
Setelah sholat isya' Dhea segera pergi ke bandara dengan diantar William. Dia harus berangkat lebih awal karena harus mengecek pasport di bandara nanti, dan persiapan ***** bengek lainnya.
" Sayang, kau sudah yakin pergi selama 3 minggu?" Tanya William menegaskan.
" Iya Will, kenapa?"
" Kau tidak berubah pikiran?"
" Berubah pikiran bagaimana?"
" Ya misalnya saja kau cuma pergi 2 hari lalu kembali lagi kesini."
" Hahaha kau pikir jarak negaraku dengan negaramu ini hanya di seberang lautan saja? Bisa bolak balik seenaknya?"
" Ya maksudku, kau tidak jadi berlama lama di sana sayang!!"
" Belajarlah untuk tidak selalu bersamaku William, kita tidak tau akan takdir yang bisa memisahkan kita berdua nanti."
" Kau jangan bicara seperti itu Dhe!"
" Tapi itu kenyataan sayang."
" Iya aku tau itu. Tapi aku tidak mau itu terjadi sekarang, aku tidak siap!!"
" Apakah kita bisa menolaknya?"
Tiba-tiba William menghentikan mobilnya.
" Dhe pleas jangan bicara seperti itu, aku jadi takut untuk melepas kepergian kamu."
" Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa padaku."
" Kau janji akan kembali lagi kesini bersamaku?"
" Insyaalloh Wil."
" In......???
" Insyaalloh sayang....maksudnya jika Tuhan mengijinkan pasti aku akan kembali lagi ke sini, dan bertemu lagi denganmu ya!!" Jawab Dhea lembut.
" Ya sayang, aku sangat mengharapkanmu." Kata William sambil meraih kedua telapak tangan Dhea dan meletakkan di pipinya.
" Ayo kita berangkat!! Atau kau memang sengaja ingin membuatku terlambat?"
" Hehehe tentu tidak sayang..!" Kata William sambil tersenyum lalu memacu kendaraannya kembali.
" Sayang hati-hati ya disana nanti. Aku pasti akan merindukanmu...!" Kata William saat akan melepaskan Dhea naik ke pesawatnya.
" Iya sayang, aku pasti akan selalu ingat pesanmu."
William terus memegang kedua tangan Dhea, seolah berat untuk melepaskan kekasihnya itu.
" Aku pasti akan sering menelfonmu, kau tidak keberatan kan?"
" Tentu tidak, tapi kau harus ingat bahwa waktu di negaraku lebih cepat 7 jam dibanding dengan negaramu, jadi kau harus memperhatikan itu ya?"
" Siap sayang, pasti aku tidak akan lupa itu."
" Ya sudah lepaskan tanganku, karena aku harus segera naik ke pesawat."
" Iya sayang. I love you." Kata William sambil mencium kedua jemari Dhea lalu perlahan lahan melepaskan tangan Dhea.
" Love you to sayang." Kata Dhea sambil tersenyum. Perlahan berjalan meninggalkan William, lalu membalikkan tubuhnya sebentar dan melambaikan tangannya kembali, kemudian segera berlalu.
Dhea menatap suasana malam melalui jendela pesawat di sampingnya. Hanya kerlap kerlip lampu rumah yang mulai tidak terlihat setelah pesawat mulai terbang semakin tinggi.
Dhea sebenarnya tidak tega meninggalkan kekasihnya itu, apalagi William terlihat seperti berat saat hendak melepas kepergiannya. Namun dia juga amat rindu dengan kedua orang tuanya. Apalagi uang yang dikirim orang tuanya selalu utuh di dalam rekening Dhea, sehingga dia tidak perlu untuk meminta uang kepada mereka untuk membeli tiket kepulangannya nanti. Bagaimana tidak? Wiiam memenuhi segala kebutuhan Dhea selama tinggal di sana, juga memberinya kartu kredit, dan William selalu protes jika Dhea tidak mau menggunakannya.
Dhea tersenyum sendiri mengingat sosok kekasihnya itu, kekasih yang selalu perhatian padanya, yang selalu romantis juga selalu memanjakannya. Entah apa yang bisa membuat William begitu tertarik padanya, padahal Dhea merasa tidak ada yang spesial pada dirinya. Jika hanya cantik, wanita wanita di luaran sana jauh lebih cantik dari dirinya, jika itu seksi, bahkan William sendiripun mengatakan dirinya seperti tiang listrik.
" Oaaamm.....!!" Dhea mulai mengantuk, dan perlahan mata Dhea mulai terpenjam, perjalanannya masih sangat panjang, dan dia harus beristirahat.
Sementara itu William telah berada di dalam kamarnya. Sebenarnya dari tadi dia sudah berusaha untuk memejamkan matanya, namun tetap saja tidak bisa. Pikirannya melayang layang dan masih saja tidak bisa melupakan bayangan kekasihnya itu. Padahal baru dua jam lalu dia mengantar Dhea ke bandara, tapi hatinya begitu berat berpisah dengan kekasihnya itu. Akhirnya dia berjalan ke luar dan duduk di balkon kamarnya. Entah kenapa tiba-tiba hatinya begitu kosong, separuh jiwanya seolah hilang dibawa pergi oleh Dhea.
William meraih handphone yang sedari tadi diletakkan di atas meja di depannya. Dia tidak mungkin menelfon Dhea, karena pasti gadis itu sedang di dalam pesawat dan hanphonennya dimatikan. Maka William hanya membuka buka galeri foto yang ada di dalam telefon genggamnya itu. Dia melihat satu persatu fotonya bersama Dhea, dia tertawa tawa sendiri saat mengingat moment kebersamaannya dengan kekasihnya itu. Diusapnya wajah Dhea yang ada di layar handphonennya itu seolah sedang ingin menyampaikan kerinduannya pada wanita pujaannya itu.
" Sayang, entah bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Sekarang saja saat aku tau kau pergi jauh, aku merasa benar-benar seperti tidak memiliki gairah. Dhea aku sangat mencintaimu, semoga Tuhan memberikan petunjuknya agar kita segera bersatu." Bisik William sambil mencium foto Dhea.
Dhea perempuan biasa yang telah mampu merubah semua gaya hidup William, yang mampu merubah semua sikapnya yang awalnya buruk menjadi lebih baik. Namun cinta yang hadir diantara mereka yang sempat membuat Dhea khilaf, terkadang menuntut mereka harus bisa saling mengendalikan diri. Memang benar tuntunan dalam agama Dhea, apapun alasannya tidak memperbolehkan seseorang untuk berpacaran, karena sewaktu waktu bisa saja William ataupun Dhea tidak mampu menahan hasrat mereka. Terlebih didukung gaya hidup di negara itu yang begitu bebas, dimana setiap orang tidak saling mencampuri urusan satu sama lain.