Something different

Something different
Menjemput Dhea bersamaan



Pagi ini saat berada di dalam kelas, Bram mendekati Dhea.


" Hai Dhe ?"


" Hai Bram ?"


" Kau sudah dengar berita terbaru belum ?"


" Tentang batalnya pernikahan William ? Mike sudah menceritakannya semalan Bram ".


" Ohh aku pikir belum ".


" Hehhh hidupku pasti akan kembali kacau Bram ".


" Yaahh bisa jadi Dhe. Tapi sebaiknya kaupun harus menjauhi Mike Dhe ".


" Menjauhi Mike ? Kenapa Bram ?"


" Kemarin saat di gereja mereka berdua sempat berdebat di hadapanku, dan kamu harus waspada keduanya sangat menginginkanmu ".


" Tapi bukankah Mike tidak mungkin berbuat di luar batas seperti William ?"


" Siapa bilang tidak mungkin Dhe ? kau bisa menjamin itu ? Sedangkan dia sudah berani menerima tantangan dari William bersaing dengannya dan untuk mendapatkanmu ".


" Sungguh Bram ?"


" Iya Dhe, apa kau seperti melihatku sedang berbohong ".


" Bukan begitu Bram, aku hanya mengira bahwa Mike itu akan lebih bisa menerima kenyataan dibanding William ".


" Tapi jika kau terus terusan bersamanya, bukankah itu akan membuat dia semakin tidak ingin berpisah denganmu Dhe. Kau tidak ingin kan kakak beradik itu berseteru karena memperebutkanmu ?"


" Ya...sebenarnya aku tidak mau itu terjadi Bram ".


" Maka dari itu jauhilah mereka berdua ".


" Lalu bagaimana caranya Bram ? Jika untuk menjauhi Mike mungkin akan lebih mudah, tapi William ? kau tau kan bagaimana dia ?"


" Ya aku tau Dhe ".


" Tidak Bram, jika Mike tidak menjagaku, aku takut William bisa berbuat seperti dulu lagi. Aku takut Bram, takut sekali ".


" Hehhhh terserah kau saja Dhe...aku hanya mengingatkanmu. Yang penting kau harus bisa menjaga dirimu sendiri ".


" Iya Bram aku tau itu ".


Obrolan Bram dan Dhea terhenti karena dosen yang mereka tunggu telah datang. William dan Dhea langsung berkonsentrasi mengikuti mata kuliah hari itu hingga selesai.


Sementara itu William sedang mondar mandir di dalam ruangan kantornya, sebenarnya dari semalan dia sangat rindu dengan Dhea, namun hanya bisa melihatnya dari kejauhan karena Mike telah menjemputnya duluan. William tidak terima, karena Mike begitu tega ingin merebut Dhea darinya. Dan siang ini William akan terang terangan menjemput Dhea, dia tidak perduli jika ada Mike di sana. Jika Mike berani menghalang halanginya, dia siap menghadapinya. Begitu tekat William.


Setelah menitipkan beberapa pesan pada sekretarisnya, maka William segera pergi dari kantornya menuju kampus Dhea. Diliriknya arloji di tangannya.


" Hmmm Mike pasti sudah menunggunya di sana. Ahhh aku tidak perduli ", gumam William.


Benar saja saat tiba di depan kampus Dhea, dilihatnya mobil Mike sudah terpakir di lokasi dia biasa menjemput Dhea.


" Hehhh benar kataku, anak itu sudah menunggunya di sana ".


Kemudian William segera menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Mike.


Mike melihat dari spion di atasnya, sebuah mobil yang sepertinya sangat dikenalnya itu.


" William ? Hehhh rupanya dia tidak pernah mau menyerah ", gumam Mike.


Kemudian Mike turun dari kendaraannya dan menghampiri William. William tau Mike sedang menuju ke arahnya, maka diapun membuka kaca mobilnya.


" Hai adikku ", tegur William.


" Kenapa kau di sini ? bukankah kau tau Dhea tidak akan mau ikut bersamamu lagi ?"


" Hehhh ya mungkin saja, tapi kau tau aku kan Mike ?"


" Kau jangan mulai lagi Will ?"


" Hahaha kenapa ? Kau takut bersaing denganku ?"


" Jika bersaingmu secara sehat aku tidak pernah takut Will ".


" Hehhh laki laki egois ".


Perlahan lahan dari kejauhan mereka berdua melihat Dhea sedang berjalan mendekat. William segera turun dan berdiri di samping mobilnya.


Dhea memicingkan matanya, sepertinya dia sangat kenal dengan sosok yang berdiri di samping Mike tersebut. Setelah dekat Dhea baru yakin bahwa orang yang disangkanya tadi benar benar William.


" Apa yang dilakukannya di sini ? Apakah dia juga ingin menjemputku ?" Kata Dhea dalam hati.


Dhea semakin mendekat, matanya tak berkedip menatap dua sosok tampan kakak beradik di depannya ini.


" Subhanalloh l...kenapa aku bisa diperebutkan dua orang yang sama sama membuatku terkesima ini, di negaraku sendiri saja jarang ada laki laki yang mau mendekatiku, karena aku bukan termasuk salah satu cewek beken di kampusku dulu. Apalagi aku juga termasuk bukan cewek gaul. Tapi di sini, justru aku bingung cara untuk menolak mereka berdua ", kata Dhea dalam hati.


Tiba tiba William mendekati Dhea.


" Hai Dhe bagaimana kabarmu ?"


" Kabarku baik Will ".


" Dhe aku tidak jadi menikah dengan Paula ".


" Ya aku tau itu, Mike dan Bram sudah menceritakan padaku ".


" Berarti aku masih bisa mendekatimu seperti dulu kan Dhe ?"


" Will sudahlah...percuma saja....semua usahamu akan sia sia ".


" Tidak Dhe, ijinkanku untuk meyakinkanmu. Ayo pulanglah bersamaku ", ajak William.


" Tidak Will, aku akan pulang bersama Mike ".


" Ayolah Dhe, bukankah aku pernah mengajakmu bersamaku ? dan kau tidak pernah kuapa apakan ".


" Will aku tetap tidak mau pergi bersamamu ".


" Tapi kenapa Dhe ? kenapa ?" Bukankah Mike itupun sama denganku, dia mempunyai banyak perbedaan denganmu. Dia juga menyukaimu, tapi kenapa kau tidak menjauhinya ?"


" Siapa bilang aku tidak menyukainya ? aku menyukainya Will ". William dan Mike sama sama terkejut mendengar pengakuan Dhea.


" Apa kau bilang Dhe ? kau menyukainya ? tapi dia juga tidak seiman denganmu ? Apakah prinsipmu sudah berubah Dhe ?" Tanya William masih setengah tidak percaya.


" Manusia bisa berubah kapan saja Will, begitupun aku. Jadi mulai sekarang kau jangan mendekatiku lagi, karena aku sudah memilih Mike dibanding dirimu ", kata Dhea tegas.


" Tapi Dhe !!"


" Stop Will, ini sudah menjadi keputusanku, dan kamu tidak bisa merubahnya ".


" Ayo Mike kita pergi ", ajak Dhea kemudian.


Mike hanya mengikuti kata kata Dhea. Dia segera masuk ke dalam mobilnya, dan langsung meninggalkan William yang berdiri terpaku sendirian di sana.


" Hehhhhh Dhea...kau pikir aku akan percaya begitu saja kata katamu, aku tau kau berbuat demikian untuk membuatku putus asa lalu berhenti untuk mengejarmu kan ? Aku itu mengenalmu Dhe, prinsipmu tidak akan pernah bisa berubah hanya untuk mempertahankan laki laki seperti Mike. Kau pikir aku bodoh ? Dhea Dhea....", gumam William sambil memperhatikan mobil Mike yang mulai hilang dari pandangan matanya.


" Dhe benarkah yang kamu katakan tadi ?" Tanya Mike saat sudah berada di dalam mobil.


" Yang aku katakan yang mana Mike ?"


" Bahwa kamu menyukaiku ?"


" Hahaha kau ini Mike, aku tadi hanya berpura pura di depannya, agar dia berhenti mengejarku karena dia tau sekarang aku adalah kekasih adiknya ".


" Kau ini, aku tadi sudah sangat gembira mendengarnya aku pikir sungguhan ".


" Hehhh kau seperti tidak mengenalku saja Mike "


" Mungkin aku memang belum terlalu mengenalmu Dhe, tapi apakah kau yakin William juga tidak mengenalmu dan percaya begitu saja dengan perkataanmu ?"


" Ahhhh entahlah, yang penting hari ini aku bisa terhindar darinya, yang lain aku pikirkan lagi belakangan ".


" Hahaha Dhea Dhea kau ini tidak pernah lelah ya bertahan dari godaan William ".


" Harusnya aku yang berkata seperti itu, kalian berdualah yang seharusnya lelah untuk mendapatkan hatiku ".


Mike hanya tertawa mendengar kslimat Dhea.