Something different

Something different
Obrolan bersama orang tua Dhea



Malam ini Dhea dan William duduk di ruang tamu bersama kedua orang tua Dhea.


" Nak ibu dan ayah minta maaf sebelumnya, karena tidak pernah mengatakan kebenarannya padamu." Kata ayah Dhea membuka pembicaraan.


" Ayah hanya ingin menguji sejauh mana keseriusan William terhadapmu, dan juga sejauh mana kesetiaanmu untuk menunggunya dan memenuhi janjimu." Kata ayahnya lagi.


" Jangan berkata seperti itu ayah, aku justru sangat berterimakasih dengan ayah dan ibu, dengan begini Dhea bisa tau bahwa William adalah laki-laki tepat yang dipilihkan Alloh untuk Dhea. Semua pengorbanan Dhea tidak sia-sia, dan Alhamdulliah kami berdua bisa melewatinya semua." Jawab Dhea panjang lebar.


" Ya semoga itu semua bisa menguatkan ikatan bathin kalian berdua."


" Iya ayah." Jawab Dhea.


" Coba kau tanyakan pada kekasihmu, kapan dia akan siap melamarmu?" Kata ayahnya.


Kemudian Dhea menyampaikan perkataan ayahnya kepada William yang sedari tadi diam saja.


" Will ayah bertanya, kapan kau akan melamarku?"


" Maaf Dhe, apakah itu harus? Bukankah kemarin aku sudah melamarmu di pesawat? Apakah aku harus melakukannya dua kali lagi? Padahal aku ingin langsung menikahimu sayang." Jawab William.


" Ihhh kau ini bercanda saja, ayahku bertanya serius Will, kapsn kau akan secara resmi melamarku?"


" Aku serius Dhe, aku tidak ingin berlama-lama melamarmu, tapi akan langsung menikahimu, katakan seperti itu pada ayahmu."


" Bagaimana Dhe? Apa jawaban William?" Tanya ayah Dhea.


" Maaf ayah, tidak mengurangi rasa hormat William pada ayah dan ibu, sebenarnya saat di pesawat kemarin William telah melamarku di hadapan seluruh penumpang, dan dia memberikan cincin ini pada Dhea." Kata Dhea sambil menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


" Lalu?" Tanya ayah Dhea.


" Dia ingin langsung menikahiku ayah, dan tidak ingin menunda-nunda waktu lagi."


Ayah dan ibu Dhea hanya saling berpandangan dan kemudian tersenyum.


" Hehhhh...dasar anak muda, pasti dia sudah tidak sabar lagi ingin hidup bersama denganmu Dhe." Kata ayahnya sambil menggoda Dhea.


" Ihhh ayah bukan begitu, William hanya tidak ingin berlama-lama, karena mungkin dia takut ada apa-apa lagi dengan kami berdua." Jawab Dhea malu-malu.


" Ya....ayah tau nak, ayah juga pernah muda kok. Ya sudah nanti biar ayah menentukan harinya, karena kita juga butuh persiapan matang. Ayah ingin membuatkan pesta untuk kalian berdua nak." Kata ayah Dhea lagi.


Lalu Dhea menyampaikan pada William perkataan ayahnya lagi.


" Will ayah bilang setuju dengan keputusanmu, tapi ayah akan mencari waktu yang tepat, karena ayah butuh persiapan semuanya."


" Persiapan apa Dhe?"


" Katakan ayahmu, biar aku yang menanganinya. Semua kebutuhan dan apapun yang diperlukan orang-orangku yang mengurusnya. Ayahmu biar yang mencari orang yang akan menikahkan kita saja, kasihan jika harus mengurus semuanya."


" Kau tidak keberatan Will?"


" Mana pernah aku keberatan jika itu demi untukmu sayang? Hatiku saja kuberikan untukmu apalagi hartaku." Jawab William sok romantis.


" Hehhhh....kau mulai lagi ya." Jawab Dhea sebal, dan William hanya tersenyum saja melihat reaksi Dhea.


" Yah maaf sekali lagi ya, kata William ayah tidak usah memikirkan pesta pernikahan kami, biar dia yang mengurusnya semua, William hanya minta tolong untuk menyiapkan penghulu untuk kami saja."


" Hehhhh...punya calon menantu kaya raya uang kita tidak ada harganya ya bu?" Kata ayah Dhea sambil memandang ibunya, dan ibu Dhea hanya tersenyum saja.


" Eh maaf ayah bukan begitu maksudnya, tadi William mengatakan kasihan jika ayah harus mempersiapkan segalanya, dia tidak ada maksud untuk tidak menghargai ayah, ayah dan ibu jangan tersinggung ya?"


" Nak, kami itu walaupun baru mengenal kekasihmu, tapi sudah sedikit tau karakternya. Dia itu laki-laki baik, dan kami paham tujuan dia agar tidak ingin merepotkan ayah dan ibu. Kau jangan khawatir, kami tidak pernah tersinggung dengan kata-kata William, dan kami bisa membedakan antara menghormati dan yang tidak. Walaupun terkadang hati orang tua itu sensitif sekali, namun kami lebih percaya bahwa anak yang ayah besarkan ini tidak pernah dengan sengaja ingin menyakiti hati kami." Jawab ayah Dhea bijak.


" Ya ayah pasti itu, bagaimanapun dan seperti apapun keadaan orang tua Dhe, tidak ada seorangpun yang berhak menghina kalian tidak juga calon suami Dhea." Jawab Dhea pada ayahnya.


" Ya nak kami percaya kata-katamu. Katakan pada William jika dia sudah bisa mempersiapkan segalanya segera hubungi ayah, agar ayah bisa langsung mencari penghulu untuk menikahkan kalian berdua. Semuanya sudah selesai, ayah dan ibu masuk dulu ke dalam ya biar kalian bisa enak ngobrol berdua."


" Iya ayah." Kata Dhea mempersilahkan ayah dan ibunya masuk ke dalam. Kemudian orang tua Dhea masuk ke dalam, tinggal William dan Dhea yang kemudian melanjutkan pembicaraannya.


" Sayang bagaimana orang tuamu? Mereka setuju semua dengan rencanaku?" Tanya William pada Dhea.


" Alhamdulillah mereka semua setuju Will."


" Yukurlah, berarti nanti aku tinggal meminta orang-orangku untuk menghubungi event organizer. Aku janji akan membuatkan pesta yang meriah untukmu sayang."


" Apakah itu bukan pemborosan Will?"


" Pemborosan itu dulu Dhe, saat aku membuat pesta untuk mengumpulkan gadis-gadis cantik di kotaku, tapi sekarang kan untuk merayakan pesta pernikahan kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain?"


" Hehhhh...aku benci sekali jika mengingat kau memeluk gadis-gadis itu di pesta." Gerutu Dhea sambil cemberut.


" Itu kan hanya masa laluku sayang, seandainya aku mengenalmu sejak lama, mungkin aku tidak akan pernah berinteraksi dengan mereka, atau bahkan aku sudah memiliki anak-anak yang lucu dari seorang istri secantik kamu sayang."


" Yang penting jangan kau ulangi lagi ya?"


" Tenanglah Dhe, aku sudah puas dulu, untuk apa harus mengulanginya lagi sekarang? Paling rasanya seperti itu itu juga." Jawab William sambil menggoda Dhea.


" Ihhhh....mual perutku dengan perkataanmu itu." Kata Dhea.


" Kenapa? Kau punya asam lambung ya?" Canda Dhea. Dan Dhea hanya cemberut digoda seperti itu.