Something different

Something different
Kerinduan William



Setelah diantar pulang oleh Mike, Dhea segera masuk ke kamarnya, lalu mengganti baju dan sholat dhuhur, kemudian Dhea segera mengentuk pintu kamar Nyonya Christy. Tak lama Nyonya Christy membuka pintu kamarnya.


" Hai Dhe kau sudah pulang rupanya ?"


" Iya nyonya baru saja aku tiba ".


" Ayo masuklah ".


Kemudian Dhea mengikuti Nyonya Christy dan duduk di atas sebuah sofa yang ada di dalam kamarnya ".


" Kau sudah makan Dhe ?"


" Sudah nyonya, seorang teman tadi mentraktirku ".


" Hmmm padahal aku punya sesuatu untukmu ".


" Benarkah nyonya ?"


" Ya, aku baru saja memasak ikan yang sangat lezat, pasti kau suka, tapi tak apa nanti bawalah saja ke kamarmu untuk makan malam ya ?"


" Iya Nyonya terimakasih banyak anda baik sekali ".


" Dhe...bagaimana orang gila itu ? apakah dia tidak lagi ngejarmu ?"


" Hahaha anda masih ingat saja nyonya ? dia tidak lagi mengejarku, bahkan sudah tidak menampakkan batang hidungnya, mungkin dia sudah waras nyonya sehingga tidak menginginkanku lagi ".


" Pantas kau kelihatan senang sekali ".


" Ya nyonya hidupku kembali tenang ".


" Bagaimana kabar keluargamu di Indonesia ? mereka baik baik bukan ?"


" Ya nyonya orang tuaku sehat ".


" Lalu mereka tinggal dengan siapa Dhe di sana ?"


" Mereka hanya tinggal berdua nyonya, aku anak perempuan mereka satu satunya ".


" Oh ya ? walaupun mereka hanya memiliki kamu, tapi mereka sangat beruntung punya anak perempuan sepintar dan sebaik kamu ".


" Aku juga beruntung mempunyai orang tua seperti mereka nyonya. Orang tuaku sangat demokratis, mereka mendukung semua keinginanku, asalkan baik dan aku mampu bertanggung jawab ".


" Iya nak aku yakin, suatu hari nanti kau akan menjadi orang yang sukses ".


" Aminn terimakasih ya Nyonya Christy ".


Dhea mengobrol dengan Nyonya Christy hingga sore hari. Dhea banyak bercerita tentang keluarganya dan juga kehidupannya di Indonesia. Nyonya Christy begitu antusias mendengarkan cerita Dhea.


" Nyonya sepertinya sudah sore, aku ke kamar dulu ya ".


" Apakah kau tidak ke tempat kerjamu Dhe ?"


" Tidak nyonya, aku telah minta ijin bosku untuk istirahat seharian di rumah, aku ingin merayakan kebebasanku karena orang gila itu tidak lagi menggangguku ".


" Begitu ya. Oh ya tunggu dulu, aku bungkuskan ikan yang aku masak tadi ya ".


Lalu Nyonya Christy berdiri dan mengambil ikan dari meja makan, lalu membungkusnya dan diberikan pada Dhea.


" Ini, nanti sebelum makan kau hangatkan dulu, biar lebih nikmat ".


" Iya nyonya terimakasih, berarti aku nanti malam tidak perlu keluar membeli makanan ", jawab Dhea sambil tersenyum.


" Iya sayang, semoga kau menyukai masakanku ".


Kemudian Dhea segera beranjak dari duduknya dan kembali ke kamarnya.


Sementara itu William sedang menelfon Daniel di dalam kamarnya.


" Hallo Dan ?"


" Hallo Will, ada apa menelfonku ? urusan bisnis atau urusan wanita ?"


" Urusan wanita Dan, wanita sialan itu !!"


" Hahaha Paula maksudmu ?"


" Hei jangan begitu teman, bukankah dia itu calon ibu dari anakmu ?"


" Anak yang tidak pernah kuharapkan Dan ".


" Memangnya selama ini kau pernah mengharapkan seorang anak Will ? Aku rasa jika cairan mani yang kau buang itu kau kumpulkan jadi satu, mungkin kau bisa membuat sebuah pabrik anak, sialnya ada yang lolos satu Will dan salahnya ada di dalam rahim Paula hahaha ".


" Sialan...jangan bicara sembarangan kau ".


" Lalu ada apa kau menelfonku ?"


" Wanita sialan itu telah menemui Dhea dan menceritakan semua padanya ".


" Wow cepat sekali pergerakannya Will ?"


" Itulah...pasti selama ini dia mengikutiku terus kemanapun aku pergi ".


" Hahaha kau sepertinya sedang mengalami hukum karma teman ".


" Maksudmu ?"


" Kau dulu selalu mengikuti Dhea kemanapun dia pergi, bahkan mengirim orangmu untuk mengawasi dia, dan sekarang Paula melakukan hal yang sama denganmu...hahaha kalian benar benar dua orang yang sama namun berbeda kelamin ".


" Hahhh sudahlah jangan memperolokku terus Dan ".


" Hmmm lalu bagaimana reaksi Dhea ?"


" Dia sekarang tidak mau kutemui Dan, tapi aku telah mengirim orang untuk terus mengawasinya, dan yang menyebalkan dia sekarang justru akrab dengan Mike ".


" Mike adikmu ?"


" Siapa lagi Dan "


" Atau jangan jangan Mike juga tertarik pada Dhea ?"


" Aku belum bisa memastikannya, namun menurut mata mataku Mike pernah menjemput Dhea pulang dari kampusnya, dan kemudian mereka makan bersama di restoran ".


" Tenanglah bos, kau yang penting konsentrasilah dulu dengan Paula, jangan sampai dia bertindak di luar batas yang bisa membuat posisimu terancam, aku akan mencari cara agar wanita itu bisa melepaskanmu ".


" Ya Dan usahakanlah, aku benar benar mengharapkan bantuanmu ".


" Ya Will, aku pasti tidak akan mengecewakanmu ".


Kemudian William menutup telfonnya. Dan kembali merenungi diri sambil menatap langit langit kamarnya. Malam ini William sangat rindu dengan Dhea, rindu suaranya, rindu kebawelannya, rindu semua kebersamaan mereka akhir akhir ini. William segera beranjak dari tempat tidurnya dan menelfon pegawainya untuk menyiapkan mobilnya. Rindunya sudah tidak tertahan, dia ingin melihat Dhea, walaupun itu hanya dari kejauhan saja.


" William segera memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, dia sudah tidak sabar ingin segera tiba di tempat kerja Dhea ".


Tak berapa lama William telah tiba di tempat tujuan, dia segera memarkir mobilnya sedikit jauh dari tempat Dhea bekerja, William berjalan pelan, dia berusaha mencari cari sosok Dhea yang biasanya berdiri di depan meja kasir dan sangat jelas terlihat dari kaca depan toko tersebut. Namun setelah beberapa saat memastikan orang yang dibelakang meja kasir itu ternyata bukan Dhea, tetapi temannya.


" Kemana dia ? kenapa hari ini dia tidak berangkat kerja ? biasanya dia paling benci jika dulu aku memintanya bolos kerja, apakah dia sakit ? Ahhh aku harus mencari informasi dulu ".


Kemudian William segera menelfon seseorang.


" Jadi dia tidak bekerja hari ini ?"


" Hhmmm di mana dia sekarang ?"


" Ya sudah aku pikir dia pergi kemana, awasi dia terus ya ?"


" Oke terimakasih ", kemudian William menutup telfonnya.


Tak lama kemudian dia menelfon seseorang lagi.


" Dia berkata begitu padamu ?"


" Jadi dia hanya ingin tidur tiduran saja di rumah ?"


" Hhmmm pasti saat ini dia sedang merasa gembira karena aku tidak lagi mengusiknya, sehingga dia ingin merayakannya ".


" Ya sudah ingat tugasmu menjaga dia dengan baik ya, karena gadis itu tetap akan menjadi tanggung jawabmu seutuhnya ".


Lalu William kembali menutup telfonnya. Wajahnya terlihat kecewa sekali. Padahal malam ini dia berharap bisa memandang wajah Dhea, walaupun hanya sebentar. Kemudian Dhea segera pergi meninggalkan tempat kerja Dhea dengan sejuta rindu yang berkecamuk dalam dadanya.