
Malam ini William diantar supirnya ke bandara. Satu buah koper besar dimasukkan ke bagasi mobil.
" Bawaan anda banyak sekali tuan? Memangnya anda berapa hari berada di Indonesia tuan?"
" Itu terlihat banyak karena oleh-oleh dan bukan pakaianku. Hari Minggu aku sudah kembali lagi ke sini." Jawab William.
" Ohhh aku pikir tuan akan lama di sana."
Kemudian supir William segera mengemudikan kendaraannya menuju bandara. Pukul 22.00 tepat pesawatpun berangkat. William duduk sembari membolak balikan majalah yang ada di depannya. Waktu perjalanannya masih sangat panjang, dan rasa rindunya akan kekasihnya sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Rasa bosan mulai menderanya, apalagi majalah tersebut isinya tidak begitu menarik, maka William segera meletakkan majalah itu di tempatnya kembali, dan dia mulai memejamkan matanya.
Pesawat terus terbang tinggi, mengantarkan William untuk menjemput sekeping hatinya yang saat ini berada di tempat nun jauh di sana. Sukmanya melayang pergi, dan berharap kembali lagi saat pesawat itu mendarat sempurna di Nusantara tercinta.
Perjalanan kurang lebih 14 jam telah dilalui William. Pesawat yang ditumpanginya telah tiba di bandara sekitar jam 10 siang. Dhea telah menantinya dari setengah jam yang lalu. William berjalan keluar sembari menarik kopernya. Kacamata hitamnya yang sedari tadi dipakainya, masih menempel menutupi matanya. Dia melihat sekeliling, mencari cari sosok kekasihnya yang berjanji akan menjemput di bandara.
" Daaarrrr....!!" Tiba tiba Dhea sudah berdiri di belakangnya dan mengagetkannya.
" Ya tuhannn...sayaaang...!!! Jantungku hampir lepas karena terkejut." Teriak William spontan.
" Hemmmm....berlebihan kau." Jawab Dhea sambil tersenyum.
" Ohhh Dhe...aku sangat merindukanmu sayang...!!" Kata William sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
" Eittsss...jangan macam-macam ya...!!"
" Hahaha...aku pikir kau khilaf karena merindukanku juga." Jawab William.
" Hehehe...kau pasti mencari kesempatan dalam kesempitan bukan? Aku di sini itu bukan cuma untuk melepas rinduku pada orang tuaku, tapi juga untuk mengecharge imanku tuan, karena setahun di sana sepertinya daya tahanku mulai goyah karena rayuanmu." Jawab Dhea.
" Hahaha...kau bisa saja, yang penting kita bisa saling mengingatkan sayang."
" Yup benar katamu."
" Tapi aku masih boleh menggandeng tanganmu kaaan??"
" Untuk sementara jangan dulu ya!! Lihatlah orang-orang di sekelilingmu! Mereka itu saja sudah terheran heran melihat tampangmu yang mempesona, apalagi jika ditambah kau menggandeng gadis sepertiku, mereka pasti berpikir bahwa kita salah satu contoh korban film Beauty And The Beast, tapi versi perempuannya yang buruk rupa."
Kata Dhea sambil memberi isyarat dengan matanya pada William, menunjukkan beberapa orang yang sedang menatap kagum pada kekasihnya itu, terutama kaum hawa.
" Hahaha....kau ini, tapi kau sangat cantik di mataku sayang."
" Ya benar tapi jika aku disandingkan denganmu, mungkin kecantikanku nilainya hanya seperempat dari ketampananmu William."
Yah walaupun sebenarnya Dhea itu tergolong perempuan yang cantik, namun tetap saja dia merasa kurang percaya diri jika berjalan dengan William, karena Dhea merasa William lebih pantas jika bersanding dengan perempuan-perempuan cantik seperti di layar-layar tv yang setiap hari wajahnya tidak pernah lepas dari make up dan pandai bersolek. Bukan seperti dirinya yang hanya berhias seperlunya saja.
" Ayo kita pergi dari sini, sebelum ketampananmu meredup karena dinikmati oleh orang-orang itu Will." Ajak Dhea.
" Oke, ayo sayang." Jawab William sambil menarik kopernya kembali.
" Kita naik apa Dhe?"
" Aku tadi bawa mobil ayahku, tapi bukan mobil mahal seperti milikmu di sana."
" Kau ini jangan membanding-bandingkan terus. Jika aku jadi suamimu nanti, aku akan membelikan mobil apapun sesuai dengan keinginanmu."
" Aminn, semoga saja ada malaikat mendengar doamu, dan membuka pintu hatimu untuk menerima tuhanku." Gumam Dhea.
Dhea segera menghampiri sebuah mobil warna putih yang terparkir di halaman bandara.
" Kali ini aku yang mengemudikannya ya, kau diamlah di sampingku, jangan banyak protes dan berdoalah semoga kita selamat sampai tujuan." Kata Dhea sambil melirik William.
" Hei kenapa kau berbicara seperti itu? Kau sudah lama kan bisa mengemudikan mobil Dhe?"
" Baru kemarin sore sayang."
" Hahh...aku tidak mau mati bersamamu di sini Dhe."
" Hemmm...kau bilang cinta padaku, tapi kenapa kau takut mati bersamaku Tuan??" Goda Dhea.
" Iya...tapi ini namanya mati konyol Dhe!!"
" Hahaha...tenanglah Will, aku sudah biasa mengendarai mobil di sini, kau ini ternyata takut mati juga."
" Hahhhh...kau membuatku jantungan Dhe, aku pikir kau benar-benar baru bisa mengendarai mobil."
" Hahaha....terlalu banyak menonton film komedi kau Will."
" Tidak ada hubungannya Will."
" Hahaha....kau di sini jadi pintar melucu ya."
" Kita berangkat sekarang ya, kau sudah siap? Jangan lupa sabuk pengamanmu" Kata Dhea.
" Ok sayang."
Kemudian Dhea langsung memacu kendaraannya.
" Kau tidak bilang jika kau ternyata bisa mengendarai mobil sayang?"
" Untuk apa Will? Apa kau mau menjadikanku supir pribadimu?"
" Hahaha tidak mungkinlah Dhe."
" Orang tuamu ada di rumah semua Dhe?"
" Hanya ibuku saja Will, ayahku sedang ke kantornya."
" Ohhhh ayahmu kerja di mana?"
" Ayahku itu bekerja di kantor pemerintahan Will?"
" Ohhhh....lalu pulangnya jam berapa?"
" Jam 4 sore biasanya sudah di rumah."
" Kau nanti istirahatlah dulu, dan nanti malam persiapkanlah amunisimu untuk menghadapi orang tuaku."
" Kau pikir aku kemari akan mengadakan perang Dhe?"
" Lebih seram dari itu Will."
" Maksudmu?"
" Ayahku itu sangat galak, kau pasti nanti akan ngeri menghadapinya."
" Tapi aku yakin tidak segalak anaknya bukan?" Jawab William sambil mengerling.
" Kau pikir aku menyeramkan ya?"
" Ya jika kau sedang marah, bahkan lebih menyeramkan dari hantu hahaha."
" Hehhhhh kau ini, awas ya kau jangan main-main ya sekarang kau berada di negaraku."
" Hahaha...ampun Dhe, jangan sampai kau kerahkan tetanggamu nanti untuk mengeroyokku ya." Kata William sambil tertawa, dan Dhea hanya cemberut saja.
" Kau baru dua Minggu di sini, sepertinya tubuhmu lebih berisi."
" Bagaimana tidak, ibuku selalu memanjakanku dengan masakannya, dan yang paling penting di sini aku tidak pernah stres memikirkan laki-laki di sampingku ini." Jawab Dhea sambil melirik William.
" Hahhh...jadi selama ini aku membuatmu stres Dhe?"
" Ya saaaangatttt Tuan!! Bagaimana tidak? Jika berada di sampingmu kau selalu merayuku dan itu membuatku mengerahkan seluruh tenagaku untuk tidak khilaf."
" Hahaha....jadi itu yang membuatmu stres? Kalau itu tergantung seberapa kuat imanmu Dhe."
" Ya makanya jangan suka memancing mancing ya, atau jika tidak kita pacaran lewat telfon saja agar tidak berbuat dosa."
" Itu namanya kau menyiksaku Dhe."
" Hehhh...kau itu menyesal aku dulu menerimamu."
" Ahhhh kau jangan begitu Dhe, atau kau ingin sekarang aku melamarmu agar kita bebas berduaan kapan saja?"
" Silahkan kalau kau berani!!! Aku yakin orang tuaku langsung mengusirmu keluar dari rumahku."
" Hahaha ya pasti itu, aku tau orang tuamu tidak akan mungkin mengijinkan kau menikah dengan pria asing yang beda keyakinan denganmu kan?"
" Itu kau tau, masih bertanya pula." Kata Dhea dan terus memacu mobilnya menuju ke tempat tinggalnya.