Something different

Something different
Hujan



Malam ini William menghadiri pesta di salah satu rekan bisnisnya. Seperti biasanya, dia tampil begitu sempurna dengan setelan jas dan kemeja yang membalut tubuhnya, menambah kharisma di wajahnya dan membuat setiap wanita yang melihatnya tidak ingin berpaling.


" Hai teman...aku pikir kau tidak datang lagi malam ini?" Tanya Daniel sahabatnya yang sudah datang sedari tadi, dan sedang duduk menikmati segelas minuman ringan.


" Rindu rasanya Dan dengan suasana seperti ini."


" Hahaha....kau itu sudah menjadi salah satu ikon di party-party kita, sudah tentu kau tidak bisa meninggalkan kesenangan ini begitu saja."


Tiba-tiba datang seorang pria mendekati William.


" Hallo bos, kau sudah datang rupanya? Apa yang kau butuhkan? Wanita? Minuman? Atau yang lainnya? Aku akan sediakan untukmu. Pesta ini untuk merayakan kemenangan bisnis kita bersama teman. Bagaimana kau tertarik dengan tawaranku?"


" Tidak James, saat ini aku tidak ingin apa-apa, pergilah nikmati pestamu ini saja."


" Hahaha ada apa denganmu? Biasanya kau selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik, tumben kau hari ini datang sendiri, bahkan menolak tawaranku. Padahal Akan kukenalkan kau dengan seseorang, dia bukan orang sembarangan, wanita kelas atas, bahkan belum ada satupun yang berhasil merayunya, kau tidak penasaran dengannya?"


" Akhir-akhir ini teman kita ini sedang senang menyendiri James, entah setan mana yang tiba-tiba saja berhasil merubahnya dalam sekejap mata ", kata Daniel menimpali.


" Hahaha bukan begitu, aku hanya sedang tidak ingin berurusan dengan wanita dulu."


" Wow berita yang sangat mengejutkan!!" Teriak James.


" Yahhh tak apalah, namanya juga manusia bisa berubah kapan saja. Ok kalau begitu, aku hanya ingin memberikan pelayanan terbaik untuk para tamuku. Aku permisi dulu ya?"


" Silahkan James."


Sepeninggal James, Daniel dan William kembali menikmati minuman di tangannya.


" William William...ayolah cerita padaku, ada apa denganmu? Kau tidak asyik seperti biasanya. Kau sedang jatuh cinta? Siapa wanita itu sehingga kau dibuatnya seperti ini. Ini bukan kamu William."


" Aku juga tidak tau dengan perasaanku sendiri, tapi aku merasa wanita itu membuatku benar-benar seperti gila. Tiap hari aku selalu ingin melihatnya, tapi dia selalu menolakku, bahkan tidak segan menamparku, belum pernah ada wanita seberani itu padaku sebelumnya."


" Kau penasaran padanya?"


" Sangat penasaran."


" Kau ingin mendapatkannya?"


" Ya, aku ingin mendapatkannya, dan harus, itu janjiku...aku tidak akan pernah melepaskannya."


" Kenapa kau tidak memakai dengan caramu? Kau punya segalanya kan?"


" Sudah, aku sudah melakukan berbagai macam cara, bahkan sampai memaksanya, tapi dia sama sekali tidak pernah menghiraukanku. Aku ingin dia benar-benar bertekuk lutut di hadapanku, sepertinya aku memang harus berusaha lebih keras lagi."


" Hahaha aku penasaran secantik apa wanita itu? Sehingga bisa membuat temanku ini kelabakan."


" Dia tidak seperti wanita kebanyakan Dan, dan jauh dari kata seksi seperti wanita-wanitaku sebelumnya."


" Apakah dia cantik?"


" Ya menurutku sangat cantik."


" Lalu selain kecantikkannya, apa yang membuatmu tertarik padanya?"


" Karena dia menolakku, bukan saja kehadiranku, tapi semua barang yang kuberikan padanya."


" Hahaha sehebat apa dia berani menolak pemberian orang sekaya kamu Will?"


" Itulah Dan, dia bukan seperti wanita kebanyakan."


" William William...semoga kau segera mendapatkannya, agar kau bisa kembali seperti dulu lagi, rasanya aku kehilangan partner, tidak ada pria sebrengsek dan segila kau dalam menaklukan wanita Will."


" Hahaha sialan kau." Jawab William.


Lalu mereka berdua kembali asyik menikmati minuman ringan, sambil mendengarkan alunan musik.


" Hei teman, kau lihat wanita yang duduk di sudut sana?"


William melihat arah yang ditunjukkan oleh Daniel melalui isyarat matanya.


" Apakah yang memakai gaun merah itu?"


" Ya benar, sepertinya dia mencuri pandang kemari terus sejak tadi."


" Ya ya ya...kelihatannya juga cantik, kau tertarik?" Tanya William sambil tersenyum penuh arti.


" Menurutmu?"


" Hahaha kejarlah!!"


" Kau tidak ingin berjuang bersamaku kali ini?"


" No no no....kali ini untukmu saja teman, aku tunggu di sini paling lama 20 menit untuk mengenalkanku padanya."


" Hahaha....doakan aku kawan, agar tidak sampai 10 menit ku bawa dia ke hadapanmu, dan malam ini aku tidak tidur sendiri." Kata Daniel sembari pergi menuju wanita tersebut.


William hanya tergelak menanggapi temannya yang sama gilanya dengan dirinya itu.


Saat sedang memperhatikan Daniel yang sedang merayu wanita yang diincarnya tadi, tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Sebenarnya saat ini sedang musim panas, tapi terkadang hujan bisa datang secara tiba-tiba. William segera melihat arloji di tangannya pukul 21.35 menit.


" Ya Tuhan, sebentar lagi Dea pulang dari tempat kerjanya, pasti dia tidak membawa payung, aku harus menjemputnya!!" Kata William dalam hati.


William segera beranjak dari duduknya, dan buru-buru keluar.


" Hei Will kau mau kemana?" Daniel terlihat memanggil sambil menggandeng wanita tadi di sebelahnya.


" Aku sedang ada urusan, maaf ya aku duluan!!"


" Hai bukankah kau ingin aku mengenalkan gadis ini padamu?"


" Lain waktu saja Dan, aku buru-buru ", kata William setengah berteriak dan melangkahkan kakinya ke pintu keluar dengan setengah berlari. Dia mengendarai mobilnya dengan kencang, berharap bisa secepatnya tiba di tempat kerja Dhea.


" Semoga Dhea belum ke halte itu, kasian jika dia harus berjalan ke sana hujan-hujan begini ", bisik William.


Sementara itu Dhea terlihat sedang berlari-lari menuju halte biasa dia menunggu angkutan umum. Bajunya sudah basah kuyup, dia menggigil kedinginan sambil meringkuk di kursi halte, menunggui bus yang sedari tadi belum juga datang.


" Ya Alloh kenapa busnya belum kelihatan juga, padahal jam segini biasanya sudah datang, mungkin karena cuaca sedang hujan ", gumam Dhea sambil melihat arlojinya. Dhea mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya, dia tidak menyangka bahwa hari ini akan hujan lebat, padahal sore tadi cuaca masih cerah.


Sementara itu William terus mengemudikan mobilnya menembus hujan yang semakin lebat mengguyur jalanan di kota ini. Malam ini suasana kota sedikit lengang, orang-orang lebih memilih meringkuk di dalam rumah sambil menikmati segelas teh hangat, dibandingkan keluar di cuaca yang sedang tidak bersahabat ini.


" Hhhhhhh aku terlambat, dia pasti sudah pulang ", gumam William


" Tapi coba aku lihat di halte biasanya, siapa tau dia masih di sana ", katanya lagi.


Lalu William kembali menjalankan mobilnya pelan, sambil memperhatikan jalanan di depannya, dan berharap masih bisa bertemu Dhea.


Tak lama William telah tiba di halte, hujan masih belum juga reda. Dilihatnya Dhea sedang duduk sendirian di halte tersebut, badannya basah kuyup. Tanpa menunggu lama William segera turun menghampiri Dhea sambil berlari-lari.


Dhea tidak menyadari kedatangan William, dia masih saja di posisinya semula, mendekap kedua kakinya sambil meringkuk, melindungi diri dari dinginnya cuaca malam ini. William segera melepas jas yang dipakainya, dan menaruhnya di tubuh Dhea.


Dhea sangat terkejut melihat sosok William di hadapannya.


" Heiii...apa-apaan ini, ambil bajumu kembali!!" Kata Dhea sambil menyingkirkan jas William dari tubuhnya. Jas itu jatuh di bawah kaki William.


" Kau gadis keras kepala ", sahut William sambil mengambil jas itu kembali.


" Mau apa kau kemari?"


" Aku sengaja menjemputmu."


" Aku bisa naik bus sendiri."


" Lihat ini sudah terlalu malam untuk kau menunggu sendirian di sini, kau mau diperkosa orang?"


" Kau ya....jangan bicara sembarangan!!!"


" Ayo pulang bersamaku!!!"


" Tidak, pergilah!!"


" Kau bandel ya? Kau mau aku menyeretmu masuk dalam mobilku?" Ancam William.


" Silahkan kalau kau berani!! Kau kan memang selalu mengancamku!!" Jawab Dhea mencoba melawan.


" Oke jangan salahkan aku ya, kau yang meminta aku untuk memaksamu ", jawab William.


" Hhhhhhh....kau ini bisanya cuma menggertak sa...."


Belum selesai kalimat Dhea keluar, tiba-tiba William sudah menggendong tubuh Dhea dan membawanya masuk ke dalam mobil.


" Hei...kau sudah gila ya, turunkan aku cepat, laki laki kurang ajar kau sudah berani menyentuhku...cepat turunkan kataku!!" Jerit Dhea sambil memukul dada William.


William tidak mendengarkan teriakan Dhea sama sekali. Dia terus berjalan sambil membuka pintu depan mobilnya, dan meletakkan Dhea di atas kursi.


William segera menutupnya dan mengunci dari luar agar Dhea tidak bisa kabur. Dhea terus berusaha membuka pintu mobil sambil berteriak-teriak, namun tidak bisa.


William segera masuk di kursi kemudi, lalu menghidupkan mesin mobilnya, dan menjalankannya.


" Hentikan mobil ini....Hentikan William!!" Teriak Dhea sambil berusaha merebut kemudi yang sedang dipegang William untuk menepi. William sama sekali tidak memperdulikan teriakan Dhea, apalagi tenaga Dhea tidak sebanding untuk melawan tubuh William yang besar.


" Hentikan William, atau aku akan melompat!!" Ancam Dhea.


Tiba-tiba William menghentikan mobilnya di tepi jalan.


" Diammm.....!!!" Bentak William.


" Dengar!!! Kamu jangan pancing emosiku ya? Kamu pikir aku tidak bisa melakukan yang lebih kasar daripada tadi, atau kau ingin aku memaksamu melayaniku di sini?" Ancam William lagi.


" Dan hentikan teriakanmu!! Kau bisa mengacaukan konsentrasiku, tenanglah di situ, kau dengar kan kataku?" Kata William masih dengan nada keras dan menatap Dhea dengan kedua bola matanya yang tajam.


Dhea lagi-lagi dibuat terkejut dengan kemarahan William, dia beringsut mundur dan menyandarkan tubuhnya di pintu mobil. Dia benar-benar dibuat takut kali ini.


" Pakai jas ini!! Lihat bajumu basah semua!" Kata William sambil melemparkannya di pangkuan Dhea.


" Ya Allloh laki-laki ini kasar sekali, bantu hamba ya Alloh tolong lindungi hamba ", kata Dhea dalam hati, mulutnya komat kamit memohon doa.


" Kau sedang mengucapkan apa ? mantra ? kau mau mengguna gunaiku agar bisa melepaskanmu hah ? dasar gadis keras kepala, aku tidak pernah membiarkan kau lolos dari genggamanku camkan itu!!" Kata William, lalu menjalankan mobilnya kembali.


Sepanjang jalan William sama sekali tidak membuka mulutnya, wajahnya menatap tajam ke depan, seolah sedang konsentrasi dengan jalan di depannya. Padahal saat ini dia menyesal sekali, karena kembali membentak gadis yg duduk di sampingnya ini. Dia sangat kasihan melihat wajah pucatnya tadi, bibirnya bergetar seperti ketakutan, apalagi kondisinya yang basah kuyup itu. Yang ada di pikiran William saat ini adalah segera tiba di rumah Dhea, agar gadis itu bisa cepat mengganti pakaiannya, sehingga dia mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang.


Dhea sudah amat pasrah saat ini. Kendaraan yang dikemudikan William seperti sedang berkejar-kejaran dengan gedung di kanan kiri jalan. Dia hanya memejamkan mata dan berdoa bisa selamat tiba di rumahnya.


Tak lama William sudah menghentikan mobilnya di depan tempat tinggal Dhea. Dhea masih saja memejamkan matanya. William menengok ke arah Dhea. Dia tersenyum melihat gadis di sampingnya ini terpejam, dia ingin menyentuh wajahnya yang terlihat polos itu dan bibirnya yang sedikit pucat akibat kedinginan, namun diurungkannya.


" Dhe...turunlah kita sudah sampai di rumahmu ", panggil William.


Dhea masih diam saja tidak mendengar panggilan William.


" Dhe...", panggil William lagi, kali ini sambil menyentuh tangan Dhea.


" Heiii....jangan menyentuhku!! Lepaskan tanganmu." Teriak Dhea tiba-tiba.


William hanya menarik nafas panjang melihat reaksi Dhea yang terkejut.


Dhea mengerjap-ngerjapkan matanya, ternyata dia ketiduran tadi.


" Kita sudah sampai, turunlah ", kata William sambil menatap Dhea.


" Ohhh maaf aku ketiduran tadi ", jawab Dhea pelan.


" Kalau begitu aku turun dulu ya, terimakasih sudah mengantarku ", kata Dhea lagi.


" Ya cepat masuklah, aku akan pergi setelah kau naik ke atas, jangan lupa segera ganti bajumu, nanti kau bisa sakit."


Dhea hanya mengangguk pelan. Kemudian Dhea segera turun, lalu berlari-lari kecil masuk ke dalm flatnya, hujan masih belum reda sedari tadi.


Dhea segera naik dan masuk ke dalam kamarnya, kemudian dia mengintip dari balik jendela kamarnya, dilihatnya mobil William berjalan pelan meninggalkan flatnya.


" Hhhh...laki-laki aneh ", bisik Dhe


Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


" Aduhh jas laki-laki itu kenapa masih aku pakai? Hahhh bodohnya aku, berarti aku harus mengembalikannya lagi padanya ", Gerutu Dhea sambil menyesali kelalaiannya.


Sementara itu William tersenyum-senyum sendiri di dalam mobilnya.


" Ya Tuhan apa sebenarnya yang sedang terjadi denganku? Apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya seperti kata Daniel? Kenapa aku begitu mengkhawatirkan gadis itu? Harusnya aku saat ini sedang berpesta pora bersama teman-temanku ditemani gadis-gadis cantik, bukannya malah menjemputnya di tengah hujan lebat seperti ini ", kata William dalam hati sambil menertawai kekonyolannya akhir-akhir ini.