
Dhea benar benar tidak sadar setelah menghirup aroma yang ditempelkan di hidungnya. Dua orang lelaki asing itu terus membawa Dhea hingga menuju rumah William. Dan ternyata William telah menanti mereka di depan pintu. Saat salah satu orang membuka pintu mobil, William segera berjalan mendekat.
" Biarkan aku yang membawanya masuk ke dalam, cukup tadi saja kalian menyentuh tubuhnya ", kata William mewanti wanti anak buahnya.
" Baik tuan ", kata anak buah William sambil menunduk.
William lalu membopong tubuh Dhea yang terkulai lemah, dia membawanya masuk ke dalam kamarnya, dan kemudian menidurkan tubuh Dhea di atas kasurnya. William memandangi wajah Dhea yang begitu polos dalam kondisi tertidur seperti itu, William menatapnya sambil tersenyum.
" Dhe kamu cantik sekali, aku benar benar mencintaimu. Semoga setelah ini kamu akan jadi milikku. Maafkan aku Dhe, aku sungguh terpaksa ", bisik William.
Sementara itu Mike merasa lega sekali karena lalu lintas sudah tidak macet lagi. Kemudian dia segera menjalankan mobilnya kembali.
" Dhea mungkin masih belum sampai di rumahnya, coba aku telfon dia dulu ". gumam Mike.
Mike kemudian menelfon Dhea, namun berkali kali menelfonnya Dhea tetap tidak mengangkat telfonnya.
" Kemana dia ? Apakah dia tidak mendengar telfon dariku ?" Tanya Mike dalam hati.
" Ahh biar saja, mudah mudahan dia tiba di rumahnya dengan selamat. Lebih baik aku segera pulang ", kemudian Mikepun segera pulang ke rumahnya.
" Hahaha Mike...kau pasti ingin mencari Dhea kan ? jangan khawatir adikku, dia aman bersamaku ", gumam William sambil memegang handphone Dhea, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas Dhea setelah handphone itu berhenti berdering. Ternyata saat mendengar ada telfon masuk tadi, William segera mengambil handphone Dhea dan dia tidak mengangkatnya karena dilihatnya Mike yang yang sedang menelfon.
Waktu terus bergulir Dhea belum juga sadarkan diri. Saat hari sudah semakin malam, barulah perlahan lahan Dhea mulai membuka matanya, begitu berat, dan badannya seperti lemah tak bertenaga
" Aku dimana ??" Tanya Dhea dalam hati.
" Ada apa ini denganku ? sepertinya ini bukan kamarku ?"
Dhea sangat bingung, kepalanya amat pusing, Dhea memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Samar samar Dhea melihat ada sesosok pria duduk membelakanginya, dan dia tidak tau siapa pria tersebut, karena kemudian badan Dhea kembali limbung dan tak sadarkan diri lagi.
" Hhhh...pasti mereka tadi memberikan obat bius kepada Dhea terlalu banyak ", gumam William dalam hati.
Kurang lebih setengah jam lamanya Dhea kembali dasar, dan samar samar dia mendengar suara seorang pria sedang menelfon, awal mulanya pelan namun semakin lama semakin jelas di telinganya.
" Siapa pria itu ? aku seperti mengenal suaranya ".
Berangsur angsur kesadaran Dhea mulai pulih.
Perlahan Dhea membuka kedua matanya, dan dia meraba jilbab yang ada di kepalanya.
" Syukurlah masih ada ", bathin Dhea sedikit lega.
Namun kemudian Dhea langsung terbangun, dan terkejut saat ingat itu adalah suara William, namun lebih terkejut lagi saat dia menyadari tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya, hanya ada selimut tebal yang melindunginya. Saat dia memperhatikan lagi, ada sebuah noda di seprai bawah tubuhnya dan itu adalah DARAH.
" Ya Alloh apa yang terjadi ???"
Seketika Dhea langsung menjerit dan menangis.
" Ya Alloh pria jahanam ini telah mengambil kehormatanku, kenapa dia tega sekali ?" kata Dhea dalam hati.
" Kau tidak perlu menangis sayang, semuanya sudah terjadi ", kata William tanpa nada bersalah.
" Kau...kau sungguh keterlaluan !! kau jahat !! Aku benci kamu !! Kenapa kau tega sekali padaku ? bukankah kau pernah bilang sangat mencintaiku ? tapi kenapa justru kau sekarang berbuat setega ini padaku ??" Jerit Dhea sembari menangis.
William hanya menatap Dhea, tanpa bisa melakukan apa apa. Hal ini sudah diperkirakan sebelumnya, Dhea akan semakin membencinya.
" Maaf Dhe, aku terpaksa melakukannya, karena ini jalan satu satunya untuk bisa memilikimu ". Kata William sambil mendekati Dhea, dan duduk di dekatnya.
" Jangan dekati aku lagi !!" Jawab Dhea sambil beringsut mundur dan terus menutupi tubuhnya dengan selimut.
" Lebih baik aku mati, karena kau telah membuat hidupku hancur !!"
" Kau ingin mati ? silahkan saja, kau akan membuat orang tuamu bersedih seumur hidupnya, bukankah kau anak perempuan satu satunya ??"
Dhea diam saja, benar yang dikatakan William, orang tuanya sangat mengharapkan keberhasilannya, tapi saat ini hidupnya seakan sudah tidak berarti lagi.
" Antarkan aku pulang, aku tak mau berada di kamar jahanam ini !!"
" Tidak, aku tidak mengijinkanmu pulang, ini sudah terlalu malam ".
" Kau tidak bisa melarangku !!"
" Apakah kau berani lagi menolakku setelah foto foto kita berdua aku sebarkan di hp ini ??" Katanya sembari menunjukan hp di tangannya.
" Kauuuu....jadi kau telah mengambil gambarku ??"
" Kau tetap tidur disini, ini perintahku, itu aku sudah siapkan baju dan peralatan mandimu ".
" Kau mandilah dulu agar tubuhmu segar ", kata William sambil berjalan keluar.
Dhea terus menangis meratapi kejadian yang baru saja menimpanya.
" Kenapa aku harus bertemu lelaki brengsek itu ??"
Dhea segera mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, kemudian menuju toilet.
Setelah selesai Dhea segera keluar, dan masih menggunakan handuk besar yang melilit tubuhnya.
" Semoga laki laki itu tidak masuk ke kamar ini karena tadi aku sudah menguncinya ", bathin Dhea.
Dhea segera memakai baju yang telah disiapkan William tadi. Diliriknya jam di dinding kamar itu, pukul 02.30, Dhea segera mengeluarkan mukena dari dalam tasnya. Begitu lama Dhea larut dalam ibadah sunahnya, dia menumpahkan segala keluh kesah di atas sajadahnya. Air matnya tak bisa berhenti mengalir, hingga tak terasa sudah memasuki waktu subuh. Dhea segera melanjutkan lagi menambah 2 rakaat wajibnya. Tubuhnya begitu lelah, lelah menangis semalaman mengadu pada Rabbnya. Tak terasa Dhea tertidur di atas sajadah, hingga tiba tiba suara langkah kaki mengagetkan tidurnya.
" Kau ? kenapa kau bisa masuk kemari ?"
" Kau lupa ini kamarku sayang ? aku bisa masuk ke dalamnya kapan saja sesuai keinginanku ".
" Kenapa kau tidur di bawah ? Kau bisa sakit nanti ".
" Terserah aku, kau tidak usah sok perhatian padaku !!" Jawab Dhea ketus ".
" Tolong biarkan aku pulang !!"
" Tidak mulai sekarang aku yang akan pegang kendali atas dirimu ".
" Apa hakmu ?"
" Kau tidak takut ini sayang ? Aku bisa mengirimkan foto foto ini pada orangtuamu di Indonesia ". Sembari menunjukkan hpnya pada Dhes.
" Kau jahat sekali...!!!"
" Maaf Dhe, aku harus melakukannya karena kamu selalu menolakku. Aku sudah kehabisan akal untuk mendapatkanmu ".
" Lalu apa maumu ? Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dariku, biarkan aku pergi, kumohon jangan ganggu aku lagi !!!"
" Kau tidak tau Dhe, aku itu bukan cuma menginginkan tubuhmu saja, tapi juga cintamu ".
" Tapi dengan cara seperti ini bukan cintaku yang kau dapatkan, tapi rasa benciku yang begitu besar padamu ".
William menundukkan wajahnya dan menarik nafas begitu dalam.
" Aku tidak perduli itu, yang penting aku bisa selalu ada di dekatmu ". Jawab William pelan.
" Kau jahat sekali William, kau itu bisa mendapatkan semua yang kau inginkan, kau memiliki semuanya, tapi sayang kau tak pernah memiliki hati, dan aku yakin hidupmu tak akan bernah bahagia karena kau tidak pernah puas !!!" Teriak Dhea sambil menangis.
William hanya menatap Dhea tanpa berkedip, hatinya begitu sakit melihat Dhea tidak bisa berhenti menangis akibat perbuatannya.
" Ayo bersiaplah, aku ingin mengantarmu pulang sekarang, ini sudah siang ?" Jawab William kemudian.
" Benarkah ?" Dhea melirik jam yang ada di atasnya pukul 10 pagi.
" Ya, aku ingin kau bisa istirahat di rumahmu, karena aku tau pasti kau begitu lelah. Tapi ingat mulai sekarang akulah yang akan kembali mengantar jemputmu, dan kau harus beritahu Mike untuk berhenti menjemputmu lagi. Dan satu lagi aku ingin kau berhenti dari tempat kerjamu juga".
" Kenapa ? aku membutuhkan itu !!"
" Tidak, mulai sekarang akulah yang akan membiayai semua kebutuhanmu disini, aku tidak mau kau terlalu memforsir tenagamu, tubuhmu butuh istirahat ".
" Aku tidak mau berhutang budi denganmu !!"
" Apa kau benar benar berani menolakku Dhea ??" Tanya William sambil menatap Dhea dengan tajam.
" Ahhh dia mengancamku lagi ". Kata Dhea dalam
hati.
" Cepat bersiap siaplah, aku tunggu kau di luar ", kata William lagi sambil berjalan meninggalkan Dhea.
Dhea segera bersiap siap, kemudian setelah selesai langsung keluar dari kamar. Di depan William sudah menunggu Dhea sembari meminta salah satu pegawai untuk menyiapkan kendaraannya. Dhea berjalan menuju tempat William berdiri.
" Kita tidak akan langsung menuju rumahmu ", kata William.
" Lalu mau kau ajak aku kemana ?"
" Kita akan makan siang dulu ", seraya berjalan.
Dhea mengikuti di belakangnya.
Setelah naik ke dalam mobil, William segera menjalankankannya.
Dhea sama sekali tidak membuka mulutnya saat berada di dalam mobil, William hanya sekali kali melirik Dhea, dan dia tau gadis di sampingnya itu sedang bersedih.
Perlahan William menghentikan mobilnya di sebuah restoran besar dan mewah, dia langsung mengajak Dhea turun. Seorang pelayan menyambut mereka dengan sangat ramah, William berbincang sebentar, dan kemudian mengantar ke dalam ruangan yang sepertinya lebih privacy. Ruangan itu hanya berisi beberapa kursi saja, viewnya langsung menghadap keluar sehingga bisa langsung menikmati pemandangan di luar restoran ini. Tiba tiba datang seorang pria yang tak kalah keren dari William.
" Hai teman, apa kabarmu ? kau sepertinya sudah lama tidak kemari ". Kata pria itu menyambut kedatangan Dhea dan William.
" Hmmm mungkin dia pemilik tempat ini ", bathin Dhea.
" Maaf teman, aku sedang sibuk akhir akhir ini ", jawab William singkat.
" Hhhmm apakah sibuk dengan gadis ini ?" Kata teman William sembari melihat ke arah Dhea.
" Ooohhh iya ini Dhea kekasihku ".
" Enak saja dia menyebutku kekasihnya ". Bathin Dhea sambil melotot ke arah William.
William hanya diam saja, tidak perduli dengan reaksi marah Dhea.
" Silahkan pesan makananmu dulu, biar aku meminta pegawaiku untuk menyiapkannya secepat mungkin ".
" Ok teman ", jawab William singkat.
" Kalau begitu aku masuk dulu ya, aku tidak mau mengganggu kalian berdua ".
" Silahkan teman ", jawab William lagi.