
Hari Sabtu pagi William dan Feri terlihat sudah rapih untuk bersiap pergi ke rumah orang tua Dhea.
" Ayolah makan yang banyak Will, agar kau tidak grogi saat berhadapan dengan orang tua Dhea. Aku takut kau nanti tiba-tiba pingsan saat di sana." Ledek Feri, disusul tertawa Mariyam istrinya yang tidak berhenti tergelak melihat suaminya itu terus mencandai temannya.
Dia bahkan setengah tidak percaya William yang dikenalnya dulu bisa tidak berkutik begini menghadapi gadis yang begitu dicintainya. Padahal setau dia, William itu dulu cowok yang begitu lihai memainkan perasaan lawan jenisnya. Namun sekarang, sepertinya dia telah terjebak dalam pesona cinta wanita yang bernama Dhea Galuh Anjani. Dia sepertinya sudah habis-habisan mengerahkan segala upaya untuk bisa memanage perasaannya sendiri. Namun cinta tetaplah cinta, dia bahkan bisa meluluh lantakkan hati dan membuat gila obyek sasarannya, dan salah satunya seperti laki-laki bernama William ini, yang mau melakukan apa saja demi seorang Dhea.
William meneguk minumannya setelah mengakhiri sarapan paginya.
" Kau tidak ingin meminum jamu kuat dulu Will, agar lebih bersemangat? istriku bisa membuatkannya untukmu." Kata Feri sambil tertawa.
" Hehhhh....kau pikir aku akan pergi berperang Fer." Gerutu William.
" Hahaha...memang kau akan berperang, tapi bukan untuk memperjuangkan kemerdekaan negaramu, namun memperjuangkan kemerdekaan cintamu, benarkan?"
" Hahaha memang benar, tapi kan aku tidak butuh kekuatan fisik untuk menghadapinya teman." Kata William sambil melemparkan tisu yang baru dipakainya kepada Feri. Feri hanya bisa berkelit sambil tertawa lebar.
" Abi, jangan meledeknya terus. Kasihan William, bisa-bisa dia nanti takut dan mengajakmu pulang sebelum tiba di sana."
" Ahhh Mar, kau ini jangan pura-pura jadi polisi baik, bukankah baru saja kau meledekku juga kan??" Gerutu William.
" Hahaha maaf teman, kami memang harus menggemblengmu terlebih dahulu di sini, agar di sana nanti kau lebih siap lagi."
" Ya ya ya aku paham? terimakasih atas niat baikmu teman. Walaupun gemblengan kalian justru menurunkan sedikit keberanianku." Jawab William sambil bersungut-sungut.
" Hahaha....." Feri dan Mariyam tertawa bersama, wajah mereka begitu senang karena berhasil mengerjai William. Kapan lagi bisa mengerjai bos besar dan konglomerat yang disegani sekelas William kalau bukan sekarang, begitu pikiran mereka berdua.
" Umi, abi pergi dulu." Kata Feri sambil mencium kening istrinya.
" Iya bi hati-hati di jalan." Jawab Mariyam sambil meraih tangan suaminya lalu menciumnya telapaknya.
" Mar, doakan aku ya agar semuanya lancar?" Kata William.
" Iya Will, aku doakan semuanya berjalan lancar. Dan semoga papa Dhea bisa melihat keseriusanmu untuk menikahi putrinya. Semangat ya." Kata Mariyam.
" Ya Mar, terimakasih. Aku pikir kau mau meledekku lagi." Gumam William.
" Hahaha....kau ini suudzon saja." Kata Mariyam sambil mengikuti langkah mereka berdua di belakangnya. Lambaian tangan Mariyam mengantarkan kepergian suami dan sahabatnya itu. Ada doa terselip dalam hatinya untuk temannya yang baru saja ingin mengikrarkan diri sebagai saudara seimannya.
Mobil yang dikendarai Feri langsung berbelok keluar dari gang rumahnya menuju jalan raya. Berjibaku menjadi satu dengan kendaraan lainnya.
" Bagaimana perasaanmu Will?" tanya Feri.
" Entahlah Fer. Sepertinya dadaku berdebar, seperti sedang menghadapi ujian akhir saja."
" Hahaha....Ya sudah ikuti kata-kataku ya, tenangkan dirimu, tarik nafas dalam-dalam."
William lalu mengikuti instruksi Feri.
" Tahan sesaat." Kata Feri lagi.
" Nah sekarang keluarkan lewat belakang." Kata Feri diiringi suara tawanya yang keras.
" Haaaa...sialan kau, kena aku kau kerjai." Kata William sambil menonjok pundak Feri.
" Hahaha.....kenapa CEO keren seperti kau jadi nampak bodoh William? ayolah jangan setegang itu, relax...relax...kau hanya perlu bersikap sopan pada orang tua Dhea nanti. Bukankah mereka tidak mengerti bahasamu? jadi kau tidak perlu sekhawatir itu, aku kan bisa menyampaikan kata-katamu pada mereka dengan bahasa yang lebih baik lagi nanti."
" Iya juga sih, kenapa aku tidak memikirkan itu ya?"
" Will, jika memang sudah benar-benar yakin, kau tidak perlu takut pada apapun. Yang penting fokuslah dengan tujuan utamamu datang kemari."
" Ya Fer, fokus...fokus...fokus..." Kata William sambil berkonsentrasi penuh memejamkan matanya mengucapkan kata-kata tersebut. Feri yang berada di sampingnya hanya tersenyum melihat tingkah konyol pria yang sedang dimabuk cinta itu.
Kendaraan Feri telah tiba di depan rumah orang tua Dhea. William segera turun disusul Feri yang baru saja memarkirkan mobilnya.
" Benar kan ini rumahnya Will?" tanya Feri meyakinkan William.
" Benar Fer, aku masih belum lupa kok." Jawab William percaya diri, alamat rumah Dhea yang pernah dicatatnya diam-diam di dalam handphonennya sangat membatu mereka menemukan rumah itu kembali dengan mudah.
Feri dan William melangkah bersama menuju pintu rumah yang terbuka lebar itu. Feri mengucapkan salam. Tak lama ibu Dhea terlihat keluar dari dalam rumahnya. Dia sedikit terkejut karena dilihatnya William datang ke rumah mereka lagi, namun tanpa ditemani anak perempuan mereka.
" Wa'alaikum salam." Jawabnya.
" Silahkan masuk." Katanya sambil menerima uluran tangan Feri juga William. William tidak melupakan ajaran kekasihnya untuk selalu mencium tangan orang tuanya saat bersalaman dengan mereka.
" Terimakasih." Jawab Feri.
" Silahkan duduk. Maaf sebelumnya, ada keperluan apa ya kalian berdua kemari? kenapa William tidak ditemani Dhea? anak kami baik-baik saja kan?" tanya ibunya. Ada nada khawatir dalam kalimatnya, karena hampir setiap hari dia menelfon anak perempuannya, namun kenapa sekarang mantan kekasih anak perempuan mereka datang sendirian tanpa ditemani Dhea.
" Ohhh maaf ibu, jika kami datang kemari tanpa memberitahukan ibu terlebih dahulu. Dhea baik-baik saja di sana. Saya datang mengantarkan William karena keinginan dia sendiri untuk menyampaikan niat baiknya atas keseriusannya dengan anak perempuan ibu yang bernama Dhea." Jawab Feri. Kalimat Feri disusun begitu rapih, agar tidak membuat kesalahan yang nantinya bisa menyusahkan sahabatnya itu.
" Lho bukannya mereka berdua sudah putus?" tanya ibunya sedikit bingung.
" Benar bu, karena William butuh waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang kesungguhan perasaannya terhadap anak ibu, sehingga hari ini dia memberanikan diri untuk menemui orang tua Dhea."
Ibu Dhea hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Feri, sedangkan William hanya diam saja, karena dia sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang di depannya itu. Namun dia percaya, kalimat yang diucapkan Feri adalah kalimat ampuh yang bisa menyelamatkan hubungannya dengan wanita yang dicintainya itu.
" Baiklah tunggu sebentar ya, saya akan memanggil suami saya dulu." Kata ibu Dhea sambil beranjak berdiri.
" Monggo bu." Jawab Feri sopan.
Feri tau dari William, bahwa ayah Dhea bekerja di kantor pemerintahan, maka dia sudah merencanakan hari Sabtu sebagai hari yang tepat untuk menemui mereka, karena pasti di hari Sabtu ayah Dhea ada di rumah.
" Fer, kau jangan sampai membuat kesalahan ya?" Kata William.
" Tenang saja Will, serahkan padaku. Tidak mungkin aku menjerumuskan orang yang akan jadi saudara seimanku. Ibu Dhea sekarang sedang memanggil suaminya, kau hanya menjawab apa yang ditanyakan ayahnya. Dan ikuti semua perkataannya." Katanya.
William hanya mengangguk saja, dan sepenuhnya mempercayakan urusannya pada Feri.