
Sorenya Dhea kembali berangkat kerja, walaupun kepalanya masih sedikit pusing, namun tetap dipaksakannya berangkat, rasanya tak enak hati jika dia terlalu sering ijin, sebelumnya saja dia sudah ijin 1 minggu akibat kakinya terkilir itu.
" Hai Dhe, wajahmu pucat sekali hari ini, kau sedang sakit?" Tanya salah satu temannya.
" Aku hanya flu sedikit Liv."
" Kenapa kau tidak istirahat di rumah saja? Pulanglah aku akan menggantikanmu."
" Tak apa Liv, aku masih mampu kok, terimakasih atas tawaranmu."
" Ya sudah kalau kau butuh bantuan, panggil aku ya."
" Iya Liv, terimakasih lagi ya?"
" Sama sama Dhe."
Lalu Dhea kembali asyik dengan pekerjaannya menghitung jumlah belajaan para pembeli, hingga hari beranjak malam.
" Sementara itu William sedang duduk sendirian di balkon kamarnya, tanpa melakukan apa apa, sambil ditemani segelas kopi.
" Sialan kenapa malam ini aku begitu jenuh, menjengkelkan ", gerutu William.
Kemudian William menelfon Daniel sahabatnya.
" Hallo bos, ada apa menelfonku malam malam begini?"
" Aku bosan sekali malam ini Dan, temani aku ke bar ya?"
" Hahaha beres teman, apa kau butuh seorang wanita malam ini? Aku akan membawakannya padamu."
" Tidak Dan, aku hanya ingin kau sendirian kemari menjemputku."
" Oke kalau begitu, pasti kau sedang dirundung rindu ya sehingga merasa sangat kesepian hahaha."
" Ahhhh jangan banyak omong kau, buruan kemari."
" Oke tunggu aku setengah jam lagi ", kata Daniel.
William segera menutup telfonnya. Lalu masuk ke kamarnya sambil mengganti pakaian.
Tak sampai setengah jam Daniel sudah tiba di rumahnya.
" Hai teman sudah siap kau rupanya? Hhhmmm seperti biasanya kau sangat tampan sekali, pasti banyak wanita yang bisa kau taklukan malam ini."
" Tidak ada mahluk yang namanya wanita malam ini, oke? Aku hanya ingin kau temani aku minum di bar itu."
" Hahaha siap tuan besar ", jawab Daniel sambil mengikuti William di belakangnya.
Tak lama William sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan Daniel.
" Kita ke tempat biasanya Will?"
" Ya, tapi lewat jalan memutar saja ya?"
" Jalan memutar? Maksudmu?"
" Sudah ikuti intruksiku saja nanti."
" Oke siap bos ", jawab Daniel sambil terus menancap gas mobilnya.
" Terus saja Dan, melewati toko itu ", William memberi intruksi Daniel untuk melewati tempat kerja Dhea.
Dilihatnya dari jauh tempat kerja Dhea masih belum tutup, diliriknya arloji di tangannya, pukul 21.00
" Hmmm masih 1 jam lagi toko itu baru tutup, tapi gadis itu masih sakit, pasti dia tidak akan berangkat hari ini."
Ternyata dugaan William salah, dia seperti melihat sosok Dhea di meja kasir, gadis itu masih menggunakan jaket tebal yang dipakainya pagi tadi.
" Dan pelankan mobilmu!" Kata William tiba-tiba.
" Kenapa Will?"
" Sudah pelankan saja kataku!"
Daniel segera mengurangi laju kendaraannya, William memicingkan matanya seperti hendak memastikan wanita yang berdiri di meja kasir itu benar-benar Dhea.
" Ya itu benar dia ", gumam William.
" Berhenti di sini Dan!!"
" Hei kau mau kemana Will?"
" Sudah cepat hentikan!!" Kata William lagi.
Setelah Daniel menghentikan mobilnya, William segera turun dan masuk ke dalam toko dimana Dhea bekerja.
Dhea sangat terkejut saat tau William sedang berdiri di hadapannya, dengan sorot mata yang mengandung kemarahan.
" Ayo pulang!!" Kata William tanpa basa basi.
" Kamu itu sedang sakit Dhe, ayo pulang denganku!"
" Tidak Will, kasir ini tanggung jawabku, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
" Jika isi laci itu hilang, aku akan menggantinya 2 kali lipat Dhe."
" Tidak bisa seperti itu Will ini bukan masalah uang, tapi masalah profesialisme kerja."
" Ahh sudah kau jangan mengajakku berdebat, ayo cepat beresi barangmu!"
" Tapi Will....."
" Kau ini membuat kepalaku semakin sakit Dhe, membantah terus ", kata William sambil mendekati Dhea dan menarik tangannya.
Dhea spontan mengikuti langkah William, tak lupa disambar tasnya yang berada di laci bawah tempat duduknya.
Teman teman Dhea dan beberapa pengunjung toko hanya melihat saja pemandangan di depan kasir itu, tanpa berani melakukan apa apa. Dhea hanya memberi syarat kepada Olive yang melihatnya dari tadi, Olive sepertinya tau maksud isyarat dari Dhea, dan segera menggantikan posisinya di kasir itu.
William terus membawa Dhea keluar dari tokonya, kemudian membuka pintu belakang mobil yang dikendarai oleh Daniel.
" Masuk ", kata William
Dhea mengikuti perintah William, tanpa berani membantahnya. Kemudian William ikut duduk di sampingnya.
" Jalan Dan ".
" Ke tujuan kita semula, atau....?"
" Lurus saja ikuti perintahku ".
" Oke bos ".
Dhea merasa ketakutan, karena saat ini William tidak mengemudikan mobilnya sendirian, tapi membawa seseorang bersamanya.
" Kau...kau mau mengajakku kemana Will ?"
" Aku mau mengantarmu pulang, kau pikir aku mau membawamu kemana ?"
" Tidak, aku pikir kau akan menculikku, karena kau membawa teman ".
" Hhhh.....kau selalu berpikiran buruk padaku ".
" Hai tuan, apakah gadis ini yang kau bicarakan padaku tempo hari itu ?" tanya Daniel tiba tiba sambil melihat ke arah belakang dari balik kaca yang berada di atasnya.
" Ahhh kau ini jangan ikutan bicara, konsentrasi saja dengan jalan di depanmu ".
" Hahaha siap bos, aku akan mengantarkan gadismu ini dengan selamat tanpa luka sedikitpun ".
Kata Daniel sambil terkekeh.
" Kau menceritakan apa dengan supirmu ini ?" Tanya Dhea.
" Hei Will, apakah kau bilang dengan dia bahwa aku ini supirmu ?"
" Hahaha kau memang pantas jadi supirku Dan !!"
" Sialan kau Wil, setampan ini kau bilang supir !!!"
" Jangan percaya nona manis, aku ini rekan bisnis William, lebih tepatnya aku ini patner gila bersamanya hahaha ".
Dhea menelan ludah, ternyata pria di depannya ini tidak jauh beda dengan William, sama sama pria brengsek.
" Will seharusnya kau tadi tidak boleh melakukan hal itu padaku ".
" Hal itu yang mana ?"
" Memaksa aku pulang dari tempat kerjaku ".
" Siapa yang tidak membolehkannya ? Bram ? aku bahkan ingin mewanti wantinya, seharusnya dia tau kau sedang sakit, kenapa tidak melarangmu masuk kerja ?"
" Tolong jangan lakukan itu, dia itu sudah terlalu banyak membantuku. Aku yang memaksa untuk masuk kerja bukan dia. Aku tak enak hati dengan teman yang lain jika terlalu sering ijin ".
" Sebenarnya berapa sih uang yang kau butuhkan sehingga bekerja begitu keras ? Kau butuh berapa ? aku akan memberimu, dan keluarlah dari toko itu ".
" Kau ini siapa berani mengatur hidupku ? Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya ".
" Aku ini orang yang perduli padamu, kau paham !!"
" Ya...tapi bukan berarti kau berhak atas hidupku, kau bahkan berani mengekang kebebasanku ".
" Dasar wanita yang menyebalkan, aku nanti akan menelfon Bram dan menyuruhnya untuk memecatmu !!"
" Kau ini laki laki tak berperasaan, jika kau berani lakukan itu aku akan....."
" Kau mau apa hah ? kau berani padaku ? ayo silahkan apa yang bisa kau perbuat. Orang di kota ini hampir semua mengenalku, lalu kamu ? kamu itu siapa ?"
Dhea tidak menjawab sepatah katapun, dia sadar laki laki ini bukan orang sembarangan, bahkan orang yang sangat berpengaruh di kota ini. Dhea tidak akan mungkin berani melawannya.