Something different

Something different
William menelfon Mike



" Dhe makan dulu yuk? Kita sudah lama kan tidak pernah makan bersama lagi?"


" Hmmm makan ya?" Jawab Dhea sedikit keberatan.


" Ayolah, kamu jangan khawatirkan William. Aku sudah ikhlas kamu dengannya, jadi dia tidak perlu cemburu lagi denganku."


" Hemmm.... bolehlah kalau begitu." Jawab Dhea singkat.


" Terimakasih ya?"


Dhea hanya mengangguk sambil tersenyum.


Sementara itu William terlihat sedang menelfon Hendrik.


" Hallo Hendrik, kau sudah menjemput kekasihku?"


" Hem eh ehm maaf tuan, saya hari ini tidak menjemput Nona Dhea." Jawab Hendrik gugub.


" Hahhh...apa maksudmu? Lalu siapa yang menjemputnya?" Bentak William.


" Aduhhhhh...sudah kuduga pasti Tuan William marah besar padaku." Gerutu Hendrik dalam hati.


" Ma...maaf tuan, tadi Tuan Mike tiba tiba datang ke kampus Nona Dhea, dan meminta saya untuk pulang."


" Kenapa kau tidak menolaknya? Bukankah sudah aku pesan sebelumnya, bahwa kuminta kau menjaganya? Kenapa kau membiarkan dia pergi bersama Mike?"


" Maaf tuan, adik anda memaksa saya. Saya tidak bisa untuk menolaknya."


" Ya sudah, aku akan menelfon Mike. Untuk kali ini kau kumaafkan, tapi jika kau ulangi, aku tidak akan pernah memberimu kesempatan lagi."


" Iya tuan maaf."


" Ya." Jawab William singkat.


Tanpa basa basi lagi William langsung menutup telfonnya, kemudian segera menghubungi Mike.


Mike terlihat sedang menikmati makanan bersama Dhe, belum separuh makanan di piring selesai dilahapnya, tiba tiba handponennya berdering. Mike segera mengambil dari saku bajunya. Dilihatnya sedikit lama nama William berkedip kedip di layar handphonennya.


" Siapa Mike? Kenapa kau hanya memandanginya saja, dan tidak segera mengangkatnya?"


" William Dhe, dia sepertinya sudah tau jika kau pergi bersamaku."


" Kubilang juga apa? Dia itu memiliki mata mata di mana-mana. Pasti dia akan marah besar padamu."


" Tapi dia tidak akan mungkin marah padamu Dhe, jadi jangan khawatir oke. Sebentar aku akan mengangkatnya ya?" Pamit Mike sambil menjauh dari posisi Dhea sekarang.


" Hallo Will?"


" Mike! Aku tau kau sekarang sedang bersama Dhea kan? Awas ya kau jangan coba coba mendekatinya lagi, atau...!"


" Atau apa Will? Atau kau akan membuat Dhea segera menikah denganmu di bawah ancamanmu?"


" Kau bodoh Will. Seharusnya kau tidak perlu menekannya terus untuk membuatnya jatuh cinta padamu."


" Maksudmu apa?"


" William...William..kau ini sungguh tidak peka sekali. Kau dekat dengannya tapi tidak mengenalnya."


" Apa sebenarnya yang sedang kau bicarakan Mike?"


" Will...tadinya niatku menjemputnya ingin tau kebenaran cerita Bram dari mulut Dhea langsung. Dan juga ingin tau tentang kelanjutan hubunganmu dan dia ke depannya. Aku pikir dia tersiksa saat ini, dan niatku untuk membantunya keluar dari masalahnya. Ternyata anggapanku salah."


" Salah bagaimana Mike?"


" Apa kau tidak pernah merasa sikap Dhea mulai berubah padamu?"


" Ya aku merasakan itu Mike."


" Dan kau tau bahwa dia mulai jatuh cinta padamu?"


" Aku tidak bisa memastikan itu, aku takut jika terlalu percaya diri."


" Itulah Will, aku melihat dia mulai bisa percaya padamu, dan sepertinya mulai jatuh cinta padamu. Jangan kau tekan terus dia, perlakukanlah dengan baik, berdamailah dengannya, aku yakin lambat laun kau akan bisa memenangkan hatinya."


" Lalu kau?"


" Will, kau itu kakakku. Jika memang wanita yang kusukai itu lebih memilihmu dibanding aku, aku akan ikhlas. Dulu aku mau bersaing denganmu karena aku yakin, aku masih ada kesempatan untuk mendapatkannya, tapi sekarang sepertinya kesempatan itu semakin kecil Will. Aku bahagia jika kau bisa bahagia, terlebih dengan wanita sebaik Dhea. Jangan sia siakan kesempatan ini, jadikan dia cinta terakhirmu. Jangan pernah ada lagi Dhea Dhea yang lain."


" Kau sungguh-sungguh Mike?"


" Iya Will, aku sungguh-sungguh. Tapi kesungguhanku ini bisa berubah sewaktu waktu jika kau menyia nyiakannya, dan akulah orang pertama yang akan merebut dari tanganmu!"


" Terimakasih Mike, benar kata Dhea kau orang yang memiliki hati seluas samudra."


" Hahaha kau mulai pintar bermain kata-kata seperti Dhea. Tapi aku tidak mungkin memiliki hati seluas samudra, jika itu bukan demi kakakku yang memiliki kasih sayang seluas samudra juga."


" Hahaha kau ini, sepertinya aku tidak salah sedari kecil dulu selalu membelamu, ternyata sekarang kau mau mengalah untukku."


" Ya demi kebahagianmu, Will."


" Tapi ingat! Besok-besok aku tidak akan mengijinkanmu menjemputnya lagi!"


" Oh pasti itu, aku juga tidak mau jika terlalu dekat dengannya, cintaku bisa kembali bersemi Tuan William!"


" Hahaha...kau gila Mike!"


" Lalu mana sekarang wanitaku? Aku sangat merindukannya."


" Sebentar ya, dia sedang makan."


Lalu Mike segera berjalan kembali di tempat duduk semula di sebelah Dhea.


" Dhe, ini William ingin berbicara denganmu." Kata Mike pelan.


" Denganku?" Bisik Dhea dengan gerakan isyarat tangannya.


" Iya, ini angkatlah." Bisik Mike pula.


" Tapi...." Jawab Dhea.


" Sudah cepat angkat!" Jawab Mike masih dengan berbisik


Dhea menerima handphone dari tangan Mike, dadanya sedikit berdebar, takut jika William marah dengannya.


" Ha...hallo...." Sapa Dhea gugub.


" Hallo sayang, kau sedang makan apa?"


Dhea bengong, bingung kenapa sikap William justru sangat manis dan bertolak belakang dengan tebakannya.


Dhea menjauhkan handphone dari telinganya, dan melihat layar handphone yang dipegangnya, benarkah saat ini yang berbicara dengannya adalah William? Mike hanya meliriknya sambil tersenyum melihat reaksi Dhea yang kebingungan.


" Hallo...Dhe...kenapa diam? Kau masih di situ kan?"


" Eh ehm iya Wil, aku masih di sini." Jawab Dhea masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.


" Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"


" Eh kamu tadi tanya apa? Aku lupa?"


" Hahaha...kenapa baru kutinggal beberapa hari kau jadi pelupa sayang, apakah makanan yang kau makan kurang bergizi akhir akhir ini?"


" Eh tidak, ini adikmu memesankan ikan untukku, enak sekali Will, dan pasti sangat bergizi."


" Hemmm...kau lupa ya denganku karena ditraktir adikku?"


" Eh tidak tidak, aku selalu ingat kamu kok!!"


" Maksudmu kau berarti merindukanku kan?"


" Iya rindu...eh ehmm bukan bukan maksudku itu!" Kata Dhea gugub.


" Aduhhhh kenapa aku keceplosan bodoh bodoh", kata Dhea dalam hati sambil memukul mukul dahinya sendiri


Mike memperhatikan Dhea sambil tertawa tawa, Dhea langsung memelototkan matanya ke arah Mike karena takut William mendengar. Mike langsung menahannya dengan menutup mulutnya, walaupun akibatnya perutnya menjadi sakit.


" Hahaha Dhea Dhea....seandainya kau ada di sampingku, pasti aku akan tertawa melihat ekspresi wajahmu. Coba berkacalah pasti wajahmu merah padam kan?"


" Hehhh...sialan dia pasti tau aku sekarang sedang menahan malu." Gerutu Dhea.


" Dhe...aku rindu sekali denganmu, kau rindu denganku tidak?"


" Aku?"


" Ya kamu rindu denganku tidak?" Tanya William mengulangi pertanyaanya, nadanya mulai serius.


" Aku...ehmm..."


" Jangan dijawab Dhe jika itu membebanimu. Aku hanya ingin setiap hari bisa mendengar kabarmu selalu sehat, walaupun saat ini tidak ada aku di sampingmu. Baik baik ya disana! Mungkin aku masih lama di sini. Nikmatilah makan siangmu, setelah itu ajak Mike untuk segera mengantarmu pulang, karena aku tidak mau kau kelelahan karena pergi seharian bersamanya."


" Iya Wil."


" Ya sudah Dhe. I love you."


Kemudian William menutup telfonnya.


Dia menatap Mike masih setengah tidak percaya.


" Dhe, kenapa bengong?"


" Ini benar William?"


" Hahaha memangnya kau tidak bisa membedakan suaranya ya?"


" Bukan begitu, kenapa dia tidak marah saat tau aku jalan denganmu?"


" Memangnya dia berani marah denganmu?"


" Ahhh sebelumnya juga kalian sempat bertengkar bukan? Hemmm apa yang kau katakan padanya Tuan Mike? Kau coba memperdayanya ya?"


" Memperdaya apa coba? Memangnya selama ini kau tau aku pria yang suka berbohong?"


" Lalu kau bicara apa dengannya?"


" Hahaha kamu tidak perlu tau Dhe, ini pembicaraan antara dua orang pria dewasa." Jawab Mike sambil tertawa.


" Hehhhhh kalian berdua memang sama sama menyebalkan." Gerutu Dhea.