwal kuliahmu setiap hari ", gumam William lalu segera pergi dengan kendaraannya.
Saat tiba di kelas, Bram menyambut kedatangannya.
" Hai Dhe, apa kabarmu hari ini?"
" Sangat buruk ", kata Dhea lesu.
" Kau sakit Dhe?" Tanya Bram sedikit khawatir.
Dhea menggeleng.
" Dia semakin hari semakin nekat Bram, hari ini dia memaksaku naik mobil bersamanya, entah besok apa lagi yang akan dilakukannya."
Bram diam saja tidak menjawab.
" Maafkan aku Dhe aku tidak bisa membantu banyak, kau tau kan dia bisa melakukan apa saja?"
" Ya aku tau Bram, jangan merasa bersalah begitu, aku sedikit banyak sudah tau dia, pria yang arogan, egois, semaunya sendiri. Mungkin otaknya sakit ", kata Dhea lagi.
" Kau harus bisa menjaga diri baik baik Dhe."
" Ya Bram, aku tak akan membiarkan diriku menjadi salah satu korbannya."
" Ya Dhe itu sudah benar ", jawab Bram.
Pelajaran telah usai, Dhea segera pulang. Namun saat berjalan menuju halte, Tiba-tiba William muncul lagi di belakangnya.
" Ayo naik!" Katanya sembari mengikuti Dhea dari belakang dengan mobilnya.
" Tidak!! Cukup tadi pagi saja aku naik mobil denganmu."
" Apa kau sudah tidak takut dengan ancamanku?"
" Silahkan saja dan aku akan berteriak agar kau dikeroyok oleh orang-orang di sini!!" Kata Dhea sedikit berani melawan gertakannya.
Tiba-tiba saja William menghentikan mobilnya, dan keluar mendekati Dhea.
" Kau sudah mulai berani rupanya nona cantik ", sembari menarik tangan Dhea.
Dhea berusaha berteriak, namun tiba-tiba William menutup mulut Dhea dan segera mendorongnya masuk ke dalam mobilnya.
" Kenapa sih kau ini selalu memaksakan kehendakmu? Kau juga tidak boleh menyentuhku lagi, ingat itu!!""
Kata Dhea setelah berada di mobil William.
" Karena kau tidak pernah mau menuruti kemauanku Dhea." Jawab William tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.
" Lalu siapa kau sehingga harus aku turuti?"
" Kau tidak tau siapa aku? Apakah harus kujelaskan dulu siapa aku, sehingga kau mau menurut denganku sayang?"
" Kau pria yang sombong dan angkuh!!"
William hanya tertawa.
" Kau tidak bisa semena-mena walaupun kau mempunyai banyak uang, bukan berarti kau bisa membeliku?"
" Tapi biasanya aku bisa membeli wanita manapun yang kumau!!"
" Tapi tidak denganku."
" Kau sama saja dengan mereka jika sudah merasakannya My Dhee." Kata William sambil tertawa.
"Jaga mulutmu!!" Secara reflek Dhea menampar wajah William begitu keras.
Tiba-tiba saja William mengerem mobilnya hingga terdengar suara mendecit dari roda mobilnya, Dhea amat terkejut dan dahinya langsung beradu dengan dashbor mobil.
" Awww!!!!", teriak Dhea.
Tiba-tiba dahinya terasa perih, lalu Dhea merabanya terlihat ada sedikit darah yang keluar, mungkin karena benturannya sedikit keras, dan Dhea tidak siap saat itu. William menatap Dhea, dan tahu ada luka di dahinya, tiba-tiba dia hendak menyentuhnya.
" Hentikan..!!! aku benci kamu!!" Kata Dhea sambil keluar dan menahan tangis di matanya.
" Dhe kamu mau kemana? Dhe biarkan aku mengantarmu pulang, Dhe kumohon maafkan aku!! Pleas!!"
Dhea tetap tidak menghiraukan teriakan William, dan berlari sekencang mungkin meninggalkan William sendirian berdiri di samping mobilnya.