
Pagi harinya saat subuh, Dhea terbangun. Dengan dibantu William dia masuk toilet untuk berwudhu. Kemudian menjalankan sholat subuh dengan perlengkapan seadanya, karena saat itu tidak ada mukena yang bisa digunakan untuk sholat.
" Sayang aku sudah meminta orangku untuk membelikan pakaian untukmu, juga peralatan ibadahmu, nanti setelah mandi kau bisa mengganti pakaianmu ". Kata William setelah Dhea selesai sholat.
Dhea hanya mengangguk pelan.
" Sayang....Kenapa kau kemarin senekat itu ? kau tau bahwa itu bisa membahayakanmu kan ?"
Tiba tiba Dhea meneteskan air mata, dia juga tidak sadar kenapa kemarin bisa seperti hilang akal. Dhea terus menangis tanpa henti, William hanya menatapnya iba. Dia merasa putus asa, kehormatan yang selama ini dijaganya dengan baik, direnggut begitu saja oleh pria yang ada di hadapannya sekarang.
" Aaaarrrggggg.....!!!" Tiba tiba Dhea berteriak keras, dia amat shok saat mengingat kejadian kemarin malam.
" Sayang...sayang...tenanglah...maafkan aku...", kata William, spontan dia memeluk tubuh Dhea.
" Lepaskaaannnnn....", teriak Dhea sambil meronta dan berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan William.
" Cukup kau menyentuhku kemarin malam saja, dan jangan pernah lakukan lagi !!!"
" Iya iya Dhe...maafkan aku !!"
Dhea kembali menangis, William hanya menunduk sambil terus menyesali perbuatannya.
" Dhe...aku mungkin memang jahat, tapi aku bersumpah, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya jika terjadi apa apa denganmu ". Kata William sambil terus menunduk.
" Lalu kau pikir semuanya akan selesai, begitu ?"
" Lalu apa yang harus kulakukan Dhe untuk menebus kesalahanku ?"
" Will aku sekarang telah hancur, satu satunya milikku yang sangat berharga telah kau ambil, tolong katakan padaku bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku ? bagaimana aku menjelaskan pada suamiku nantinya ".
" Kau tidak perlu menjelaskan apa apa Dhe, karena aku tidak akan membiarkan kau menikah dengan laki laki lain ".
" Kau belum juga mengerti Will ? Seandainya perbuatanmu nanti menumbuhkan janin di dalam rahimku, aku tetap tidak akan bisa menikah denganmu, dan anak ini akan menjadi anakku serta tidak bisa diwalikan kepadamu jika dia menikah nanti, karena anak yang dikandung di luar nikah itu dalam agamaku tetap ibunyalah yang menjadi wali ". Teriak Dhea.
" Maksudmu bagaimana Dhe ?"
" Kau tak akan paham Will ".
" Itulah mengapa sebabnya aku bertanya ".
" Sudahlah Will, kepalaku sangat pusing aku tidak ingin berdebat denganmu ".
" Dhe..aku itu mau melakukan apa saja, asalkan kamu itu bisa menerima cintaku ".
" Tapi tidak dengan cara seperti ini ".
" Lalu dengan cara apa lagi ?"
Dhea diam saja tidak menjawab sedikitpun.
" Ya sudah kau istirahatlah dulu, aku keluar sebentar ya ".
Kemudian William segera pergi, di luar dia menelfon seseorang.
" Hallo Will ".
" Hallo Dan...".
" Bagaimana ? kau sudah melakukan yang aku minta kan ?"
" Sudah Will, dan ternyata tebakanku benar, Dhea berusaha mencelakakan dirinya sendiri, karena kehormatannya itu adalah hal yang sangat berharga buatnya ".
" Mencelakakan dirinya bagaimana Will ?"
Lalu William menceritakan kejadian kemarin yang baru saja dialaminya.
" Lalu dimana kau sekarang Will ? Aku kan sudah bilang setelah itu kau harus terus memperhatikannya "."
" Iya Dan aku sudah melakukannya, tapi aku kan tetap tidak bisa menjaganya 24 jam. Sekarang Aku sedang di rumah sakit menungguinya Dan ".
" Tenanglah...kau sudah mengerahkan semua anak buahmu kan ? kita lakukan rencana yang kedua "
" Ya Dan, aku sudah memberitahu mereka semua ".
" Bagus segera bawa dia ke tempat yang aman sesuai dengan rencana kita ".
" Ya Dan, setelah keluar dari rumah sakit aku akan segera membawanya kesana ".
" Bagus Will, jangan sampai kau lalai menjaganya ".
" Pasti Dan.....Aku tidak akan membiarkan gadis itu menyakiti dirinya lagi ".
" Ya bersabarlah, aku yakin kau akan segera mendapatkannya ".
Kemudian William segera menutup telfonnya.
Sementara itu Mike sedang kebingungan, karena dari kemarin pagi saat menjemput Dhea di depan flatnya, gadis itu tidak muncul juga, begitupun sore harinya saat akan masuk kerja, dan sekarangpun pagi hari saat akan menjemputnya lagi, gadis itu tidak muncul juga.
" Kemana dia ? Apakah dia sedang ada urusan di luar ? Tapi kenapa dia tidak menelfonku ?" Gumam Mike.
Ada nada sambung di hanphone Dhea, tapi tidak ada yang mengangkatnya. Mike menelfon lagi hingga berkali kali, tetap saja tidak ada suara. Handphone Dhea memang saat ini berada di dalam kamarnya, kemarin dia meletakkannya di atas tempat tidurnya.
" Kemana dia ? Dari kemarinpun dia tidak mengangkat telfon dariku ".
" Coba aku tanya Bram, siapa tau dia tau dimana Dhea ", gumam Mike lagi.
Kemudian dia segera menelfon Bram.
" Hallo Bram ".
" Iya Hallo Mike ".
" Bram apakah kau sudah di kampus ?"
" Iya Mike aku sudah di kampus, ada apa ?"
" Apakah Dhea ada di situ ?"
" Tidak Mike, dari kemarinpun dia tidak masuk ke kampus ?
" Benarkah Bram, semalampun dia tidak berangkat kerja denganku ".
" Kemana dia ? Coba kau masuk ke dalam, dan ketuklah kamarnya Bram, siapa tau dia memang sengaja tidak ingin pergi denganmu ".
" Aku belum tau letak kamar dia Bram ".
Kemudian Bram segera memberitahu Mike.
" Ok aku coba naik ke atas, mungkin saja aku bisa tau alasan dia menghindariku ".
" Ok Mike, kabari aku segera ya ".
" Baik Bram ".
Lalu Mike menutup telfonnya dan segera naik ke dalam. Dia segera mencari letak kamar Dhea setelah Bram memberitahunya tadi.
" Pasti ini kamarmya, tidak salah lagi nomornya sama seperti yang diberitahukan Bram tadi ". Gumam Mike.
Mike lalu segera mengetuk pintu kamar Dhea. Namun hingga berulang kali mengetuk, tidak ada satupun orang yang membukakannya. Mike mencoba mengetuknya sekali lagi. Dan ternyata yang keluar adalah Nyonya Christy tetangga Dhea.
" Selamat pagi tuan ".
" Oh iya selamat pagi nyonya ".
" Ada apa tuan ? apakah anda mencari orang yang tinggal di dalam kamar ini ?"
" Benar nyonya, namanya Dhea. Dari semalam aku menelfonnya tapi handphonenya tidak diangkat. Lalu sekarangpun sama, handphonnya tidak ada yang mengangkat. Aku khawatir terjadi apa apa dengannya ".
" Oohh maaf tuan, nona Dhea dari semalam dia belum pulang, karena jika dia hendak masuk atau keluar dari kamarnya aku pasti mendengar dia membuka kunci pintunya ini. Kalau tidak salah terakhir keluar ke kamar ini kemarin sekitar jam 12 atau jam 1an ".
" Benarkah nyonya ?? Jadi Dhea saat ini tidak ada di kamarnya ? Tapi kenapa handphone dia tidak dibawanya ?"
" Aku juga tidak tau tuan ".
" Ya sudah terimakasih nyonya atas informasi anda ".
" Sama sama tuan ", lalu nyonya Christy segera masuk kembali ke dalam kamarnya.
" Dhea semoga kamu baik baik saja, dan tidak terjadi apa apa padamu ", gumam Nyonya Christy.
Mike segera pergi meninggalkan kamar Dhea dan langsung turun ke bawah. Sesaat kemudian dia menelfon Bram lagi.
" Hallo Bram ".
" Hallo Mike, bagaimana kamu sudah bertemu dengannya ?"
" Tidak Bram, justru tetangga kamarnya yang keluar dan memberitahuku bahwa dari semalam Dhea tidak pulang ".
" Benarkah Mike ".
" Ya Bram, coba kau tanya pegawaimu, apakah semalam Dhea berangkat kerja ".
" Iya sebentar, coba aku telfon temannya dulu ".
Lalu telfonpun ditutup. Sesaat kemudian terlihat Bram menelfon Mike lagi.
" Hallo Bram bagaimana ? Apakah semalam Dhea pergi ke tempat kerjanya ?"
" Tidak Mike, semalam dia tidak bekerja, dan dia juga tidak mengatakan apapun padaku. Biasanya dia akan ijin denganku jika tidak bisa pergi ke tempat kerjanya ".
" Kemana dia ??" Gumam Mike.
" William...ya William...Dia pasti tau keberadaan Dhea saat ini, tidak biasanya Dhea akan pergi tanpa memberikan informasi sedikitpun ". Teriak Mike antusias.
" Ya Mike...cepat kau tanyakan padanya, aku juga yakin dia pasti tau keberadaan Dhea ".